“Dia tinggal di sebelah. Tetangga kita. Arum.” Pak Aryo terkejut. “Bagaimana njenengan memastikannya?” tanyanya setengah tidak percaya. “Kunci itu. Dia punya kunci yang sama dengan punya saya. Nggak nyangka kunci itu masih dia simpan. Dan lagi kunciku ada padanya sekarang. Jadi sekarang dia punya dua kunci,” terang Juna sembari terus menekankan kantong es batu ke sudut bibirnya. “Bagaimana njenengan bisa sampai kehilangan kunci itu?” “Entahlah. Saya sendiri nggak yakin. Sepertinya saya menjatuhkan kunci itu sewaktu pertama kali datang ke tempat kosnya. Pantas saja saya selalu gelisah ingin cepat-cepat kembali kemari sewaktu menunggui ayah di Surabaya. Saya nggak menyadari kalau kunci itu hilang.” “Jadi, apa Non Arum sudah tahu kalau njenengan adalah—?” “Tidak. Belum. Hanya saya yang

