Aku Minta Maaf... Puas?

1441 คำ
Vanilla tidak mengerti apa yang terjadi dengan Aditya. Pria itu masih juga terdiam bahkan setelah ibunya mengatakan hal menyakitkan itu. Tidak perlu waktu lama untuk Vanilla menyadari bahwa ia sama sekali tidak diharapkan di sini. Ia tidak bisa terus berdiri di sana seperti orang bodoh sementara Aditya sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Vanilla akhirnya memilih pergi dari sana. Ia berjalan cepat melewati orang yang semakin memenuhi tempat acara. d**a gadis itu terasa sesak dan ia sekuat tenaga menahan tangisnya. “Vanilla…” Suara Aditya akhirnya terdengar. Namun ia tahu bahwa pria itu sama sekali tidak mengejarnya. Ia tidak ingin menoleh apalagi kembali. Ia menerobos kerumunan hanya untuk keluar dari tempat itu secepatnya. Ia berlari sambil menunduk, mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah. Ia keluar dari gerbang dengan tangis yang sudah tidak bisa ditahannya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu terhuyung karena menabrak seseorang. Saat berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya, ia menarik napas panjang. Ia tidak ingin menunjukkan wajah menyedihkannya pada orang lain. “Kamu ini punya mata atau tidak?” sentakan itu membuat Vanilla menengadah. Di depannya, ia melihat seorang pria dengan setelah jas hitam kini tengah menatapnya dengan tatapan marah. Tapi Vanilla tidak peduli, ia kembali berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia tidak peduli pada apapun lagi. Yang ia inginkan hanya sampai rumah secepatnya. “Hei… tunggu…” hanya dalam satu gerakan, pria itu berhasil menahan pergelangan tangan Vanilla dan menariknya hingga jatuh ke pelukannya. “Lepaskan!” Vanilla meronta dan merasakan pelukan pria itu justru semakin erat. “Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun?” pria itu menatap wanita dalam pelukannya dan tersenyum sinis melihat bekas air mata di pipinya. Raut wajah gadis itu tampak menyedihkan di matanya. Vanilla menengadah untuk menatap pria itu. Dua bola mata pria itu menatapnya dingin. Dengan jarak mereka yang begitu dekat, ia bisa mencium parfum maskulin yang melekat ditubuh pria itu. “Apakah memeluk orang yang tidak kamu kenal bisa dibilang sopan?” Vanilla menyentak. Ia mendorong sekuat tenaga hingga akhirnya pelukan pria itu terlepas. Ia mengelap pipinya dengan buku-buku jarinya. Mencoba tidak terlihat lemah di depan pria itu. “Kalau kamu meminta maaf, aku tidak akan melakukan itu.” Pria itu kini menatap Vanilla dari atas sampai bawah lalu berdecak. Satu yang Vanilla syukuri adalah ia berada di tempat yang sepi, karena kalau ia berada di tempat yang ramai, ia tidak akan berani membayangkan betapa malunya dia. “Aku minta maaf… Puas?” Vanilla kembali berjalan dan kali ini benar-benar tidak bisa menahan tangisnya. Tapi ia tidak peduli, ia mengerang sekeras-kerasnya. Menguarkan semua kekecewaannya. Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia sejak awal tahu bahwa hubungannya dengan Aditya memang tidak akan semudah yang ia bayangkan. Tapi, ia tidak bisa melupakan pandangan merendahkan dari wanita itu. Mungkin hal itu yang benar-benar melukainya. Selama ini, ia tidak pernah merasa dipandang rendah seperti itu. “Tunggu…” Vanilla berdecak lalu kembali membalik badan. Ia menatap pria yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya. “Kamu mau apa lagi? Bukankah aku sudah meminta maaf.” Gadis itu bisa merasakan napasnya tersengal karena mencoba menahan tangis. Ia tidak mengerti kenapa pria itu tidak bisa membiarkan pergi. “Aku mau kamu mengulangi permintaan maafmu.” Kedua mata Vanilla membulat. Ia tidak mengerti kenapa malam ini sangat buruk. Tidak cukup ia bertemu dengan orangtua Aditya, kini ia bertemu lagi dengan pria menyebalkan. “Aku mau kamu meminta maaf dengan tulus. Tatap lawan bicaramu.” kata pria itu sambil berkacak pinggang. Vanilla merasa bahwa pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Vanilla menatap pria itu lalu menelan ludah. Ia menatap pria itu dari atas sampai bawah. Pria itu tinggi dengan setelah jas yang terlihat mahal di matanya. Kulitnya putih dengan potongan rambut rapi dan rahang tegas. Pria itu tampan. “Kamu pikir kamu siapa? Urus saja urusanmu sediri. Jangan mengganggu orang lain.” Gadis itu terlihat sebal lalu dengan reflek melempar tas tangannya dan sukses mengenai lengan pria itu, lalu kembali berjalan. Vanilla tidak peduli lagi jika memang ia keterlaluan. Ia hanya ingin sendiri saat ini. Ia kembali menangisi hidupnya yang kurang dari satu jam yang lalu sangat bahagia menjadi luluh lantak. Ia melihat bagaimana gadis yang dijodohkan untuk Aditya, memang jauh lebih cantik dan yang pasti jauh lebih berkelas daripada dirinya. Harusnya ia tahu diri sejak awal. Seharusnya ia tidak berharap banyak. “Tunggu.” suara itu terdengar lagi dan kali ini benar-benar membuat Vanilla kesal. Ia melepas high heelsnya lalu berbalik, bersiap melemparnya ke arah pria itu. “Apa lagi, HAH? Sudah kubilang urus saja urusanmu sendiri.” Ia menggantungkan high heels-nya ke udara. “Kalau kamu berani melempar sepatu itu kearah ku, aku juga akan melempar tas jelekmu ini ke selokan.” Pria itu mengambil tas tangan Vanilla yang tadi dilemparkannya dan bersiap membuangnya ke saluran air yang ada di dekatnya. Vanilla menggeram dan berjalan mendekat hanya dengan satu high heels di kakinya. Langkah gadis itu dengan sebelah sepatunya tampak lucu di mata pria itu. Pria itu mati-matian mengulum senyum. “MENYEBALKAN!” Ia merebut paksa tasnya dari tangan pria itu dan kembali berjalan. *** Vanilla terbangun bukan karena alarm gawainya, melainkan karena panggilan masuk yang bertubi-tubi. Aditya, nama dan wajahnya menghiasi layar ponselnya. Vanilla menatap panggilan itu cukup lama hingga akhirnya panggilan itu mati. Ia tidak siap berbicara dengan pria itu dan tidak ingin. Ia memilih bangun dari ranjangnya dan bergegas ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin dan melihat matanya yang bengkak. Setelah membersihkan diri, ia kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan sepotong kemeja dan celana jeans. Ia melirik ponselnya yang sudah tenang. Ada enam pesan masuk yang belum sempat dibacanya dan sebelas panggilan tak terjawab. Aditya: Vanilla, maafkan kedua orangtuaku. Aditya: Vanilla, kamu di mana? Aditya: Tolong balas pesanku, atau angkat teleponku. Aditya: Aku menyesal dengan apa yang terjadi. Maafkan aku. Aditya: Jangan membuatku khawatir. Aditya: Apa kamu baik-baik saja? Ia membanting ponsel ke ranjangnya. Ia benar-benar kesal. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa melimpahkan semua kekesalannya pada pria itu. Ia mungkin berpikir bahwa pria itu mempermainkannya dan tidak benar-benar tulus dengan pernyataan cintanya semalam. Tapi gadis yang kemarin bersama kedua orangtua Aditya adalah gadis yang dijodohkan kepadanya. Mungkin saja Aditya tidak menyukainya. Dan pernyataan cintanya malam kemarin sungguh-sungguh. Apakah sikapnya semalam kekanak-kanakan? Entahlah, yang jelas ia terlalu bingung saat itu dan yang ingin ia lakukan adalah keluar dari situasi itu secepatnya. Setelah merapikan diri, ia mengambil tasnya di atas meja belajar lalu keluar dari kamar. Ia membuka kunci rumah dan terdiam saat melihat Aditya tertidur di bangku panjang di beranda rumahnya. Pria itu masih mengenakan setelan semalam dan rambutnya terlihat acak-acakan. Vanilla berjalan mendekat lalu berjongkok. Ia menatap Aditya yang tampak pulas. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu ada di sana. Dan kenapa ia tak mengetuk pintu rumahnya dan malah tertidur di sini. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap dahi pria itu. Dahi itu mengernyit. Vanilla tidak mau memungkiri bahwa ia mencintai pria itu. Kehadiran pria itu terasa seperti oasis di padang gurun. Ia tidak pernah merasa bersemangat menyambut hari sebelum bertemu pria itu. “Aditya.” Vanilla memanggil dengan pelan. Ia melihat perlahan kedua kelopak mata pria itu bergerak hingga akhirnya terbuka. “Vanilla.” Pria itu terbangun saat melihat Vanilla ada di depannya. Ia memusatkan pandangannya lalu bangun dari posisi tidurnya. Vanilla mengambil tempat di sampingnya. “Aku minta maaf untuk kejadian semalam.” Ia menggenggam tangan gadis itu dan menunjukkan raut wajah bersalah, membuat Vanilla tiba-tiba merasa kasihan. “Dia memang dijodohkan denganku, tapi aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu. Ayo bertahan dan berjuang.” Vanilla merasakan genggaman pria itu semakin erat. Vanilla tidak tahu berekspresi seperti apa. Ia senang saat mengetahui Aditya benar-benar menyukainya, tapi ia juga ragu kalau mereka bisa memperjuangkannya. Ia tahu dan sadar diri siapa dirinya. Ia tidak mungkin semudah itu mendapat restu dari kedua orangtua pria itu. Melihat bagaimana sikap kedua orangtuanya semalam, Vanilla tahu bahwa mereka akan melewati jalan-jalan sulit, yang tidak bisa ia bayangkan. “Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat.” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia tidak mungkin membicarakan kegelisahannya. Saat ini pria itu berlu beristirahat. “Kau mau ke mana?” tanya Aditya saat menyadari bahwa Vanilla sudah berpakaian rapi. “Aku ada siaran siang ini, lalu ke kampus untuk mengurus surat pengantar magangku.” “Aku akan mengantarmu.” tawar Aditya. “Tidak usah. Kamu perlu istirahat.” “Apa semalam kamu menangis?” jari-jari Aditya mengusap bagian bawah mata gadis itu yang sedikit membengkak. “Aku baik-baik saja.” Ia menarik diri dan menjauhkan wajahnya dari sentuhan pria itu. “Katakan kalau kamu memaafkan kejadian semalam.” pinta Aditya. Vanilla mengangguk, “aku juga minta maaf. Aku pikir sikapku kekanak-kanakan.”
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม