BAB 15

1171 คำ
Gedung itu tua, dengan lukisan cat minyak yang berderet di dinding warna krem kekuningan. Bercak hitam seperti noda darah yang mengering memperjelas titik-titik lapuk bagian gedung yang telah termakan usia. Lukisan-lukisan itu menampilkan gambaran dari neraka: tubuh-tubuh telanjang yang dikoyak oleh setan merah yang menyeringai memunculkan taring dan gigi tajamnya; manusia yang dipanggang di atas api yang menyala-nyala; iblis bertanduk yang menginjak tumpukan manusia. Dia berlari menuju sebuah pintu yang terbuka, tidak ada apapun di dalamnya, hanya terlihat bercak-bercak darah yang mengubah warna sebuah permadani Afghan dan tercium bau pengelantang. Dia masih berlari, meskipun tak mengingat siapa yang mengejarnya. Yang dirinya ingat, hanya suara sepatu-sepatu bot yang menyusul di belakang. Dari langkahnya yang berat dia mengetahui bobot pengejarnya tak kurang dari 80 Kg, dua orang pria, berpakaian berat semisal vest anti peluru dan menggenggam senjata. Mereka memeriksa ruangan dan mendesak maju menuju ruangan di sisi kiri. Syukurlah. Napasnya yang tertahan perlahan dia embuskan. Di atas ventilasi udara, mungkin tak akan ada yang menemukannya. Ventilasi itu sebenarnya terbagi di antara dua ruang. Jika dia mengikuti arah jalurnya, dia dapat mengamati situasi di ruangan berbeda. Ternyata mereka telah menemukan seorang gadis yang membungkuk di antara meja, kedua tangannya di atas kepala. Dari jaraknya, ia dapat mendengar isak tangis, tapi tak bisa melihat matanya. Pistol besar yang dibawa pria itu ditempelkannya ke kepala. Gadis kecil menengadah, tangannya melipat seolah berdoa bersama linangan air mata yang mengalir di pipinya. Ia memilih diam dan memalingkan wajah, ketika bunyi letupan yang keras itu menghamburkan isi kepala.                                                                                                *** Gatot bangun dengan napas tersengal. Lagi-lagi mimpi yang terasa sangat nyata. Anehnya, setiap kali itu terjadi, korbannya selalu orang yang berbeda. Dia memindai sekitar, masih di kantornya berselimut jaket miliknya. Well, kelihatannya hari ini ia akan pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti. Selama bertugas ia jarang kembali ke rumah. Sudah menjadi habit Gatot untuk tidak pulang sebelum menyelesaikan misi. Kantor masih sepi saat dia keluar. Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Gatot melajukan Chevynya menembus embun tanah yang masih basah di rerumputan, semilir angin sedikit membuatnya menggigil, bukan masalah baginya. Tubuhnya punya kemampuan bertahan dalam cuaca apapun. Kulitnya tebal sehingga mampu menghadapi panas dan dingin. Dia mengetahuinya saat usianya sepuluh tahun, terjebak di ruang penyimpanan selama enam jam tanpa terkena hipotermia. Dua tahun lalu, ia dipindahkan ke markas besar di Jakarta, berada di divisi kriminal satu. Kesehariannya menangani kasus pembunuhan kelas berat, progress yang ia hasilkan cukup pesat hingga ia kemudian mendapat kenaikan pangkat. Orang-orang memanggilnya manusia super, karena ketajaman inderanya dalam mencari bukti dan tidak melewatkan hal penting. Gatot lebih banyak bertindak sendiri yang kadang mendapat tindak kedisplinan dari atasannya. Tetapi beginilah dirinya, dia hanya tidak menyukai orang-orang yang bergerak lambat dan tidak memiliki dedikasi. Mobil Gatot memasuki halaman sebuah rumah asri dengan pemandangan pohon mangga berjajar di samping jalannya. Angin menerbangkan sebagian daun-daun keringnya hingga menumpuk di tanah. Dia tak sengaja melihat penampakan seorang sosok pria bertudung jaket berdiri memandang mobilnya di bawah salah satu pohon. Gatot secara mendadak menarik rem, namun bayangan itu secepat kilat menghilang. Dia diikuti? Gatot menggeleng. Mungkin hanya perasaannya saja. Cemas mengenai keluarganya, Gatot bergegas memasuki kediaman, saat kemudian menyadari, dia hanya paranoid sendiri. Seharusnya dia tak perlu terlalu cemas sebab istrinya ada di rumah dan akan menjaga anak-anaknya. Wanita itu yang telah meluluhkan hatinya, bukan orang sembarangan. Siapapun hanya akan cari mati berurusan dengan Ulva. “Sudah pulang, Honey? Selamat datang.” Istrinya, Ulva muncul dari balik pintu kamar. Gatot tak bisa menyembunyikan kelegaan. “Iya, aku pulang, Ma” *** Tirai berat yang disibak Eddie membiaskan cahaya mentari memasuki rak-rak buku yang telah dibersihkannya. Perpustakaan itu adalah miliknya, dibangun atas inisiatif dan ketekunan Eddie. Selain sebagai rumah untuk buku-buku limited edition, tempat itu adalah rumah baginya bernaung. Eddie tak memiliki keluarga, sehingga dia mudah tinggal di mana saja, selama tempat itu memiliki atap, listrik, dan air minum. Setelah kematian kedua orangtuanya, sejak kecil dia berada di rumah sepupunya Ulva. Dia mengakui telah banyak berhutang budi terhadap keluarg Ulva. Dan saat dia telah mencapai usia dewasa, dia memutuskan keluar dari sana untuk mengejar mimpi. Beberapa tahun kemudian, Ulva telah menikah dengan pria yang lebih sering menyalonkan kumisnya dibandingkan pulang ke rumah. Gatot masih menjadi rivalnya. Sedikit yang dia ingat mengenai Gatot adalah pria bertalenta yang dicintai Tuhan. Dia sangat jarang mengalami kegagalan berkat intiuisinya yang tajam. Sial. Eddie setiap mengingat Gatot hanya ingin mengumpat, menyadari kekalahannya, baik mengenai prestasi ataupun tentang Ulva. “Om!” Eddie tengah mengembalikan beberapa buku ke tempat semula, sewaktu imitasi Ulva versi remaja gender male mendorong pintu dan memanggilnya dengan ceria. “Fitra. Masuklah.” Eddie memberi isyarat dengan kepala. Fitra mengenakan jaket bomber hitam, rambutnya tampak lebih panjang dari terakhir kali. “Ini dari Mama seperti biasanya.” Anak itu meletakkan rantang yang dibawanya ke meja depan. “Bukannya sudah kubilang untuk tidak lagi mengirim makanan.” “Om tahu begitulah Mama, sampai Om menikah mungkin tidak bisa dihentikan.” Eddie mencibir Ulva sebagai wanita tua yang bebal. "Lagi sibuk, Om?" “Enggak juga. Gimana kabar papa dan mama kamu.” tanya Eddie tanpa nada bertanya. “Baik.” Eddie menemukan rasa sangsi dari suara anak itu. Fitra mencoba membantu meletakkan buku-buku yang tersisa. “Bertengkar lagi?” Eddie mengejar. “Enggak juga.” Fitra memberengut. Alisnya bergerak-gerak ketika tengah menahan amarah. Kebiasaan itu ditularkan dari Ulva. Selain tubuhnya yang semakin tinggi hampir menyamainya, mata sayu dan hidung mungil turunan ibunya, hanya rahang kuat yang merupakan bibit jelek sang ayah, anak itu benar-benar mengingatkannya pada masa lalu. “Segeralah berbaikan, jangan bikin mamamu sedih.” “Benar-benar pria yang tidak bisa diharapkan." Perkataan itu jelas tidak ditujukan pada Eddie. “Well, ayahmu memang seperti itu, bukan.” "Aku selalu berharap untuk segera dewasa dan bebas seperti Om Eddie.” Eddie dapat memahami perasaan dan amarah yang dipendam Fitra. Hanya saja dia tidak berharap Fitra akan seperti dirinya. Eddie bukan orang baik, ia sejujunya membenci keluarganya karena sebab-sebab tertentu, sampai suatu ketika ia mengetahui kebenaran yang terjadi saat ayahnya telah ada di dalam peti. “Bukannya menjadi polisi adalah impian kamu sejak dulu. Kamu bilang ingin menjadi seperti ayahmu suatu saat.” “Entahlah. Setelah melihat dan mulai memahami, aku rasa aku tidak ingin menjadi polisi, jika harus mengabaikan keluarganya seperti itu. Dan kupikir menegakkan keadilan tidak bisa hanya dicapai dengan menjadi seorang penyidik.” Amarah seorang anak yang hanya sesaat, Eddie pikir. Seiring waktu Fitra juga mungkin akan bisa memahami. “Benar juga. Mungkin kamu bisa jadi pengacara atau bahkan sebagai hakim. ” Lagi-lagi ia mencuri peranan sosok ayah. Di mata Fitra, Eddie adalah ayah keduanya. Anak itu hanya akan lebih terbuka terhadapnya dibandingkan ayahnya sendiri. Fitra hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun ia urungkan. "Iya," hanya itu yang terlontar. "Aku pulang dulu kalau begitu, Om." "JIka kamu menghadapi masalah, kamu bisa datang ke Om kapan pun." "Aku mengerti." Ketika Fitra berbalik, Eddie memanggilnya, tampak sekali ada yang mengganggu pikirannya, tapi sekalipun Eddie tak dapat memaksanya untuk bercerita. “Seorang ayah memang tak pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, namun mereka lebih banyak menunjukkannya dengan perbuatan. Om yakin, suatu hari kamu akan menyadari peranan sosok ayah itu dalam diri ayahmu sendiri. Jangan pernah putus harapan.” Fitra balas mengangguk sebelum melenggang meninggalkan Eddie yang masih menatap punggungnya.                                                                                        ***
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม