Bambang Purwanto yang ketakutan berteriak hingga suaranya menjadi serak.
Tetapi ketika dia tersadar, dia menemukan bahwa kepala mobil nan mewah itu tepat berada di lutut wanita itu dan berhenti di saat yang tepat dengan mepet.
Erika juga berkeringat dingin, dia menoleh dan melihat Bambang Purwanto, "Apa kamu baik-baik saja?"
Bambang Purwanto menatap gadis yang polos dan menawan ini, merasa sangat bersyukur dan berkata, "Saya tidak apa-apa, terima kasih kamu telah menolongku, terima kasih banyak!"
Di dalam mobil, Immanuel Haryanto melirik kedua orang itu dengan acuh tak acuh.
Gadis yang berdiri di depan mobilnya itu berparas cantik dengan tubuh yang ramping, matanya sangat jernih, seperti langit yang belum tercemar oleh polusi.
Pria itu memperhatikannya dan pandangannya berubah menjadi sebuah ejekan.
Benar-benar wanita bodoh!
Rolls-Royce Phantom itu melewati Erika dan melaju, hanya meninggalkan debu yang beterbangan.
Bambang Purwanto yang pulih dari ketakutannya mengumpat ke arah Immanuel Haryanto yang meninggalkan mereka, "Immanuel Haryanto! Kamu akan mati dengan mengenaskan!"
Erika melihat wajah pria paruh baya yang penuh dengan emosi dan hendak membujuknya, tetapi tiba-tiba dari belakangnya muncul sekelompok orang yang mengenakan setelan jas hitam, mereka langsung mengapit tangan Bambang Purwanto dan mendekap mulutnya, lalu menyeretnya pergi secara paksa.
Erika terperangah di tempat, dan tertegun untuk waktu yang sangat lama.
Immanuel Haryanto, pria legendaris yang dikabarkan sangat brutal dan tidak berperasaan, ternyata bisa melakukan hal yang begitu kejam, sudah membuat orang bangkrut dan kehilangan segalanya, sekarang malah menekannya dengan kekerasan.
Pria seperti ini benar-benar sangat menyeramkan dan berbahaya, Erika harus menjauhi pria seperti ini!
Erika tidak berani berlama-lama di tempat itu, dia melangkahkan kakinya menuju halte bus. baru berjalan beberapa langkah, Erika menghentikan langkahnya, dia teringat pada saldo yang ada di rekeningnya.
Pekan lalu, dia mendaftarkan ketiga anaknya yang menggemaskan ke taman kanak-kanak favoritnya, dia sudah membayar biaya sekolah dan keperluan sehari-hari untuk satu tahun, saldo di rekeningnya pun terkuras habis, sekarang saldo di rekeningnya hanya tersisa enam juta rupiah.
Mereka berlima, uang ini hanya bisa bertahan selama satu bulan.
Segala sesuatu menjadi susah jika tidak punya uang, jika seseorang jatuh miskin, dia tidak lagi memiliki ambisi dan cita-cita.
Setelah menimbang-nimbang, pada akhirnya, Erika berbalik badan dan kembali ke PT Tirta Indonesia, perusahaan yang begitu besar, dia pasti tidak akan berhubungan dengan Immanuel Haryanto yang seperti iblis itu.
Mengenai Jacky si pria m***m itu, Erika sama sekali tidak menganggapnya.
PT Tirta Indonesia adalah perusahaan besar, dan disiplinnya juga sangat ketat, jika pria m***m itu berani melecehkannya, maka Erika memiliki cara untuk membuatnya enyah dari PT Tirta!
Erika kembali ke departemen personalia, saat keluar dari lift, beberapa orang keluar dari lift khusus di sebelahnya, lift itu adalah lift khusus yang digunakan oleh direktur utama.
Erika tanpa sadar menoleh ke arahnya dan melihat Immanuel yang dikelilingi oleh pengawal berseragam setelan hitam.
"Pak Immanuel!"
"Selamat pagi, Pak Immanuel!"
Semua orang yang lewat menyapanya dengan hormat.
Pria itu mengangguk sedikit sebagai jawaban.
Erika tidak melihat wajahnya, tetapi dia merasa punggungnya itu sangat familiar. punggungnya itu mirip dengan... Gigolo yang ditariknya lima tahun yang lalu...
Dia menggelengkan kepalanya dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak berpikir yang enggak-enggak.
Immanuel Haryanto adalah direktur utama PT Haryanto, bagaimana mungkin dia adalah gigolo yang diseretnya lima tahun lalu?
Setelah berpikir begitu, Erika pun berbalik badan dan berjalan ke arah departemen personalia.
......
Tiga hari kemudian.
Kantor direktur utama.
Asisten pribadi Immanuel Haryanto, Johanes Gunawan masuk ke ruangan dengan membawa data pribadi Erika Hendrawan.
"Pak Immanuel, wanita yang mendorong Bambang Purwanto itu bernama Erika Hendrawan, dia datang melamar hari itu, sekarang sudah lulus tes, sepuluh menit yang lalu sudah menandatangani perjanjian kerja, dia melamar sebagai sekretaris.
Immanuel sedang menyelesaikan dokumen dengan kepala tertunduk, wajahnya yang tampan itu tidak berekspresi, kelihatannya sangat dingin.
Dia melirik foto wanita yang tersenyum manis di curriculum vitae itu, kemudian Immanuel memalingkan pandangannya dengan acuh tak acuh, "Ya."
Dia menjawabnya dengan datar, sama sekali tidak bisa memprediksi suasana hatinya.
Johanes merasa heran, jelas-jelas atasannya ini yang menyuruhnya menyelidiki latar belakang Erika Hendrawan, mengapa setelah dia melaporkan hasil penyelidikannya, atasannya malah tidak tertarik lagi?
Namun, Mengenai urusan atasannya itu, Johanes tidak berani terlalu banyak bertanya, dia hanya bisa meletakkan data Erika Hendrawan di atas meja kerja atasannya yang dingin itu dan kemudian keluar dari ruangan.
Immanuel menghentikan gerak penanya, dia melihat curricullum vitae itu, matanya terlintas sebuah tatapan penuh arti.
***
Erika sudah menandatangani surat perjanjian kerja, dia duduk melamun di kursi departemen administrasi.
Sejujurnya, gaji yang ditawarkan PT Tirta padanya tidak rendah. Di masa percobaan gajinya sebesar enam belas juta rupiah, setelah menjadi karyawan tetap gajinya naik menjadi dua puluh juta rupiah, untuk posisi jabatan sebagai sekretaris, gajinya itu termasuk sangat memadai.
Namun, dia harus menghidupi tiga anak.
Susu bubuk, biaya kebutuhan sehari-hari, biaya sewa rumah dan transportasi...
Gaji ini sama sekali tidak bisa menutupi pengeluarannya yang begitu besar.
Dilihat dari keadaan ini, sepertinya Erika harus mencari cara untuk mendapatkan uang dari kerja sampingan.
Karyawan lama yang ada di departemen administrasi semuanya sangat ramah dan baik, menurut tradisi, setiap ada karyawan baru, pihak departemen akan mengadakan pesta penyambutan untuk karyawan yang baru bergabung.
Erika tidak bisa menolak undangan ini, dia setuju pergi ke pesta setelah pulang kerja.
Tetapi karena ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikannya, Erika meminta rekannya untuk menunggunya di lantai satu, dan dia akan segera menyusul.
Ketika Erika menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas ke lift, kebetulan lift itu mulai tertutup dengan perlahan.
Erika bergegas masuk ke dalam lift tanpa pikir panjang.
"Terima kasih!" Erika tersenyum, ketika menengadahkan kepalanya, dia melihat tatapan-tatapan yang mengerikan.
"Mengapa kamu menerobos masuk? ini adalah lift khusus yang digunakan direktur! cepat keluar!"
Erika tercengang, dia melihat ke belakang pengawal yang bersetelan jas hitam, dan melihat pria tampan yang berdiri di tengah kerumunan, pria itu berwajah dingin dan memancarkan aura yang elegan.
Dia adalah Immanuel! pria yang seperti iblis itu!
Erika menjadi gemetaran dan langsung membalikkan badannya, tidak berani menatap mata yang dingin itu.