"Kamu adalah fruktosa. Jadi mana mungkin aku tidak menyukaimu. Aku kan penyuka yang manis-manis."
______
Setelah tragedi tidak menyenangkan yang menimpaku, di cafe tadi. Aku memutuskan untuk kembali ke kantor.
Sayang sekali, hari ini aku belum bisa berkomunikasi dengannya lebih lama, sedangkan Arga hanya cekikikan lantaran melihatku cemberut. Temanku satu ini memang kadang menyebalkan.
"Hahaha, kamu terlalu semangat Zain. Makanya, lain kali kamu pakai masker atau kaca mata hitam dan sekalian pakai topi, layaknya oppa - oppa korea yang banyak digandrungi remaja jaman sekarang". Aku mencebik kerahnya.
Arga juga mengatakan oppa? Sepertinya aku bisa bertanya padanya.
"Ga, kamu tau oppa itu apa? Ehm maksud aku oppa yang dimaksud siswi - siswi di kafe tadi kamu tau?". Tanyaku padanya, namun dia hanya terkekeh geli.
"Heii, apanya yang lucu dari pertanyaanku?", dia menghentikan tawanya dan mulai menjelaskan.
"Oppa itu adalah bahasa korea yang merupakan panggilan adik perempuan kepada kakak laki - lakinya. Jangan bilang kalau tadi kamu berpikir oppa itu nenek - nenek?", dia tersenyum jahil kearahku sebelum akhirnya tertawa terpingkal - pingkal karena melihat ekspresiku.
"Heiii, berhenti menertawakanku Ga. Tidak ada yang lucu". Jawabku sambil memarkirkan mobil di parkiran kantor. Kami sudah sampai dan sepertinya aku akan mendengar omelan dari seseorang.
Aku dan Arga berjalan beriringan sebelum akhirnya aku terpaksa menghentikan langkahku karena seseorang.
"Zain kamu dari mana saja? Jam makan siang tadi kamu tidak ada di kantor, apa kamu makan diluar? Sama siap...."
"Aku masih banyak pekerjaan dan satu hal lagi, kamu harus bicara formal padaku, sebab ini kantor bukan tempat umum". Potongku cepat dan dengan tatapan yang datar, karena tak ingin mendengar ocehannya lebih lanjut aku melangkahkan kakiku menuju ruanganku. Arga? Jangan ditanya, dia sudah lama berlalu saat melihat wajah wanita itu.
Wanita yang dulu pernah masuk ke kehidupanku dan juga Arga. Wanita yang sempat membuat hubungan persahabatan kami hampir berantakan. Wanita yang telah membuatku berubah menjadi sosok yang berbeda, sebelum akhirnya aku menemukan 'dia' yaitu wanita yang dalam waktu dekat ini akan aku lamar.
Tak hanya aku, namun aku berharap Arga juga akan menemukan perempuan yang yang pantas bersanding dengannya. Wanita yang tidak hanya cantik parasnya, tapi wanita yang juga cantik akhlaknya.
______
Aku menghelas nafas berat dan menghembuskannya dengan perlahan. Hari ini cukup melelahkan. Aku mencoba meraih ponsel ku di atas nakas yang sekarang berdering.
"Assalammu'alaykum, iya Zam ada apa?"
"........."
"Oh, ok baiklah nanti malam kita bertemu di rumah sakit tempatmu bekerja".
"........"
"Haha, bisa saja kau ini. Yaya Waalaykummussalam". Aku sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban adiknya atas lamaranku. Entahlah kenapa hati ini terasa begitu bahagia, hanya dengan memikirkannya. Ingat Zain dia belum halal untuk kau pikirkan terus menerus. Batinku mengingatkanku.
Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku kemudian bersiap berangkat ke Masjid untuk solat berjamaah.
______
Aku bersiap - siap untuk menemui sahabat lamaku sekaligus menenangkan hatiku yang gundah lantaran ingin menemuinya, bidadari syurgaku.
Bismillah.
Aku mestarter mobil dan melajukannya menuju salah satu Rumah sakit swasta tempat dimana Azam bekerja.
Selama perjalanan aku berdoa dalam hati, semoga saja dia menerima khitbahku. Aamiin.
Drrtttttt....
Drttttttt..
Azam is Callling
Aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Ya, Waalaykummussalam Zam. Oh iya iya, nanti aku langsung keruanganmu saja".
"......"
"Baiklah, Waalaykummussalam". Aku meletakkan ponselku ke dasbor mobil, dan sedikit mempercerpat laju mobilku agar segera sampai disana.
______
Aku melangkahkan kaki ku dengan cepat dengan niat menuju ruangan kerja Azam, tapi ketika aku baru saja melangkah beberapa langkah, aku sudah melihat Azam sedang berdiri tak jauh dari tempat aku berdiri sekarang.
Tepatnya aku sedang berdiri di pertigaan, Azzam berdiri di belokkan di sebelah kanan ku. Lalu, dia, sedang berdiri di belokkan tepat sebelah kiriku.
Mata Azam tertuju ke depan, bukan, bukan melihat ke arahku namun ke arah perempuan yang kini sedang tersenyum begitu menawan. Wajah cantiknya yang dibalut oleh jilbab yang menjulur panjang menutupi sebagian tubuhnya. Aku bahkan ikut tersenyum, karena terhipnotis oleh senyumannya itu.
"Kakkkk Azaaaaaammmm". Pekiknya sambil berhambur ke pelukan Azam. Tidakkah dia begitu menggemaskan untuk menjadi seorang perempuan berumur dua puluh lima tahun.
"Kakak tuh ya, sok sibuk banget tau gak. Sampai - sampai gak ada waktu lagi buat aku". Imbuhnya sambil mengerucutkan bibir, lucu sekali.
"Kamu tuh udah gede Nui, kenapa pake acara peluk - peluk kakak segala. Udah lepas ah, entar fans kakak lihat gimana?". Azam berusaha melepaskan pelukan adik tersayangnya itu, namun dia tetap menempeli kakaknya.
Aku tersenyum melihat kelakuan manjanya itu. Apakah dia akan semanja itu padaku nanti?
Katakan iya! Iya dia akan seperti itu.
"Ihhh, kakak tuh udah jarang di rumah tau. Makanya Nui kangen sama kakak, lebih tepatnya kangen sama omelan kakak, heheh" omelnya lagi seraya melepaskan pelukannya dari Azam.
Sepertinya aku menunggu di ruangan Azam saja, takut nanti aku khilaf dan menemuinya bisa - bisa dia terkejut nanti. Aku melanjutkan langkah kakiku menuju ke ruangan Azam.
♡♡♡
Aku memilih duduk di kursi yang mengahadap meja kerja Azam
Aku mengedarkan pandanganku melihat barang - barang yang ada di ruangan ini.
Azam benar - benar mewujudkan cita - citanya, percis seperti yang ia katakan waktu kami sekolah menengah atas.
Yaa waktu kami SMA.
Kami adalah sahabat lama. Dulu, aku sering bercerita banyak hal dan Azam pun begitu, Azam dulu bilang, bahwa ia sangat ingin menjadi seorang dokter. Makanya waktu kami SMA, dia memilih masuk ke jurusan IPA. Aku mencoba mengingat ngingat kembali masa SMA kami, sebelum suara seseorang mengintrupsi ingatanku.
"Zain?!" Panggilnya dengan wajah yang tak percaya. Ehm atau lebih tepatnya dia sok terkejut.
Bukankah dia yang mengajakku bertemu di sini.
"Kamu apa kabar? Masih main sama One Direction? hahah". Imbuhnya yang diakhiri tawa. Seperti pertama kali bertemu ketika kami SMA, dia masih suka meledekku karena, namamu mirip sama, si Zayn Malik, salah satu member group band terkenal itu. Yah walaupun kalah tampan sih. Begitulah. Dia memang senang meledekku.
Sedangkan aku senang mengacuhkan segala bentuk ledekkannya itu.
Jadi kami impas.
"Alhamdulillah baik Zam. Itu mah Zayn Malik, nah kalau aku kan Zain Abdullah, penerus perusahaan mana bisa nyanyi, hahah" aku selalu mengatakan jawaban yang sama, ketika dia meledekku seperti tadi, aku rasa aku tak punya cukup banyak koleksi kata di perpustakaan otakku.
Kami memilih bernostalgia dengan kenangan - kenangan semasa SMA kami. Asal kalian tau, kami berdua sama - sama jadi most wanted boy semasa SMA. Mulai dari mendapat senyuman dari para siswi/i sampai surat misteruis, cokelat dan bahkan bekal. Kami tidak selalu menolak, tapi tidak juga selalu menerima yang mereka berikan.
Sesekali kami terkekeh geli ketika mengingat kekonyolan yang pernah kami lakukan pada saat itu.
"Zam, bagaimana kabar adikmu? Ehm, lebih tepatnya bagaimana jawabanya atas lamaran ku?"
Tanyaku langsung pada intinya. Azam langsung saja tersenyum jahil kearahku.
Baiklah. Anggap saja aku terlalu bersemangat.
"Kamu segitu sukanya ya sama si Nur? Sampai - sampai tadi kamu senyum - senyum hanya karena melihatnya". Aku mendelik heran,
"bagaimana kamu bisa tau?". Dia terkekeh geli sekarang. Dasar Azam, sukanya menertawaiku. Mungkin dia serasa sedang melihat badut bicara. Sayangnya aku bukan badut.
"Katanya dia mau" imbuhnya singkat tanpa embel - embel lainnya.
"Mau? Mau apa Zam? Yang jelas dong?".
"Dia mau menikah sama kamu, dia menerima lamaranmu. Katanya dia sudah berdoa sebelum memutuskan untuk menerima kitbahmu itu, dan dia memutuskan untuk menerimamu." Jelas Azam dengan singkat-jelas- dan padat.
"Benarkah? Masyaa Allah, terima kasih Ya Allah. Oh iya, kapan dia ingin aku menikahinya?". Aku sangat bersyukur dan lega mendengar penuturan dari Azam.
"Ngebet sekali kamu Zain. Sabar, dia masih memikirkan kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan itu".
"Semoga saja secepatnya. Bukankah hal yang baik itu, harus disegerakan?hehe". Jawabku sambil mengelak.
Aku banyak menanyakan hal - hal mengenai si 'dia' pada Azam. Aku ingin mengenalnya, lebih dari itu aku ingin menjadi imamnya, baik di dunia maupun akhirat, Aamiin
______
"Assalammu'alaykum cinta. MasyaAllah kau begitu menawan. Senyummu bahkan lebih manis daripada gula fruktosa dan tawamu itu bahkan lebih elektronegatif daripada atom F sekalipun, tawamu mampu menarikku dengan kuat untuk lebih dekat denganmu, dan ikut tersenyum bersamamu sebagai kekasih halalku.
Kata anak kimia, orang yang belum memiliki pasangan itu layaknya elektron bebas dari suatu atom, yang pada teorinya elektron bebas ini sifatnya tidak stabil, sebelum dia berikatan dengan elektron bebas dari atom lain untuk mencapai kestabilan.
Aku merupakan salah satu dari elektron - elektron bebas, kau pun begitu. Walau ada milyaran elektron bebas di dunia ini, jika Dia memilih ku untuk berikatan denganmu, maka tidak akan ada satupun inhibitor manapun yang mampu menghalanginya.
-Aku elektron bebas yang siap berikatan denganmu, dalam ikatan yang suci dan dan dengan ridho dari-Nya-
______