Vanilla memang tidak punya banyak teman di kampusnya, namun di tempat siaran itu, ia punya lebih dari cukup orang-orang yang bisa menjadi temannya. Umur mereka di atasnya, dan ia sudah seperti adik bagi mereka. Teman-temannya mengkhawatirkannya saat ia sakit, mereka kadang mengajaknya berjalan-jalan. Berkumpul untuk makan di restoran ataupun nongkrong di kedai kopi sambil mengobrol sesekali. Vanilla mendapatkan pengalaman yang cukup di tempat itu dan dikelilingi oleh orang-orang baik. Vanilla mendapatkan sebagian hidupnya di tempat itu. Pekerjaan itu adalah yang terbaik yang bisa ia dapatkan dan ia tidak pernah menyesal meski harus bekerja saat malam.
Gadis itu keluar dari ruang siaran saat jam menunjukkan pukul satu siang. Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang masih berada di ruang siaran, ia melangkah menuruni tangga dan berbelok ke dapur. Ia langsung melihat Yoga yang sedang duduk di meja makan dengan ponsel di tangannya. Ada satu cangkir berisi kopi di depannya.
Vanilla pergi mendekati kulkas, mengambil satu kaleng minuman soda lalu mengambil tempat tepat di depan Yoga, dipisahkan oleh meja makan bundar yang ada di sana.
“Ada apa?” Yoga bertanya saat ia menengadah dan melihat Vanilla menghela napas sambil membuka kaleng minumannya.
“Tidak apa-apa.” Vanilla menjawab sambil menggeleng pelan. Ia menyesap minumannya. Membiarkan air soda itu membasahi tenggorokkannya. Ia tahu bahwa semua perkataan Aditya tadi pagi tidak serta merta mengurangi kegelisahannya. Ia masih tetap kebingungan saat menyadari bahwa mengambil hati kedua orangtua pria itu sama sekali bukan hal yang mudah.
Kemarin orangtua Aditya jelas secara terang-terang menunjukkan ketidak sukaan padanya. Keduanya tidak perlu berusaha untuk terlihat baik di depannya. Keduanya sepertinya ingin memukul mundur dirinya secara langsung dan membuatnya sadar bahwa ia tidak cukup pantas untuk anak mereka.
Pemikiran-pemikiran itu terus menganggunya selama siaran. Namun ia tidak bisa meninggalkan pria itu begitu saja. Ia merasa bahwa pria itu telah menjadi bagian hidupnya dan tidak akan bisa ia lupakan begitu saja.
“Jangan bohong.” kata Yoga. Ia telah mengenal gadis itu selama empat tahun dan tahu jika gadis itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Gadis itu bukan gadis yang mudah menyembunyikan perasaannya.
“Hanya sedikit kelelahan.” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia bukan tipe orang yang akan menceritakan semua masalahnya pada orang lain. Vanilla terbiasa memendam semuanya seorang diri.
“Bagaimana kuliahmu?” Yoga kembali bertanya saat menyadari bahwa Vanilla tampak kurang nyaman dengan pertanyaan sebelumnya.
“Aku akan mulai mencari tempat magang.” Tepat saat itu, ponsel dalam tasnya berdering. Ia merogoh tasnya demi mendapatkan benda pipih itu lalu mengangkat panggilan yang masuk.
“Aku duluan, ya. Aditya sudah di depan.” jawab Vanilla setelah ia memutuskan panggilan. Ia melihat Yoga mengangguk dan mengatakan padanya untuk berhati-hati.
Vanilla menyantelkan tali tas ke sebelah punggungnya dan keluar dari kantor. Ia melihat Aditya berdiri tak jauh dari gerbang.
Ia mendekat dan menyadari bahwa wajah pria itu sudah terlihat lebih segar. Gurat-gurat kelelahan yang dilihatnya tadi pagi sudah hilang. Pria itu sepertinya mendapatkan istirahat yang cukup sesampainya di rumah.
Sebelum menuju rumah, Aditya mengajaknya gadis itu untuk makan di salah satu restoran. Aditya berpikir permintaan maafnya tidak cukup. Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan ibunya malam itu sudah sangat keterlaluan. Ibunya memang sudah pernah membahas perjodohan itu beberapa kali. Namun ia selalu bilang bahwa ia tidak mau dan menganggapnya angin lalu. Ia tidak menyangka kalau ibunya akan mengatakan hal itu di depan Vanilla. Padahal sebelumnya ia baru saja menyatakan perasaannya pada gadis itu. Ia sangat mengerti jika gadis itu mungkin mengira ia mempermainkannya.
Mereka memesan steak, menu andalan di restoran itu. Dua buah plate berisi daging disajikan di depan keduanya. Vanilla mengambil pisau garpunya dan mengikuti gerakan Aditya. Mereka mengobrol seperti biasa. Hal yang bisa mereka lakukan berjam-jam tanpa rasa bosan. Hal sederhana yang bagi Vanilla terasa sangat menyenangkan. Vanilla terkadang membayangkan alangkah bahagianya menghabiskan hidup bersama pria itu. Vanilla tidak ingin berharap lebih, namun khayalan itu memang terasa lebih menyenangkan saat ia mengetahui perasaan pria itu padanya.
***
Pagi ini Vanilla berpakaian lebih rapi dari biasanya. Ia memakai kemeja putih lengkap dengan blazer berwarna hitam juga rok pendek selutut. Ia memoles wajahnya dengan bedak tipis dan memakai sepatu hak. Hari ini ia akan mengajukan magang ke sebuah perusahaan. Ia membuka selembar kertas dari Aditya yang memuat beberapa nama perusahaan besar.
Hari ini Aditya tidak bisa mengantarkannya karena ada ujian dikampus. Setelah memasukkan semua barang pribadinya ke dalam tas dan merasa tidak ada yang tertinggal, ia keluar dari rumahnya dan menyusuri komplek perumahannya menuju halte untuk naik bus. Vanilla beruntung Aditya menyertakan alamat yang jelas dalam selembaran itu, sehingga Vanilla tidak perlu kebingungan mencari alamatnya.
Vanilla menatap gedung pencakar langit di depannya. Membaca nama perusahaan yang tercetak di tembok depan gedung dengan ukiran-ukiran mewah. Ia masuk dan langsung disambut ramah oleh resepsionis. Setelah memberitahukan maksud kedatangannya, wanita itu menyuruhnya menunggu sebentar sementara dirinya menelepon bagian personalia.
Vanilla duduk di sofa dan memindai sekeliling, pandangannya sempat teralihkan ke beberapa orang yang terlihat berlalu-lalang dengan map ataupun bungkusan ditangannya. Beberapa terlihat berbicara dengan sang resepsionis dan yang lain terlihat keluar masuk lift yang ada diujung lorong. Ruangan tunggu yang Vanilla duduki sangat nyaman dengan sofa mahal yang empuk. Di depannya ada meja kaca yang dihuni sebuah vas bunga hidup dan sekotak mangkok kaca berisi permen.
Sepuluh menit menit kemudian, ia kembali dipanggil oleh resepsionis yang langsung menyuruhnya bertemu bagian personalia dilantai enam. Vanilla diberikan name tag bertuliskan “tamu”, karena sepertinya peraturan di sini cukup ketat dan tidak memperbolehkan orang yang tidak berkepentingan berkeliaran sembarangan. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pergi menuju lift berukuran besar di ujung lorong.
Ia menunggu di depan lift bersama dua orang lainnya. Saat pintu besi di depannya terbuka, ia masuk dan menekan tombol pada dinding lift. Dua orang yang masuk bersamanya keluar lebih dulu di lantai tiga.
Setelah sampai di lantai yang dituju, ia keluar dari lift lalu berdiri di depan kotak besi itu. Ia menatap lorong kanan kirinya yang terlihat kosong. Tidak terlihat seseorang sama sekali yang bisa ia tanyai di mana bagian personalia berada.
Ia masih berada didepan lift untuk beberapa saat. Ia tidak pernah terpikir kalau akan ada yang keluar dari lift dibelakangnya. Tubuhnya terdorong cukup keras, hingga ia hampir saja jatuh tersungkur kalau saja ia tidak bisa menahan tubuh dengan lutut dan tangannya. Ia mengaduh pelan.
Dengan kekuatan penuh ia kembali berdiri lalu mengusap lututnya yang tergesek lantai.
“Jangan berdiri sembarangan.” Pria tinggi berkacamata hitam itu melirik ke arah Vanilla dan membaca name tag yang terpasang di kemeja gadis itu. Vanilla menelan ludah lalu menatap pria di depannya. “tamu?” pria itu berkata lirih.
Vanilla cepat-cepat menegakkan badannya dan membungkuk seraya meminta maaf.
“Saya mau ke bagian personalia.” katanya gadis itu gugup. Pria itu lalu membuka kacamatanya dan akhirnya Vanilla tahu kalau pria itu adalah pria yang ditabraknya di malam saat ia melarikan diri dari Aditya.
“Kamu…” tanpa sadar Vanilla mengangkat jari telunjuknya ke arah wajah pria itu.
“Sedang apa kamu disini?” tanyanya pria itu tegas, tidak memedulikan raut keheranan dalam wajah Vanilla.
“Saya mahasiswi yang ingin magang diperusahaan ini.” jawabnya gugup.
“Ruangannya ada di sebelah sana,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah kanan. “kamu hanya perlu belok ke kanan. Dan lain kali jangan pernah menunjuk wajah seseorang dengan jarimu yang jelek itu. Tidak sopan.” Pria itu langsung berjalan dengan cepat ke arah berlawanan. Vanilla hanya bisa menatap punggung pria itu menjauh hingga akhirnya menghilang dari padangannya.
Vanilla mengikuti intruksi pria itu hingga menemukan ruangan besar yang di isi oleh meja-meja dengan kubikel sebagai pemisah. Seorang karyawan wanita memintanya langsung masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana.
“Kebetulan sekali, salah satu staff accounting kita sedang ada yang cuti. Kapan kamu bisa mulai?” seorang wanita, kepala personalia yang mewawancarainya terlihat ramah. Vanilla bisa memperkirakan umur wanita itu mungkin sekitar tiga puluh lima-an. Raut wajahnya bersahaja dan tampak ramah dengan senyum yang begitu tulus.
Vanilla tidak menyangka akan semudah ini. Setelah mengisi formulir dan mengobrol sebentar dengan wanita yang diketahuinya bernama Lucy itu, ia diminta untuk langsung masuk besok dan ia menyanggupinya.
“Jadi besok kamu bisa langsung menemuiku disini. Kantor ini dimulai pukul setengah sembilan, sampai pukul lima. Saya harap kamu tidak telat karena peraturan di sini cukup ketat. Saya akan bilang pada resepsionis untuk membuatkanmu ID CARD. Sebelum kamu pulang, kamu bisa memberikan tanda pengenalmu padanya.” Mereka berdua saling berjabat dan Vanilla keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega.
Ia melewati ruangan berukuran besar yang disekat-sekat rapi di tiga sudut tiap meja. Di tiap-tiap meja ditempati oleh seseorang karyawan yang tengah sibuk larut dengan pekerjaannya. Suasana cukup tenang, yang terdengar hanyalah sayu-sayu perbincangan tiga orang di salah satu meja. Ia juga bisa mendengar suara musik yang diputar sangat pelan dan sisanya hanya suara keyboard komputer yang ditekan cepat. Ia melihat setumpuk dokumen di salah satu meja yang dapat dijangkau dengan matanya dan di meja lain hanya terisi dengan alat tulis dan segelas air juga beberapa berkas yang dalam penglihatannya tampak berantakan di atas meja. Salah seorang terlihat menyumpal telinganya dengan earphone.
Vanilla tahu harus berterima kasih kepada siapa untuk kemudahan ini. Setelah mengirim pesan singkat kepada Aditya, ia menyempatkan diri untuk mampir ke kampusnya.
“Bagaimana ujiannya?” Vanilla menatap wajah Aditya dengan sumringah saat pria itu menjatuhkan diri di depannya. Ia sedang berada di kantin dan baru saja mengisi perutnya.
“Lupakan ujianku, bagaimana denganmu?” mengalihkan pertanyaan Vanilla, ia bertanya balik. Vanilla menceritakan bagaimana prosesnya tapi tentu saja tidak dengan adegan di depan lift. Itu memalukan. Tiba-tiba saja wajah pria itu terlintas dipikirannya. Siapa pria itu? mengapa ia bisa berada di kantor itu? Apa ia salah satu karyawan di sana?
“Apa kamu akan tetap siaran?” pertanyaan itu membuat kesadaran Vanilla kembali. Ia mengangguk pelan.
“Tentu saja. Darimana lagi aku akan mendapatkan uang?” gadis itu menyesap minumannya.
Sebelah tangan Aditya terulur untuk menggenggam tangan gadis itu di atas meja. “Ayo menikah sehingga kamu tidak perlu bekerja lagi.” kata Aditya meski ia tahu bahwa keinginan itu tidak akan mudah untuk mereka wujudkan.
Vanilla hanya mengulas senyun tipis tanpa arti. Meskipun terdengar menyenangkan, ia tahu bahwa itu mungkin hanya kalimat impulsif pria itu. Ia tahu bahwa mewujudkan kalimat itu tidak akan semudah membalik telapak tangan. Entah kenapa, ia berpikir mungkin pria itu akan menyesal pernah mengatakan itu padanya, saat tahu bahwa kondisi mereka sangat tidak memungkinkan. Ia tidak bisa serta merta bahagia karena masalah perjodohan pria itu masih terus menggangu pikirannya.
“Bagaimana dengan rencana perjodohanmu?” pertanyaan itu keluar dari mulut Vanilla. paling tidak, ia ingin tahu dan mendapatkan kejelasan.
“Aku akan berbicara dengan orangtuaku secepatnya.”