Seminggu kemudian....
Darah Bobby menggenang di atas papan kereta dorong yang terus berayun karena tarikan tali yang terikat pada baling-baling angin besar dan papan miring, menetes ke lantai depan pintu, meninggalkan segaris jejak berwarna merah tua di sepanjang jaraknya.
Petugas forensik bergegas menurunkan tali dan membiarkannya bergerak turun perlahan, setelah memotret TKP, tentunya. Di dalam kereta itu ada jasad seorang pemuda dengan mata, perut, dan mulut dijahit dengan rapi. Rapi seolah dilakukan oleh profesional. Jari tangannya menyisakan telunjuk. Ada dua titik yang terlihat seperti gigitan di sekitar belakang lehernya. Kilatan blitz kembali memenuhi ruangan, setiap petugas melaksanakan tugasnya masing-masing. Tak terkecuali pria dengan kumis lebat yang datang kemudian.
Gatot memasuki TKP. Aroma darah segar memusingkan kepala, baunya yang tajam menusuk hidungnya. Sungut lebatnya bergoyang, tertarik hidungnya yang bergerak-gerak mengendus bau lain. Minuman keras, dia menebak.
Yakin akan ketajaman penciumannya. Dia berbalik arah, menjelajah. Tempat itu adalah sebuah gudang tak terpakai dengan beberapa pintu yang menghubungkan beberapa ruang. Dari salah satunya adalah TKP tempat mayat Bobby, korban ketujuh, pembunuhan berantai yang tengah dia tangani.
Dia berjalan dengan hati-hati, tak ingin mengacaukan TKP. Memasuki satu pintu menuju belakang gudang. Atapnya terbuat dari plastik yang telah berlubang, membuat jejak noda debu bercampur air hujan yang menetes di lantai. Gatot tak salah mengenali sebuah jejak yang tercetak samar. Drum-drum tampak berserakan. Ada tembok besar yang mengelilinginya, memperkecil kemungkinan adanya pintu belakang.
Gudang itu terkunci dari dalam saat pertama kali mereka datang. Hasil dari laporan seseorang yang mendengar teriakan dan menyusuri jejak kematian awal di sebelah Gang Cempaka pada tengah malam, yang membawa mereka kemari.
Gatot memuntir ujung sungutnya, kakinya berjalan kembali ke tempat para anak buahnya berkumpul.
“Pak!” Salah seorang penyidik memanggil.
“Jadi apa yang kita temukan, Firman?”
Firman mendekat sembari membuka catatannya. Gatot menatap tajam dan serius pada seonggok jasad yang kini telah dipindahkan ke sebuah kain vinyl berwarna orange di lantai.
Kejahatan ini kejam sekali, pelakunya benar-benar biadab. Entah apa yang mendorong seseorang melakukan kekejaman seperti ini, kepada seorang pelajar yang masa depan dan hidupnya telah terenggut darinya. Gatot mengingat mereka seusia anaknya yang masih SMP. Mereka bahkan masih belum merasakan indahnya dunia.
“Korban bernama Bobby Chandra Handro Laksono, 15 tahun, seorang pelajar di SMP Bangun Cita. Hasil pemeriksaan menyatakan penyebab kematiannya adalah asfiksia akibat penekanan pada medulla spinallis dengan benda tumpul seperti pemecah es. Ditemukan juga zat sedatif dalam darah korban. Berdasarkan rigor mortis diperkirakan waktu kematian terjadi antara pukul 11-12 kemarin malam. Tidak ditemukan sidik jari di manapun. Berdasarkan reaksi luminol, percikan darah korban juga terdapat di dalam salah satu drum. Dari jejaknya, bisa dikatakan korban dibawa dengan cara dimasukkan ke dalam tong lalu digelindingkan sebelum kemudian dipindah ke kereta dorong. Ditilik dari kesamaan pola, tidak diragukan lagi, ini adalah kejahatan yang dilakukan pelaku yang sama.”
“Puppet Killer yang sangat licin. Jadi dia mungkin membawanya dengan mobil truk? Segera periksa CCTV terdekat pada waktu-waktu itu!”
“Baik, Pak.”
“Satu hal lagi. Apa kau sudah menemukan botol anggur?”
“Kami tidak menemukannya di manapun, Pak.”
“Lanjutkan penyelidikan.”
“Baik, Pak.”
Gatot tak mungkin keliru. Bau wine mahal yang tumpah meski bercampur dengan petrichor sangat jelas bagi indera penciumannya yang tajam. Dia bukan peminum. Hanya saja, ayah angkatnya yang seorang sommelier di Australia mengajarkannya mengenali jenis anggur hanya dari bau dan warna, dan itu membuatnya terbiasa.
Gatot mengambil benda pipih berwarna putih dari saku jas kerjanya. Menekan sambungan Pada Eddie kenalannya. Keduanya berjanji temu esok pagi, meski Eddie tak menanggapi secara jelas. Dia akan tetap berkunjung, sekalipun Eddie tak mengizinkan.
“Ya ya ya kalau begitu kau tak perlu menelponku, bukan,” tanya Eddie tanpa tanda tanya.
Eddie yang dikenal Gatot memang pria aneh yang tak pernah menggunakan nada bertanya di setiap kalimat tanya.
“Hanya ingin memastikan kau masih bernapas.”
“Aku ini ikan, jadi tak bernapas, tapi berinsang.”
Eddie Fish begitulah nama panjang Eddie. Lelucon garingnya tak Gatot tanggapi.
"Kutunggu." Gatot yang hendak menutup panggilan singkatnya, terhenti mendengar permintaan Eddie. "Sudah lama sejak kita tidak makan bareng. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Gatot menerka-nerka apa yang ingin disampaikan Eddie. Biasanya Eddie tak se-friendly itu mengajaknya keluar.
"Baiklah. Sampai jumpa."
Gatot melajukan mobil kembali ke markas setelah menutup panggilan singkat. HPnya kembali menyala terang, tertera Mama is calling pada layar pipih tersebut. Dia menggunakan handsfree dan kembali menyetir.
“Hallo, Ma. Ada apa?”
“Honey, jangan lupa ulang tahun Fitra besok lusa. Dia pingin kita makan bersama di restoran Jepang yang diincarnya sejak lama.”
Sejujurnya, di saat begini rasanya dia tak bisa untuk merayakan apapun, bahkan untuk menelan sesuatu, dia tak sanggup. Meski begitu, dia tak ingin membuat anaknya kecewa.
“Iya iya nanti Papa reservasikan. Sekarang Papa masih kerja.”
“Beneran loh, Pa. Jangan mengecewakannya seperti waktu itu.”
“Iya, Ma. Papa mengerti. Sudah, Papa tutup dulu.”
Helaan napas Gatot terdengar keras. Gatot merasa sangat payah dalam urusan keluarga. Karena itu, dia dulu tak pernah berniat menikah. Jika bukan karena istrinya yang begitu sabar dan pengertian, Dia mungkin akan selamanya hidup selibat. Seperti Eddie yang lebih memilih sendiri bahkan di usianya yang sudah matang menjurus lapuk.
Gatot menggeleng, seolah mengenyahkan rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Dia tak ingin mencampurkan urusan pekerjaan dan rumahnya. Jadi, kali ini dia akan meletakkan masalah itu di sana.
Langkahnya bergegas memasuki tempat arsip, meminta berkas lengkap pada seorang petugas. Gatot menatap lamat-lamat berkas-berkas arsip tujuh korban lain yang berjajar di mejanya. Begitu kejinya Puppet Killer, sebelum menjahit tubuh korban, pembunuh itu mengisi lubang yang dia keruk dengan bulu dan sampah, jarinya disisakan bergilir, sesuai urutan tangan.
Masih belum ditemukan motif yang sebenarnya. Entah karena pria itu benar-benar psikopat gila atau karena sebab yang lain. Kejahatannya benar-benar tak termaafkan.
“Aku pasti akan menangkapmu, b*****t Gila!”
Gatot menatap jendela kaca di samping meja dan membukanya. Menjorokkan badannya keluar. Satu batang rokok dia sulut, dihirupnya dalam-dalam, kemudian meniupkan awan asap yang bergulung-gulung bermain di antara angin dan menghilang.
Secangkir kopi dan sebungkus rokok yang akan menemaninya malam ini. Dia mungkin tak akan pulang dulu untuk sementara waktu. Tidak mungkin pula dia dapat tertidur nyaman di tengah-tengah suasana yang semakin mencekam.
Ponsel dalam sakunya bergetar. Telepon masuk dari Firman.
“Pak, kami telah menemukan truknya.”