Jangan Pergi

1958 คำ
Joshua keluar dari ruang meeting lalu melirik jam analog di pergelangan tangannya, jam enam sore. Ia melesak di kursinya lalu mengutak-atik ponselnya. Pesan yang sejak tadi ia kirim pada Vanilla tidak mendapatkan balasan sampai saat ini. Ia menggulung layar untuk mencari kontak gadis itu dan menghubunginya. Ini adalah kali ketiga ia menghubungi nomor itu namun menemui ujung yang sama. Suara gadis itu tak terdengar diujung sambungan, panggilannya masuk ke kotak suara. Ini aneh, pikir Joshua. Gadis itu selalu membalas pesannya, ataupun mengangkat teleponnya meski dengan nada jengkel. Setelah berpikir, ia akhirnya membereskan barang-barangnya lalu keluar dari ruangannya. Ia menitipkan beberapa pesan pada sekretarisnya sebelum turun menggunakan lift dan keluar di lantai sembilan. Saat ia memasuki ruangan akunting, karyawan di sana berdiri dan sedikit menunduk padanya. Ia menatap meja Vanilla yang kosong saat manajer tergopoh-gopoh menghampirinya dan menanyakan keperluannya. Joshua tak menjawab pertanyaan pria itu. Ia hanya menatap meja Vanilla yang kosong dan rapi, pertanda tak digunakan sejak pagi. Manager akunting itu kebingungan saat Joshua pergi dari sana tanpa sepatah katapun. Tak hanya ia, namun beberapa orang di sana juga saling pandang karena kebingungan, juga penasaran. Joshau pergi menuju basement dengan kegelisahan yang sudah meledak. Ia keluar dari lift dan berjalan terburu-buru menuju mobilnya. Setelah melesak dan melemparkan tas ke kursi sebelah, ia memakai safety belt, menyalakan mesin dan menekan pedal gas hingga empat roda mobil itu berputar. Jalanan selalu tidak bersahabat setiap memasuki jam pulang kantor. Joshua menahan kesal karena mendapati macet di beberapa titik. Sekuat tenaga ia menahan kesabarannya. Ia masih mencoba menghubungi Vanilla namun belum juga mendapat jawaban. Berkali-kali Ia memukul setirnya karena kesal. Klakson yang ia tekan pun tidak membuahkan hasil dan justru membuat orang lain murka dan memakinya. Orang-orang tidak peduli ia terburu-buru. Orang-orang tidak peduli ia perlu sampai ke tujuannya dengan cepat. Selain ambulance dan pemadam kebakaran, tidak akan ada orang yang suka rela memberi jalan di tengah kemacetan. Salah satu hal yang ia benci dari pulang di jam pulang kantor adalah karena jalanan selalu macet dan itu membuatnya stres. Ia sudah lelah di kantor dan masih harus menghadapi macet yang luar biasa. Kemacetan itu akan semakin menguras energinya. Sesaat setelah ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Vanilla, ia keluar lalu membanting pintu mobilnya saat menutup. Ia berhenti di depan pintu dan melihat sebuah undangan di depan pintu. Ia mengambil dan membacanya. Undangan pertunangan Aditya dan Tasya. b******k, runtuk Joshua. Joshua membawa undangan itu dan masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak terkunci. Ia menyembunyikan undangan itu di laci meja yang ada di samping sofa lalu memanggil si empunya rumah yang juga tidak menyahut. “Vanilla…” Joshua berdiri di ambang pintu kamar Vanilla. Ia terdiam. Ia menatap Vanilla yang meringkuk seperti janin di atas ranjang, dengan keadaan kamar yang sudah berantakan. Bantal dan selimut sudah berserakan di lantai, begitu juga beberapa barang di atas meja. Joshua merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia menelan ludah. Sama sekali tidak bisa membayangkan apa saja yang terjadi dengan gadis itu seharian ini. Kakinya melangkah dan mendekati ranjang. Ia mengusap pipi gadis itu yang memejamkan matanya. “Vanilla…” Ia memanggil pelan. Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka dan langsung menatap wajah cemas Joshua. “Orang itu membunuh kedua orangtuaku… orang itu pembunuh…” Vanilla mengatakan itu dengan suara yang terasa mengiris hati Joshua. Gadis itu bangun lalu mendorong Joshua dan beringsut menjauh. Gadis itu menggeleng, menjambak rambutnya sendiri lalu terisak. Joshua menatap Vanilla dan tahu bahwa kondisi gadis itu buruk. Sangat buruk. Ia kembali mendekat dan duduk di tepi ranjang. “Mobil itu menghantam taksi. Mungkin dia mabuk, atau mungkin dia gila… dia membunuh kedua orangtuaku.” Vanilla meracau sambil memeluk lututnya dengan posesif, membuat hati Joshua semakin terasa nyeri. Joshua mengulurkan sebelah tangannya, “ini aku, Vanilla.” gumamnya. “Joshua.” Apa yang ia katakan tak berpengaruh. Gadis itu masih terisak dengan kondisi menyedihkan di sudut berlawanan. Joshua naik ke ranjang dan duduk di depan gadis itu. Ia mengusap kepalanya pelan dan menangkup wajah gadis itu. Wajah gadis itu pucat, matanya merah, rambutnya acak-acakan. “Aku menyesal, Vanilla.” Ia ingin gadis itu tahu betapa ia menyesal atas apa yang ia lakukan. Seharusnya ia tidak memaksa gadis itu duduk di depan. Seharusnya ia mendengar Vanilla sejak awal. Seharusnya ia mengerti dan tidak melakukan hal itu. Joshua menuntun Vanilla ke ruang tamu dan mendudukan gadis itu di sofa. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan cangkir berisi air. Ia membantu gadis itu menyesap airnya pelan. Setelah itu ia kembali ke dapur dan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Vanilla meringkuk di sofa. Ada terlalu banyak hal diotaknya. Semuanya berkelebat cepat dan membuatnya pusing. Hal-hal itu tidak bisa berhenti walau sebentar. Semua itu tidak membiarkan ia tidur dengan nyenyak. Semuanya seperti rekaman dalam kaset rusak yang terus berputar berulang-ulang. Joshua kembali dengan semangkok bubur instan yang ia dapat di dapur. Pria itu meniup uap panas dari dalam mangkok sebelum menyuapkan ke mulut gadis itu. Vanilla menurut. Tanpa perlawanan, ia membuka mulutnya dan mengolah bubur itu hingga masuk ke dalam perutnya. Joshua dengan telaten menyuapkan bubur itu sesendok demi sesendok ke dalam mulut gadis itu hingga isi mangkok di tangannya habis. Ia mengambil gelas di atas meja dan membiarkan Vanilla menyesapnya pelan. Joshua menangkup wajah gadis itu dan menatap matanya yang memerah. Gadis itu menatap ke arahnya, namun ia tahu pandangan gadis itu kosong. “Dia membunuh kedua orangtuaku.” gadis itu melirih lagi. Bibirnya bergetar. Tatapannya nanar. Joshua tidak sanggup menatap wajah gadis itu dan langsung merengkuh gadis itu dalam pelukan. Ia mengusap kepala belakang Vanilla dan tidak henti-hentinya menggumamkan maaf. Berharap gadis itu mendengarnya dan memaafkannya. Joshua bisa merasakan gadis itu mencengkeram kemejanya kuat-kuat. Kepala gadis itu jatuh ke bahunya dan perlahan gadis itu mulai tenang. Joshua merasakan tubuh gadis itu ambruk dalam pelukannya. Ia menunggu sebentar hingga benar-benar yakin bahwa gadis itu tertidur. Selama itu, ia tetap mengusap punggung gadis itu pelan. Setelah yakin gadis itu tertidur dan cukup pulas, ia mengurai pelukannya pelan-pelan dan memposisikan kepala gadis itu ke pangkuannya. Sebelah tangan Joshua terulur untuk mengusap kepala gadis itu. Seharusnya ia tidak meninggalkan Vanilla kemarin, pikirnya. Seharusnya ia bisa melihat bahwa keadaan Vanilla tidak stabil semalam dan seharusnya ia tetap di sini. Ia seharusnya tidak meninggalkan gadis itu seorang diri. Ada terlalu banyak penyesalan yang kini menghantamnya bertubi-tubi. *** Seorang pria masuk ke dalam apartemen itu dan langsung melihat Lauren yang ada di ruang tamu. Wanita itu tengah menatap layar televisi di depannya dengan segelas wine di sebelah tangannya. Ia mendekati wanita itu dan mengecup pipinya sekilas. “Hai…” Wanita itu menyapa karena tidak sadar bahwa pria itu sudah sampai. Sejak tadi, tatapannya terarah lurus pada layar televisi, namun ia tidak benar-benar memerhatikan apa yang ditampilkan di layar. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Lauren menyesap isi gelasnya saat pria di sebelahnya mengambil amplop cokelat di atas meja. “Apa ini?” tanyanya. Lauren tak menjawab, ia memberi isyarat agar pria itu membukanya. “Joshua?” Pria itu menatap semua foto-foto itu baik-baik. “jadi benar dia punya perempuan lain?” Lauren mengangguk, ia menghabiskan isi gelasnya dalam satu tegukan lalu menoleh pada pria di sebelahnya. “karena wanita itu, Joshua terus menerus menunda rencana pertunangan.” “Dia sepertinya bahagia.” Pria itu masih menatap foto-foto itu. “siapa perempuan ini?” “Aku tidak peduli dengan kebahagiaannya, aku hanya ingin kebahagiaanku.” kata Lauren, “dia anak magang di perusahaan Joshua. Yatim piatu. Penyiar malam di sebuah stasiun radio.” Lauren membeberkan informasi yang ia dapat dari orang suruhannya pada pria di sampingnya. “Wow… di mana dia bisa bertemu dengan Joshua?” Pria itu keheranan. Lauren mengangkat bahu tak acuh, “aku sudah tidak peduli dengan hal itu. Aku tidak suka ada orang lain yang akan menggagalkan rencana kita.” Ia menatap pria di sebelahnya dan mengusap lengannya pelan. “Dia tahu siapa Joshua? Bagaimana dengan kedua orangtua Joshua?” Lauren menggeleng. “Joshua menyembunyikan hubungannya?” “Tentu saja. Dia tahu tidak akan ada yang menerima gadis itu.” kata Lauren. “kita tahu bagaimana ibu Joshua. Wanita itu sangat mementingkan latar belakang seseorang.” “Ada banyak yang mendukung rencana pertunangan kalian. Harusnya itu mudah.” Lauren menggeleng lagi, “Joshua mulai berani menentang ibunya dan bicara terang-terangan untuk membatalkan rencana itu.” Lauren menuangkan lagi wine dalan botol ke gelasnya, juga ke gelas kosong satu lagi. “aku mulai takut Joshua tidak bisa melepaskan gadis itu.” Lauren mengulurkan gelas di tangannya pada pria itu yang langsung menerimanya. “Lalu bagaimana?” pria itu meneguk gelasnya dan melihat wanita itu melakukan hal yang sama. “Aku masih mencari tahu tentang gadis itu.” gumama Lauren. “bagaimanapun, rencana ini tidak boleh gagal. Kita telah menunggu terlalu lama.” Lauren tersenyum pada pria di sebelahnya yang juga tersenyum. “aku tidak akan membiarkan Joshua, ataupun gadis itu menghancurkan rencana kita.” Lauren mendekat dan mencium bibir pria itu. Tidak butuh waktu lama untuk ciuman itu berubah menjadi lumatan. Pria itu mendorong pelan tubuh Lauren hingga telentang di sofa. Ciumannya turun ke leher, lalu ke bahunya. Kedua tangannya membuka kancing kemeja Lauren satu persatu. *** Joshua menggeliat dengan rasa pegal yang menghantam seluruh tulang-tulangnya. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka. Ia menatap wajah pulas Vanilla yang masih ada di pangkuannya. Ia mengusap dahi gadis itu pelan dan bersyukur karena gadis itu bisa tidur dengan pulas. Joshua menelan ludah dan menyadari bahwa ia kehausan, juga lapar. Diliriknya jam di ruangan itu yang sudah menunjuk pukul setengah sepuluh malam. Ia menguap. Ia perlu pergi ke dapur untuk mengambil minun. Joshua mengambil bantal sofa terdekat lalu mengangkat kepela gadis itu pelan-pelan. “Jangan pergi.” Suara itu terdengar saat Joshua baru saja hendak menaruh bantal di bawah kepala gadis itu. “kumohon.” lirih gadis itu lagi. Dia tidak benar-benar pulas, pikir Joshua. Joshua kembali ke posisi semula dan mengusap kepala gadis itu pelan. “aku di sini.” bisiknya. Ia mengambil jas yang tersampir di dekatnya dan menyelimuti tubuh gadis itu. Dengan sedikit gerakan, Joshua mengambil gelas di atas meja dan meneguk isinya yang tinggal setengah hingga tandas. Rasa haus dan laparnya tidak penting saat ini. Gadis itu jauh lebih penting. Joshua menatap Vanilla yang kedua matanya terpejam, dan ia tahu gadis itu tidak benar-benar tidur. Gadis itu mungkin hanya memejamkan mata karena sudah terlalu lelah. Gadis itu mengistirahatkan matanya meski ia tahu pikiran gadis itu mungkin terasa penuh. Joshua tidak bisa membiarkan Vanilla seperti ini. Ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya dengan susah payah dan menghubungi salah satu temannya. Joshua berbicara dengan suara diujung sambungan. Ia memberitahu keperluannya dan menceritakan bagaimana keadaan Vanilla. Ia bilang bahwa ia membutuhkan kehadirannya saat ini juga. Setelah memberitahukan alamat rumah gadis itu, ia menutup sambungan dan menaruh benda pipih itu di meja di sebelahya. Selama putaran jarum jam, Joshua hanya menatap wajah dalam pangkuannya. Wajah pucat dengan kedua mata yang bengkak. Ia meneliti tiap inci wajah gadis itu. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Ia tidak pernah mencintai hingga rasanya begitu takut menyakitinya, atau kehilangannya. Setelah bertahun-tahun, Joshua pikir ada yang salah dengan perasaannya. Tapi akhirnya ia menemukan gadis itu. Gadis yang membuatnya yakin bahwa ia siap melawan siapapun demi dirinya. Sejak kecil, Joshua selalu menutup diri dari dunia luar. Yang dilakukannya hanyalah mengurus bisnis ayahnya yang hampir bangkrut. Ia tidak pernah menghabiskan hidup seperti anak sebayanya. Ia telah kehilangan banyak hal dalam masa mudanya. Ia terlalu sibuk memutar otak menjadi pebisnis muda yang handal hingga akhirnya perusahaan ayahnya bisa diselamatkan. Sampai kini, ia masih begitu terobsesi dengan pekerjaannya. Namanya sangat kenal dikalangan para pebisnis. Ia mungkin paling muda, namun juga paling dikenal karena kejeniusannya membangkitkan kembali perusahaan yang bagi orang lain sudah tidak ada masa depannya. Dulu, satu-satunya yang ia cintai adalah pekerjaannya, kini ia normal seperti pemuda lainnya, mencintai seorang gadis, Vanilla.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม