Aku menghela nafas perlahan sembari memijat pelipsku yang terasa berdenyut - denyut dengan pelan. Ku rasa aku mulai kelelahan dengan semua kesibukkanku akhir - akhir ini. Mulai metting dengan client, berkompetisi dalam memenangkan tender, menandatangani berkas - berkas yang mulai menumpuk dan sekelibet problem lainnya.
Tok! Tok!
"Assalammu'alaikum."
Terdengar seseorang mengucapkan salam dari balik pintu ruang kerjaku,
"Wa'alaikummussalam. Silahkan masuk."
Suara pintu dibuka pun terdengar. Selanjutnya muncullah seseorang dari balik pintu berwarna putih gading.
"Kamu Ga, ada apa?"
Ternyata Arga-teman, sahabat, saudara sekaligus rekan kerja bagiku. Aku mengenalnya sejak zaman aku masih anak - anak, bahkan saat aku masih ingusan.
"jangan bilang kalau kamu lupa Zain?"
"lupa? Soal apa Ga? to the pont saja, jangan membuatku berpikir lagi, aku sudah terlalu lelah memikirkan banyak hal".
"ok baiklah! Kemarin, kau bilang ingin menemui calon istrimu secara diam-diam? benar? dan sekaranglah waktunya, sebab dari informasi yang aku dapatkan dia sedang berada di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor kita".
"sungguh? Kafe mana? Ayo kita kesana". Astagfirullah, kenapa aku bisa lupa? Untung saja Arga datang mengingatkan.
Setelah mendengar itu darinya, tanpa babibu akupun langsung bergegas menuju mobil. Tunggu,,, Arga tadi kemana?,
Akupun merogo saku celana setelan jas yang aku kenakan untuk mengambil ponsel, dan menghubungi Arga, namun belum sempat aku menekan tombol Call, dia sudah berada tepat disamping ku.
"Kamu kemana saja sih Ga?, aku cari dari tadi juga. Kupikir kau terjepit di lift tadi".
"yang ada kamu tu Zain, terlalu bersemangat dan bergegas secepat kilat, sampai - sampai aku kamu tinggalkan di lift".
"hahah, sudahlah maafkan aku. Sekarang, dimana lokasi kafe yang dia kunjungi dan yang paling penting, dia menemui siapa disana?".
"Huft, untung kau itu atasan sekaligus sahabatku. Lokasinya di Jl. Margonda Raya No.239, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16423, dan dia kesana ingin menemui sahabatnya".
Akupun melajukan mobil dengan kecepat sedang, membelah jalanan ibu kota yang begitu ramai. Coba kuingat, sudah berapa lama aku tak melihatnya? Terakhir kali melihatnya ketika dia liburan di Prancis.
-----
Akhirnya aku dan Arga tiba di sebuah kafe nuansa korea yang bernama Daebak Cafe. Apa dia menyukai lelaki - lelaki yang berasal dari negeri itu? Layaknya remaja zaman sekarang, kalau iya aku sedikit kecewa. Kenapa?,, Karena aku merasa sedikit tersaingi.
"Zain?, hei apa yang kamu pikirkan? Kau tidak ingin turun, atau hanya ingin disini saja! mengawasinya dari sini?".
"ah, iya ayo turun. Aku akan menemuinya, aku ingin kamu ikut masuk denganku".
"tidak,, tidak,, lebih baik kau saja yang masuk dan temuilah calon istrimu yang belakangan ini kamu pikirkan. Cepatlah keburu dia pergi".
Arga benar, aku harus menemuinya sendiri. Walaupun aku sedikit gugup aku mencoba setenang mungkin.
Aku mencoba mencari keberadaannya, sambil melangkahkan kaki memasuki kafe.
Ketika aku baru saja memijakkan kaki ke dalam kafe ini, beberapa pasang mata melihat kearahku dengan tatapan penuh kekaguman. Ternyata hanya sekumpulan remaja yang sepertinya belum pernah melihat lelaki tampan.
Dimana dia?", aku mengedarkan pandanganku untuk mencari keberadaannya.
sedetik kemudian...
Syukurlah, ternyata sahabatnya belum datang. Aku langsung menuju kearah meja yang ia tempati yaitu di pojok ruangan kafe ini. Sepertinya takdir sedang berpihak padaku, karena pasalnya hanya kursi yang berada di depannya yang kosong, semua kursi sudah di tempati.
"Permisi mba, apakah kursi ini kosong? ". MasyaAllah dia cantik . Ingat Zain! Dia belum halal bagimu, masih dalam proses. Jadi jaga pandanganmu.
ia tidak menjawabku, dia hanya menatapku dalam..
1 detikk..
2 detikk..
5 detikk.. Ya, selama lima detik dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan dan setelah itu,
"ah, iya mas ada apa?", sepertinya dia masih agak terkejut dengan kedatanganku.
"tadi saya menanyakan, apakah bangku yang berada dihadapan mba ini kosong?, Soalnya saya tidak mendapatkan bangku kosong lagi, selain disini. Maaf kalau saya lancang"
"Oh, iya kursi itu kosong. Soalnya sahabat saya belum datang, silahkan jika mas ingin duduk. Kursi di ruangan ini memang sudah pada penuh". Jawabnya padaku.
Apakah dia menganaliku? Apakah dia ingat siapa aku? Ahh entalah. Tak lama setelah itu,
"ehmm, oppa ehh kak. Kalau kakak mau,kakak bisa kok duduk disamping saya. Itu disana", tunggu?? Apa aku tidak salah degar, dia memanggilku oppa? Hei! Aku ini masih muda. Bagaimana mungkin diusiaku yang baru menginjak umur 27 tahun sudah dipanggil oppa?!.
*Zain mah kudet banget ya dia pikir 'oppa' yang dimaksud adalah kakek-kakek Aduh Zain, kamu mah, gemesin deh. Oppa itu artinya kakak Zain. Aigoo *
Belum sempat aku menjawab apa yang barusan dikatakan siswi ini, sekarang malah beberapa siswi lainnya mulai mengerumuniku! Aku layaknya butiran gula yg sedang dikerumuni para semut. Mungkin terdengar agak sedikit lebay. Akan tetapi, kalimat itulah sepertinya yang cocok menggambarkan keadaanku saat ini.
Bagaimana ini? Sepertinya ini akan membuatnya tidak nyaman. Hahh! Sepertinya tidak sekarang, tapi lain kali.
Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kafe dengan susah payah. Untung saja aku menghubungi Arga, agar menyamatkanku dari kerumunan para siswi ini.
Aku tak pernah berpikir kalau aku punya daya tarik di mata remaja seperti ini. Aku memiliki penampilan rata - rata seperti pria pada umumnya. Nothing special. Entah apa yang orang lain lihat padaku seperti apa. Meskipun ku akui bahwa dulu aku cukup dikenal. Saat aku masih bserstatus sebagai siswa di sekolah menengah pertama dan juga sekolah menengah atas.
Kebanyakan dari mereka mengatakan kalau aku memiliki tubuh yang proporsional. Dengan tinggi yang mencapai seratus delapan puluh. Selain itu, mereka menilai bahwa alis dan hidung mamcungku yang besar juga merupakan sesuatu yang patut aku syukuri. Oh tentu saja. Meski tak memiliki alis yang tebal atau hidung yang mancung pun, aku tentu saja akan sangat bersyukur.
Bagaimana Allah mau menambah nikmat yang diberikan-Nya pada kita (hambaNya). Jika nikmat yang ada saat ini saja kita belum mensyukurinya dan merawatnya dengan baik.
Bagiku, merawat tubuh serta menjaganya dengan baik sudah merupakan salah satu dari realisasi rasa syukur kita terhadap apa yang sudah Allah titipkan. Sebab, tubuh kita ini bukan lah milik kita. Semua yang kita punya bahkan sejatinya hanyalah pinjaman. Pinjaman yang sewaktu - waktu, mau tidak mau, rela tidak rela kita tetap harus mengembalikannya dan kembali padaNya.
Entah apa yang mereka lihat dariku. Akan tetapi aku cukup merasa terganggu akan tatapan - tatapan penuh minat yang mereka layangkan padaku.
------