Adventurer Part 2 Dapat Izin

1246 คำ
Daffa sedang duduk di samping sepupunya, Ghea, Ghea walau perempuan tapi, gayanya tomboy abis,, terkadang banyak yang mengira Ghea ini cowok saking Sukanya Ghea berdandan layaknya cowok, bahkan di dalam lemari Ghea tidak ada dress bahkan bawahan rok, saking enggak Sukanya Ghea pada kedua jenis pakaian itu. “Kalau kamu mau pergi ke papua, kamu harus ajak Ghea, Ghea itu pandai bela diri, pandai menjaga diri juga, jadi kamu bakalan aman Daffa,” Ibu Daffa, Stasia Subagyo memberi izin pada Daffa asal Ghea ikut, padahal Daffa ingin menikmati waktunya bersama kedua temannya. “Ibu, aku pergi ke Papua buat liburan, bukan mau perang sama OPM, ngapain Ghea ikut juga, orang aku perginya sama Bayu dan Saka,” Daffa, sebenarnya bingung sama Ibunya, kenapa Ibunya protective banget sama dirinya. “Tetap saja,, Ghea perlu ikut buat jagain kamu, kalau kamu enggak mau Ghea ikut, Ibu enggak izinin kamu pergi ke Papua,” Putus Stasia final. Membuat wajah Daffa masam seketika. “Udah deh, mendingan lo ajak gue aja, gue gak akan ngerepotin anak manja kaya lo, gue bisa jaga diri sendiri,” Ghea sepertinya tidak merasa Daffa kesal dengannya. “Ghea, kamu ini anak perempuan, tapi bicaramu itu ndak sopan banget,,” Stasia menegur gaya bicara Ghea yang tidak mencerminkan perempuan terdidik. “Budhe, sekarang itu kapai bahsa gaul, lo, gue, udah biasa, anak muda harus mengikuti perkembangan zaman, nanti di bilang kuper kan malu,” Ghea protes pada Stasia. “Ghea, mengikuti perkembangan zaman boleh boleh saja, tapi sopan, santun, tata krama dan etika itu harus di jaga, jangan sampai jadi anak muda yang gaul, kekinian, tapi tidak tau tata krama, itu akan membuat dirimu tidak akan di hargai di lingkunganmu, mungkin kamu belum merasakannya Nak, tapi yakinlah sama Budhe, kalau suatu hari nanti kau akan membutuhkan tata krama yang telah di ajarkan Ibumu sejak kamu kecil.” Apa yang dikatakan Stasia ada benarnya, sekarang banyak anak muda suka mengikuti tren kekinian, jadi anak gaul, nongkrong sana sini, namun sebagaian besar dari mereka, tidak memiliki Etika dan tata krama, berbuat seenaknya sendiri dan pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. “Budhe, maafkan Ghea, Ghea akan mencoba bicara dengan bahasa yang baik dan benar, dan juga Ghea akan mempelajari tata krama lagi,” Ucap Ghea penuh dengan penyesalan, dan Daffa hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Ghea dan Ibunya, padahal ini bukan pertama kali Ghea di tegur Ibunya, dan Ghea tidak juga memperbaiki tutur katanya. Pada akhirnya Daffa menyetujui sepupunya itu ikut padahal jika dipikir-pikir Ghea ini cewek dan dengan pedenya mau berpetualang sama cowok-cowok. Ghea dan Daffa langsung bertolak ke Jogja sore ini, besok sore mereka akan berangkat ke Surabaya,. Sebenarnya Daffa tidak enak pada kedua temannya tapi mau gimana lagi mungkin dengan adanya Ghea bisa menambah suasana makin seru di perjalanan mereka nanti. “Daffa, Ghea, hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut,” Ucap Stasia, pada anak dan keponakannya. “Iya Ibu, kami nggak akan ngebut kok. Ibu tenang aja udah ya, kita berangkat dulu Bu,” Pamit Daffa,. “Jangan lupa obat-obatan yang Ibu siapkan dibawa, ibu juga udah siapin lauk buat kamu dan teman- temanmu selama di kapal, lagian kamu ini aneh banget kenapa nggak naik pesawat aja biar cepat kalau naik kapal kan lama mana kamu belum pernah naik apa nanti kalau kenapa-kenapa gimana?,” Ibu Daffa kembali mengkhawatirkan Daffa. “Daffa dan Ghea bakalan baik-baik aja Bu, Ibu nggak usah khawatir. Kami berangkat dulu, takut kemalaman.” Daffa mencium tangan Ibunya, di ikuti Ghea, lalu mereka berdua masuk kedalam mobil Daffa. Sepanjang perjalanan Ghea asik tidur, hal ini membuat Daffa kesepian biasanya Ghea akan berisik, bernyanyi dengan suara cempreng nya atau sibuk main game, mungkin Ghea benar-benar lelah, dari pagi sampai sore dia sibuk untuk packing bajunya yang akan di bawa ke Papua. Menepikan Mobilnya di sebuah kedai makan daerah Condong Catur Daffa membangunkan Ghea, Ini sudah waktunya makan malam Daffa tidak ingin Ghea telat makan mengakibatkan sakit lambung. “Gee,, bangun,,Ghea bangun..” Daffa membangunkan Ghea dengan suara pelan-pelan takut Ghea kaget. “Eungghhh... Apahhhh?,” Tanya Ghea setengah sadar. “Bangun dulu, kita makan ini udah malem,” Ajak Daffa. “Kita sampai mana?,” Tanya Ghea sambil merapikan ikatan rambutnya, dan juga mengaca, apakah ada air liur atau belek di wajahnya dan untungnya tidak ada. “Sampai di Condong Catur, yukk ah keburu malam, kamu juga belum dapet Hotel.” Ghea mengangguk mendengar ajakan Daffa. Selesai makan, Daffa mencarikan Ghea hotel yang dekat dengan kosannya agar lebih mudah aja kalau ada apa apa, beruntungnya di jalan Kali Urang cukup banyak hotel dan penginapan, tinggal Ghea milih mau nginep dihotel mana. “Kamu yakin nginep disini?,” Tanya Daffa, langsung di angguki kepala Ghea. “Ok.. kita check in.” Daffa turun dari mobilnya, di ikuti Ghea, mengambil tas selempang milik Ghea di bagasi, sebelum masuk kedalam hotel. “Udah ini aja yang perlu di bawa masuk?,” Tanya Daffa. “Iya. Ehhh camilan aku mana? Yang aku beli di minimarket tadi,?.” Tanya Ghea. “Di jok belakang kayaknya, ambil sana,” Ghea dengan cemberut mengambil camilannya di dalam mobil Daffa.. Artotel Yogyakarta menjadi pilihan Ghea untuk menginap malam ini, di bantu Daffa check in Ghea mendapatkan kamar singel cukup nyaman untuk di tempati hingga besok sore. “Aku langsung balik kosan, kalau ada apa-apa kabarin, jangan keluar dari hotel kalau gak penting penting amat.” Ghea hanya mengangguk, walau Ghea beberapa kali ke Jogja tapi tetap aja Ghea tidak terlalu hafal jalan di Jogja, yang ada dia malah tersesat, Daffa akan memarahinya. Daffa meninggalkan hotel tempat Ghea menginap, sebenarnya hanya butuh waktu beberapa menit mungkin tidak ada lima menit untuk sampai di kosannya, tapi malam sabtu begini jalan Kali Urang cukup banyak kendaraan berlalu lalang hingga membuat Daffa harus terjebak macet di jalan Kali Urang seperti ini. Saka dan Bayu sepertinya baru saja masuk ke kosan mereka melihat sepeda motor Bayu baru saja parkir di tempat parkir sepeda. “Ehhhh,,, baru nyampe lo, gimana perjalanan?.” Tanya Saka langsung menghampiri mobil Daffa, meninggalkan Bayu yang sibuk membawa barang barang yang telah mereka beli sebelum Daffa kembali. “Macet pas sampai jalan Kali Urang, sebelumnya sih lancar lancar aja,” Balas Daffa sambil keluar dari mobilnya, tidak lupa Daffa mengeluarkan makanan dan tasnya dari bagasi mobil. “Lo, abis ngeborong apaan Daf?.” Tanya Bayu menghampiri Daffa dan Saka sambil menenteng plastik berisi belanjaan mereka. “Makanan kering, Ibu yang buat, lumayan lah buat menghemat lauk di perjalanan,” Jelas Daffa. “Ibu lo emang the best deh,, sayang Ibu gue enggak.” Ucap Saka sambil tertawa, padahal dalam hatinya sedang merasa sakit, yaa,, sakit tidak pernah sekalipun Ibunya menanyakan kabar bahkan berkirim pesanpun tidak pernah. “Udah,,, udahh,,, bercandanya, lebih baik kita masuk, kasihan Daffa sepertinya kelelahan.” Bayu menginterupsi pembicaraan Daffa dan Saka. Bukan karena Bayu tidak suka Daffa dan Saka berbicara, namun ada hal sensitive setiap kata Ibu keluar dari mulut Saka, dan Bayu tidak ingin mood Saka down ketika mengingat tentang Ibunya, jadi lebih baik Bayu menghentikan pembicaraan mereka berdua. “Benar apa kata Bayu, lebih baik kita masuk dan makan malam bersama, aku udah beli makan sekalian di jalan, moga enggak dingin karena cukup lama aku check in hotel buat Ghea,” Ucap Daffa. “Daff, lo emang ngerti banget sama keadaan kita yang kelaparan,,” Saka membantu Daffa membawa plastik berisi makan yang di beli Daffa, sementara Daffa menenteng tas berisi baju dan satu tas berisi makanan yang telah di siapkan Ibunya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม