masih revisi
Gatot sampai di kantornya. Kegaduhan tengah menyelimuti kepolisian.
"Bagaimana keadaan AKPRI Hendro?" Gatot membisiki Firman yang berjaln mondar-mandir mengikuti kehebohan.
"AKPRI Hendro berada dalam keadaan kritis saat ini, penyelidikan tampaknya sangat berbahaya." Gatot bermaksud hendak berkunjung ke rumah sakita, namun Firman mencegahnya. "Anda sebaiknya bersiap, Pak. Kemungkinan kasus ini akan dialihkan pad otoritas Anda."
"Apa?" Meski sedikit terkejut, Gatot juga berniat akan membantu jika memang perlu. "Saya akan kembali nanti."
Gatot bergegas mengunjungi rumah sakit tempat kawan baiknya itu dirawat. Tampak wanita muda dan tua duduk menunggu sambil menangisi kemalangannya. Gatot mendekati keduanya, menunjukkan rasa prihatin dan turut sedih dengan apa yang terjadi.
“Kami sangat berharap pelakunya dapat dihukum seberat-beratnya.”
“Saya berjanji akan menangkap pelakunya segera.”
“Terima kasih, terima kasih Inspektur.” Wanita itu bermaksud menciumi tangan Gatot sebagai ungkapan syukur dan harapan.
Gatot memandang awan yang berarak ke barat perlahan, biru laut dan putihnya awan bukan menjadi pendangannya. Tetapi waktu cepat sekali berlalu. Dia menegakkan punggung, tak ada keraguan di tiap embusan napas yang melaju tenang, namun kobaran ambisi terpancar pada tonjolan urat punggung tangan yang terpekal kuat.
Tidak bisa dimaafkan. Dia pasti, pasti akan menunjukkan balasan yang setimpal.
“Pak polisi, tunggu!”
Gatot sudah akan memasuki mobilnya yang terparkir, wanita muda yang tadi mengejarnya.
“Ini adalah benda yang dipegang Mas Hendro saat ditemukan. Saya bukan bermaksud menyembunyikannya, hanya saja sampeyan sepertinya orang yang berbeda. Semoga ini bisa berguna untuk penyelidikan.”
Apakah itu suatu sinyal bahwa dirinya dipercaya? Gatot menerima buku catatan kepolisian milik AKP Hendro dari tangan Anggi, jika dia tak salah ingat.
“Terima kasih. Akan saya jaga sebaik mungkin kepercayaan Anda.”
***
Sewaktu sampai di kantor, Firman mengembus napas lega. “Anda kemana saja, Pak. Komisaris sebentar lagi akan datang.
Masalah ini tidak lagi menjadi kasus regional tertentu, dampaknya bisa sangat besar bagi Jakarta, atau terlebih lagi bagi keutuhan negara.
Sebelum memulai Komisaris Besar memberikan rasa belasungkawa terhadap petugas yang gugur, kemudian menjelaskan dengan ringkas mengenai tragedi yang menimpa AKPRI Hendro Gunawan. Karena investigasi menjadi semakin intens dan berbahaya, maka dibentuklah satuan khusus yang akan menangani kasus tersebut. Kejahatan Puppet Killer dianggap sebagai serangan terrorist karena dengan sengaja membuat gempar masyarakat.
Gatot yang dirasanya paling cemerlang, bahkan dapat menutupi lubang yang ditinggalkan dalam kasus Jamie Seldron, diajukan memimpin.
***
Eddie adalah penyejuk ruangan, ia berefek seperti itu bagi Gatot, juga kepada semua orang mengenalnya. Kapan pun ia masuk ke suatu ruangan, seisi ruangan serta-merta menjadi lebih hangat, lebih tenang, dan lebih ceria.
Eddie mengenakan setelan kemeja abu-abu rapi dipadu vest biru gelap dan topi fedora hitam, rambutnya ikal sebahu. Dia tak pernah memotongnya sejak SMA. Rambut itu adalah salah satu bagian yang menjadi daya tarik Eddie.
“Yo, Bro, tumben kau menepati janjimu.”
Dia mendekati Gatot yang berdiri menyambut uluran tangannya. Tidak seformal dengan temannya. Eddie tahu Gatot melakukan jabat tangan demgan baik, jabatannya terasa kukuh dan percaya diri. Ia teringat, ayahnya dulu mati-matian mengajarkan pentingnya jabat tangan yang baik. Cara menjabat tangan dapat mengungkapkan semua hal yang perlu diketahui mengenai seseorang. Dari Gatot ia mengetahui tangannya kasar karena kapalan dari luka perkelahian, khususnya bagian telunjuk dan jempolnya terasa lebih tebal dan lebar kaena seringnya memegang senjata api.
“Karena Eddie Fish yang membuat janji terlebih dulu, aku penasaran apa yang ingin kaubicarakan.”
Eddie memberinya cengiran. “Kau ini benar-benar tidak berubah ya, sama sekali tidak peka. Baiklah, baiklah, tidak perlu mengernyit begitu. Sebenarnya aku tidak tahu mengapa aku ikut campur ke dalam masalah rumahmu, tetapi karena ini berkaitan dengan keluarga Ulvaku tersayang, mau tak mau aku harus menasehati pria yang kekurangan hormon kebapakan sepertimu.”
“Langsung ke intinya, Ed, masalah rumah apa yang kaubicarakan?”
“Dunia ini memang aneh, yang menikah adalah kau. Yang berkeluarga adalah kau, kenapa aku harus memberimu saran di setiap permasalahan.”
“Ed....”
“Kau tahu kan ini tentang Fitra. Dia semakin dewasa, dan sedikit mirip denganku.”
“Maksudmu?”
“Ini adalah masanya sifat pemberontak akan muncul. Dia mungkin akan membuat beberapa masalah, atau tengah mulai mengejar seorang gadis, dan mulai membenci orangtuanya. Anak-anak yang bertumbuh pasti akan mengalaminya. Ini disebut pubersitas.”
Pubersitas. Gatot mengulang perkataan Eddie, seperti seorang murid yang mengimitasi kalimat yang tak begitu dia pahami.
“Aku sarankan padamu untuk segera mencari solusi bersama Ulva.”
“Apa itu akan menjadi masalah?”
“Jika kau tidak bisa menarik tali kekangnya, dia mungkin akan kehilangan arah.”
“Caranya?”
Ini bukan seperti Gatot tak pernah mengalami masa puber, tetapi mengaitkan dengan Eddie. Gatot bukan hanya mengenal Eddie baru-baru ini, dia ada di saat bagian hidup terpuruk Eddie terjadi dan mau tak mau itu membuatnya sedikit khawatir.
“Gampang. Pakailah kata-kata penyemangat, sedikit penekanan dan memberinya ruang untuk membagi pemikirannya. Katakan padannya akan lebih baik jika bisa mengatasi maasalah ini bersama.”
“Itu gampang menurutmu, aku....”
“Kau mencari masalah lagi dengan anakmu.”
“I... Tidak, bukan begitu. Maksudku—”
“Fitra tidak senang dengan pekerjaanmu.”
“Sepertinya.”
“Lalu?”
“Ya, kau tahu—” Pembicaraan mereka terinterupsi dering telepon dari bawahannya, korban keenam ditemukan.
Gatot menampakkan raut kemarahan yang tak terbendung, baru berselang beberapa jam dari pengalihan tugas yang diterimanya, penjahat satu itu benar-benar tak membuang waktu.
“Maaf, sepertinya aku harus pergi.”
“Kalau kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini, kau harus mengembalikan sepuluh menit waktu berhargaku.”
“Baiklah, sampai jumpa, Ed.”
Cepat sekali Gatot menghilang dari pandangan Eddie, dia sangat mengerti, kali ini kasus yang ditangani mungkin teramat pelik. Chevy Gatot melaju, membelah angin di jalanan ibu kota menuju tempat kejadian perkara.