“’On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux. Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata’. Sang penulis hendak mengemukakan pandangannya tentang kesalahpahaman yang sering dilakukan oleh manusia dan kebenaran sederhana yang sering dilupakan oleh mereka seiring mereka bertambah dewasa.”
“Benar.”
“Mungkinkah itu yang hendak dikatakan korban. Apakah itu akan menunjukkan si pelaku. Atau memang ditujukan untuk si pelaku.”
“Kita belum tahu sampai melanjutkan ke yang berikutnya.”
“Maksudmu cerita Oidipus Rex.”
“Menurutmu bagaimana?”
Yang dirinya ingat, kisah Oidipus adalah kisah tragis yang mengisahkan hubungan haram ibu dan anak.
Narasi Eddie...
Laios menjadi raja Thebes setelah kematian Amfion atau Zethos. Dia menikahi Iokaste, putri Menoikeus.
Suatu hari Laios mengunjungi Pelops, raja Pisa. Pelops memiliki seorang anak haram bernama Khrisippos dari nimfa Astiokhe atau Aksiokhe. Khrisippos adalah pemuda yang sangat tampan sehingga Laios pun jadi jatuh cinta. Laios mengajak Khrisippos berlatih mengendarai kereta perang lalu menculiknya. Laios membawa pemuda itu dan memperkosanya. Malu karena telah diperkosa, Khrisippos pun bunuh diri dengan pedangnya sendiri. Khrisippos adalah putra kesayangan Pelops, jadi Pelops sangat marah atas tindakan Laios. Akhirnya Pelops mengutuk Laios dan keturunan-keturunannya.
Sebuah ramalan dari Orakel Delphi memperingatkan Laios untuk tidak memiliki anak, karena sang anak nantinya akan membunuh ayahnnya dan menikahi ibunya sendiri. Sang raja, dalam pengaruh anggur yang memabukkan, mengabaikan ramalan tersebut dan tetap menyetubuhi istrinya. Iokaste hamil dan melahirkan seorang putra. Setelah itu barulah sang raja mengingat ramalan tersebut.
Laios mengikat kaki bayinya dan menyuruh seorang pelayan untuk membuang bayi itu di Gunung Kitheron. Namun sang pelayan kasihan pada bayi itu dan malah memberikannya pada gembala dari Korinthos.
Bayi itu akhirnya diadopsi oleh raja Korinthos, Polibos, dan permaisurinya, Periiboia. Permaisuri mengobati pergelangan kaki sang bayi dan menamakannya Oidipus, yang berarti "Si Kaki Bengkak".
Oidipus dibesarkan sebagaimana anak kandung oleh raja Polibos dan permaisuri Peirioboia. Ia tumbuh menjadi seorang pemberani yang menimbukan iri hati pada kawan-kawannya. Mereka meniupkan keraguan pada diri Oidipus, bahwa ia bukan anak kandung Polibos. Oidipus menanyakan kebenaran isu tersebut pada orang tuanya, namun tak menemukan jawaban.
Ia kemudian pergi ke Delphi untuk menyelidiki isu tersebut. Peramal di Delphi hanya menasehatinya untuk tidak kembali ke tanah asalnya karena ia akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Jawaban samar-samar itu disimpulkan sendiri oleh Oidipus bahwa ia benar-benar anak kandung Polibos dan Peirioboia. Menurut Oidipus, ia tidak seharusnya kembali ke Korinthos.
Dalam perjalanan dari Delphi, ia berpapasan dengan raja Laios. Dalam papasan di jalan sempit tersebut, pengawal raja Laios, Polifontes, menyuruh Oidipus untuk memberi jalan untuk raja. Oidipus menolak. Pengawal raja marah lalu membunuh kuda Oidipus, yang malah membuat Oidipus menewaskannya. Oidipus lalu menyeret Laios dari keretanya dan membunuhnya. Dengan demikian sesuai ramalan bahwa Oidipus membunuh ayahnya sendiri.
Kreon, kakak dari Iokaste, permasuri raja Laios, untuk sementara memegang tahta Thebes. Saat itu Thebes diresahkan oleh kehadiran mahluk Sphinx, makhluk berkepala perempuan, bertubuh singa, dan bersayap itu bertengger di gunung Fikium dan membunuh setiap warga Thebes yang tidak bisa menebak teka-tekinya, juga mengancam tidak akan meninggalkan negara tersebut sebelum ada yang mampu memecahkan teka-teki itu. Teka-tekinya adalah:
“Apakah yang pada pagi hari menggunakan empat kaki, pada tengah hari menggunakan dua kaki dan pada senja hari menggunakan tiga kaki?”
Kreon mengumumkan sayembara bahwa barang siapa yang mampu memecahkan teka-teki Sphinx, akan diberikan tahta Thebes sekaligus dinikahkan dengan janda dari raja Laios, Iokaste.
Mendengar sayembara tersebut, Oidipus datang ke Thebes. Pemuda gagah berani dan cerdas itu menemui Sphinx dan menjawab teka-teki itu. Jawaban Oidipus adalah: manusia. Ketika masih kecil, manusia merangkak menggunakan sepasang kaki dan sepasang tangan, ketika ia dewasa, ia tegak dengan dua kakinya dan ketika tua menambahkan tongkat agar mampu berjalan lebih baik.
Karena teka-tekinya terjawab, Sphinx melempar dirinya sendiri dari tebing hingga tewas. Oidipus lalu diangkat menjadi raja Thebes dan menikahi Iokaste. Maka lagi-lagi ramalan kembali terpenuhi bahwa Oidipus menikahi ibunya. Hubungan Oidipus dan Iokaste melahirkan Polineikes, Eteokles, Ismene dan Antigone. Oidipus memerintah dengan adil dan bijaksana, Thebes makmur di bawah kepemimpinannya. Namun para dewa di Olimpus murka dengan hubungan ibua-anak yang telah dilakukan oleh Oidipus. Setelah dua puluh tahun Oidipus berkuasa, malapetaka menimpa Thebes: pertanian gagal, kelaparan melanda. Teiresias, seorang peramal berkata bahwa pembunuh Laios harus dibunuh atau dikucilkan supaya Thebes bebas dari murka para dewa.
Sementara itu, raja Polibos (raja Korinthos yang disangka ayah oleh Oidipus) meninggal. Permaisurinya, Peiriboia memutuskan untuk membuka rahasia Oidipus. Ia menyuruh pembawa pesan memberitahu Oidipus di Thebes mengenai kematian Polibos dan asal-usul Oidipus.
Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, Iokaste kaget dan merasa malu, sampai dia pun menggantung dirinya sendiri, sementara Oidipus menusuk matanya hingga buta. Ia menyerahkan tahta kepada putra-putranya lalu mengutuk mereka bahwa mereka akan terlibat perang saudara. Ia kemudian disuir dari Thebes dan mengasingkan diri.
Dulunya seorang raja, Oidipus kini adalah seorang pengemis buta yang berkelana tanpa tujuan. Dia ditemani putrinya, Antigone, yang memandu jalannya. Sementara putrinya yang lain, Ismene, mengabarkan pada Oidipus mengenai situasi di kerajaan.
Oidipus menghentikan pengembaraannya di Kolonos, dekat Athena. Dengan perlindungan Theseus, raja Athena, Oidipus dapat tinggal dengan tenang di Kolonos sampai akhir hayatnnya. Theseus lalu memakamkan Oidipus di Kolonos dan membantu putri-putri Oidipus kembali ke Thebes.
“Mungkinkah ini berkaitan dengan teka-teki Sphinx. Jika dilihat dari hubungan keduanya, aku jadi mengingat salah satu kutipan favoritku, ketika Pangeran kecil mengatakan begini; ‘Orang – orang dewasa menyukai angka. Ketika kau mendeskripsikan seorang teman baru kepada mereka, meraka tak pernah menyanyakan padamu hal – hal penting. Mereka tak pernah bertanya ’seperti apa suaranya. Apa permainan favoritnya. Apakah dia mengoleksi kupu – kupu.’ Bukannya bertanya begitu meraka malah menuntut ‘ Berapa umurnya. Berapa banyak kakak dan adiknya. Berapa beratnya. Berapa penghasilan ayahnya.’. Itu dia, angka!” Eddie hampir berteriak ketika mengatakannya. Hal itu menarik perhatian beberapa pengunjung yang lelah menunggu dan mulai mengisi tempat duduk yang ada.
“Mau sampai kapan kita akan menunggu?” Eddie mendengar riuh orang-orang bergumam membicarakan waktu mereka yang terbuang. Kalau memang ingin pergi, mereka harusnya mengaku saja, cibir Eddie dalam hati.
“Hubungannya apa Mas Eddie?” Pak Dono menyadarkan Eddie, membuatnya kembali terfokus dengan pembahasan mereka. “Mmm....”
“Mungkin, begini,” Salah satu pengunjung yang protes tadi memasuki pembicaraan. “Kalimat ‘Apakah yang pada pagi hari menggunakan empat kaki, pada tengah hari menggunakan dua kaki dan pada senja hari menggunakan tiga kaki?’ Jika diurut dalam angka, maka akan menjadi 423.Nah, terbaca sebagai ARE. Yang mungkin berarti nama pelaku atau susunan kata dalam bahasa Inggris?”
“Aku tidak yakin. Tetapi, cukup mengejutkan bagaimana kamu menyimpulkannya.”
“Atau mungkin itu merupakan letak bukti disimpan?” Pak Konco urun pendapat.
“Wah, bener juga tuh, Pak.” Pria yang bahkan belum memperkenalkan namanya itu, berseru seantusias Pak Konco. “Ayo kita cari.”
“Ah, masa. Sepertinya tidak mungkin.” Eddie mencoba mencegah keduanya melakukan hal sia-sia.
Tanpa mendengarkan pendapat Eddie, keduanya sudah sibuk bergegas mencari rak buku bernomor 423. Malt, dalam sekejap sudah menghilang entah kemana. Eddie sangat penasaran, orang seperti apa Malt itu. Ketika menghadapi pria tadi, dia begitu tenang, mungkin karena dia seorang dokter, tetapi bukan hanya itu, bagaimana dia bersikap dan menghandle semuanya, seolah sangat terbiasa menghadapi masalah seperti ini. Eddie yang seharusnya mampu mengendalikan situasi, jujur saja, sempat salah fokus memikirkan perpustakaannya mungkin akan segera tutup jika masalah ini terus berbuntut. Yah, Eddie belum tahu apapun tentang latar belakang mau pun masa lalu pria itu. Bisa jadi Malt adalah seorang dokter militer. Atau...
“Mas Eddie, kami menemukan ini!” Eddie tersentak menatap tas wanita dalam genggaman Pak Konco.
“Apa saya bilang ‘kan !”
Bagaimana bisa mereka menemukan sebuah tas terselip di antara buku. Lebih anehnya tepat di angka 423! Atau mungkin itu adalah bukti sungguhan?
Eddie menenteng dan menginspeksi tas itu dengan saksama.
“Itu tasku!” Bu Norman berteriak dari kejauhan, menyambar tasnya dari tangan Eddie.
“Bagaiman bisa tas Anda ada di sana.”
“Di sana?” tanya wanita itu, sibuk memeriksa isi tasnya, Eddie memeprtanyakan hal yang sama. “Memangnya ada apa?” sahut Bu Norman sedikit sewot, karena tatapan Eddie yang menghakimi.
“Apa kalian telah selesai bermain detektif-detektifan? Bisakah kami pergi sekarang.”
Dua wanita kembar berambut kemerahan mendekati mereka.
“Belum,” Eddie menjawab singkat.
“Biarkan aparat saja yang bekerja. Kalian pasti tidak akan menemukannya.”
“Kami sudah mengetahui siapa pelakunya.” Itu pria tak bernama yang sejak tadi menjejalkan asumsinya di setiap kesempatan.
“Tunggu, jangan bilang kalau....”
“Benar. Orang itu adalah... Ibu Norman!”
“A-apa?! Omong kosong! Aku bahkan tidak mengenalnya!”
“Tidak perlu berpura-pura, Anda memiliki motif yang sempurna untuk mencelakai pria itu.”
“Apa? Motif apa?”
“Dia pasti memeras Anda dengan isi dalam tas Anda.” Eddie memandang penasaran ke arah tas yang didekap Bu Norman lebih erat setelah pria itu mengatakannya. Wajahnya berubah pias. “Karena tak tahan lagi, Anda marah dan mencoba membunuhnya.”
“Tidak! Itu bohong! Bukan aku pelakunya!”
Orang-orang mulai membuat kerumunan kembali, tertarik ketika pria itu mengatakan telah menemukan pelakunya.
“Apa yang membuat Anda menduhnya?” Malt, telah kembali. Pasti karena teriakan Bu Norma tadi.
“Ini bukan tuduhan. Kami punya bukti yang memberatkan dia. Coba saja buka isi tasnya, Anda juga akan berpendapat hal yang sama.”
“Pertama, Anda telah melanggar hak privasi seseorang. Dan saya rasa terdapat banyak kesalahan dari konklusi Anda.”
“Maaf?”
“Bisa saya ingatkan sedikit, kalau Bu Norman bukan pelakunya.”
“Hah? Bukankah Anda yang terlalu terburu-buru memutuskan sebelum penyelidikan?”
Eddie hanya mengamati adu analisis di antara keduanya. Sebenarnya lebih berat ke Malt yang tampak lebih mirip detektif sungguhan.
“Coba pikirkan, jika Anda adalah sang pelaku, apakah Anda akan meminta didatangkan polisi?” Dalam hati Eddie membenarkan karena wanita itu sejak awal meminta dipanggilkan seorang polisi.”
“Bisa saja karena dia mengira alibinya sempurna.”
“Jadi, bisa Anda jelaskan, bagaimana Bu Norman menjatuhkan rak besar itu sendirian? Beliau sendiri yang mengatakan jika Pak Dono berada di dekat sana selama dia membaca, benar?”
“Lalu bagaimana dengan tas dan teka-teki?”
Suara sirine terdengar dari jarak yang semakin dekat. Menandakan sudah lima belas menit berlalu. Malt mengejar petugas ambulans dan memberikan instruksi, meminta kepada satpam kompeks untuk menemani korban, mereka harus menyelesaikan kasus ini secepatnya sebelum semakin parah.
“Hei, cepat jelaskan pada kami, apa Anda tahu siapa pelakunya?”
“Tenang. Saya akan menjelaskan semuanya.”
Malt memberikan senyum menenangkan, tulang pipinya terangkat dan matanya menyipit.
“Seperti di awal tadi, korban hendak memberitahu kita banyak clues di dalam sudut pandang Pangeran cilik Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata’. Sang penulis hendak mengemukakan pandangannya tentang kesalahpahaman yang sering dilakukan oleh manusia dan kebenaran sederhana yang sering dilupakan oleh mereka seiring mereka bertambah dewasa.” Penjelasan Malt mudah dicerna, Eddie hanya akan diam mengamati kehebatan deduksi seorang Malt Dextrin yang baru dia temui dua kali.
“Anda tanpa sadar melupakan kebenaran sederhana dari kasus ini, dan justru malah dibuat bingung oleh si pelaku sendiri.”
Sebenarnya, Eddie pun hampir saja termakan jebakan. “Coba Anda lihat bagian bawah rak ini. Butuh kekuatan besar untuk menjatuhkannya meskipun dibantu menggunakan dongkrak. Tetapi ada satu hal yang luput dari pandangan kita. Ada sebuah tali tipis yang kuat seperti kail atau benang milik seorang pesulap yang biasa digunakan untuk menjalankan triknya. Dan pelaku kita ini mungkin juga seorang pesulap yang senang menyembunyikan suatu hal yang ada menjadi tidak ada. Korban mungkin secara tak sengaja telah mengetahui hal yang tidak seharusnya diketahui dan menyebabkannya celaka.”
“Jadi, siapa orang itu?”
“Clue kedua adalah Sphinx.” Malt tetap tenang, tidak terburu-buru menanggapi permintaan pria itu. Seperti mengupas kulit bawang satu per satu.
“Mungkinkah....”
“ Kita akan segera tahu saat melihatnya.”
Semua orang yang mendengarkan menjadi bingung. Eddie dan Malt berlalu menuju ke salah satu patung di sisi bagian perpustakaan.
“Apa ada sesuatu dengan patung Sphinx ini?”
“Ya, kepalanya dapat dilepas.”
“Coba lepas kepalanya.” Eddie menuruti perintah Malt.
“Apa tabung ini selalu dikunci?”
“Hanya yang bekerja di sini yang memgang kuncinya.”
Gaung kesiap mengisi perpustakaan Eddie. Banyak bubuk-bubuk putih dalam plastik yang mereka temukan.
“Narkoba,” gumam Eddie masih tak percaya apa yang digenggamnya.
“Sejenis Morfin,” Malt menjelaskan.
“Jadi, siapa pelakunya.”
“Siapa lagi kalau bukan di antara dua pekerjamu.”
Semua mata tertuju kepada dua orang yang mengenakan seragam batik yang sama. Pak Dono terlihat ketakutan dituding dua kali atas suatu tindakan yang entah benar-benar diperbuatnya atau tidak.
“Hei, tunggu dulu. Hanya karena kami memegang kuncinya, bukan berarti kami pelakunya? Bisa saja ada yang mencurinya sebentar dan meletakkan benda itu di sana?” Pak Konco gencar mengelak.
“Itu bisa saja terjadi, tetapi bukti nyata tidak dapat hilang. Silahkan perlihatkan kedua tangan kalian.”
“Untuk apa?”
“Lakukan saja,” Eddie menegaskan untuk tidak membantah.
Malt memperhatikan dengan saksama telapak tangan keduanya, lalu melakukan sesuatu dengan sapu tangan yang diletakkan di tangan keduanya. “Apa yang kalian makan pagi ini?”
Orang-orang mengernyit pada pertanyaan Eddie.
“Saya makan nasi pecel, Mas.”
“Saya makan makanan cepat saji.”
Pria itu lalu mengambil serbet dan bubuk dari saku jasnya dan menabur bubuk itu di sekitar patung. Tidak terdapat sidik jari siapapun di sana.
Eddie sedikit terkejut. Bahkan sidik jarinya ikut terhapus. “Aku baru saja memegangnya sebelum kita pergi keluar tadi untuk mengambil kunci. Bagaimana bisa sidik jariku pun hilang”
“Ini mempersempit kemungkinannya. Pelaku dengan sengaja mengelap seluruh permukaan patung untuk menghilangkan sidik jarinya yang tertinggal, ini berarti pelaku panik dan tidak menggunakan sarung tangan selama melakukan aksinya. Sayangnya, orang itu belum tahu bahwa jaman telah berubah dan pengetahuan semakin berkembang. Mengusapnya tidak menghilangkan sidik jari.”
Poin yang dapat diambil dari penjelasan Malt, sebagai berikut:
– Cairan keringat/sekresi pada tangan kita mengandung elektrolit/garam, sehingga mengakibatkan korosi pada permukaan logam. Artinya alur-alur yang menonjol pada sidik jari kita bisa meninggalkan alur-alur korosi pada permukaan logam yang tersentuh. Tentu saja korosi yg ini tidak akan bisa langsung dilihat dengan mata telanjang.
– Untuk membuat bekas-bekas korosi karena sidik jari di atas terlihat, digunakan bahan serbuk halus berwarna tertentu, mirip dengan tinta Toner pada mesin fotokopi (laser printer) juga menggunakan prinsip serupa yang digunakan pada silinder (printing heat) mesin fotokopi/laser printer: menggunakan medan/tegangan listrik.
Gaya elektrostatik akan menarik serbuk “toner” ini sehingga melekat pada permukaan logam. Nah, kuncinya: serbuk ini akan cenderung merekat lebih kuat pada bagian yang terkena korosi, atau dengan kata lain pada alur-alur bekas sidik jari kita, sehingga akan ada peluang untuk terlihat meskipun sebelumnya sudah dilap. Untuk membangkitkan gaya elektrostatik tersebur, diperlukan tegangan hingga 2500 volt.
Sidik jari yang tidak terlihat ini biasa disebut dengan sidik jari laten, sidik jari seperti ini biasanya menempel pada lempeng aluminium, kertas, atau permukaan kayu. Agar dapat tampak, para penyidik biasanya menggunakan zat kimia, seperti lem (sianoakrilat), iodin, perak klorida, dan ninhidrin.
“Ini akan membuktikan pelakunya.”
Malt melakukan seperti yang dikatakannya di atas. Sidik jari mulai terlihat, sangat singkat sehingga Malt harus memotretnya dengan kamera ponsel.
“Sekalipun, kita tidak melakukan itu, kita sudah dapat melihat siapa pelaku yang sebenarnya.”
Semua orang tegang menanti kelanjutan perkataan Malt.
“Pelaku telah merencanakan kejahatan ini sebelumnya. Dia mungkin telah dipergoki oleh korban, atau bahkan mereka mungkin bersekongkol pada awalnya, terjadi kesalahpahaman di antara keduanya, sehingga pelaku berniat mencelakai korban dengan berjanji temu di sini. Tetapi korban datang lebih awal, membuat pelaku panik dan segera mengeksekusi rencananya tanpa persiapan yang terlalu matang. Pelaku bahkan mencoba memframing orang lain untuk mengalihkan perhatian.”
“Maksudmu....” Eddie menatap Pak Konco yang terkejut langsung menjadi perhatian publik.
“Benar. Pelakunya adalah Anda, Pak Konco!”
“Tidak mungkin. Bukan saya! Anda jangan mengada-ada! Saya tidak melakukan kejahatan apapun! Mas Eddie tolong percaya, ini semua fitnah!”
“Anda tidak bisa mengelak lagi, sidik jari dan alibi Anda telah terpatahkan!”
“Saya terus berada di counter depan, bagaimana Anda akan membuktikannya.”
“Dengan lilin. Tali yang putus memiliki bekas bakaran di ujung, sehingga Anda tidak perlu berada di tempat, hanya membutuhkan timing dan posisi yang tepat. Anda mungkin memintanya menunggu hingga break berakhir, maka pria itu akan tetap di sana menunggui Anda yang melayani pengunjung lain. Mari kita buktikan perkataan saya.”
Malt Dextrin bukan orang biasa.
Tak lama kemudian, polisi akhirnya datang. Membuktikan apa yang dikatakan Malt, benar. Pak Konco ditangkap setelah mengakui kejahatannya. Eddie masih tak menyangka apa yang terjadi
"Manusia kadang sering lupa, bahwa mereka bertanggung jawab selamanya atas apa yang telah mereka jinakkan." Salah satu kutipan La Petit Prince menjadi kata-kata perpisahan keduanya.
Dimana ada detektif, di sana selalu saja terjadi kejahatan apakah itu adalah takdir seorang detektif? Jadi, itu yang dimaksudnya.