BAB 5b-Penguntitan

1006 คำ
Suara langkah kaki dari koridor di depan ruang kerjanya membawa Gatot dari lamunannya. Sekarang tepat pukul 15.00 sore. Buru-buru dia berdiri dari kursi, mengenakan jaket dan berjalan ke luar ruangan. Firman yang membawa berkas dimintanya menunggu di dalam, dia akan keluar sebentar. Eddie. Gatot merasa membutuhkan nasihat seorang yang lebih peka dalam memahami situasi dibandingkan dirinya. Dia menunggu Eddie yang telat selama lima menit di kafe tempat mereka biasa nongkrong. Eddie mengenakan kemeja biru dan vest burgundy, tak lupa topi fedora kesukaannya. Mengingat dia penyuka gaya klasik. Rambutnya terlihat lebih panjang dari terakhir kali. “Kau pikir aku tak punya kerjaan lain, selain jadi tempat sampahmu.” Setelah mengomel, pria itu duduk, melipat satu kakinya di atas paha. Sedikit pamer karena sehabis membeli sepatu mahal. “Terserahlah.” “Hutangmu padaku semakin banyak, kau tahu.” “Ya ya, maaf sudah mengganggu hidupmu. Terima kasih untuk bantuanmu hari itu.” Mengingat seminggu sebelumnya, Eddie telah menelponnya karena Ulva yang datang ke perpustakaan menanyakan Fitra. Untungnya, Eddie yang tanggap segera menyadari sistuasi. “Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu, aku membantumu karena aku percaya kau punya alasan yang tepat.” Gatot sempat menjeda, terlihat berpikir cukup lama. “Aku akan pesan minum dulu.” Eddie hendak memanggil pelayan, namun Gatot mencegahnya karena dia sudah memesankan. “Kau tenang saja. Dia berada dalam pengawasanku.” “Pengawasan dalam rangka apa.” “Itu....” Eddie memperhatikan wajah Garot yang berubah seperti warna teh yang dibiarkan di luar semalaman. Pikiran Gatot berkelana dua minggu sebelumnya.... Berdasarkan pada hasil yang mereka temukan di ruang arsip. Setahun lalu terjadi aksi penembakan yang menawaskan seluruh anggota geng tersebut. Ada empat anak dari sekolah Fitra yang terlibat, namun seluruhnya telah tiada, sehingga di amencari keseluruhan tentang histori sekolah tersebut. Semua berita yang menyangkut nama sekolah itu ditutup, tiada jejak yang ditinggalkan kejadian setahun yang lalu, bahkan tempat jasad ditemukan. Gatot tak memiliki opsi lain selain membuntuti kemana anaknya pergi. Seminggu pertama tidak membuahkan hasil apapun, tampaknya Fitra menyadari telah dimemata-matai. Tidak ada pergerakan mencurigakan atau hal-hal yang tak biasa yang terjadi. Sedikit aneh jika dipikir-pikir. Gatot sempat bertanya pada beberapa anak yang ditemuinya saat jam pulang, namun satu pun tak ada yang mengenal Fitra. Terpaksa dia menggunakan cara kotor, menyuap petugas kebersihan sekolah untuk mengkopi nama siswa-siswi sekelas Fitra. Kebanyakan teman sekelas yang ditanyainya mengatakan mengenal Fitra. Tanpa sadar, Gatot merasa sedikit lega. Jika geng itu sepopuler yang dikatakan, maka mengapa jarang orang yang mengenalnya? Setelah itu dia memberi jeda, seolah-olah putus asa, padahal dia sengaja melakukannya untuk membuat Fitra lengah. “Fitra, tunggu Papa habiskan kopi ini sebentar, Papa antarkan kamu ke sekolah.” Bisa ditebak tanggapannya akan seperti apa. Anak itu menghindar dengan cepat menghilang tanpa menunggunya. Beruntung, dia telah meletakkan sebuah penyadap di bagian sepatu miliknya. Saat Gatot memandang dirinya di depan kaca spion, jambang tumbuh seperti lumut di wajahnya, dia sadar perlu bercukur. Membuka laci kecil di dashbor dan mengambil alat pencukur nirkabel sambil berharap baterainya belum habis. Sial! Batrenya habis. Di dalam Chevynya semua perlengkapan yang dibutuhkan telah tersedia, istrinya Ulva memastikan kenyamanannya selama masa bertugas. Dia bahkan punya pelampung karet atau air bed di jok belakang mobilnya. Sudah berapa hari dia tak pulang? Kepalanya rasanya mau pecah, matanya hitam berkantung-kantung akibat kurang tidur. Dia terlihat kacau dan menyedihkan Demi anaknya dia bekerja seperti orang gila. Namun, penantian dan penguntitannya akhirnya membuahkan hasil. Fitra keluar dari gedung sekolah, hari itu hari Sabtu, waktunya ekstrakulikuler bagi Fitra. Dia mengikuti seorang perempuan. Siapa gadis itu? Teman? Pacar? Gebetan? Mantan? atau calon korbannya? Gatot meringis dengan pikiran terakhir. Tidak ada bukti yang kuat, seharusnya dia tidak asal menuduh Fitra segampang itu. Tidak ada tanda-tanda Fitra membawa senjata atau semacamnya. Terlebih, tingkahnya seperti seorang detektif yang tengah membuntuti. Gadis itu memasuki mall Queen Plaza. Berjalan-jalan melewati pantulan dirinya di kaca jendela toko, memasuki salah satu stand makanan cepat saji, Fitra juga mengikuti. Mengitari meja dan duduk di sudut agar mudah mengamatinya. Gadis itu dilihat dari manapun anak yang tomboi. Rambutnya dipotong sasak, anting tindik tiga sebelah, celana jeans bellel dan jaket kulit. Melihat betapa gelisahnya dia dalam satu jam terakhir, yakin kalau siapapun yang ditunggunya kemungkinan tidak akan datang, Fitra yang tertangkap matanya tengah membaca buku, sesekali melirik ke arag gadis. Beberapa kali ditatapnya jam tangan di lengan kirinya sembari menyesap minumannya dengan marah. Si gadis kemudian keluar karena kesabarannya sudah habis. Stand kedua yang dia datangi adalah toko buku. Yang dilakukannya hanya mengambil bukus serampangan dari yang berhardcover hingga yang bersampul tipis, membuka dan menutup sampulnya, membolak-balik sejumlah halaman, lalu mengembalikan semuanya ke tempat asal. Gatot masih tak memahami kemana jalannya adegan stalking ini. Gadis itu bertemu dengan temannya, saling tertawa-tawa sebentar dan kemudian berpisah. Tampaknya penantian si gadis telah berakhir, sehingga dia memilih pulang menaiki tangga ke bawah. Ada dua pria yang hendak memasuki lift juga. Mendadak Fitra mencegah pintu lift tertutup dan masuk ke dalamnya. Dia sedang sial pikir Gatot, jika tak segera, dia bisa kehilangan jejak. Gatot memilih menuruni tangga. Sampai di pintu depan dia tertinggal. Gadis itu menyebrang sebelum lampu berubah merah, Fitra bermaksud mengikutinya, saat sebuah Rangrover hitam melau cepat hampir menabraknya, Gatot dengan sigap menariknya ke pinggir jalan. Dia mengamati plat nomor mobil yang kabur ugal-ugalan, tanpa menghiraukan Fitra yang terlalu terkejut, dia menekan sambungan, meminta Firman untuk mengabarkan Dion untuk mencari keberadaan plat nomor tersebut. Melihat ke arah seberang mereka benar-benar kehilangan jejak si gadis. “Kamu tahu siapa mereka?” “Lepaskan aku!” “Tidak akan sebelum kamu katakan siapa mereka?” Fitra mengigit tangannya dan berlari dengan cepat mencegat sebuah taksi yang berhenti. Gatot kembali ke mobilnya, memeriksa GPS dari penyadap di sepatunya. Taksi itu berada 10 menit di depan. Ada yang aneh. Tidak ada pergerakan lebih lanjut dari sinyal lokasi Fitra. Gatot meneruskan pencarian dan tak menemukan taksi yang berhenti di depan, yang dia temukan justru sepasang sepatu yang tergeletak di rerumputan pinggir jalan. Gatot membanting sepasang sepatu itu ke jalan. Bukan hari baik untuknya. Dia kembali memasuki mobil. Kemana pun anak itu pergi, dia pastikan akan menemukannya. ***
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม