BAB 9b-Can't Live Without You

1108 คำ
Semua terasa bagai kilasan mimpi. Percakapan menyedihkannya dengan sang putri membawanya melangkah pasti menemui takdir yang memanggil-manggil dari balik dinding yang diciptakannya sendiri. Jejak langkah Ulva menggiringnya pada tempat persembunyian tiga buah buku yang didengarnya tengah dikerjakan Gatot. Malam itu Eddie mengabarinya akan pergi berlibur cukup lama, memberitahu bahwa dia sudah memiliki kekasih dan berniat mengenal lebih dekat, siapa tahu dia dapat menyuntingnya sebagai istri. Ulva sangat mengenal sepupunya dan alasan tak tulus Eddie memancing kecurigaannya. Mungkin keduanya tengah merencanakan sesuatu. Di tengah sunyi pekatnya malam, Gatot diam-diam memasuki gudang dan meletakkan di antara tumpukan kardus berdebu. Setidaknya dia harus memiliki amunisi dan petunjuk sebelum mengikuti alur yang diprakarsai si pembunuh berantai biadab. Tiga buku itu terletak di dasar box berwarna cokelat. Ulva memindai satu per satu buku, pasalnya buku-buku itu kemungkinan telah berganti sampul. Dia memilih empat buah buku yang bersampul beda dengan isi di dalamnya, membawa ketiganya ke ruang kerja dan mencopy kseluruhan isinya. “Sebuah diari? Apa maksudnya?” Rasa penasaran Ulva terbalaskan setelah membuka salah satunya. Meskipun dia sempat bingung menyingkronkan hubungan ketiganya dengan kematian Fitra mau pun hal-hal yang berkaitan dengan kasus ini. “Honey, apa yang kamu lakukan di sini.” suara bariton suaminya dari arah belakang bagai semilir yang menggetarkan bulu kuduk. Ulva membalik badan, dengan hati-hati menutupi mesin fotocopy yang menyala. “Ah, aku hanya membersihkan buku-bukumu. Kamu sudah pulang?” “Tidak. Aku hanya ingin mengambil sesuatu di gudang. Kamu tahu kuncinya di mana?” Astaga! Insting Ulva menyatakan bahaya. Dia harus mencegah Gatot masuk ke sana. “Ehm, kamu tampak aneh, Hon. Apa ada yang salah?” “Eh, tidak, tidak ada kok. Aku hanya mencoba mengingat di mana aku meletakkannya. Sepertinya di kotak P3K.” “Coba kulihat.” Setelah Gatot berlalu, Ulva segera mematikan mesin tersebut. Dia juga harus mengembalikan buku itu seperti semula. Mungkin dengan cara membuat kunci itu menghilang sementara. “Apa sudah ketemu?” “Tidak ada.” “Begitu. Aku mungkin lupa meletakkannya di mana.” “Aku harus segera mengambilnya.” “Kalau begitu biar kubantu cari.” “Tidak perlu. Itu akan memakan waktu lama. Ini sesuatu yang mendesak.” “Apa sepenting itu?” “Ya.” “Hanya sebentar saja biarkan aku mencarinya. Kamu duduklah dulu. Aku sudah menyiapkan makanan.” “Tapi....” “Duduk saja. Percayakan padaku.” Dengan gesit Ulva menuju ke arah gudang, meletakkan kembali buku-buku ke tempatnya selagi Gatot menikmati segelas jus jeruk dingin di meja makan. “Hampir saja.” “Sudah terbuka, Hon.” Kebiasaan itu yang dia benci dari Gatot Subroto, hadir tanpa suara seperti hantu saja. Untung saja dia telah selesai tepat waktu. “Di bagian buku ini yang kamu cari?” Ada kerlip keterkejutan dari pandangan Gatot. Ulva menggigit bibir dalamnya. Sial sekali dia kelepasan. “Ya.” Bibir Gatot terkatup, matanya sedikit memicing mengamati Ulva yang melihat kaki-kakinya. “Pa.” Sembari mengambil ketiga buku, di balik punggung Gatot yang menegang Ulva berujar, “Bolehkah aku ikut.” “Ikut?” Badan Gatot bahkan tidak berbalik menghadapnya. “Ke dalam investigasi.” “Ma....” “Aku tahu. Ini terlalu berbahaya untukku, tetapi aku juga memikirkan kamu.” “Ma, setidaknya Tanya punya seseorang yang tetap di sisinya dan tidak membahayakan nyawanya. Kita hanya tinggal bertiga sekarang. Kamu kira siapa yang akan menanggung akibatnya nanti?” “Tanya. Tanya meminta janji agar aku mau membantu kamu. Dia bahkan berkata tak ingin menganggapku sebagai ibu yang hebat bahkan tidak lagi menjadi anak penurut. Dia melakukan semuanya, bertingkah seolah-olah telah mandiri, hanya untuk mendorongku melakukannya.” “Dia masih kecil, dia belum mengerti benar bahaya yang berada di depan kita, Ma. Ini bukan hanya tentang Tanya. Ini juga tentangku. Aku tidak akan rela jika kamu sampai terluka.” “Tapi aku tidak bisa hidup tanpa tahu apa-apa.” Banjir air mata. Gatot mendekati Ulva dan memeluknya dengan erat. “Maafkan aku yang egois ini. Aku hanya tak ingin kehilangan keluargaku lagi. Tidak bisakah kamu bersabar lebih lama. Aku berjanji akan segera menemukan pelakunya. Tetapi tolong sambut aku saat aku kembali. ” *** “Mama belum tidur?” Tanya yang telah mengenakan piama, turun dari tangga sambil mengusap mata. “Tanya terbangun ya.” “Mama lagi apa?” “Enggak ngapa-ngapain. Mama cuma baca cerita.” “Cerita?” Gadis kecilnya menengok memperhatikan cover buku yang terlihat jadul berwarna kehijauan itu. “Mama enggak bisa tidur?” Ulva menggeleng. “Mama belum terlalu lelah, jadi tidak bisa tidur lebih awal.” “Gara-gara Tanya ngerjain pekerjaan rumah?” “Itu salah satunya.” “Itu berarti Tanya sudah dewasa ‘kan?” “Tanya, Sayang. Kenapa kamu ingin sekali menjadi dewasa?” “Supaya Mama enggak perlu terlalu memperhatikan aku lagi.” “Tanya, alasan kamu tidak--” “Aku mau kembali ke kamar.” Lagi, tembok itu dibangun langsung di antara dia dan putrinya. Tanya tidak akan mengalah dengan mudah. Garis bibir Ulva mengendur. Dia sedikit sedih mengira putrinya tak lagi menginginkan bersamanya. Ini tidak seperti Tanya benar-benar membencinya atau apa, namun perasaan didorong jauh-jauh, anak itu begitu pengertian walaupun dia masih sangat bimbang untuk melakukan. Tanya bersungguh-sungguh ingin lepas darinya. Lima jam dia merenungi yang terjadi. Tiga bulan lalu, di acara Ultah Fitra, Gatot mulai bersikap aneh dan sedikit kasar pada Fitra, dia tak pernah tahu masalahnya apa, karena kedua orang itu tak pernah memberitahunya ketikadia bertanya. Lalu, suasana makin memanas tatkala Fitra mulai jarang pulang setelah Gatot menamparnya. Lalu kebohongan bahwa dia bersama Eddie, nyatanya Fitra ditemukan di sebuah apartemen. Pada awalnya, Ulva tidak mengerti apa kaitan kematian Fitra dengan perubahan sikap Gatot, sampai Eddie mengabarinya, Fitra mungkin diincar sehingga Gatot melindunginya, tetapi keduanya membuat Ulva sangat marah, mereka tidak menghargainya sebagai ibu dan istri dengan tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi sejak semula. Dia hanya diberikan kenyataan menyakitkan dengan menyaksikan jasad anaknya sendiri. Dia ingin menyalahkan seseorang, tetapi dia tak tahu harus kepada siapa mendaratkan telunjuknya. Ulva kemudian bangkit dengan sebuah kesimpulan. Dia mungkin memiliki kesempatan. Dia bisa melakukannya dan kembali dengan selamat. Prioritasnya adalah nyawanya. Demi Tanya dan suaminya. Melupakan haru-biru beberapa jam lalu, Ulva malah semakin yakin dia tidak dapat berhenti sekarang setelah mengetahuinya. Bukan karena dia tidak mencintai Tanya atau bahkan suaminya, melainkan meski semua orang mencegahnya, namun hatinya tak akan berpaling dengan mudah. Rasanya akan bersarang banyak perasaan bersalah yang menghantuinya seumur hidup. Ulva memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan apapun yang dimulainya. Ketika dia memulainya pertama kali, dia tahu tak akan bisa berhenti sebelum menyelesaikan misi. Sugesti yang telah ditanam sejak dia menjadi seorang intel. Kendati dia telah berhenti, secara tak sadar, sisa-sisa doktrin dan anggapan yang diyakininya tertanam kuat di kepala.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม