Eps.5 ♡ Janji Masa Kecil

1282 คำ
“Mas! Mas Juna!” seru seorang gadis yang berlari menghambur ke pelukan Juna. Juna membalas pelukan gadis itu. Membelai lembut puncak rambutnya dengan sayang. “Kangen,” gumam gadis itu. “Emi, kapan datang?” sapa Juna setelah Emi melepas pelukannya. “Barusan kok.” Emi tersenyum senang. “Oh, halo. Selamat siang.” Emi menunjukkan keramahan kepada Arum yang tengah berdiri canggung di samping Juna. “Selamat siang,” Arum mengimbangi keramahan lawan bicaranya. Tersirat tanda tanya besar dalam benaknya. “Perkenalkan, ini adikku. Emi,” Juna mengatakannya dengan tergesa; memperkenalkan Emi kepada Arum. Khawatir terjadi kesalahpahaman berikutnya. Emi menjabat tangan Arum. “Emi. Emi Citra Wicaksono.” “Arum,” balasnya ramah. “Mbak Arum, apa boleh aku pinjam Mas Juna sebentar?” Emi memohon dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sendu. Namun segaris senyum masih tertinggal di wajahnya. “Emi, Mas masih ada urusan dengan Mbak Arum. Emi tunggu di rumah dulu saja, ya?” kata Juna dengan sabar memberi pengertian pada adik kesayangannya itu. Emi memberengut. Berpura-pura sedih. Dan itu yang membuatnya terlihat lebih menggemaskan dan semakin manis. “Sudahlah, Rama. Nggak apa-apa kok.” Arum merasa tidak enak menolak permintaan gadis semanis Emi. “Emi, bawa saja Masmu ini. Kamu boleh ‘meminjamnya’ sekarang.” “Asyik! Makasih, Mbak Arum. Mbak baik deh.” Emi mengedipkan sebelah matanya. Ia gamit lengan Juna dengan manja. “Ta-tapi—” Juna bersikukuh. Ia menolak untuk dipinjam. Arum membuat gerakan tangan dan mulut yang artinya sudah-tidak-apa-apa-pergilah. “Daa, Mbak Arum!” Emi melambaikan tangan disusul dengan anggukan sopan dari Juna. Senyum canggung menghiasi wajah Juna yang tampak kelelahan. Arum hanya bisa memandangi dua orang itu hingga menghilang di balik gerbang. Ia menghela napas yang lebih panjang dari sebelumnya. Berharap bahwa Juna tidak akan menagih pembicaraan di antara mereka siang ini di lain hari. Arum merasa ada yang mengganjal di bawah alas kakinya saat melangkahkan kaki. Seperti ada benda yang terinjak oleh sepatunya. Saat kakinya bergeser sedikit, ia tersadar akan sesuatu. Segera ia pungut benda itu lalu membersihkan debu yang sekiranya menempel di sana. “Ya ampun, kenapa kamu ceroboh sekali, Arum? Nyaris saja kamu hilang.” Arum berbicara pada benda yang baru saja ia pungut. Sebuah kunci. Kunci berharga miliknya yang selalu ia kenakan sejak usia delapan tahun. Kunci kesayangan. Ia gunakan kunci itu sebagai liontin. Ketika ia berniat untuk mengembalikan liontin itu ke tempatnya, Arum sangat heran dengan apa yang dilihatnya saat ini. Liontin miliknya masih ada di tempatnya dan tidak jatuh. Sungguh mencengangkan bahwa sekarang kunci itu ada dua. Karena kunci yang baru saja ia temukan sama persis dengan miliknya. Kok bisa gini? Ketika kemudian ia tersadar dari lamunan, matanya menatap nanar ke arah pintu gerbang rumah kos yang baru saja dilewati oleh Juna dan adiknya. Apa mungkin Rama itu adalah… Tanya itu terus menggema di kepalanya. Pertanyaan yang hendak ia tanyakan pada Juna tadi mendadak terjawab secara misterius. Arum harus memastikan hal ini. Ia tidak ingin lagi kehilangan momen yang tepat untuk kedua kalinya. “Maafkan saya, Non, tapi baru saja Mas Juna ada urusan mendadak dan harus segera pergi,” kata Pak Aryo dengan sangat menyesal kepada Arum. “Kira-kira kapan Rama akan kembali?” “Saya kira akan memakan waktu cukup lama untuk urusannya kali ini, Non. Sekitar satu minggu baru kembali. Apa Non Arum punya pesan untuk Den Juna?” “S-satu minggu?” Arum terperangah antara kecewa, kesal dan bingung. Pak Aryo membenarkan. “Apa boleh saya minta nomor Rama yang bisa dihubungi?” tanyanya setelah menimbang-nimbang. “Ngapunten21. Saya mohon maaf, tapi Den Juna meninggalkan ponselnya di rumah ketika bergegas pergi tadi. Jadi, saya khawatir memberikan nomor Den Juna kepada Anda hanya akan sia-sia saja nantinya,” sesal Pak Aryo. Ia menunjukkan sebuah ponsel yang Arum duga itu adalah milik Juna. Sial! Arum kesal. Ia tidak bisa terima keadaan seperti ini terulang kembali. Keadaan di mana Juna pergi tanpa kabar untuk kedua kalinya setelah sekian lama. Ia merasa seperti sudah dicampakkan, meski ia sepenuhnya menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Dan mungkin saja saat ini entah Juna masih mengingatnya atau tidak, ia tidak yakin. Mengingat mereka sudah tidak pernah bertemu setelah empat belas tahun terakhir. Meskipun Arum belum bisa yakin bahwa Juna adalah orang yang ia cari selama ini, tetapi entah mengapa terasa sedikit aneh di ulu hatinya ketika pertama kali melihat Juna di tepi jalan di Surabaya waktu itu. Ditambah lagi setelah Arum melihat kunci yang sama dengan miliknya, tiba-tiba rasa aneh itu kian memuncak. Dan saat ini yang ia rasakan hanya sebuah kekesalan dengan dasar yang belum pasti. Karena belum tentu juga Juna adalah orang yang ia cari. Tetapi firasatnya sangat kuat mengatakan bahwa Junalah orangnya. Dan sekarang ketika ia sangat ingin memastikan semua kebenarannya, Juna menghilang. Lagi. Untuk yang kedua kali. Mendadak, tanpa jejak. Karena itu Arum menjadi semakin kesal karena sudah diperdaya oleh firasatnya sendiri. “Non? Apa Non baik-baik saja?” Pak Aryo membuyarkan lamunan Arum. “Ah, i-iya,” gagapnya. Tak sadar sedari tadi ia melamun. “Apa boleh saya tahu ke mana dia pergi, Pak?” tanya Arum kemudian. “Anu, soal itu… Den Juna saat ini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Ndoro Kakung22 (Tuan Besar) yang ada di Surabaya. Beliau mendadak mendapat kabar bahwa Ndoro Kakung sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit,” terang Pak Aryo. Rautnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Jadi dia kembali lagi ke Surabaya? Arum kembali mengingat pertemuan pertamanya kemarin dengan Juna di kota itu. “Oh, begitu. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Arum terpaksa pamit undur diri, walau hatinya resah. Kecewanya masih belum hilang. “Apa perlu saya sampaikan bahwa Anda datang mencari Den Juna siang ini?” tanya Pak Aryo sebelum Arum beranjak pergi. “Ah, soal itu tidak perlu, Pak. Terima kasih. Permisi.” Arum pamit. Arum semakin kesal karena dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat dirinya mengetahui satu fakta dengan kemungkinan mendekati 99% bahwa Juna adalah pemilik dari kunci itu. Ia merasa sangat frustrasi. Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab bergemuruh di dalam kepalanya. Kacau. Itulah yang tengah ia rasakan. Arum berbaring di kamar kos sembari memandangi dua buah liontin kunci yang menggantung di tangannya. Pandangannya menerawang. Kejadian itu sekitar empat belas tahun yang lalu. Di sebuah taman dekat rumah mereka, Kaka dan Una sering bermain dan bercanda tawa bersama. Tetapi hari itu berbeda. Hari itu Kaka menangis. “Sudah, berhentilah menangis, Ka,” bujuk Una. “Tapi, Una akan pergi besok, kan?” isak Kaka. Ia menyembunyikan wajahnya di balik lengan. “Tenang saja, aku akan pamitan ke kamu besok.” “Benarkah?” Kaka medongak menatap Una. Kedua matanya terlihat memerah dan sembab. “Janji?” Kaka menyodorkan kelingking kanannya. “Janji.” Una mengaitkan kelingkingnya, kemudian tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu…” Una mengambil sesuatu yang tergeletak di tanah tempat mereka berdua berjongkok. “Kamu simpan yang ini.” Una memberikan sebuah kunci pada Kaka. “Dan aku akan menyimpan yang satu lagi,” kata Una seraya mengambil satu kunci yang lain untuk ia pegang sendiri. Arum terjaga di tengah tidurnya. Jam dinding kamar menunjukkan pukul 23:20 WIB. Ah, cuma mimpi. Mungkin karena ia terus memikirkan Una, teman masa kecilnya dulu. Liontin kunci yang ia asumsikan adalah milik Juna, sekarang ada di genggaman tangan kanannya. Sebuah kunci yang sama persis seperti miliknya. Sebaris nama terukir di sana. Tertulis nama ‘Kaka’ di satu sisi dan ‘Una’ di sisi yang lain. Tetapi apakah benar bahwa Juna, orang yang baru saja ia kenal, adalah Una teman masa kecilnya? Itu yang belum sempat ia pastikan. Semua ini membingungkan. Membuat kepalanya sakit tiap kali memikirkan kemungkinan itu. # # # Footnote: 22 panggilan hormat untuk majikan laki-laki (Jawa) # # #
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม