Vanilla datang lebih pagi. Entah karena terlalu semangat atau karena takut telat karena ia belum bisa memprediksi akan seperti apa jalanan pagi itu menuju kantornya. Tapi yang jelas, Vanilla tidak ingin memberikan kesan jelek dihari pertamanya. Setelah menunggu sebentar, resepsionis cantik yang ditemuinya tempo hari memanggilnya dan memberikannya sebuah tanda pengenal untuknya lalu menyuruhnya kembali menemui kepala personalia yang kemarin.
“Aku akan mengantarkanmu ke lantai sembilan. Mari.” Vanilla mengekori Lucy ke lantai sembilan.
“Ini adalah ruangan accounting, sedangkan yang di sebelah sana adalah ruangan finance.” katanya sambil menunjukkan ruang di lorong di seberang.
Vanilla masih mengekori Lucy menyusuri lorong menuju ruangan akunting. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan besar serupa ruangan Lucy dan anak buahnya. Wanita itu langsung mengajaknya mendekati salah satu pintu ruangan yang ada di sana.
“Dia manager akunting di sini. Robby, kenalkan ini Vanilla. Mahasisiwi yang akan magang di sini.” Vanilla menjabat tangan pria yang dimaksud sambil tersenyum. Setelah berbincang sebentar, Lucy meninggalkannya di sana.
Robby, manager akunting itu mengajaknya berkeliling dan mengajaknya berkenalan dengan karyawan yang lain. Setelah berkenalan, pria itu menunjuk satu meja yang bisa Vanilla tempati. Nanti ia akan dibantu oleh seniornya mengenai apa saja yang perlu ia kerjakan.
Vanilla melewati hari pertamannya dengan baik. Ia banyak belajar dan tidak sungkan bertanya dengan rekan kerjanya ataupun langsung pada atasannya.
Vanilla melirik jam di pergelangan tangannya saat mendengar hujan deras tiba-tiba mengguyur tanpa ampun. Ia langsung menoleh ke arah jendela, beberapa yang lainnya bahkan mendekat ke jendela hanya untuk melihat bahwa hujan deras itu disertai angin kencang. Ia mendesah pelan karena memasuki setengah jam menuju jam pulang kantor.
Hujan ternyata tidak menghalangi beberapa karyawan untuk pulang. Bagi mereka yang membawa mobil, tentu saja perjalanannya tidak akan terkendala oleh hujan.
Satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu mulai keluar dengan tas di tangan mereka. Vanilla sekali lagi melirik jendela ruangan itu dan menyadari bahwa sepertinya hujan akan awet. Ia tidak bisa menunggu hujan berhenti. Jalanan akan macet dan ia bisa telat untuk siaran.
Setelah menyimpan semua pekerjaannya, ia mematikan perangkat komputer di mejanya lalu membereskan barang-barang pribadinya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia menyantelkan ransel di sebelah punggungnya dan berpamitan dengan beberapa karyawan yang tersisa di ruangan itu.
Ia langsung turun ke lantai dasar dan langsung di sambut oleh gambaran hujan yang sepertinya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Vanilla menghela napas saat menyadari bahwa ia tidak mungkin menembus hujan. Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu di lobi.
Namun hujan memang sepertinya tidak punya ampun kali ini. Langit terus memuntahkan isi muatan yang seakan tidak ada habisnya. Saat Vanilla menyadari bahwa ia tidak akan sampai di tempat siarannya tepat waktu, ia memutuskan untuk menghubungi temannya untuk menukar jadwal siaran.
Vanilla berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pintu masuk gedung. Ia menatap jalanan, tampak menakar bisakah ia berlari sampai ke halte yang ada di depan kantor tanpa payung.
“Mau pulang, Mbak?” seorang security bertanya padanya. Ia menoleh lalu mengangguk. “ini ada payung.” kata pria itu lagi sambil mengambil payung di dalam tempatnya dan mengulurkannya ke arah Vanilla.
“Ini punya siapa, Pak?” gadis itu bertanya.
“Punya kantor. Pakai aja.” ujar pria berseragam itu. “ujan agak deras, Mbak. Hati-hati.”
Vanilla mengangguk sambil tersenyum. Sekali lagi, ia menatap ke jalanan. Ia tahu bahwa payung yang ada di tangannya tidak bisa menolongnya sepenuhnya. Namun ia juga tahu bahwa menunggu di sini pun tidak akan ada gunanya.
Vanilla menarik napas panjang lalu membuka payung yang berukuran sedang itu. Ia memposisikan di atas kepalanya dan akhirnya mulai melangkah. Sesuai dugaannya, hujan langsung membasahi tubuh bagian sampingnya karena selain intensitas hujan yang besar, juga karena disertai angin kencang. Ia berjalan pelan dan menghindari beberapa kubangan air yang ada di depannya.
Ia baru saja berbelok dari gerbang kantornya saat merasakan air kubangan hujan menerpa baju dan rok sebelah kanannya. Ia berdecak kesal dan melihat mobil mewah yang baru saja melaju kencang itu berhenti hingga akhirnya mundur hingga sejajar dengannya.
“Kamu ini bodoh atau bagaimana? Sudah tahu hujan deras seperti ini. Berani-beraninya nekat dengan payung tidak berguna itu.” Orang di dalam mobil membuka kaca jendelanya dan mengatakan itu keras-keras. Vanilla mendapati nada jengkel dalam kalimat pria itu. Ia melongok kearah Vanilla yang berdiri menahan dingin dengan payungnya.
Dahi Vanilla berkerut dalam saat mendengar kata-kata dari orang dalam mobil itu. Bukankah seharusnya ia meminta maaf? Bukan malah mengatainya bodoh.
Vanilla sedikit menunduk hanya untuk melihat bola mata serupa jelaga itu mentapnya tajam. Dia lagi rupanya, pikir Vanilla.
“Kamu seharusnya minta maaf, bukan malah mengomel tidak jelas.” Gadis itu sedikit berteriak untuk mengalahkan bunyi hujan.
“Masuklah.” Pria itu melunak, membuat Vanilla terdiam. Apa pria itu baru saja menyuruhnya masuk ke mobilnya. Apa pria itu berniat memberinya tumpangan. Mata Vanilla sempat memindai interior mobil yang terlihat sangat nyaman. Namun ia menggeleng pelan. Ia tidak mengenal pria itu dengan jelas dan tidak akan menuruti pria itu. Tapi, angkutan umum akan sangat sulit saat hujan seperti ini.
“Ayo masuk.” Suara itu terdengar lagi dan tampaknya pria itu serius dengan kata-katanya. “aku bekerja di sana juga. Jangan pikir aku orang jahat.” Pria itu berkata lagi untuk meyakinkan Vanilla yang jelas tampak ragu. Ia berpikir bahwa keraguan gadis itu sangat normal. Mereka baru dua kali bertemu dan dua-duanya bukan pertemuan yang baik. Mereka sama sekali tidak saling mengenal.
Vanilla terdiam, tampak berpikir. Dilihatnya jok penumpang di depan yang terlihat nyaman, bukan… bukan nyaman tapi menakutkan. Dan tiba-tiba kenangan belasan tahun lalu muncul dan membuat kepalanya nyeri.
Pria itu menahan geram melihat Vanilla masih terdiam di tempatnya dan membiarkan tubuhnya semakin basah. Ia membunyikan klakson dua kali dan ampuh membuat gadis itu hampir terlonjak.
“CEPAT MASUK!” Kali ini Vanilla dengan cepat menuruti kata-katanya. Ia membuka pintu, melipat payung dan masuk ke dalam mobil. Ia melakukan dengan sangat cepat hingga akhirnya punggungnya menyandar di jok mobil itu. Sesuai dugaannya, jok mobil itu sangat nyaman.
“Apa-apaan ini? Kenapa kamu duduk di belakang? Kamu pikir aku supirmu?” Pria itu memutar badannya dan menatap Vanilla yang menggigit bibir, antara kedinginan dan gugup.
“Ta... tapi… saya...”
“Ayo pindah ke depan.” Pria itu belum juga menjalankan mobilnya, masih menunggu gerakan dari Vanilla. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu malah duduk di belakang. Apa gadis itu berpikir kalau ia supir taksi.
“Saya mempunyai trauma sejak kecil. Saya tidak bisa duduk di bangku depan.” kata-kata itu akhirnya bisa meluncur mulus dari mulut Vanilla dan langsung membuat pria itu menaikkan alis.
Pria itu melihat gadis itu menggeleng dengan raut wajah ketakutan. Ia mendesah pelan lalu mengalah dan mulai menjalankan mobilnya. Ia sesekali melirik Vanilla yang terus mengusap-usap lengannya menahan dingin.
“Turunkan saja setelah perempatan keduanya. Aku akan mencari angkutan dari sana.” kata Vanilla. Ia pikir itu sudah cukup. Dari sana, ia hanya perlu naik satu angkutan umum karena jarak ke tempat siarannya sudah lebih dekat.
“Apa kamu sudah makan?” mengalihkan permintaan Vanilla, pria itu balik bertanya.
Vanilla menggeleng. Namun ia sama sekali tidak ingin makan. Ia dengan jelas meminta pria itu untuk menurunkannya di tempat yang dimaksud.
“Sebaiknya kita makan dulu.” kata pria itu sambil fokus pada jalanan dengan hujan yang intensitasnya belum juga berkurang.
Apaa? Makan? Mana mungkin aku malam dengan keadaan seperti ini. Pikirnya dalam hati. Ia melirik pria didepannya. Dengan setelan jas sangat resmi tanpa tetes hujan sedikitpun. Sedangkan dirinya, seluruh tubuhnya sudah basah kuyub. Tidak ada yang terselamatkan.
“Tidak usah. Lagipula, kita tidak saling kenal.” Vanilla mulai merasa risih berada satu mobil dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia tiba-tiba menyesal. Bagaimana mungkin ia bisa masuk ke mobil orang asing begitu saja. Ia seharusnya tahu bahwa ia tidak bisa mengandalkan kepercayaannya pada omongan pria itu yang bilang bahwa ia adalah karyawan di perusahaan itu juga. Namun melihat bagaimana pria itu, entah kenapa ia yakin bahwa pria itu bukan orang jahat.
“Kalau begitu kenalkan dirimu.”
“Kenapa kamu tidak memperkenalkan dirimu dulu?” Vanilla bisa melihat tatapan pria itu dari kaca spion di tengah juga senyum sinisnya.
“Karena seharusnya kamu tahu siapa aku, tanpa aku beri tahu.” Gadis itu mendengus mendengar peryataan pria itu. Dia pikir dia siapa? Seharusnya dia ingat kalau ia hanya anak magang. Pergaulannya di perusahaan itu jelas tak luas. Lagipula, ini adalah hari pertamanya.
“Jadi siapa namamu? Atau kamu mau aku memanggilmu si ceroboh?” kata pria itu yang langsung membuat Vanilla mendesis.
“Vanilla. Namaku Vanilla.” Gadis itu melihat ke jendela dan menyadari hujan semakin deras.
“Nama yang unik.” Pria itu mengangguk lalu menggumamkan nama Vanilla sambil tersenyum.
“Jadi, siapa namamu?”
“Panggil aku Joshua.” kata pria itu singkat. Fokusnya masih terarah pada kemudi dan jalanan.