Eps.6 ♡ Achluophobia

1258 คำ
“You can’t get rid of your fears, but you can learn to live with them.” - Alex Noriega - ------------------ “Rum, gimana outline naskah barunya? Sini kasih lihat,” tagih salah seorang editor di kantor penerbitan mayor siang ini. Dan sekarang Arum sedang duduk di depan ibu editor yang siap mengkritik draft-nya. “Sebentar, Tan. Ah, ini dia.” Arum menyodorkan berkas naskah kepada ibu editor yang tidak lain adalah bibinya sendiri. “Kamu nggak ada kelas hari ini? Tumben jam segini udah ke sini,” kata editor itu sembari meneliti lembaran outline yang diserahkan Arum. Sebuah kacamata plus bertengger di hidungnya. “Oh, itu. Uhm… dosennya lagi DL, Tan,” jawab Arum sekenanya. DL alias Dinas Luar barusan hanyalah alasannya saja untuk menutupi fakta bahwa sebenarnya ia malas pergi ke kampus hari ini. “Kamunya itu kali yang lagi DL,” sindir editor itu diiringi gelak tawa. Ia sudah hafal betul tabiat keponakannya yang satu ini. “Ah, Tante. Udah deh.” Arum melemparkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tidak tidur sejak terbangun tengah malam tadi. Dan sekarang wajahnya kusut, sekusut pikirannya tentang Una dan kunci itu. “Wah, wah, ada apakah gerangan, Nona Kaka Klavieri?” goda ibu editor tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran naskah. “Tidak ada gerangan apa-apa, Nyonya Mia Rumiati,” balas Arum sekenanya. Ia malas dan paling anti dengan hal-hal semacam curahan hati apalagi curhat colongan yang sebenarnya tidak penting dan ia merasa tidak perlu mengutarakannya kepada siapapun, sekalipun kepada bibinya. “Cuma kurang tidur aja, Tan.” “Hmm… oke. Tante lihat naskah ini bagus kalau dikembangkan. Daripada yang kemarin-kemarin, Tante lebih suka yang ini. Oke, deadline bab satu kamu satu minggu, ya. Semoga berhasil,” ujar Bu Mia mengakhiri kritik dan sarannya siang ini. “Oke, siap.” Arum kembali menjejalkan berkas naskah itu ke dalam tasnya. “Oh iya, ngomong-ngomong gimana penjualan novelmu yang baru itu? Apa itu judulnya, Tante lupa.” Bu Mia memegangi pelipisnya berusaha mengingat. “Lukisan Sang Kupu-kupu?” sahut Arum melengkapi maksud ibu editor. Bu Mia mengangguk diikuti dengan jentikan ibu jari yang beradu dengan jari tengahnya. “Iya, yang itu!” “Sold out!” Arum menyeringai bangga. Ia membuat gerakan tangan seperti saat seorang dirigen mengakhiri sebuah iringan. “Memang benar apa kata Mbak Mei dulu. Anaknya ini memang seorang penulis jenius,” singgung Bu Mia seraya mengacungkan kedua jempolnya untuk Arum. “Mama …” Arum ragu. Nada bicaranya menggantung. “… apa kabarnya, Tan?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar begitu saja. Mendadak air mukanya berubah tegang saat Bu Mia menyinggung perihal ibunya. Sorot matanya menyiratkan kebencian yang teramat dalam. “Mamamu sehat. Dia baik-baik aja. Apa kamu masih nggak mau menemuinya?” Bu Mia melembutkan suaranya. Ada kekhawatiran yang tersirat dalam tanya itu. “Nggak. Dan mungkin nggak akan pernah.” Air muka Arum berubah dingin. Rahangnya mengeras menahan luapan emosi. Arum bergegas pergi meninggalkan ruangan setelah pamit undur diri. Meninggalkan Bu Mia seorang diri dalam ruangan itu bersama rasa iba yang sudah menggunung. ■♡■ Pikirannya sangat kacau siang ini. Masalah terus bertumpuk tanpa solusi. Dan hal itu yang paling ia benci. Arum merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. BRUG! “Ah, maaf.” Arum menabrak seseorang di koridor kantor karena pikirannya tidak fokus ketika berjalan. Ia menabrak seorang pemuda berpakaian kasual dengan jaket jeans belel berwarna biru terang yang sudah cukup usang. Pemuda itu membawa nampan saji kosong di tangannya. Ia sibuk membantu Arum membereskan lembaran naskah yang jatuh berserakan akibat tabrakan tadi. “Kamu nggak apa-apa?” tanya si pemuda seraya mengambil lembaran terakhir yang terserak. Arum mengabaikan pertanyaan si pemuda karena ia masih sibuk mengambil lembaran yang lain. Melihat tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya, pemuda itu iseng melihat isi dari lembaran yang ia pegang. Sekilas terlihat seperti outline sebuah cerita fiksi, begitu pikir si pemuda. Dan ketika ia membaca sebaris nama di bawah judul tulisan itu, ia terperangah. “Kaka Klavieri?” Pemuda itu membaca sebaris nama yang tertulis di sana. Kemudian memandang Arum yang kali ini juga berbalik menatap ke arahnya. “Namamu cantik, secantik orangnya,” tambahnya kemudian, seraya menyerahkan kertas itu kembali kepada pemiliknya. “Terima kasih,” jawab Arum sekenanya dengan senyum yang setengah dipaksakan. Ia tidak begitu peduli dengan tanggapan si pemuda tentang nama penanya barusan. Arum hanya berharap bisa cepat sampai di rumah karena pikirannya sedang sangat kacau sekarang. Kepalanya mulai berkunang-kunang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada si pemuda, ia beranjak pergi. Sedetik kemudian kepalanya tiba-tiba memberat, pandangannya kabur dan ratusan kunang-kunang serasa mengerumuni puncak kepalanya. Badannya sedikit terhuyung. Dan semuanya gelap. “Hei, kamu kenapa? Sadarlah! Hoi!!” Untung saja pemuda itu siaga menangkap Arum sebelum lantai menggantikannya. Jelas pemuda itu panik melihat Arum pingsan. Ia menepuk-nepuk pipi Arum untuk membuatnya tersadar. Namun percuma saja. Ia menengok kanan-kirinya guna mencari bala bantuan namun sayangnya nihil. Semua pegawai sibuk dengan urusan makan siang mereka di luar kantor karena sekarang sedang jamnya makan siang. Apalagi, ini koridor lantai atas. Jadi semakin tidak banyak orang yang berlalu lalang saat ini. Di saat panik mendera dan tidak tahu harus berbuat apa, si pemuda segera membaringkan gadis itu di sofa terdekat. Tetapi ia dikejutkan oleh sesuatu ketika ia hendak mengangkat tubuh Arum. Ada yang menetes di telapak tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk menepuk pipi Arum. Lebih terkejut lagi si pemuda ketika ia membalikkan wajah Arum menghadapnya. Darah segar mengalir dari hidung gadis itu. Sial! Harus gimana sekarang? ■♡■ Semuanya terlihat terang dan putih ketika perlahan matanya terbuka. Sekeliling tempat itu tampak menyilaukan. Rasa sakit menjalari kepala Arum. Serasa ditusuk-tusuk jarum. Matanya kembali erat menutup. Bernapas pun terasa agak menyakitkan. Pandangannya tampak kabur ketika ia kembali membuka matanya. Hanya warna putih terang sejauh yang bisa ia lihat. Tempat itu tampak sangat putih. Putih dengan sinar terang menyilaukan. Papa, mungkinkah ini tempatnya? Baguslah kalau memang begitu. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan Papa. Jangan khawatir, aku akan menemani Papa di sini. Jadi Papa tidak kesepian lagi. Apa surga memperlakukan Papa dengan baik? Pandangannya yang remang kini berangsur pulih. Sebagian nyawanya telah kembali terkumpul. Napasnya kembali teratur. Indra penciumannya berangsur normal. Semerbak aroma khas menyeruak menerobos indra penciumannya. Aroma antiseptik. Arum sadar kini ia ada di sebuah ruangan khusus. Ruangan putih dengan aroma khas bercampur aroma pengharum ruangan. Mungkin aroma mint atau lemon. Beberapa bau obat-obatan yang saling bersinergi membentuk perpaduan yang aneh. Arum mengernyit tidak suka. Aroma yang paling ia benci. Bau rumah sakit. Dan yang membuatnya lebih tidak suka lagi adalah fakta bahwa dirinya masih hidup. “Khh ...” Kepalanya masih terasa menghujam di bagian kanan. Indra perabanya berangsur pulih setelah cukup lama tidak sadarkan diri. Hal pertama yang tidak bisa ia rasakan adalah keberadaan kalungnya. Kalung dengan liontin dua buah kunci yang biasa bertengger di balik kemejanya saat ini tidak ada di sana! Arum bangun dengan susah payah. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Arum melongok ke bawah kolong tempat tidur untuk memastikan kalau-kalau kalung itu terjatuh di sekitar sana. “Oh, kamu sudah bangun?” Suara seorang wanita tiba-tiba meremangkan bulu roma. Asal suara itu dari arah pintu. Arum menoleh. Wanita itu tersenyum ketika Arum menatapnya dingin. Ia memakai setelan jas putih sepanjang lutut dengan rambut yang digelung rapi. Kacamata bercokol di hidungnya. “Njenengan siapa? I-ini di mana? Kenapa saya bisa ada di sini?” Arum bertubi-tubi mengajukan pertanyaan. Jika benar dirinya masih hidup, ia ingin memastikan bahwa wanita ini bukanlah malaikat pencabut nyawa. Arum mundur selangkah untuk mengantisipasi kalau-kalau wanita itu berniat melakukan hal yang tidak terduga padanya. ■♡■
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม