Selama ini Gatot tak pernah melihat Fitra dalam kacamata hitam seorang kriminal. Anak yang bahkan tak dapat membunuh seekor semut, bagaimana bisa berasa di situasi pembunuhan sadis berbahaya yang melibatkan banyak anak sekolah seusianya?
Itu bukan anaknya. Itu bukan Fitranya. Yang dirinya lihat dari binar mata itu, ada kemarahan, dingin, dan pemberontakan yang membuat bulu kuduknya merinding.
Usianya baru genap 16 tahun hari ini. Apa yang harus dia berikan? Atau apa yang seharusnya dia katakan kepada anaknya? Gatot merasa telah kehilangan muka untuk menghadapinya. Sikap angkuh Fitra selama ini, merupakan pembatas dari dinding tebal yang dibangun antara kedua ayah-anak tersebut.
Dia mungkin bisa memulainya dengan bertindak lebih tegas. Ataukah semua sudah terlalu terlambat untuk memulai.
Bagaimana pun Gatot sampai di depan rumah hari ini dengan tekad dan nekat, juga harapan anaknya tidak lari.
Saat Gatot membuka pintu rumahnya dia sedikit tercengang mendapati semua dekorasi ulangtahun telah tertata, yang membuatnya menahan napas adalah kehadiran remaja yang kini mengganggu pikirannya tengah duduk menyesap sirup sambil tertawa dengan dua sahabatnya, Gatot mengenal baik keduanya.
“Kamu sudah pulang, Hon.”
Perlu waktu untuk Gatot pulih, dia mengangguk dan mengatakan akan membantu. Matanya tak lepas dari mengamati gerak-gerik Fitra.
Gatot tak ingin berpikir macam-macam, hanya saja setelah kejadian yang mengejutkan baginya, Fitra seolah-olah menganggapnya bukan sesuatu yang besar. Apa jangan-jangan benar jika apa yang terjadi hanya kesalahpahaman?
Gelagatnya terlalu santai, sampai-sampai dia mengira apa yang terjadi hari kemarin tidaklah nyata. Apa anaknya yang dirinya lihat adalah doppleganger Fitra atau semacamnya?
Melihat kedua temannya pergi mengambil minum, Gatot segera mendekatinya. “Fitra, ada yang harus kita bicarakan, bukan?” Menunjukkan gestur intimidasi, bersedekap dengan intonasi suara menekan.
“Papa benar-benar perusak suasana,” sungutnya sebal. Fitra memilih bangkit dan menghindar darinya. Gatot sejujurnya semakin tak dapat menerka apa yang berada di kepala anak itu.
Tak mau mengalah, Gatot bermaksud mengganggu Fitra lebih jauh, saat kemudian istrinya mendekat.
“Ada apa, Hon?” Ulva tertarik melihat suasana tak nyaman yang tercipta.
“Tidak ada apa-apa, jangan khawatirkan hal itu. Aku hanya ingin berbincang sedikit dengannya setelah pesta.”
“Baiklah. Apapun itu, lakukan setelah pesta selesai, Oke?”
Mau tak mau ia mengiyakan. Gatot mengawasi jalannya pesta, anak-anak muda yang diundang Fitra rata-rata adalah teman kelasnya, lalu ada segerombolan remaja laki-laki menaiki jeep dan motor gede. Sekumpulan anak-anak yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Gatot hendak berpikir positif mungkin itu hanyalah perkumpulan remaja dengan hobi yang sama, tetapi dia tak bisa menurunkan tensinya karena ada kemungkinan anggota sindikat yang telah menjerat Fitra berada di dalam lingkaran mereka. Gatot diantara bisingnya alunan musik pesta, mendekati salah satu dari teman Fitra.
“Om,” sapa anak itu ramah, sangat mengenal pria bersungut yang mendekatinya.
“Bagaiman kabar kamu, Andrew?”
“Baik, Om.”
“Kalau tidak salah kamu sekelas dengan Fitra, betul?”
“Iya, Om.”
“Ah, kebetulan. Bisa kita bicara sedikit privasi sebentar?”
“Oh, ada apa Om, memangnya?”
“Tidak terlalu serius.” Meskipun lisannya berkata tidak serius, wajahnya sedikit menakuti Andrew. Gatot, ayah Fitra yang dikenalnya orang yang tidak mengenal tersenyum bahkan tertawa di kamusnya.
Ragu-ragu Andrew mengikuti Gatot menaiki tangga ke lantai dua. Pesta diadakan di halaman belakang rumah mereka.
“Sini, Andrew.” Gatot memintanya mendekat di balkon. “Kamu lihat pria berpotongan punk di situ.”
“Yang pake baju biru, Om?”
“Benar. Kamu kenal dia?”
“Enggak, Om.”
“Bukan dari sekolah kamu?”
“Saya kurang tahu, Om, kalau dari kelas lain.”
“Emang kenapa, Om?”
“Ah, enggak apa-apa. Saya tanya karena penasaran, banyak anak lain yang belum pernah saya tahu.”
“Wajar sih Om, Fitra kan anaknya supel tuh, mana dia itu punya geng popule....” Andrew menutup mulut, seolah mengucapkan hal yang tidak seharusnya, dia tampak gugup dan terburu-buru pergi.
Geng? Populer?
Setidaknya pengumpulan informasi Gatot tak sia-sia. Yang harus dia cari tahu saat ini adalah mengenai geng tersebut.
Pesta berlangsung hingga malam. Gatot mengamati dari kejauhan. Figur Fitra, parasnya makin mengingatkan dirinya sendiri, bentuk wajahnya oval, alisnya tidak terlalu tebal dan melengkung sempurna, memiliki mata almond indah dengan bulu mata panjang, ibaratkan ketika ia berkedip, maka di sebuah wilayah lain, angin bertiup menggoyangkan pepohonan dan lautan. Tingginya 172 cm, cukup tinggi untuk seorang yang baru mejajaki masa SMA. Melihat bibir itu melengkungkan senyum, dia ingin melepaskan Fitra untuk hari ini saja. Tetapi setelah pesta, anak itu mungkin akan menjadi tahanannya.
Telepon bergetar dari saku celana Gatot. Panggilan dari kepolisian. Ini tentang Eddie yang mengalami sedikit kasus di perpustakaannya. Memaksa Gatot beranjak meninggalkan pesta sesegera mungkin. Dari arah lain, saat Fitra meniup lilinnya, matanya mengikuti punggung seseorang yang menghilang dari balik pintu. Tanpa kata.
***
Geng populer di sekolah.
Gatot mungkin tengah mennagani kasus berbeda, tetapi fokusnya masih tetap sama. Geng macam apa yang dimaksud Andrew hari itu. Berdiam diri tak membuat dirinya tahu.
Sampai di TKP Eddie menyambutnya dengan sindiran.
“Aku sebenarnya ingin minta maaf karena tak dapat hadir di ulangtahunnya, tetapi tampaknya sang ayah justru yang harus meminta maaf. Apa kau bahkan pulang ke rumah.”
Gatot merasa tak berkewajiban menjawab. Dia hanya menyuruh Eddie diam dan segera memeriksa laporan TKP.
“Kali ini kau harus membayarku, aku sudah membantu banyak.” Perkataan Eddie bukan omong kosong, mereka telah memiliki bukti dan tersangka bahkan sebelum polisi tiba.
“Benarkah? Bagus kalau begitu. Aku akan kembali sekarang dan menyelidiki kasus lain.”
“Astaga! Orang ini benar-benar. Seharusnya kau kembali ke rumah dan merayakan kebahagiaan bersama keluargamu, bodoh.”
Lagi-lagi Gatot bungkam. Wajahnya benar-benar serius bahkan tak terganggu dengan Eddie yang membuntutinya.
“Ed, aku rasa aku mengerti sekarang, apa yang kau bicarakan waktu itu. Aku sangat berterima kasih.”
Ungkapan Gatot membuat Eddie tertegun. Jarang-jarang pria itu berterima kasih padanya. “Haaah. Kesambet apa kau.”
“Aku akan bicarakan lain kali.”
Gatot melambaikan tangannya melaju menembus angin malam yang membelai kencang. Masih belum terlambat. Gatot yakin.
Dia kembali ke kantor kearsipan untuk mencari file kasus mengenai kriminalitas yang dilakukan kelompok geng anak sekolahan di sekitar Jakarta
“Saya perlu berkas kasus tentang geng berandalan di wilayah sekolahan.”
“Kenapa Anda tiba-tiba mencarinya, Pak? Saya kira ini tidak ada hubungannya dengan kasus yang kita tangani?” Fiman masih menguap sewaktu Gatot mengajaknya ke ruang arsip. Melihat betapa frustasinya rekannya itu, dia tak bisa membiarkan dirinya tidur dan bermalas-malasan. Satu hal yang sangat disukai Firman dari Gatot adalah keuletannya mengumpulkan informasi dan jejak pelaku.
“Cari saja.”
“Oh, bukannya anak Anda sedang ulangtahun hari ini, Pak.” Dia baru mengingatnya
“Tutup mulut kamu dan cari saja.”
Mendapat semprotan dari atasannya itu, Firman segera tutup mulut dan fokus mencari dalam gunungan kardus.
“Loh, ini bukannya dari sekolah Fitra?” Firman memperlihatkan berkas lama tertanda setahun yang lalu. Dia tahu sekolah Fitra karena kapan lalu tidak sengaja mendatangi sekolah-sekolah untuk mengkampanyekan anti narkoba.
Gatot bak melihat cahaya dalam gelap, dia merebut berkas dari tangan Firman.
“I-ini....”
***