Joshua menoleh ke arah pintu saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Tak lama suara Erika terdengar bersamaan dengan gerbang yang dibuka.
“Masuk, Erika.” kata Joshua saat langkah wanita itu mendekat dan tak lama sosoknya muncul dibalik pintu yang setengah terbuka. Wanita itu membuka pintu lebih lebar dan masuk lalu menatap Joshua kebingungan. Ia mengambil tempat di sofa kosong di depan pria itu.
“Apa yang terjadi?” Erika bertanya dengan nada pelan saat Joshua mengisyaratkannya agar tidak berisik.
Joshua menahan ceritanya. Ia meminta wanita itu membukakan makanan yang ia bawa. Ia memang meminta wanita itu membelikan makan sekalian. Perutnya sudah sangat melilit dan ia perlu makan. Ia memegang boks makanan itu dengan sebelah tangannya, lalu sendok di tangan lainnya. Ia berusaha tidak melakukan banyak gerakan agar gadis itu tidak terganggung. Gadis itu perlu istirahat yang cukup.
Sementara Joshua memakan nasi goreng pesanannya, Erika melirik sekeliling, lalu ke arah Joshua yang sedang fokus mencacah makanan di mulutnya, lalu yang terakhir pada seorang gadis dalam pangkuan pria itu. Wajah gadis itu pucat, namun tidurnya tampak pulas.
“Kamu menahan lapar demi gadis ini?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Erika yang tidak bisa mengenyahkan rasa penasaran dalam pikirannya. Ia menunggu pria itu menelan isi mulutnya.
“Aku tidak bisa meninggalkannya.” kata Joshua tepat setelah ia menyendokkan porsi terakhir. “tolong ambilkan minum.” pria itu melirik ke arah dapur.
Erika berdiri dari duduknya lalu pergi ke dapur. “kamarnya…” wanita itu berhenti di depan kamar Vanilla lalu kembali menoleh ke arah Joshua. Joshua tidak menjawab, Erika masuk ke dapur dan kembali dengan segelas air permintaan pria itu.
“Keadaannya sudah seperti itu saat aku datang.” kata Joshua. Gelas itu berpindah tangan dengan cepat dan ia menyesapnya pelan. Air itu mengaliri tenggorokkannya dan membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya.
Joshua akhirnya menjelaskan lebih rinci mengenai semua yang terjadi kemarin. Ia menceritakan dengan detail hingga sama sekali tidak ada yang terlewat. Ia ingin Erika mendapatkan informasi sejelas-jelasnya. Di depannya, Erika mendengar dengan seksama.
Erika adalah seorang psikiater. Ibunya berprofesi sama dan dulu membantu Joshua menyembuhkan semua traumanya. Mereka kenal dekat sehingga Joshua pikir wanita itu adalah orang yang tepat bagi kondisi Vanilla saat ini. Memang seharusnya sejak awal ia mengantar Vanilla menemui Erika.
“Aku tidak pernah tahu kalau efeknya akan seperti ini. Kamu tahu, kan, dulu aku bahkan hampir mati. Aku pikir akan semudah itu.” Joshua mengakhiri ceritanya.
“Kamu tidak bisa menyamakan semua orang, Joshua.” kata Erika. “trauma tidak bisa diukur dari kejadian yang dialami, tapi dari bagaimana kalian menerima atau menanggapi kejadian itu.” terang Erisa. “ada banyak faktor. Termasuk kondisi kesehatan fisik dan mental, juga dukungan dari orang terdekat.”
Joshua tahu Vanilla tidak punya itu. Vanilla mungkin hanya berusaha menyimpan memori itu kuat-kuat sedangkan bibinya mungkin berpikir bahwa Vanilla baik-baik saja. Vanilla tidak memiliki dukungan untuk lepas dari trauma itu. Sekali lagi, Joshua menyadari betapa beratnya hidup gadis itu.
“Aku pikir itu trauma biasa. Aku pikir kita bisa mencobanya sendiri sebelum datang ke psikiater. Aku menyesal. Aku tidak pernah tahu kalau efeknya akan sangat besar baginya.” ujar Joshua. “dia terus menerus membicarakan kecelakaan itu.” Sebelah tangan Joshua mengusap rambut Vanilla sementara ia berbicara panjang lebar dengan Erika. Joshua menyerap semua informasi yang keluar dari mulut Erika.
“Umur berapa di kecelakaan?” Erika bertanya.
“Aku hanya tahu saat kecil. Perkiraan umurnya aku tidak tahu.” kata Joshua sambil menggeleng
Keduanya menatap Vanilla yang kini sepertinya benar-benar pulas.
“Kemungkinan PTSD” jelas Erika, “Post traumatic stress disorder. Kamu harus membawanya ke psikiater. Dia mungkin perlu mendapatkan psikoterapi, juga obat-obatan.”
“Apa yang bisa kamu lakukan saat ini?” tanya Joshua. Sungguh, ia tidak sanggup melihat gadis itu mengamuk atau meracau membicarakan kecelakaan itu lagi.
Erika merogoh saku dalam tasnya dan menaruh satu kaplet obat. “ini obat penenang. Hanya jika dia tidak terkontrol. Kamu harus membawa gadis itu ke psikiater secepatnya karena semua obat harus sesuai resep dokter.”
“Apa dia tinggal sendiri?” Joshua menjawab dengan sebuah anggukan pelan. “kalau begitu, dia butuh teman. Dia tidak boleh merasa sendiri, itu akan memperparah efek traumanya. Dia perlu melakukan berbagai kesibukan.” jelas Erika.
“Hanya itu?” Joshua melihat wanita di depannya mengangguk pelan.
“Bukankah kamu sudah mau bertunangan dengan Lauren? Siapa dia?” Erika bertanya. Ia telah mengenal pria itu sejak lama dan ini terasa aneh dalam pandangannya.
“Temanku.” Joshua akhirnya mengatakan itu setelah berpikir panjang. Bagaimanapun, ia tidak ingin orang tahu mengenai Vanilla. Belum saatnya, sedangkan Erika cukup mengenal dekat kedua orangtuanya.
Erika tersenyum kecil, “kamu pikir aku percaya?” kata Erika dengan nada mengejek. Tidak butuh usaha keras untuk tahu bahwa pria itu berbohong. Kalau pun mereka berteman, ia tahu perasaan Joshua tidak sebatas itu.
Joshua terdiam. Ditatapanya wanita di depannya yang seakan menunjukkan raut bahwa ia bisa percaya.
“Aku mencintainya.” kata Joshua akhirnya.
“Di mana kamu bertemu dengannya?” Erika bertanya lagi.
“Dia karyawan magang di perusahaanku. Dia yatim piatu dan hanya tinggal sendiri di sini.”
“Jadi tidak ada yang tahu hubungan kalian?” Erika bertanya karena tahu bahwa rencana pertunangan pria itu bersama Lauren belum juga dibatalkan.
Joshua menggeleng.
“Hati-hati, Joshua. Aku tahu benar bagaimana kedua orangtuamu. Dan kamu mustahil bisa lari dari wanita licik seperti Lauren.” Erika memperingati. Erika mengenal betul watak anak manja macam Lauren yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk menikah dengan Joshua. Ia tahu bagaimana wanita itu begitu terobsesi dengan Joshua.
“Aku akan melakukan apapun untuk bersamanya.”
***
Joshua masih terjaga saat gadis dalam pangkuannya menggeliat pelan. Ia menatap gadis itu yang perlahan kedua matanya terbuka.
“Joshua…”
Joshua tersenyum saat menyadari gadis itu menyebut namanya. Ia membantu gadis itu bangun dari posisi tidurnya.
Vanilla memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing. Ada terlalu banyak ingatan yang kini memenuhi otaknya, termasuk kejadian saat ia mengamuk dan memberantakan isi kamar. Lalu saat Joshua datang, mengusap kepalanya dan memeluknya pelan. Ia ingat ia mengamuk saat frustrasi karena kecelakaan itu terus berputar diotaknya. Ia ingat bagaimana pelukan pria itu terasa sangat menenangkan.
Vanilla menyingkirkan jas milik Joshua yang menyelimutinya dan melihat penunjuk waktu di ruangan itu, hampir tengah malam.
“Aku tidak mengabarkan ke kantor kalau aku…” Kalimat Vanilla terpotong karena Joshua memintanya berhenti.
“Jangan pikirkan kantor.” kata Joshua. “kesehatanmu yang lebih utama.” Pria itu mengingatkan.
Vanilla menatap Joshua yang tampak cemas. Rambut pria itu acak-acakan, dasinya sudah dilonggarkan dengan dua kancing paling atas yang sudah terbuka.
“Maafkan aku.” Joshua akhirnya punya kesempatan untuk mengatakan itu langsung dan memastikan gadis itu mendengarnya.
Vanilla diam. Tidak satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya melihat Joshua yang menatapnya dengan tatapan penyesalan.
“Aku menyesal. Aku seharusnya tidak melakukan itu.” ia mengambil sebelah tangan gadis itu dan mengecupnya pelan.
“Ayo makan, kamu pasti lapar.” kata Joshua saat gadis itu mengangguk pelan. Ia mengambil satu boks makanan yang masih utuh di atas meja dan menyuapi gadis itu.
“Apa ini?” Vanilla mengambil obat di atas meja.
“Obat penenang. Tadi temanku ke sini dan memberikan itu. Aku pikir kamu membutuhkannya.” jelas Joshua, “dia psikiater.” tambahnya. Memastikan bahwa Vanilla percaya bahwa itu bukan obat sembarangan.
Vanilla menaruh benda itu lagi. Mungkin ia memang membutuhkannya. Sejak kemarin, ia sangat emosional, ia mengingat terus menerus kejadian itu, ia merasa panik, cemas, depresi, kelelahan dan susah tidur.
Mulutnya masih terus terbuka setiap Joshua mengulurkan sendok berisi nasi goreng saat mulutnya kosong.
“Sejak kapan kamu di sini?” Vanilla bertanya di sela-sela makannya.
“Sejak pulang kantor.” jawab pria itu, “aku seharusnya tidak meninggalkanmu semalam.” Lagi, Joshua mengatakan itu dengan nada penyesalan yang terdengar jelas.
Setelah isi boksnya habis, Joshua mengangsurkan segelas air pada gadis itu yang langsung menyesapnya hingga tersisa setengah.
“Aku akan membereskan kamarmu dulu.” Joshua sudah berdiri dari duduknya dan menjauh sebelum Vanilla sempat mencegah.
Vanilla menoleh saat merasakan getaran di sofa. Ia melirik ponsel pria itu yang tergeletak dan membaca nama di layar. Ia baru hendak mengambil benda pipih itu saat panggilan itu mati. Ia menatap benda itu sebentar lalu berdiri dan berhenti di depan pintu kamarnya. Dilihatnya Joshua dengan telaten membereskan semua barang-barangnya dan menaruhnya di tempat semula. Meninggalkan pria itu, ia pergi ke kamar mandi.
***
Camelia menatap kamar Joshua yang kosong. Ruangan itu masih gelap, memberitahu bahwa memang si empunya kamar belum juga pulang meski jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia melirik ponsel di tangannya dan menyadari bahwa Joshua sama sekali tidak memberi kabar.
Kakinya melangkah masuk dan mendekati stop kontak. Dengan jari telunjuknya, ia membuat ruangan yang awalnya gelap itu menjadi terang berderang. Ia langsung memindai sekeliling.
Tante tidak berpikir Joshua mempunyai perempuan lain? kata-kata Lauren tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya saat ia duduk di tepi ranjang. Saat ia menjawab pertanyaan itu, ia sangat yakin bahwa itu tidak mungkin. Ia merasa sangat mengenal anaknya dengan baik dan pasti akan tahu jika pria itu sedang jatuh cinta dengan perempuan lain.
Namun sekarang, ia mulai ragu. Ia pikir anaknya memang agak berubah akhir-akhir ini. Mulai dari beberapa kali tidak pulang tanpa kabar, susah dihubungi, sampai pada kenyataan bahwa pria itu menolak rencana pertunangan secara terang-terangan. Camelia mulai merasa bahwa apa yang dibilang Lauren mungkin ada benarnya.
Ia menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi pria itu. Namun sampai nada sambung terakhir, panggilan itu tidak juga terjawab. Ia tidak mencoba lagi. Ia sibuk berpikir, jika memang benar, siapa wanita itu?
Ia tahu bahwa Joshua menghabiskan banyak waktu di kantornya, dan pulang hanya untuk tidur. Pria itu jarang liburan karena pria itu menyukai pekerjaannya. Itu adalah alasan kenapa ia pikir pria itu tidak mungkin berhubungan dengan wanita lain. Pria itu tidak benar-benar punya waktu luang.
***
“Tadi ibumu menelepon.” kata Vanilla saat ia masuk ke dalam kamarnya.
“Biarkan saja.” kata Joshua yang baru saja menata ranjang.
“Ibumu pasti khawatir.” Gadis itu mendekat. Ia baru saja mencuci wajah dan menggosok gigi.
“Aku sudah besar.” Joshua memegang bahu Vanilla hingga gadis itu duduk di tepi ranjang. Sebelah tangannya mengambil sisir di atas nakas dan ia menyisir rambut panjang gadis itu.
“Terima kasih.” ujar Vanilla saat ia bergerak naik ke atas ranjang.
“Untuk?”
“Karena kamu ada di sini.” ujar Vanilla. Kejadian kemarin membuatnya sadar bahwa ia memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ia benar-benar seorang diri di sini. Jika pria itu tidak ada, ia tidak tahu apa saja yang mungkin terjadi padanya.
Joshua menaikkan sebelah kakinya ke atas ranjang sambil menarik selimut hingga ke d**a gadis itu.
“Aku akan menemanimu sampai kamu benar-benar pulih.” kata Joshua. “aku akan tidur diluar setelah memastikan kamu pulas.”
“Tapi kamu harus pulang.” lirih Vanilla meski ia tahu ia tidak ingin pria itu benar-benar pergi. Tapi, tidak sepertinya yang yatim piatu, pria itu punya keluarga yang pasti akan cemas saat anaknya tidak pulang.
Joshua menggeleng. Ia tahu mana yang harus ia prioritaskan. Ia harus menebus kesalahannya pada Vanilla dan ia ingin memastikan gadis itu tidur nyenyak malam ini.
Vanilla menggeser tubuhnya hingga menyisakan cukup space di sampingnya. Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya. Mengisyaratkan pria itu untuk merebahkan diri di sana. Ia tahu pria itu pasti kelelahan. Entah berapa jam pria itu duduk dan memangku dirinya yang tadi tertidur.
Joshua menurut, ia naik ke atas ranjang dan memiringkan tubuhnya menghadap Vanilla. Gadis itu menaruh guling di antara mereka sebagai pemisah jarak.
Mata Vanilla masih terlihat bengkak, namun wajah gadis itu lebih baik sehabis dibasuh. Selama beberapa menit, keduanya saling menatap ke dalam manik mata masing-masing. Ada terlalu banyak rasa yang ingin mereka utarakan namun mereka tahu itu bukan saat yang tepat.
“Ayo pergi ke psikiater besok.” suara Joshua memecah keheningan. “mereka bisa membantu memberikan terapi atau obat-obatan agar kamu lebih baik.”
Vanilla terdiam sebentar lalu akhirnya mengangguk pelan.
“Aku membencinya, Joshua.” lirih gadis itu. “aku membenci orang yang menyebabkan kecelakaan itu.”
Joshua mengangguk. Ia tahu kebencian itu wajar. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pipi gadis itu pelan.
“Aku mengerti kalau kebencianmu adalah hal yang wajar. Rasanya akan sulit berdamai dengan kecelakaan itu.”
Vanilla menyentuh tangan Joshua yang masih ada di pipinya. Entah sejak kapan, ia merasa bahwa sentuhan pria itu terasa sangat menenangkan.
Ia mengingat lagi bagaimana pertemuan keduanya. Kejadian yang baginya sangat memalukan karena pria itu melihatnya menangis di jalan. Lalu tiba-tiba mereka dipertemukan diperusahaan itu hingga akhirnya sedekat sekarang. Bagi Vanilla, semuanya mungkin terasa sangat tiba-tiba. Namun ia tahu bahwa Tuhan mendatangkan Joshua ke hidupnya tidak mungkin tanpa alasan.
Mungkin Tuhan menyiapkan pria itu untuk menemaninya saat Aditya tidak lagi di sampingnya. Ah, ia bahkan hampir saja melupakan Aditya yang sama saat ini tidak ia ketahui kabarnya. Ia terlalu berharap banyak. Ya. Seharusnya saat mengenalnya pertama kali. Saat ia tahu bahwa mereka berdua ada di batas yang berbeda dan keluarga pria itu tidak mungkin menerimanya, ia seharusnya mundur. Ia seharusnya tidak berjuang mempertahankan perasaannya. Ia seharusnya sadar lebih awal.
Dilihatnya lagi Joshua yang masih menatapnya. Apakah ia bisa percaya pada pria ini? Apa ia bisa yakin bahwa pria ini tidak akan menyakitinya seperti Aditya? Apa bisa ia menyerahkan hatinya meski sampai sekarang ia tidak tahu apa-apa tentang pria ini?