Eps.4 ♡ Wanita Lain

1216 คำ
“Seandainya malaikat dapat aku rayu perihal nama loh mahfuz-ku, mungkin aku tak akan sekacau ini saat mengingat sebuah nama.” - Fuja Ferdian - # # # Arum terbungkuk memegangi perutnya. Tak hentinya terpingkal. “Salah masuk rumah? Di pagi buta pula. Ya, ampun.” Kalimat itu yang pertama keluar dari mulut Arum ketika mereka berempat tengah duduk santai di bawah naungan pohon rindang di depan rumah kos berlantai dua milik Bu Umi. Mereka berempat berbincang ringan sembari menikmati secangkir teh. Semangkuk makanan ringan yang sudah Arum beli di Surabaya kemarin tersaji di tengah perkumpulan. “Betul, Mbak. Mas Juna ini baru pertama kali kembali kemari setelah sekian lama. Jadi agaknya lupa-lupa-ingat dengan lingkungan sini,” jelas Pak Aryo dengan begitu antusias. Tak menyadari bahwa ucapannya barusan telah menginjak-injak harga diri majikannya. “Sudah, ndak usah dibahas lagi.” Wajah Juna sudah mulai panas karena menahan malu bercampur kesal. “Pantas saja Mbok Umi menganggapmu sebagai penyusup di pagi buta,” tambah Arum dengan gelak tawa yang masih tersisa. “Sekali lagi maafkan saya, Bu. Saya mengira ini rumah saya, tapi ternyata rumah saya tepat di sebelahnya lagi. Karena sekilas bangunannya hampir mirip. Mohon maaf sudah memberikan salam yang kurang menyenangkan di hari pertama kepindahan saya,” kata Juna dengan sangat menyesal. “Ya wis. Sudah, lupakan saja. Anggap saja ndak pernah terjadi. Saya ndak menyalahkan sampeyan kalau keadaannya memang seperti itu. Tapi maklum kalau Masnya sudah lupa. Karena lingkungan di sini sudah banyak berubah,” Bu Umi membenarkan. “Oh ya, tunggu di sini, ya. Mbok mau masak sesuatu yang enak untuk makan siang.” Arum mengangguk senang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia makan masakan mantan pengasuhnya itu. “Ah, sudah. Tidak usah, Bu. Kami pamit undur diri dulu. Terima kasih atas teh dan camilannya.” Juna bergegas bangkit diikuti Pak Aryo. “Sudah, kamu duduk saja di sini, Le18 (Nak).” Bu Umi bergegas masuk untuk menyiapkan makan siang setelah meminta tamunya untuk tetap tinggal. “Ta-tapi, Bu—” “Tunggu!” cegah Arum. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ada waktu sebentar?” Tiba-tiba Arum berubah serius. Matanya menatap tajam ke dalam mata Juna. Juna menunjuk hidungnya yang kurang lebih mengisyaratkan ‘kamu mau bicara empat mata denganku?’. Arum mengangguk. Juna dan Pak Aryo saling pandang. Pak Aryo mengangguk paham dan segera undur diri terlebih dahulu. “Oke, ada apa?” Juna kembali duduk bersila di hadapan Arum. “Begini. Jadi, uhm … aku ...” “Ya?” Juna menunggu. Arum berusaha keras mengumpulkan keberanian. Dia mulai gelisah. “Aku … aku ingin bert—” “Mas! Mas Juna!” Tiba-tiba terdengar teriakan seorang gadis dari arah gerbang rumah kos. Gadis itu begitu gembira. Wajahnya memancarkan keceriaan, namun tidak dengan matanya. Ia berlari menghampiri laki-laki yang duduk tertegun di hadapan Arum. Agaknya sebal juga karena gadis itu sudah menyela pembicaraan Arum dengan Juna yang belum selesai. Gadis itu melambai dengan begitu antusias pada Juna. Melihat gadis itu dari kejauhan tidak serta merta membuat Juna mengenalinya. Tetapi kemudian saat gadis itu menghambur memeluk dirinya, Juna langsung bisa mengenalinya dari dekat. Ia juga sangat merindukan gadis yang tengah memeluknya saat ini. # # # Footnote: 18 panggilan untuk anak laki-laki (Jawa) # # # Siang itu taksi berhenti di depan rumah megah berlantai dua. Matahari lumayan terik dengan cahaya yang cukup menyilaukan. Memaksa seorang gadis yang ada di dalam taksi untuk memakai kacamata hitam sebelum beranjak keluar. “Sugeng Rawuh19 (Selamat datang),” sambut seorang abdi menyambut gadis itu di depan gerbang. Rumah itu berpagar besi setinggi empat meter. “Pak Yo, apa kabar?” Gadis itu tersenyum. Ia memberi pelukan hangat untuk abdinya seolah sudah dianggapnya seperti ayah sendiri. “Berkat doa Anda, saya baik-baik saja, Non.” Pak Aryo hanya membungkuk sedikit karena merasa canggung dipeluk seperti itu. Tubuh jangkungnya sedikit kikuk dengan perlakuan majikannya barusan. “Syukurlah.” Gadis itu meraih kopor di belakangnya untuk kemudian ia seret masuk. “Biar saya saja yang bawa. Jauh-jauh dari Tokyo pasti Non capai. Silakan istirahat di kamar atas, sudah saya siapkan. Monggo20 (Silakan).” Pak Aryo mempersilakan majikannya masuk dengan isyarat ibu jari. Adat khas orang Jawa. “Ngomong-ngomong, apa Mas Juna ada di dalam?” tanya gadis itu dengan mata berbinar. “Den21 (Tuan Muda) Juna sedang ada urusan sebentar dan akan segera kembali, Non. Jadi, sebaiknya Non tunggu di dalam saja. Mangga ...” Pak Aryo mengangkut kopor-kopor itu ke dalam. “Ah, payah. Apa Pak Yo tahu ke mana Mas Juna pergi?” tanya gadis itu sembari membetulkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. “Soal itu … anu, Non, sebenarnya …” “Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” Juna duduk bersila di samping meja kecil. Ia memposisikan tubuhnya saling berhadapan dengan Arum. “Aku ingin berterima kasih padamu untuk yang kemarin.” Arum berbasa-basi. “Kemarin? Oh, yang kemarin itu. Sudahlah, itu bukan apa-apa.” Juna tersenyum. “Kamu penggemar berat novelnya Kaka Klavieri, ya?” tanya Arum. “Ah, bukan aku, tapi adikku.” Juna membersihkan tenggorokannya. “Ya, dia mengoleksi hampir semua novel karya Kaka Klavieri.” Juna berbohong. Nyaris saja ia bingung hendak menjawab apa. Yang benar saja kalau dia sampai berkata jujur. Apa kata Arum kalau sampai Juna mengaku bahwa dirinya mengoleksi bacaan remaja sementara dirinya sudah berumur, alias tua. Dulur, mau ditaruh mana muka gantengnya ini? “Jadi rupanya novel yang kemarin itu mau kamu berikan ke adikmu? Kalau begitu aku nggak bisa menerimanya. Aku merasa nggak enak. Tunggu di sini sebentar, aku mau mengambil novelnya dulu.” Arum bergegas bangkit, namun Juna mencegahnya. “Oh, nggak, nggak. Nggak usah. Bukan begitu maksudku. Adikku, uhm, sudah aku belikan. Ya, dia sudah punya novel yang kemarin. Jadi, itu tetap jadi milikmu.” Juna agak gugup dengan kebohongannya barusan. Tetapi syukurlah, sepertinya Arum tidak curiga sama sekali pada gelagatnya. “Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih.” Arum mengangguk sekilas tanda sopan santun. “Terima kasih juga karena sudah menemukan dompetku. Aku berhutang budi sama kamu,” balas Juna. “Ah, bukan apa-apa. Cuma kebetulan kok.” Arum menjadi sedikit canggung sekarang. “Jadi, uhm… itu saja?” “Ya?” Arum tersentak. “Maksudku, apa kamu menahanku di sini hanya untuk berterima kasih saja?” Juna tersenyum. Kali ini senyum getir yang ia tunjukkan. “Oh, itu. Uhm, sebenarnya aku…” Susah payah Arum menahan debar jantungnya saat ini hanya karena perkataannya barusan. “Aku ingin bertanya padamu tentang… sesuatu,” lanjutnya. Juna menanti. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan seraya membenahi posisi duduknya. “Jadi begini, aku, uhm…” “Aku ingin bertanya apa mungkin, secara kebetulan, kamu mengenal pemilik rumahmu yang sebelumnya?” teriak Arum seraya memejamkan matanya karena gugup. “Ya?” Juna masih menunggu kata selanjutnya. Arum tersentak ketika membuka matanya kembali. Ia tidak sadar kalau sedang berbicara dalam hati. Arum menghela napas panjang sebelum kembali mengulangi pertanyaannya. “Aku, uhm, aku ingin bert—” “Mas! Mas Juna!” seru seorang gadis yang berlari menghambur ke pelukan Juna. Juna membalas pelukan gadis itu. Membelai lembut puncak rambutnya dengan sayang. “Kangen,” gumam gadis itu. # # # Footnote: 19 selamat datang 20 silakan 21 panggilan hormat untuk anak laki-laki dari majikan (Jawa) # # #
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม