BAB 10-Lima Sendok Gula

1189 คำ
Berdasarkan cerita diari? Apa hubungannya dengan kasus yang terjadi? Mengapa harus diari? Setiap kali Ulva menatap tumpukan kertas yang dijepretnya menjadi sebuah buku utuh, banyak pertanyaan yang terbesit di kepalanya. “Siapa sebenarnya anak-anak ini? Kurasa, aku harus mencari tahu lebih dulu.” Ulva sangat mempercayai dirinya dan insting ibu miliknya juga menyetujui firasatnya. “Jika aku tidak salah. Bukan anak-anak ini yang mereka cari. Tetapi apapun yang berada di sebaliknya mungkin akan mengungkapkan apa yang terjadi.” Di saat seperti ini, biasanya dia akan meminta pendapat sepupu sekaligus sahabatnya. Eddie tak ada rimbanya sejak menelpon terakhir kali. Ulva juga tak dapat menghubunginya sama sekali. Ke mana Eddie pergi, dia harus mencari tahu hal itu secepatnya. Saat ini Eddie mungkin tengah menjalankan misi. Dia jadi mengingat pertama kali mengikuti Eddie. Berdasarkan dari rasa benci dan marah, keduanya memutuskan pergi dari rumah setelah suasana berkabung selama sebulan sebelumnya. Ulva ingat ketika dia bertemu pria Jerman, pemilik restoran Italia tempatnya bekerja pertama kali. Pria itu namanya Albert Hanzor, dan punya kebiasaan aneh dengan memasukkan lima sendok gula di kopinya. Melihatnya saja membuat Ulva meringis ngilu karena rasanya pasti sangat manis. Namun setiap kali dia melihatnya menyesap kopi, rasanya dia tengah memandang seseorang meminum kopi terenak di dunia. Pria itu begitu menikmatinya. Ulva hanya mengikuti Eddie yang lari dari rumah. Mereka berjelajah bersama selama sebulan di Jerman dengan paspor illegal dan tanpa uang. Usia mereka baru tujuh belas tahun di tengah negara asing tanpa persiapan. Mereka cukup beruntung bertemu Albert yang mengizinkan keduannya bekerja di restoran miliknya. Setiap pagi secara konstan selama tiga bulan, Eddie pergi ke hutan entah melakukan apa. Yang dirinya ingat pada hari terakhir mereka di sana, dia mengetahui bahwa selama ini Eddie belajar menembak. Mereka menghilang tanpa berpamitan kepada Albert. Eddie berkata ada seseorang yang dia cari. Ulva memaksa mengikutinya, walaupun dia selalu ingin meninggalkannya. Eddie juga mengatakan bahwa dia tidak peduli jika sesuatu yang buruk menimpa Ulva karena dia tidak akan berpaling dari tujuannya. Ulva tahu Eddie berbohong. Dan mungkin saja dia menjadi bebannya. Ulva hanya khawatir Eddie akan berlaku nekat atau melakukan hal yang tidak-tidak. Sore begitu indah hari itu, langit berwarna tembaga mengiringi langkah mereka. Takdir mereka tidak seindah warna langit. Mereka menjadi saksi dalam sebuah pembunuhan. Keduanya hampir tertangkap karena Eddie dituduh telah salah menembak seseorang hingga tewas. Albert Hanzor, membantu keduanya keluar dari situasi sulit. “Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku sangat cemas karena kalian berdua anak-anak muda hanya meninggalkan secarik kertas.” “Maafkan kami.” Ulva yang mengatakannya. Eddie bungkam selama pria itu mengajak mereka makan. Dia memesan Bratwurst, Kartoffelsalat, dan Falscher Hase unutuk mereka berdua. Sedangkan dia hanya memesan segelas kopi hitam. “Anda tidak makan, Pak Hanzor?” “Tidak. Aku lebih suka kopi.” Dia meminggirkan kotak tisu dan mulai menaruh gula di kopinya. “Anda tidak berubah, masih menggunakan lima sendok gula untuk kopi.” “Tidak ada yang lebih baik selain kopi yang manis.” Sembari menyesap sedikit demi sedikit kopinya, dan Eddie yang hanya diam menyantap makanannya, pria itu mulai bercerita. “Dulu aku banyak mencicipi makanan enak, tetapi sejujurnya aku tidak pernah merasakan rasanya. Semua makanan itu seolah tidak terasa di lidahku. Aku bahkan tak tahu rasanya gula.” “Eh? Benarkah?” Eddie mendadak berhenti mengunyah, lalu minum, dan mulai memusatkan perhatiannya pada Albert yang tersenyum kecil. Mungkin tertarik untuk mendengar lebih jauh. Jarang-jarang Ulva melihat Eddie tertarik akan sesuatu. “Kalian telah tahu tentang masa laluku.” “Hah? Kami? Tentang apa?” “Aku membicarakan anak ini.” Beliau mengacu pada Eddie yang tetap datar. “Aku sudah mencari tahu tentangmu. Kau Eddie Fish, satu-satunya anak yang selamat dari pembantaian keluargamu. Kau tahu siapa aku ‘kan?” Ulva merasakan rindingan di bawah kulitnya. Wajah yang semula ramah dan selalu tersenyum berubah bengis dan mengintimidasi. Adakah yang bisa menjelaskan situasi ini, Ulva menoleh ke arah Eddie, bertukar pikiran, namun Eddie malah mengabaikannya. “Ya. Saya tahu siapa Anda.” Albert mengangkat kopinya yang tersisa setengah ke mulut, sungutnya basah akan jejak kopi. “Entah apa tujuannmu datang kemari adalah untuk meminjam jasaku atau kau ingin kuajari cara membunuh, Tetapi aku bukan lagi diriku yang dulu.” Bibir Ulva terkatup, pun Eddie tak bersuara. “Dari mana kau mengenalku?” “Seorang professor yang kukenal menulis semua makalah tentangmu. Dia sangat terobsesi dengan kasus-kasusmu. Bahkan dari tiga pembunuhan yang terjadi, tiga kali pula kau dapat lolos dari jeratan hukum karena kurangnya bukti. Dan dia berkesimpulan bahwa Anda adalah hitman kalangan atas yang kebal hukum.” Eddie bahkan tidak termundur seperti Ulva. Bahkan jika dia telah tahu sejak awal, tidakkah dia takut melihat wajah Albert yang mengerikan di depannya, “Kau mungkin hendak bertanya padaku berapa orang yang telah kubunuh. Tetapi... sejujurnya , akan kukatakan padamu bahwa aku bahkan tak ingat jumlahnya.” Wajah pias Ulva tidak menghentikan Albert untuk melanjutkan ceritanya. “Aku merampok, memeras, membunuh. Dan walaupun kau mengatakan aku adalah hitman, aku memanjakan diriku dengan makanan enak. Aku tidak punya perasaan apapun tentang menghabisi nyawa orang lain, karena itu adalah pekerjaanku. “Suatu hari aku menunggu untuk melenyapkan salah seorang yang tak kukenal. Wajahnya datar dan dia seperti orang yang ingin mati. Saat itu cuacanya cerah dan dia duduk sendirian. Aku telah melakukannya sejak lama. Tidak perlu tahu siapa yang sudah kubunuh atau siapa selanjutnya. Yang kulihat adalah kematian mereka. “Dia memesan kopi, lalu memasukkan gula satu sendok penuh, dua sendok, tiga sendok, empat sendok, dan di sendok kelima, dia berhenti. Pada saat aku menyadari rasa dari kopi yang telah kuminum, kulihat dia tampak menikmati kopi miliknya. Dan aku tidak bisa melakukannya. “Hari itu aku menurunkan senjataku demi kebajikan. Hidupku telah berakhir. Aku menyadari bahwa aku tidak dapat membunuh orang dan mencuri kebahagian sederhana mereka.” Ulva tidak dapat menahan bahwa matanya berembun dan satu per satu bulir membasahi pipi. Penyesalan dan kesedihan yang terpancar, rasa frustasi yang Albert rasakan, menekan dadanya dengan dahsyat. Dia ingin memeluknya, tetapi pelukan tak mampu menyembuhkan. “Sekarang aku membuka hidup yang baru, walaupun masa lalu membakar diriku perlahan-lahan. Yang aku herankan. Selama kalian bersamaku, kau tidak pernah memintaku mengajarimu apapun.” “Itu karena saya telah memutuskan... Saya telah memutuskan bahwa melibatkanmu adalah perbuatan yang tidak benar. Maafkan saya.” Eddie menundukkan kepala sebagai tanda penyesalan. Seketika perasaan lega meruah dalam benak Ulva, Eddie telah mendapat pelajarannya. Perpisahan mereka tidak seceria saat mereka kembai dipertemkan dengan pria tua yang kerap menangis tatkala menonton drama cinta. Albert telah banyak membantu mereka, berlaku juga dengan pemulangan mereka ke Indonesia. “Semoga kita dapat bertemu lain kali. Kami sangat berterima kasih, Pak Hanzor.” Ulva memberinya pelukan terakhir, sebelum menaiki tram menuju bandara. Albert hendak mengatakan sesuatu, namun dia urungkan, dia hanya menatap Eddie yang mengangguk-angguk sebelum naik mengikuti Ulva. “Kau harus tahu, membunuh lebih mudah dari yang kaupikirkan.” Pernyataan Albert membuat keduanya membalik badan. Di saat bersamaan pengeras suara pengumuman berbunyi. “Kau hanya harus melupakan rasa manisnya gula.” Dan pintu tertutup. Memberi batas antara Albert dan Eddie yang saling bertatapan, tangannya mengepal, dia memunggungi Ulva. Itu adalah kali pertama Ulva melihat Eddie menangis hingga dadanya naik turun. ***
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม