Kamu Sangat Cantik

1800 คำ
“Bukankah sudah Papa bilang untuk menjauhi gadis miskin itu?” Reza, ayah Aditya membanting foto-foto yang datang padanya pagi ini. Foto-foto yang menunjukkan potret Vanilla dan Aditya dalam berbagai kebersamaan. Ia jelas sangat marah setelah anaknya berjanji tidak akan lagi menemui gadis itu. Ia pikir ia bisa memegang kata-kata anaknya, tapi ia salah. Aditya terkejut. Ia mengambil beberapa foto yang jatuh di atas meja dan menatapnya baik-baik. Ia tahu foto-foto ini. Ini adalah saat terakhir kali ia memberikan harapan pada gadis itu. Mereka sempat kembali dekat beberapa waktu sebelum akhirnya Aditya memutuskan untuk pergi lagi dan tak lagi memberikan harapan pada gadis itu. Ia tahu bahwa semua ia lakukan sudah sangat keterlaluan. Ia pergi, lalu datang kambali, memberikan harapan yang ia tahu tidak akan bisa ia tepati. Ia pikir sudah waktunya ia melepaskan gadis itu. Ia ingin gadis itu fokus pada hidupnya sendiri. “Aku sudah tidak pernah bertemu dengannya.” tegas Aditya, “ini foto-foto lama.” Aditya mencoba meyakinkan meski ia tahu ayahnya tidak akan percaya begitu saja. Ia tidak mengerti bagaimana bisa foto-foto ini sampai ke tangan ayahnya. Itu berarti, selama ini ada yang membuntutinya. Giginya gemelutuk menahan marah. “Kamu pikir Papa percaya begitu saja?” Aditya menatap wajah ayahnya yang sudah memerah karena marah. Ia tahu kedua orangtuanya sudah kehilangan kepercayaan. Ia selalu bilang bahwa ia akan menerima rencana pertunangan itu karena tidak sanggup kehilangan semua fasilitasnya, namun ia masih saja berusaha menemui Vanilla dibeberapa kesempatan. “Tapi ini benar. Aku memang menemuinya beberapa waktu lalu, tapi sekarang tidak lagi. Ini foto lama.” Aditya membela diri. “aku sudah memutuskan untuk meninggalkannya. Ada orang yang selama ini membuntutiku.” jelas Aditya. “Papa tidak peduli siapa yang membuntutimu.” hardik pria itu, “Papa tidak punya pilihan selain mempercepat rencana pertunangan kamu dan Tasya.” Reza berdiri dari duduknya dan meninggalkan Aditya di ruang tamu. Aditya mengambil salah satu foto di mana ia dan Vanilla tengah makan siang di sebuah restoran. Dalam foto itu, gadis itu tengah tersenyum. Senyum yang masih kerap ia rindukan sampai saat ini. Ia mencintai gadis itu, sungguh. Ia tidak pernah ingin kehilangannya. Namun jika harus memilih antara gadis itu dengan semua fasilitas yang selama ini memanjakannya, ia tidak bisa memilih gadis itu. Ia tahu ia pengecut. Ia tahu ia sangat buruk karena tidak bisa lepas dari keluarganya demi bersama gadis yang dicintainya. Mungkin ia memang tidak pantas untuk gadis itu. Jika ia memilih untuk bersama gadis itupun, ia takut jika kedua orangtuanya terlalu ikut campur dan kelak akan menyakiti gadis itu. Ia tahu kedua orangtuanya sanggup melakukan apapun. Ada terlalu banyak ketakutan dalam pikiran Aditya jika ia memaksa untuk bersama dengan gadis itu. Ada banyak hal yang akhirnya menyadarkannya bahwa ia memang harus meninggalkan gadis itu agar hidup gadis itu lebih baik. *** Vanilla mematut dirinya di depan cermin. Baju-baju yang Joshua berikan sudah ia cuci dan setrika dan kini ia memakai salah satunya. Ia memakai celana hitam yang dipadukan dengan blus krem dan dilapisi blazer hitam. Ia tersenyum. Semuanya pas ditubuhnya. Ia tidak mengerti bagaimana Joshua bisa memilihkan ukuran setepat ini. Ia bergerak ke samping meja dan memakai sepasang sepatu barunya, juga mengambil tas di atas meja. Sekali lagi, ia mematut dirinya dari atas sampai bawah hingga tidak ada satu incipun dari tubuhnya yang terlewat olehnya. Ini terasa sedikit aneh. Ini seperti bukan dirinya yang biasa. Tapi ia suka dengan penampilannya saat ini. Ia terlihat sedikit berkelas. Suara ketukan di pintu rumahnya membuat ia memecah fokus dari cermin full bodynya. Ia keluar dari kamar dan membuka pintu. Senyum Joshua menyambut dibaliknya. Vanilla menunduk saat melihat Joshua menelitinya dari atas sampai bawah. Tatapan pria itu seakan menelanjanginya. “aku senang semuanya cocok untukmu.” kata Joshua, “kamu sangat cantik.” Lagi, wajah Vanilla memerah karena masih saja belum terbiasa dengan pujian pria itu. Dan Joshua menikmati itu. Ia suka wajah gadis itu yang malu dan memerah. Ia suka menggodanya karena gadis itu akan langsung menunduk dan menyembunyikan raut wajahnya. Vanilla menengadah saat Joshua mengambil sebelah tangannya. Ia baru sadar kalau pria itu berpakaian sangat rapi pagi ini. Pria itu memakai setelan jas lengkap dengan dasi. “Kamu ada pekerjaan diluar?” ia bertanya dan melihat pria itu mengangguk. “seharusnya kamu bilang, aku bisa berangkat sendiri.” kata Vanilla. Ia ingin pria itu tidak berpikir bahwa ia bergantung padanya. Ia bahkan telah berkali-kali bilang bahwa ia bisa pulang sendiri. Tapi pria itu memang tidak pernah mendengarkan kata-katanya. “Tidak apa-apa. Aku melewati kantor kok. Lagipula, kita jarang berangkat bersama.” ujar Joshua. Ia tidak ingin hal ini dianggap beban. Ia senang melakukannya. Vanilla tahu, Joshua memang lebih intens menjemputnya di tempat siaran. Mereka hanya berangkat dan pulang bersama sesekali. Ia tahu pria itu pasti punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. “Kamu belum sarapan, kan? Ayo cari sarapan.” Joshua menarik tangan Vanilla hingga keluar dari rumah. Joshua keluar lebih dulu sementara Vanilla mengunci pintunya, lalu gerbangnya. Joshua melajukan mobilnya keluar dari perumahan sederhana itu. Ia bergabung dengan kendaraan lain yang sudah memadati jalan raya. “Bagaimana dengan tawaranku untuk berhenti menjadi penyiar?” tanya Joshua. “aku tidak main-main saat aku bilang bisa memberikan posisi sebagai karyawan tetap di perusahaan itu.” Joshua menatap Vanilla dari kaca tengah. Gadis itu menggeleng pelan. “Orang akan bilang apa kalau aku masuk ke sana begitu mudah.” kata Vanilla. “Biarkan saja. Kenapa harus memikirkan kata orang.” Joshua melihat gadis itu menghela napas. “Dan aku akan bekerja dengan banyak cemoohan, dan kebingungan orang-orang. Aku tidak mau menghabiskan hidupku menjadi bahan gunjingan orang.” jelas Vanilla. Joshua tahu apa dimaksud Vanilla. Ia mengerti dan menutup pembicaraan. Mobilnya memasuki pelataran sebuah restoran. Joshua sudah membuka safety belt saat Vanilla masih terdiam, “kenapa kamu selalu memilih restoran mahal?” Joshua tidak menjawab, ia hanya mengulas senyum tipis. *** Orang-orang di ruangan itu kagum pada penampilan Vanilla hari ini. Karyawan laki-laki memuji bahwa penampilan gadis itu luar biasa. Sedangkan karyawan wanita lebih suka memuji dengan tatapan penasaran yang tidak bisa disembunyikan. Vanilla tahu karyawan-karyawan wanita tidak benar-benar tulus melemparkan pujiannya. Ia melesak di kursinya dan menyalakan komputernya. Ada banyak dokumen yang harus ia input dan beberapa laporan yang harus ia cek. Di sela-sela pekerjaannya, Vanilla memindai sekeliling hingga akhirnya tatapannya jatuh pada seorang karyawan wanita yang mejanya tak jauh darinya. Ia dengar wanita itu lulusan S2 di universitas di luar negeri. Di menatap ke wanita sebelahnya dan tahu kalau wanita itu sarjana yang lulus dengan predikat cumlaude di univeritas terbaik. Dan setelah ia meneliti satu persatu, mereka semua adalah karyawan-karyawan pilihan dan yang terbaik. Mereka pasti mengalahkan puluhan orang hingga akhirnya bisa menempati posisi sekarang. Vanilla minder, mungkin iya. Dan mendengar tawaran Joshua yang baginya sangat konyol semakin membuatnya sadar bahwa ia mungkin tidak akan bisa bekerja di sini selepas magang. Bahkan jika Joshua adalah pemilik perusahaan ini, ia tidak akan menerima tawaran itu cuma-cuma. Ia ingin masuk ke perusahaan itu dengan kemampuannya sendiri. *** Lauren berada di sebuah ruangan VIP sebuah restoran saat ia menyalakan rokoknya. Di dapannya, orang suruhannya sedang memberikan banyak informasi tentang Vanilla. Ia mengangguk, masih menajamkan telinganya seakan tidak ingin kehilangan sedikitpun informasi itu. Ia sadar semua yang keluar dari mulut pria itu sangat berharga. Di atas meja, beberapa foto Vanilla dan Joshua teronggok begitu saja. “Jadi dia yatim piatu dan tinggal seorang diri.” Lauren menyesap lintingan nikotin lalu mengeluarkan asapnya melalui mulut. Ia menekan ujungnya ke asbak hingga bara mati. Sekali lagi, wajah Vanilla yang ia lihat dilift memenuhi pikirannya. Jadi beberapa kali pria itu tidak pulang kemungkinan karena menginap di rumah gadis itu. Ia mendecih lalu menyesap minumannya. Gadis itu terlihat polos, namun ia tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah mereka lakukan berdua di rumah itu. Ia mengambil beberapa foto yang menujukkan keduanya keluar dari mobil lalu masuk ke rumah itu. “Kenapa dia duduk di belakang?” dahinya berkerut melihat Vanilla duduk di kursi belakang. “Trauma.” jawab pria di depannya sambil mengisap lintingan nikotin di sela telunjuk dan jari tengahnya. Lauren mendecih. Ia tidak mengerti kenapa pria dewasa seperti Joshua mau saja dibodohi seperti itu. Apa pria itu tidak sadar bahwa ia seperti supir. Atau memang gadis itu memanfaatkan Joshua untuk menjadi supir pribadinya. Ia tidak tahu apa yang sudah gadis itu berikan pada Joshua sehingga pria itu menjadi seperti itu. Ini adalah hal paling lucu yang ia lihat dalam hidup Joshua. Pria dewasa, mapan dan tampan, bisa-bisanya dimanfaatkan oleh seorang gadis. “Cari semua informasi mengenai gadis itu. Latar belakangnya dan semuanya.” perintah Lauren pada pria di depannya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amlop berisi uang dan menaruhnya di atas meja. Pria itu mengambil amplop itu lalu memeriksa isinya sekilas. Ia tersenyum, lalu pergi dari sana. Meninggalkan Lauren dengan banyak hal yang memenuhi isi pikirannya. Ada banyak hal yang Lauren pikirkan. Termasuk bagaimana keduanya bisa bertemu. Ia jelas tidak yakin mereka bertemu di perusahaan itu. Vanilla dan Joshua terlalu jauh dan tidak akan bisa dekat hanya karena berada di perusahaan yang sama. Ia tahu bagaimana kesibukan pria itu. Pria itu tidak akan memerhatikan karyawan-karyawan yang ada di sana. Kalaupun ia, yang lebih cantik dari Vanilla jelas lebih banyak, kenapa harus gadis itu. Dari sekian banyak pilihan, kenapa pria itu harus bersama Vanilla. *** Cokelat itu datang lagi hari ini. Diberikan pada Vanilla oleh resepsionis yang juga tengah mengantar beberapa dokumen untuk karyawan lain. Vanilla menatap cokelat warna-warni di depannya. Cokelat yang sangat menggugah bagi dirinya si pecinta makanan manis. Note juga terselip di kotak itu. Kata manis seperti biasa dengan inisial nama A.J. Jika biasanya Vanilla kan sangat senang menerima itu, kini ia tahu bahwa ia sama sekali tidak membutuhkan itu. Ia butuh bertemu pria itu dan mendapatkan kepastian. Pria itu tidak bisa kembali, memberikan harap lalu pergi tanpa kabar lagi. Ia sudah berkali-kali memberikan pria itu kesempatan dan menelan banyak kecewa. Ia ingin mengakhiri semuanya. Ia ingin bertemu pria itu dan mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik. Vanilla tidak ingin munafik bahwa Aditya pernah menjadi sosok yang berharga di hidupnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia menswipe layar lalu menekan tombol call pada kontak Aditya. Ia perlu mempertanyakan maksud pria itu. Ia perlu tahu kenapa pria itu masih saja mengirim hadiah-hadiah seperti ini sedangkan dia tidak pernah muncul di hadapanya sama sekali. Ia perlu meminta pria itu untuk berhenti. Sepertinya ada banyak hal yang perlu ia bicarakan dengan pria itu. Namun seperti biasa, sambungan teleponnya selalu masuk ke kotak suara. Ia tidak pernah berhasil mendengar suara pria itu di ujung sambungan. Karena sama sekali tidak menginginkan cokelat itu, Vanilla akhirnya membagikan cokelat-cokelat itu pada teman-temannya yang lain. Ia sama sekali tak memakan cokelat itu dan berharap hal-hal itu tak lagi datang padanya. Jika pria itu memang tidak ingin kembali, seharusnya pria itu tidak pernah memberikan semua itu.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม