"Apa kau percaya dengan sebuah kebetulan? Tidak! Karena di dunia ini tidak ada sebuah kebetulan. Kenapa? Karena semua yang terjadi hanya untuk suatu alasan yang pasti. Allah mengatur semuanya sedemikian rupa dan dengan sebaik-baiknya."
.
.
.
Sinar mentari pagi berhasil menyusup lewat cela-cela jendela kamarku saat mataku akan terbuka. Hingga secara refleks aku mengernyitkan mata, karena terangnya melampaui batas banyaknya cahaya yang seharusnya diterima oleh mataku.
Kulirik jam yang terpatri di nakas yang menunjukkan pukul tujuh pagi, dan itu artinya sejam lagi aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kafe yang biasa aku kunjungi bersama Fatimah sahabatku.
Ya, hari ini aku akan menceritakannya pada Fatimah, ya menceritakan semuanya. Dimulai dari, rencana keluargaku menjodohkan aku dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak aku ketahui, seperti apa dia, bagaimana sifatnya, wajahnya dan semuanya, sampai aku yang bersedia dijodohkan dengan laki-laki itu.
aku bergegas menuju kamar mandi dan setelah selesai akupun bersiap-siap, hari ini entah kenapa aku sangat ingin memakai baju gamis berwarna merah muda bermotif bunga-bunga dan jilbab berwarna biru muda. Aku menyukai kedua warna tersebut, karena menurutku warna pink dan biru muda itu memberikan ketenangan dan menggambarkan kelembutan.
Tokkkk.... tokkkk
"non? non sudah bangun?"
ckelkk
"iya bi, nur udah siap-siap malah"
"memang non mau kemana? cantik sekali hari ini"
"hehe, biasa bi mau ketemu sama Fatimah"
"oh, kalu begitu ayo non sarapan dulu, sudah ditunggu di bawah"
"baiklah bi, bibi duluan saja sebentar lagi aku akan turun :)"
setelah selesai merapikan jilbabku, akupun bergegas ke ruang makan, karena sepertinya mereka sudah cukup lama menunggu. Terlebih lagi, kak Azam adalah orang pertama yang akan mengomeliku karena terlalu lama.
***
"selamat pagi ma, pa, kak Azam, bi Endang. Maaf ya, karena membuat kalian lama menunggu".
"pagi juga putri papa yang paling cantik".
"siapa dulu dong mamanya?"
"mama Aidah dong"
"hahahah, mama sama adek bisa aja deh ya"
Kamipun menyantap sarapan dengan penuh kebahagian. Mungkin ini efek dari perjodohan yang aku setujui kemarin. Syukurlah, itu berarti bahwa keputusanku sudah tepat.
Setelahnya, kami kembali ke dunia kami masing-masing. Kak Azam dengan kesibukkannya dirumah sakit, mama hari ini ke butik yang dua tahun belakangan ini dia rintis, dan papa kembali disibukkan dengan tumpukan berkas-berkasnya.
Akupun menyalakan motor maticku yang berwarna biru muda dan bermotif doraemon. Hemmm benar sekali bahwa sampai sekarang, aku masih menyukai salah satu dari beberapa karakter fiksi anak-anak ini. Hari ini aku tidak ada jadwal mata kuliah, jadi aku memutuskan untuk bertemu dengan Fatimah.
***
Sekarang aku sudah sampai di kafe yang biasa aku kunjungi dengan Fatimah, nama kafenya adalah Daebak Cafe.
Suasana di kafe ini cukup indah dan nyaman. Tentu saja pengunjung mayoriyasnya adalah dari kalangan remaja, terutama remaja SMA. Ya benar sekali bahwa kebanyakan anak SMA jaman sekarang lebih banyak mengemari aktor dan aktris dari negeri ginseng itu. Alasannya? Terutama dan yang paling utama adalah ketampanan aktor-aktor disana layaknya pangeran, alasan kedua?, ahh sudalah! Kalau mau membahas seputar korea takkan ada habisnya.
Aku memilih duduk di pojok ruangan kafe ini, sembari menunggu kedatangan Fatimah. Wanita itu! Selalu saja terlambat, menyebalkan kadang.
"woah daebak, lo liat oppa yang mau masuk kefe ini, ppaleuwa"
"mana sih"
"aigoo, itu loh yang gantenya gak kalah dari bias gue Lee Min Ho"
"ommo, jhinjah, kasih gue nafas buatan dong, gue kagak bisa nafas saking grogolnya"
Kurang lebih eperti itulah percakapan dari beberapa anak SMA yang sempat terdengar oleh telingaku. Aku tak tau siapa yang mereka bicarakan, karena sedari tadi aku sedang sibuk mengirmkan pesan singkat pada Fatimah.
"Permisi mba, apakah kursi ini kosong? "
Aku mengalihkan pandanganku dan melihat siapa yang sedang mengajakku bicara?,
1 detik...
2 detik...
5 detik...
"mba? Mba tidak apa-apa?"
Astagfirullah apa yang terjadi padaku? Aku sempat terdiam membeku beberapa detik, akibat bertatapan dengannya. Ya Allah ampuni aku, aku sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari seorang pria, tapi.. tapi dengan bodohnya aku menatap pria lain yang tidak halal bagiku. Istighfar Nur!
"ah iya mas, ada apa?"
"tadi saya bertanya, apakah bangku yang berada dihadapan mba ini kosong?. Soalnya saya tidak mendapatkan bangku kosong lagi, selain disini. Maaf kalau saya lancang"
"oh, iya kursi itu kosong. Soalnya sahabat saya belum datang, silahkan jika mas ingin duduk. Sepertinya kursi di ruangan ini sudah pada penuh".
"ehm oppa, eh maksunya kak, kakak bisa kok duduk di bangku yang berada disamping saya, itu disana", sebut dua orng siswi yang saat ini sedang menatap lelaki di depanku dengan penuh kekaguman. Ckckck, dasar remaja.
"jangan mau kak, mending kakak duduk di dekat saya aja", aku tak menyadari bahwa, beberapa siswi mulai mengerumuni mejaku, hanya untuk menawari lelaki ini untuk duduk disamping mereka. Bahkan, mereka sampai adu mulut.
"ah, sepertinya saya menggangu kenyamanan mba ya, saya jadi tidak enak. Kalau begitu saya permisi dulu ya mba, terima kasih telah mengizinkan saya untuk duduk,-
dan maaf karena saya, jadinya mba harus mendengar kegaduhan ini. Wassalammualaikum ",
"Wa'alaikummussalam".
Setelah mengatakan itu semua, dia lantas belalu dan meninggalkan mejaku dengan susah payah.
"KYAA..oppa khajimaaa!"
"Yaa, oppanya pergi deh. Lo pada sih, rusuh banget kek ibu-ibu mau lahiran aje dahh. Hilang deh bias baru gue".
"yee bukan salah kita kali".
Ckckck, mereka masih membicarakan lelaki tadi! Mereka bahkan saling tarik-menarik layaknya sedang lomba tarik tambang! Untung saja, bodyguard dari laki-laki itu segera datang dan membantunya melewati kerumunan remaja labil itu. Bodyguard ? Entahlah, lelaki bersamnya itu, menurutku lebih ke seorang sahabatnya.
Aaaa,, kenapa aku jadi memikirkan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan.
Tunggu,, tapi wajah lalaki itu sepertinya tak begitu asing dimataku. Apa mungkin, sebelumnya aku pernah bertemu dengannya? Apa ini kali pertama aku bertemu dengannya? Tapi sepertinya tidak. Sepertinya dia itu seorang CEO atau apalah itu, dia mengenakan setelah jas berwarna hitam yang rapi dan juga,--
"Aduh, Nur maaf sekali ya, aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama",
"Aku tadi ada urusan mendadak yang,"
"Nur? ..
"Hei? Kamu mendengarkanku?
"Eh, kamu suda sampai Fa? Sejak kapan?"
"Sejak kau hanyut dalam lamunanmu itu, kau bahkan tak menyadari keberadaanku, memangnya apa yang sedari tadi yang mengganggu pikiranmu?"
"Ah iya, tidak ada sih Fa, oh iya kamu telat kenapa tadi?"
"tuhkan, kau bahkan tidak mendengarkan apa yang aku katakan tadi?", Fatimah memasang wajah kesalnya, karena beberapa menit yang lalu aku tidak mendengarkan penjelasannya. Bukankah seharusnya aku yang marah padanya? karena membuatku menunggu terlalu lama.
"sudahlah tak usah dibahas, aku mengajakmu bertemu disini, karena ingin membeitahukan sesuatu yang cukup penting?"
"Apa? Hal penting apa yang belum aku ketahui mengenai shabatku ini?"
Akupun menceritakan semuanya padanya dengan perlahan-lahan agr dia tak terlalu syok dengan apa yang akan aku katakan. Dimulai dari aku yang dijodohkan oleh keluargaku, sampai aku yang akhirnya menerima perjodohan itu.
Fatimah sempat kaget, setelah mengetahui bahwa aku akan menikah karena dijodohkan. Namun, akhirnya dia mengerti dan mendukung keputusanku. Setelah mendengar semua penjelasan kenapa aku menerima perjodohan itu.
***