BAB 2c-Jejak Kesalahan

1032 คำ
Musik klasik bagi Eddie Fish adalah lullaby untuk Insomnia yang dideritanya. Favoritnya adalah alunan Mozart – Canzonetta Sull’aria.   Ibunya dulu pernah menyanyikan lullaby dalam berbagai versi dan bahasa, yang paling dia ingat adalah nyanyian tradisional Polandia.   “Ach, spij, kochanie, jesli gwiadzke z neiba chcesz—dostaniesz.” Seraya menepuk-nepuknya supaya terlelap, ibunya dengan suara lembut mengantarkannya ke alam mimpi.   Eddie bersinggungan dengan seorang pemuda hingga sejumlah CD dalam genggamannya terjatuh. Eddie sempat memperhatikan perawakannya karena pria itu terlihat masih muda dan tampan, tentu saja tidak setampan dirinya. Kepercayaan dirinya yang tinggi mencegahnya mengakui taraf ketampanan orang lain. Ayolah, dia seorang pria.   “Maaf, saya tidak sengaja.” Pemuda itu memungut CD yang berserakan. Eddie sempat berkenalan singkat dari kecelakaan kecil tadi.   Namanya Malt Dextrin, seorang dokter umum yang tengah berlibur.   “Suka musik klasik?”   “Sedikit. Saya lebih menyukai lagu-lagu beraliran rap atau R&B”   “Suka lagu apa?”   “Mungkin No Digitty, atau Lose Yourself misalkan.”   “Eminem ya, rapnya emang keren.”   “Lagu beat semacam Titanium juga kesukaan saya.”   Eddie sempat terpikir sesuatu, namun dia urungkan.   “Biar saya bayarkan ya, Mas,” tawar Malt, sesaat mereka sampai di kasir.   Baik sekali, pikir Eddie. “Wah, enggak perlu repot-repot Mas. Lupain aja soal tadi.”   “Enggak apa-apa, Mas.”   “Wah terima kasih kalau begitu.”   “Kalau begitu saya duluan Mas. Mari.”   “Mari.” Malt mengangguk sopan sebelum keluar.   Eddie sangat terkesan dengan kesopanan Malt. Orang itu memiliki semacam aura kharismatik yang membuat orang lain ingin mengenal lebih dekat.   Selesai dengan pembayaran dia menuju ke arah parkir. Bau busuk yang menyengat menusuk hidungnya. Seingat Eddie bau ini tak ada sebelumnya. Eddie mengecek bawah mobilnya, namun tak ada apa-apa. Terasa sangat dekat dari jaraknya. Dia memeriksa bagian depan. Eddie terperanjat mendapati lima bangkai tikus berjajar di depan kaca mobilnya. Siapa sih orang iseng yang berniat mencari gara-gara dengannya. Dia menggeram kesal, menyingkirkan semua kebusukan itu dan melajukan mobilnya.   Dari kejauhan seseorang menyeringai.                                                                ***   “Pak, kami telah menemukan truknya.”   Gatot serta merta bangkit dengan bersemangat, mengambil jas di kursi dan kunci mobil di atas meja.   “Di mana kalian menemukannya?”   “Berdasarkan pada perkataan saksi yang mencium bau amis di dekat truk yang terparkir. Dari CCTV sebuah swalayan di dekat sana, pada sekitar jam itu, kami menemukan truk dengan muatan drum yang telah dikonfirmasi sebagai truk yang sama oleh saksi. Dari reaksi luminol juga ditemukan bercak darah yang cocok dengan korban. Truk tersebut adalah milik seorang pria bernama Hadi, tetapi Dia menuturkan tengah pulang kampung dan truk itu dipinjamkannya kepada seorang kawan. Kami masih mengkonfirmasi alibi Hadi. Kami segera menuju ke rumah kawan Hadi yang berada di daerah Grogol.”   “Apa lagi yang kalian temukan?”   “Kami menemukan botol anggur seperti yang Anda katakan. Sayang, tidak ada sidik jari yang tertinggal.”   Firman menyebutkan nama label yang tertera di botol itu Chateu Cheval Blanc tahun 1947. Gatot terperanjat. Dia mengingat labelnya sebagai salah satu wine terbaik Prancis dan sangat terkenal di Bordeux. Bagaimana bisa anggur dengan harga fantastis dan cukup tua itu berada di sana. Jelas hal ini merupakan salah satu petunjuk penting bagi penyelidikan mereka. Entah itu adalah barang curian atau bukan, sesuatu yang legal atau illegal, b******n itu memiliki selera minum yang tinggi.      “Aku akan ke sana. Kirimkan beberapa petugas terdekat untuk mengawasi.”   “Siap, Pak!”   Gatot mengendarai Chevy-nya yang basah kuyup diterpa hujan sepanjang jalan menuju Grogol. Dua puluh menit kemudian dia memarkir mobilnya sedikit jauh dari mobil petugas kepolisian yang menunggunya.   Kedua polisi yang terlihat muda keluar saat dia mengetuk kaca. “Inspektur Gatot.” Keduanya memberi hormat.   “Bagaimana?”   “Kami masih memantau, tetapi tak terlihat ada tanda-tanda rumah Belanda itu berpenghuni.”   Dahi Gatot mengerut, masih memuntir ujung sungut. Mereka akhirnya memilih menjalankan rencana saat mulai terlihat setitik cahaya di balik tirai-tirai kotor yang berayun-ayun keluar jendela tanpa kaca. Gatot memasuki pelataran, mendendap-endap sembari memegang revolver, diikuti dua orang lainnya.   Pintunya sedikit terbuka. Gatot menginjak setumpuk surat sampah yang berserakan di lantai. Teras itu lebih bersih. Dia yakin seorang tengah bertempat tinggal di sana. Dan mungkin jika beruntung mereka bisa mendapatkan bukti baru. Lorong bergema dengan keheningan. Mereka tiba di sebuah pintu. Satu-satunya yang mengarah menuju ruang tangga. Tertutup rapat, bahkan dia harus menggunakan kedua tangannya untuk menarik ganggang pintu. Engsel berkarat itu berkeriat-keriut saat pintu itu akhirnya terbuka. Terdapat tangga panjang melingkar, lampu-lampu tempel di sisi dinding berkedip sekilas lalu redup. Gatot menginteruksikan satu orang berjaga. Dia menaiki tangga perlahan dan tetap siaga.   Mereka meneruskan perburuan setelah sampai di pangkal tangga. Kaki Gatot tak sengaja menendang sebuah bundelan yang terlihat seperti kain lap kotor yang teronggok di dekat sebuah kursi goyang.   Gatot membeku, petugas di sampingnya mengumpat. Bangkai seekor kucing kecil hancur dan berdarah-darah, kakinya yang mungil menekuk dengan posisi janggal, ekornya bermandi darah, terdapat jejak sepatu bot yang meremukkan sisi tengkoraknya.   Gatot enggan melihat kebiadaban lain si b*****t gila itu. Hanya semakin membuatnya bernafsu untuk melenyapkannya dari muka bumi. Tangannya mengepal keras, giginya bergemeretak. Sebelah tangan yang lain mengambil sebuah kain lap kotor tak jauh dari sana, menutupi bangkai yang telah membusuk itu.   Denting sesuatu yang terjatuh membuat keduanya mengalihkan perhatian. Arahnya dari ruangan lain. Keduanya berlari mengejar, sesaat dilihatnya seorang berhoodie melompat setelah menghancurkan jendela.   Gatot menyusul dengan cara yang sama. Kakinya menapak tanah dengan sempurna. Hoodie berhasil melompati pagar, saat Gatot baru saja keluar dan memberikan tembakan peringatan.   Dua polisi yang berjaga mengikuti jejaknya menuju sebuah gang-gang kecil. Rumah-rumah telah tertutup rapat. Di pukul tengah malam, tidak banyak yang akan terjaga. Sedikit melegakan baginya untuk meminimalisir kegaduhan.   “Kejar! Jangan sampai dia kabur!”   Gatot mengikuti tak kalah gesit. Hoodie melompat dari satu rumah ke rumah lain bak salah satu pelakon heroes Spiderman. Seragam serbahitamnya melebur dalam kegelapan.   “Berhenti!”   Teriakan Gatot membuatnya salah langkah. Kesempatan bagus ketika pria--jika dia lihat dari perawakannya--itu jatuh ke tempat lebih rendah. Gatot mengacungkan pistol, melihat melalui penerangan jalan yang redup, tudung jaketnya tersibak. Gatot menanti saat pria itu menoleh ke arahnya.   Tubuhnya mendadak kaku. Dia tertegun karena keterkejutan luar biasa saat suara yang begitu dia kenali menyapa.   “Hai, Pa.”   “Fitra...."  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม