Vanilla Pantas Ditunggu

1940 คำ
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat Joshua keluar dari ruangannya. Ia langsung turun ke basement dan naik ke mobilnya. Ia membelah jalanan ibuku kota yang mulai lenggang dan pergi ke salah satu mall terdekat. Ia tidak berkeliling, ia langsung masuk ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di mall itu. Ia memulai pencariannya ke bagian pakaian wanita. Matanya melirik baju-baju dan gaun santai di sekelilingnya. Ia berpikir dan mengingat-ingat postur tubuh gadis itu. Setelah mendapatkan bayangan, ia mengambil beberapa kemeja, rok, blazer, dress dan segala macam pakaian wanita yang baginya akan sangat cocok dengan gadis itu. Ia tidak memilih secara asal. Ia memilih warna-warna yang memang identik dengan gadis itu. Warna hitam, juga warna-warna pastel yang selalu mendominasi pakaian yang biasa gadis itu pakai. Seorang pelayan perempuan dengan seragam dan rok hitam itu membantu Joshua. Ia bolak-balik mencari ukuran yang diminta pria itu. Kakinya bergerak dari satu gantungan ke gantungan lain lalu mencacat belanjaan itu ke dalam nota. Setelah selesai dengan pakaian. Joshua pergi ke bagian sepatu wanita. Ia berdiri cukup lama di depan sebuah meja yang memajang sepatu formal. Selama ini Vanilla selalu memakai flatshoes. Dan berbagai pertimbangan, ia akhirnya mengambil tiga pasang sepatu hak rendah dengan model yang berbeda-beda. Kali ini ia pelu berpikir lebih lama untuk menentukan ukuran yang akan ia beli. Ia meminta banyak pendapat dari pramuniaga yang membantunya hingga akhinya menjatuhkan pilihan pada nomor tiga puluh sembilan. Setelah mengambil nota untuk sepatu-sepatu pilihannya, ia beralih ke meja sebelah yang memajang berbagai macam tas. Kali ini ia menjatuhkan pilihan lebih cepat. Ia memilih model yang sederhana namun terlihat cukup mewah. Ia berpikir semua baju yang dibelinya tidak cocok dipasangkan dengan ransel gadis itu. Ia ingin gadis itu mengubah penampilannya sedikit. Setelah berpikir bahwa semua sudah cukup, ia pergi mendekati antrean yang sudah mengular di kasir itu. “Joshua…” Ia masih mengantre saat mendengar suara itu. Ia menoleh ke asal suara, juga beberapa orang di sekelilingnya. Pria itu berdecak saat melihat Lauren berjalan cepat menghampirinya dengan beberapa plastik belanjaan di tangannya. “Aku pikir aku salah lihat.” kata Lauren saat ia mendekat dan mencium pipi Joshua sekilas sebelum pria itu sempat menghindar. “apa yang kamu lakukan di sini?” wanita itu bertanya. Tampak tak terpengaruh dengan beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan terang-terangan. “Membeli beberapa kebutuhan.” kata Joshua. Ia berusaha menutupi kegugupannya dan maju satu langkah saat kasir menyelesaikan satu transaksi pelanggan. Joshua menatap sekeliling. Ia perlu mengusir Lauren dari sini sebelum wanita itu tahu apa yang dibelinya. “Oh, ya? Apa?” wanita itu bertanya dengan nada penasaran. Ia mencoba melirik nota di tangan Joshua, namun pria itu dengan cepat menyembunyikan di belakang tubuhnya. “Beberapa setelan jas dan sepatu.” jawabnya singkat. Lauren membulatkan mulutnya sambil mengangguk. “kamu sudah makan malam?” “Belum. Ayo makan malam setelah ini.” kata Joshua, mencoba melengkungkan senyum pada wanita di sebelahnya. Ia maju satu langkah lagi saat satu pembeli menyelesaikan transaksi. “Ayo.” Lauren tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. “Ayo makan shabu and grill.” ajak Joshua. “kamu mau pergi ke atas duluan, sementara aku menyelesaikan pembayaran?” Joshua menatap cemas Lauren yang tampak berpikir. Ia berharap wanita itu setuju dan pergi dari sana sebelum ia sampai di depan kasir. “Baliklah. Aku akan menunggu di sana.” Lagi, Lauren sedikit berjinjit untuk mengecup pipi Joshua. Tampak tak peduli jika orang-orang yang mengantre di belakang Joshua menatapnya dengan sinis. Tak peduli wanita itu secantik apa, ataupun pria itu sangat tampan, mereka berpikir apa yang wanita itu lakukan berlebihan. Joshua menghela napas saat melihat Lauren menjauh. Ia menggaruk dahinya lalu menunduk karena tahu ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. *** “Setelan jas dan sepatu?” Lauren mengatakan itu dengan nada mengejek sambil menaiki eskalator. “dia pikir aku bodoh. Dia pikir aku akan percaya begitu saja.” Lauren berdecak. Ia tahu bahwa setelan jas pria itu selalu dibuat khusus di penjahit langganannya. Melihat pria itu ada di mall seorang diri saja sudah aneh. Ia tahu kalau pria itu tidak pernah menghabiskan waktunya untuk pergi ke mall apalagi berbelanja. Bagi pria itu, jalan-jalan ke mall adalah sesuatu yang sia-sia. Pria itu punya cara tersendiri untuk menghabiskan waktu. Lauren sudah mulai membakar daging saat Joshua masuk ke dalam restoran dan duduk di depannya. “Di mana belanjaanmu?” Lauren bertanya saat Joshua tidak membawa barang yang baru saja pria itu beli. “Aku menaruhnya di mobil.” jawab Joshua. Ia sudah mengambil sumpit, membalik daging di atas pemanggang dan mengambil salah satu yang sudah matang lalu memasukkannya ke dalam mulut setelah meniupnya. Lauren hanya mengangguk dan kembali pada deretan slice daging di atas pemanggang. Mereka berdua mengoborol ringan. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan. Lauren bisa menbaca kegugupan pria itu tadi. Pria itu telah bersusah payah menyembunyikan semuanya. Pria itu kini berpura-pura baik supaya ia tidak curiga. Pria itu tidak pernah tahu kalau ia sudah mencium hubungannya dengan wanita itu. Lauren tersenyum sinis saat melihat Joshua sedang mencacah daging sambil mengutak-atik ponselnya yang baru saja berdenting. Senang rasanya bisa sedikit mempengaruhi hingga pria itu sedikit menurut padanya. Lauren sama sekali tidak membahas pertunangan hari ini sehingga Joshua sedikit lebih tenang. Mereka lebih banyak membicarakan pekerjaan pria itu dan kesibukan Lauren akhir-akhir ini. Setelah Joshua menyelesaikan pembayaran, mereka berdua keluar dari restoran. “Kamu bawa mobil?” Joshua berbasa-basi meski ia tahu jawabannya. Lauren selalu membawa mobilnya sendiri. Ia cukup mandiri karena tidak pernah diantar jemput supir. Wanita itu mengangguk, sebelah tangannya melingkar di lengan Joshua yang mencoba bertahan meski risih. “Kamu pulang? Atau tidur di apartemen?” Lauren bertanya. “Pulang.” Joshua menjawab singkat. Mereka berdua berpisah di parkiran. *** “Sampai kapan kamu mau seperti ini?” Vanilla bertanya saat lagi-lagi melihat Joshua di ruang tunggu kantornya. “Seperti ini?” Joshua bertanya dengan nada kebingungan. “Menjemputku.” kata Vanilla. Ia berdiri di depan Joshua yang langsung berdiri dari duduknya. “kamu seharusnya sudah tidur jam segini. Kenapa buang-buang waktu untuk menjemputku.” “Aku selalu tidur malam.” jawab Joshua saat mereka berdua menghampiri mobilnya. Ia membuka pintu penumpang belakang dan mempersilakan gadis itu masuk. Setelah menutup pintu, Joshua memutar dan melesak di belakang kemudi. Perjalanan itu memakan waktu setengah jam karena jalanan sudah sangat lenggang. Joshua mendengar Vanilla mengucapkan terima kasih lalu keluar dari mobil. Ia ikut keluar lalu mengambil barang belanjaan yang ia taruh di bagasi. “Apa itu?” tanya Vanilla saat ia membuka gerbang dan melihat Joshua membawa beberapa plastik di tangannya. “Sesuatu untukmu.” Joshua berdiri di depan Vanilla yang menatapnya kebingungan. “Untukku?” Vanilla masih belum bergeser dari tempat berdirinya. Ia menghalangi Joshua yang ia tahu akan masuk ke rumahnya. “Iya. Ayo masuk dan lihat.” Joshua menarik sebelah tangan Vanilla mendekati pintu. Setelah Vanilla membuka pintu, ia mendorongnya lebih lebar dan duduk di ruang tamu. “Sebelumnya, aku tidak menerima penolakan atas alasan apapun.” kata Joshua saat Vanilla berdiri di depannya. Gadis itu menatap plastik yang ia taruh di atas meja. Vanilla tidak menjawab, ia menunjukkan seraut wajah bingung saat Joshua mengeluarkan isi plastik yang dibawanya. Mulut Vanilla sedikit terbuka saat ia melihat baju-baju, dress, tas sampai sepatu dari dalam plastik. “Ini untukmu.” kata Joshua. “Untuk apa? Apa kamu pikir ada yang salah dengan penampilanku?” Vanilla melihat Joshua menggeleng cepat. “Tidak. Bukan begitu.” Joshua sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan gadis itu. “aku tadi pergi berjalan-jalan. Aku melihat baju-baju dan sepertinya akan cocok untukmu.” Vanilla menatap barang-barang di depannya. Vanilla lupa kapan terakhir kali ia membeli baju baru. Vanilla tahu betapa sulitnya ia mencari uang sehingga, ia tidak pernah membuang uang untuk membeli barang-barang pribadi yang tidak benar-benar ia butuhkan. Bertahun-tahun ia telah mengatur keuangannya agar tidak pernah kekurangan setiap bulannya, sehingga tak pernah membeli barang dengan impulsif. “Tapi… aku tidak membutuhkannya.” ujar Vanilla. Ia selalu memastikan baju, sepatu dan tas yang ia pakai masih sangat layak. “Aku membelinya bukan karena kamu butuh. Tapi karena aku pikir barang-barang ini akan cocok untukmu.” Joshua mencoba menjelaskan agar tidak membuat gadis itu tersinggung. “Aku tidak bisa menerimanya.” Vanilla menggeleng pelan. “kamu sudah terlalu baik selama ini. Kali ini kamu berlebihan.” setelah melihat bungkusan meneliti barang-barang itu, ia tahu bahwa semuanya bukan barang-barang murah. Ia tidak bisa membayangkan pria itu menggelontorkan berapa banyak uang untuk membeli semuanya. “Tidak ada yang berlebihan, Vanilla. Anggap saja ini rasa terima kasih karena kamu sudah baik dan banyak membantuku.” “Tapi aku tidak pernah mengharapkan ini.” kata Vanilla, “justru aku yang selalu menyusahkanmu.” “Aku tidak bilang kamu mengharapkannya. Kamu juga sama sekali tidak menyusahkanku. Aku hanya ingin berterima kasih.” Joshua menatap gadis itu terdiam sambil meneliti meja ruang tamunya yang sudah penuh oleh barang-barang pemberiannya. Vanilla tahu ia tidak bisa menerima semua ini. Dilihatnya Joshua yang jelas tidak akan membiarkan ia menolak semua ini. “Aku tidak mau kamu melakukan ini lagi.” Vanilla akhirnya mengalah, ia melihat Joshua tersenyum dan berpindah duduk di sebelahnya. “Bilang saja jika ada yang kekecilan, atau kebesaran. Aku akan membelikan sesuai dengan ukuranmu.” Vanilla menggeleng saat ia mengambil sepasang sepatu hak rendah dan melihat ukurannya sesuai dengan ukuran kakinya. “ini sepertinya pas.” Joshua tersenyum. Senang karena gadis itu akhirnya menerima pemberiaannya tanpa perdebatan sengit seperti yang ada dalam bayangannya. Ia mengambil sebelah tangan Vanilla dan meremasnya pelan. Ia menatap tepat ke manik mata gadis itu yang langsung menunduk malu. Ia mengambil dagu gadis itu lalu mengarahkan ke arahnya. “Aku tahu beberapa tindakanku mungkin membuatmu bingung.” ujar Joshua, “kamu hanya harus tahu bahwa semuanya beralasan. Aku menyukaimu, Vanilla.” Vanilla bergeming. Kalimat itu meluncur mulus memasuki gendang telinganya. Ia menatap Joshua yang tampak bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tapi sama sekali tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kelu, atau mungkin juga ia sadar bahwa ia tidak punya jawaban apapun untuk pernyataan perasaan pria itu. “Aku tidak perlu jawaban sekarang.” kata Joshua. “aku tahu kamu masih perlu untuk memastikan sesuatu.” tambahnya. “aku akan menunggu sampai kamu mendapatkan kepastian dari Aditya. Aku akan menunggu sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan.” saat mengatakan itu, ibu jari pria itu mengusap sebelah pipi Vanilla, lalu beralih ke bibirnya yang sudah tak terlapisi pewarna bibir. Bibir gadis itu merah muda, lembab dan terlihat menggoda. Joshua mendekatkan wajahnya. Saat sedikit lagi bibirnya bisa menyentuh bibir gadis itu, Vanilla memalingkan wajahnya. Gadis itu meneguk salivanya dan menunduk dengan posisi duduk yang mulai tak nyaman. Jantungnya kembali menggila dan ia mulai kewalahan. Joshua tersenyum, memaklumi. Ia akhirnya menarik tangan Vanilla hingga tubuh gadis itu jatuh ke pelukannya. “sebentar saja.” gumam pria itu tepat di telinga Vanilla. “ini menenangkan.” Vanilla akhirnya melemaskan tubuhnya dan membiarkan pria itu mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum. Sama seperti Joshua, ia juga mulai merasa bahwa pelukan itu sangat nyaman, entah sejak kapan. Pelukan singkat itu sepertinya mampu menarik semua kelelahan karena kegiatannya seharian ini dan membuat moodnya lebih baik. Joshua lupa kapan terakhir kali merasakan jatuh cinta dengan perasaan setulus ini. Ia sadar ia sudah kehilangan banyak waktu karena pekerjaannya. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya dan tidak pernah benar-benar bertemu dengan orang yang membuat perasaannya menjadi menggila seperti ini. Ia mungkin bisa menghabiskan malam dengan wanita-wanita yang ia kenal di klub malam sesekali, namun tidak pernah ada yang bisa menyentuh hatinya, bahkan Lauren yang sebegitu cantiknya. Hanya Vanilla. Gadis sederhana yang tidak pernah ia pikirkan akan menggetarkan hatinya sedemikian rupa. Vanilla pantas ditunggu. Ya. Joshua akan menunggu hingga gadis itu benar-benar bisa membuka hatinya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม