“Em!” panggil Yudhis. Ia menghampiri Emi yang sedang berjongkok di batu-batu tidak jauh dari tenda mereka. Ada beberapa tenda milik pendaki lain di sekitar situ. Yudhis duduk bersila di sebelah Emi. Emi menolak bicara. Wajahnya tertunduk dan dibenamkan di balik poni. “Kamu marah karena kadomu ditukar sebanyak tiga kali?” terka Yudhis. Emi menggeleng. “Terus? Kenapa kamu pergi?” Lagi-lagi Emi menggeleng. “Em,” panggil Yudhis dengan lembut. Perlahan kedua telapak tangannya mencoba meraih wajah Emi untuk dihadapkan kepadanya. Betapa terkejutnya Yudhis saat matanya meneliti paras itu lebih dekat. “Ada apa, Em? Kamu nangis?” Yudhis panik. Emi menangis lebih keras lagi. Seperti anak kecil yang putus asa. Merengek menginginkan lengan hangat ibunya. Seperti ingin meluapkan semuanya kepada

