BAB 3a-Musuh Dalam Bayangan

1048 คำ
Ulva pernah mengajaknya tinggal damai bersama anak-anaknya kelak di sebuah desa terpencil dengan sawah-sawah membentang sepanjang jalan, atau di sebuah wilayah pantai di mana angin berhembus, terdengar suara ombak, tempat orang-orang yang kulitnya menghitam karena banyak terpapar sinar. Gatot menjanjikan suatu saat akan membangunkan satu rumah untuknya, setelah mengumpulkan uang muka lebih dari lima tahun, dia sudah akan mewujudkan mimpinya. Namun, naasnya, takdir berubah bagi mereka, begitu pula untuk Fitra yang harus menghentikan mimpinya. Usianya 10 tahun saat itu. Saat sebuah mobil tangki minyak menghantam mobil mereka dari samping, bayangan suram itu masih menghantui mereka yang mengikuti di belakang. Suara tangis Fitra, atap dan kaca depan yang hancur terbalik, tubuh tak bernyawa mertuanya, kaki Fitra yang tertusuk besi hingga terlihat tulangnya, raungan ambulans, dan langkah tergesa-gesa. Kengerian yang tak dapat terdiskripsi olehnya harus disaksikan anak sekecil itu. Rasanya dia ingin mewujudkan mimpi mereka yang tertunda. Baru kali ini dia benar-benar memahami keinginan sang istri tiada salahnya. Pengaruh ibukota yang kejam, mempermainkan nasib putranya. Gatot berharap bisa memasukkan anaknya ke dalam kantong dan menyembunyikannya dari dunia. “Fitra, apa yang kamu lakukan di sini?!” Nada suara Gatot meninggi, dia menggiring Fitra menuju tempat yang lebih gelap, dengan harapan kalau tiada petugas lain yang sempat melihatnya. “Aku sedang menjalankan misi.” Fitra membalasnya dengan suara dingin tanpa getaran emosi, sisi yang tak pernah Gatot bayangkan akan ditujukan kepadanya “Misi? Apa maksud kamu?” “Bukannya itu tugas Papa untuk mencari tahu.” Gatot merasa udara di sekililingnya menjadi berat. Aura permusuhan, tantangan yang anaknya berikan, bukan hal yang bagus. Firasatnya memperingatkan hal yang buruk. Gatot tak ingin mengerti apapun, meski dia sangat tahu apa yang terjadi. Pertama kali. Ini pertama kalinya dia mengabaikan kebenaran di depan mata. Berada di hadapan seseorang, mengenakan seragam kerjanya, namun berdiri sebagai seorang ayah yang pengampun. “Jangan bicara omong kosong! Katakan, kamu tidak ada hubungannya dengan mereka, kan? Benar, kan? Jawab, Fitra!” Tak ada jawaban pasti. Hanya keheningan malam dan angin yang menggerogoti kehangatan. Gatot merasa napasnya terenggut, kepalanya berdenyut. Anak itu tak bergeming. Tak ada ketakutan maupun tangis. Anaknya telah tumbuh lebih cepat dari perkiraannya. Walaupun pada akhirnya Gatot tak bisa benar-benar mengikuti dan justru kehilangan genggamannya. Ini adalah kutukan baginya. Yang pantas disalahkan hanyalah dirinya. “Fitra, Papa sangat mengenal kamu, kamu anak yang baik. Tenanglah, Papa akan berusaha untuk memulihkan nama kamu. Kamu tidak perlu takut lagi, Papa akan melindungi kamu.” Suara panggilan walkie talkie sempat memberikan sensasi goosebump pada Gatot. Dengan berat hati dia harus mengangkatnya, atau komrad-nya akan curiga. “Inspektur, kami tidak menemukan keberadaannya di mana pun.” Gatot bimbang hendak mengatakan yang sebenarnya atau tidak. “Saya juga tidak menemukannya.” Dia memandang Fitra yang masih berdiri membisu di hadapannya dalam keremangan cahaya lampu jalan yang hampir mati. “Kita berkumpul di titik awal.” Hanya sebentar Gatot menjadi lengah, dia sudah kehilangan jejak Fitra. Yang membuat Gatot semakin tak tenang. Teknik menghilang dalam bayangan seperti itu, tidak seharusnya dimiliki seorang anak 16 tahun yang baru berlatih untuk melakukan pemberontakan karena krisis kerpribadian sesaat. Skill itu hanya dimiliki tingkat pembunuh bayaran yang telah berlatih bertahun-tahun. Sejak kapan? Sejak kapan anaknya menggeluti hal mengerikan seperti ini. Gatot tak dapat menyembunyikan bahwa tubuhnya gemetar. Dia mengingat percakapannya dengan Eddie. Fitra menjadi lebih berbahaya daripada yang dapat dia pikirkan.                                                                  ***     Setelah mengetahui kenyataan menyakitkan itu, Gatot tak bisa hanya berdiam diri menunggu hasil. Dia... harus... membersihkan kesalahpahaman ini. Anaknya tidak seperti itu, berulang kali dia meneriakkan kata-kata itu dari dalam benaknya.   Tiada pilihan lain, dia hanya harus kembali ke markas, mengumpulkan informasi, dan membuat rencana.   “Saya dengar pengejaran Anda tidak berjalan mulus, Pak.” Butuh tiga kali panggilan untuk membuat Gatot menoleh menanggapi pertanyaan Firman.   “Iya?”   “Anda baik-baik saja, Pak?”   “Saya tidak ada apa-apa.”   “Maaf tentang panggilan mendadak waktu itu.”   “Tidak usah dipikirkan, kamu tidak melakukan kesalahan. Sekarang fokus kita adalah mencari tahu, motif dan pelaku.”   “Siap, Pak.”   Gatot berjalan mondar-mandir di pusat komando, sebuah ruangan besar di lantai ketiga kepolisian, di situlah strategi direncanakan, perintah diberikan, dan tempat semua—khususnya kejahatan kejam dan kasus-kasus penting—diinvestigasi.   Firman membantunya menerangkan secara ringkas kepada rekan mereka, Detektif Alfred Hanamurung, seorang detektif senior yang biasa dimintai atau dilibatkan dalam kasus-kasus besar. Sosok Alfred, rambut hitam yang sebagiannya telah memutih, mata hitam, tungkai panjang, cenderung kurus dan bahu lebar. Tidak bisa dikatakan tua untuk usianya, namun juga tidak bisa dikatakan muda dengan keriput yang mulai timbul.   Firman memaparkan beberapa foto ketujuh korban yang anehnya kesemuanya adalah pria berusia antara 15-24 tahun. Dua orangnya adalah petugas kepolisian.   “Penjahat ini memutilasi korban, mengeruk organ dalam, mata, lidah, dan menyisakan jari sesuai urutan tangan, kemudian mengisinya dengan sampah dan bulu-bulu, lalu menjahitnya seperti boneka.” Itulah mengapa mereka menyebut b******n berdarah dingin itu sebagai Puppet Kliler   Firman menggeser gambar layar tablet di atas meja, menampilkan korban pertama. Seorang anak muda, mulutnya terbuka, matanya menampilkan sorot kengerian sebelum ajal. Berbeda dari korban lain, kematian disebabkan karena serangan jantung, namun dua titik yang berada di bagian medulla spinalis masih ada. Tubuhnya dijahit membentuk U dari bagian ketiak hingga hampir bawah perut, lalu X menyilang di bagian tengah. Jarinya menyisakan telunjuk sebelah kanan, yang menandakan urutan pertama—sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia pada umumnya dalam mengurutkan nama.   Gandri Tanzil, 17 tahun. Tidak memiliki catatan hitam dengan kepolisian, hanya pernah menjadi saksi dalam sebuah kasus ringan beberapa tahun yang lalu.   “Salah satu hal yang kita ketahui, kemungkinan pelaku adalah orang Indonesia.”   “Penjabaranmu terlalu umum, sebagian negara juga menggunakan gerakan yang sama sebagai isyarat penomeran.” Firman tersenyum kejut, dia mungkin akan dibantai habis jika kembali buka mulut.   “Kudengar tubuh korban diisi dengan sampah dan kapas, setelah dikeluarkan organnya, bukannya ini menunjukkan pelaku adalah seorang penjual organ atau paling tidak bisa diasumsikan berkaitan dengan kalangan dunia bawah,” ujar Alfred seraya menuangkan kopi untuk dirinya sendiri.   Mafia? Kemungkinannya tujuh puluh persen sangat berkaitan, Dan sayangnya mereka belum mendapatkan hasil yang diinginkan.   “Subtansi pengganti organ dalam korban terdiri dari sampah organik, seperti buah-buahan busuk, sampah plastik, dan bulu-bulu angsa. Jenisnya masih kami telusuri lebih lanjut.”   “Jahitannya sangat rapi, mungkin pelaku adalah seorang berpendidikan medis?” suara seseorang terdengar dari balik pintu yang terbuka.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม