Ujian akhir semester tiga telah selesai hari ini membuat Arsaka Dewandaru mahasiswa UGM merasa lega, walau dia cukup was-was dengan hasil ujiannya setidaknya ujiannya telah selesai kali ini.
Sembari menunggu kedua temannya selesai ujian, Saka memilih untuk makan siang, bukannya Saka tidak setia kawan, tapi sejak pagi perutnya belum di isi apapun kecuali air minum.
“Saka, gue cariin juga ternyata disini,” Bayu Mahardika datang bersama Daffa Aditama Subagyo, keduanya juga mahasiswa UGM.
“Gue udah chat kalian kalau gue di kantin, gak usah sok kaget gitu,” balas Saka.
“Hehehehehehe,,, lo udah pesenin makan buat kita?.” Tanya Bayu lagi, seberi duduk di hadapan Saka.
“Udah, gue pesenin bakso buat Daffa, dan mie ayam buat lo,” Balas Saka, yang hanya di angguki Daffa dan Bayu.
“Lo, ngapain sih Daf, diem aja dari tadi?.” Tanya Saka, yang kebingungan degan sikap Daffa, semenjak sampai di kantin Daffa hanya diam tidak bersuara sama sekali.
“Daffa lagi galau, lo taukan, Stevi mahasiswa Ilmu Hukum, yang sering di anter jemput sama Daffa, taunya si Daffa Cuma di jadiin supir, selama beberapa bulan ini, kan anying banget ya,,” Bayu memang satu Fakultas dengan Daffa, makanya Bayu lebih tau apa yang terjadi dengan Daffa ketimbang Saka yang beda faluktas dengan Bayu dan Daffa.
“Wahhhh,,, udah ketebak sih dari awal, jadiin pelajaran aja sih kalau deket bukan berarti suka, mungkin hanya di jadikan bahan perbandingan dengan laki laki lain, sabar Daf, masih banyak cewek lain, tapi saran gue, mending lo santai dulu, gak usah terburu buru, mending kita makan dulu, tuhh udah datang makan siang kita.”
*****
Setelah selesai ujian, kini kegabutan mulai melanda, mereka bertiga malam ini memutuskan untuk nongkrong di alun alun selatan sembari menikmati keramaian malam di alun alun kidul.
“Selama sebulan gak ada agenda kemana gitu,” Tiba tiba Daffa menyeletuk,.
“Iya, nih,, bener banget, masa gak ada plesiran sama sekali.” Imbuh Saka.
“Ghuueee,, uggaahhh,.” Bayu ikut bicara saat dia sedang menikmati mie instannya, membuat suaranya terdengar aneh.
“Ihhh,, jorok banget sih, di telan dulu baru bicara,” Daffa yang memang mendapatkan manner dari orang tuanya terkadang sedikit risih dengan Bayu yang sukanya seenaknya sendiri.
“Hehehehehe,,,” Bayu hanya nyengir.
“Kita libur satu bulan nih enaknya pergi kemana?,” Tanya Saka.
“Gak tau, tapi gue males muncak, gue pengen eksplore Indonesia lebih luas, masa main kita paling jauh ke Bali itu aja cuma ndaki gunung Batur habis itu pulang ke Jogja, gak seru banget dehhh.” Ucapan Bayu ada benarnya, di tengah aktifitas kuliah mereka yang cukup padat kalau mereka penat paling jauh ke Dieng, Prau, kadang ke gunung Lawu, pernah ke gunung Merbabu tapi hanya sekali karena mereka salah ambil jalur pendakian.
“Ehhhh gimana kalau ke Jakarta aja ke tempat gue,” Ajak Bayu.
“Ogahh.. aku gak mau lagi, emakmu galaknya minta ampun,.” Daffa yang terbiasa dengan orang tua yang lemah lembut harus mendengar suara omelan Ibunya Bayu tiap waktu ketika menginap di Rumah Bayu membuat trauma tersendiri bagi Daffa, beruntungnya saat itu Saka tidak ikut karena dia harus kembali ke Salatiga.
“Ehhh, gue searching di mbah google, ada Hutan Mangrove di Papua Barat, katanya hutan ini belum banyak yang eksplore, gimana kalau kita kesana, itung itung buat liburan berkesan, juga si Bayu kan konten creator, siapa tau followersnya tertarik buat liburan ke hutan mangrove di Papua Barat, belum lagi ada gunung botak walau agak jauh sih, tapi dari foto foto di mbah google kayaknya tempatnya masih bagus, apa lagi pantainya, uhhh keren..” Saka menunjukkan foto foto gunung Botak di Manokwari.
“Lo tadi ngomongin hutan mangrove, sekarang gunung botak, jadi yang mana tujuan kita??,” Tanya Bayu, yang di angguki Daffa.
“Kalau bisa dua duanya, kenapa harus pilih salah satu. Satu bulan coyyy libur dan gue malas mau pulang Salatiga, mending liburan ke Papua Barat,” Itu hanya alasan Saka, padahal dia malas pulang karena ada problem dengan orang tuanya.
“Ayo beres beres, terus berangkat,” Ajak Daffa, di ikuti Bayu yang berdiri dari tempat duduknya,.
“Kalian mau jalan kaki apa ke Papua, cek dulu kapan ada kapal ke Papua Barat, setidaknya ke Manokwari,” Apa yang di katakan Saka ada benarnya, saking antusiasnya Daffa dan Bayu sampai melupakan satu hal yang sangat penting itu, yakni transportasi.
“Cari tiket kapal aja, gak asik kalau naik pesawat kesana, sekalian kita nikmati perjalanan laut, buat kenang kenangan lah,,” Ajak Saka.
“Benar, gue yang urus tiket kapalnya,” Usul Bayu.
“Gass,,,” Balas Saka.
“Daf, lo izin dulu ke orang tua lo, lo juga Bay,” Perintah Saka pada Bayu dan Daffa.
“Kamu gak izin sama Ibu, Bapak mu?.” Tanya Daffa.
“Gue gampang kok, santai aja lah,” Balas Saka.
“Ok,,” Daffa mengangguk sebagai balasan.
****
Bayu mendapatkan izin dengan mudah dari orang tuanya yang cukup membebaskan Bayu untuk pergi kemanapun asal tujuannya pasti, berbeda dengan Daffa, Daffa butuh waktu beberapa hari untuk meyakinkan Ibu dan Bapaknya, sebenarnya bukan masalah uang, nmaun karena Daffa anak tunggal orang tuanya cukup protective pada Daffa, mereka takut Daffa kenapa napa, apa lagi Papua Barat cukup jauh bahkan butuh waktu berhari hari dengan kapal untuk sampai di Papua Barat, pada akhirnya Daffa harus kembali ke Solo untuk meyakinkan orang tuanya secara langsung.
Jika Bayu dan Daffa sudah mendapatkan izin berbeda dengan Saka, Saka tidak perlu izin sama orang tuanya, lebih tepatnya Saka malas memberitahu kemana dia pergi pada orang tunya.
“Huhh,,,, tinggal nungguin Daffa, bose juga si kosan tiap hari, paling keluar cuma makan..” Bayu memainkan gitar milik Saka, saat ini mereka berdua berada di kos milik Saka,.
“Lo tau sendiri gimana protectivenya orang tua Daffa, di tambah Daffa anak keluarga terpandang, kalau ada apa apa kan bahaya, apa lagi Daffa anak tunggal, beda sama kita yang di bebaskan orang tuanya, santai aja sih,, gak usah buru buru, besok hari senin, lebih baik kita ke puskesmas cek Kesehatan, sekalian tanya tanya tentang penyakit Malaria, jangan sampai liburan kita gagal gara gara Malaria,” Ajak Saka, apa yang dikatakan Saka ada benarnya, lebih baik mereka memeriksakan kesehatan mereka terlebih dulu, setidaknya satu masalah bisa teratasi.
“Iyaa,,,” Bayu menghela nafasnya.
“Suntuk banget gue, ahhh mending gue tidur aja,” Saka hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Bayu yang kebosanan.
Saka memilih untuk bermain i********: sembari melihat beberapa orang yang telah liiburan di Hutan Mangrove dan Gunung Botak.
Saka semakin yakin jika perjalanannya ke Papua Barat terbayarkan dengan keindahan alam yang tersaji.
Namun, hati Saka yang semula baik baik saja, tiba tiba memanas setelah tidak sengaja melihat foto yang mungkin tidak sengajak masuk dalam explorenya.
Tangan Saka sekuat tenaga meremas ponselnya, Saka bahkan tidak perduli dengan ponselnya yang bisa saja rusak akibat terlalu erat tangannya menggenggam ponsel miliknya.
Jadi seperti ini rasanya di abaikan, menghela nafasnya berkali kali, Saka mencoba untuk menenangkan hatinya, jangan sampai ia kembali los control dan membahayakan nyawanya lagi, terlalu berharga nyawanya hanya untuk melampiaskan rasa sakit yang Saka alami saat ini.