BAB 3b-Investigasi

1173 คำ
“Jahitannya sangat rapi, mungkin pelaku adalah seorang berpendidikan medis?” Iptu Denada, mendadak memasuki pembicaraan.   “Kau terlambat.”   “Maaf,” sahutnya santai. Denada salah satunya penyelidik wanita yang Gatot akui cemerlang dalam menangani kasus, melenggang melewati Firman yang sempat menganga, tak menyangka mereka akan memasukkan ular berbisa itu ke dalam tim. Firman menyebutnya ular berbisa, karena selain kuat, wanita itu licin, gampang berganti wajah, apapun cara akan dilakukan untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan, dan salah satu korbannya adalah dia sendiri.   “Mengapa Anda memanggil Dena, Pak?” Firman membisiki Gatot yang sempat kehilangan fokus.   “Jangan pikirkan hal yang tidak perlu.”   Firman menelan kata-katanya sendiri. Mengenyampingkan urusan pribadinya agar tetap fokus pada pembahasan.   “Kau tahu kisah Jack The Ripper, kan? Dia memotong korbannya dengan presisi, semua mengira dia dalah penjahat berpendidikan tinggi, tetapi setelah seribu tahun berlalu, diketahui bahwa pelakunya adalah seorang tukang cukur rendahan.”   “Probabilitasnya tidak nol, dan sangat memungkinkan karena cara menjahit seperti ini hanya dilakukan oleh tenaga medis profesional. Pelaku hanya mengambil bagian-bagian organ vital dan menyisakan bagian lain tanpa merusaknya. Penjahat itu sombong juga ya, bermaksud memamerkan keahliannya di depan polisi,” telak Denada yang kebiasaannya tidak berubah, tidak peduli siapa yang tengah ditentangnya, dia selalu memiliki pandangan yang terus terang pada setiap kemungkinan.   Alfred mendesah dengan kelakuan anak muda di sampingnya, namun dia tak marah sebab wanita itu telah mewakili perkataan selanjutnya. “Bagaimana dengan serat benang jahit yang digunakan? Apakah ada perbedaan dengan yang dimiliki tempat lain?”   “Jenis yang digunakan adalah monofilamen berbahan sutera yang tak dapat diserap tubuh, sampai saat ini bisa disimpulkan benang yang digunakan sangat umum dan banyak rumah sakit yang menggunakan. Saya akan menunjukka beberapa gambar lain.”   “Lewatkan itu, apa yang kauketahui tentang korban?” Pertanyaan itu ditujukan kepada Gatot yang tampak sedikit melamun.   “Korban adalah anak yang sering membolos sekolah, setelah dikonfirmasi. Hari itu, setelah keluar dari rumahnya, tak terlihat di sekolah mau pun tempat di mana dia biasa membolos, yakni di tempatnya bermain game Arcade. Dia ditemukan tergantung di depan gedung kosong yang jarang didatangi orang, beruntung seorang tukang sampah yang menemukan jasadnya melaporkan hal tersebut. Kami menyusuri jalan yang biasa dia lewati ke sekolah, jarak sekolah dengan rumah sekitar lima belas menit berkendara dengan motor, sedangkan jarak rumah dengan biasanya dia bermain berada di arah yang berlawanan, sekitar lima menit berkendara dengan motor. Namun, tempat di temukannya korban berada sekitar tiga puluh menit dari rumahnya.”   Jarak sejauh itu dan tidak banyak pedagang di jalan yang ketika dia tanyakan pernah melihatnya. Salah satu yang mengganggunya mengenai pernyataan tentang seorang pemulung yang membawa gerobak. Pedagang itu menyuruhnya lekas menyingkir karena baunya sangat busuk, saat ditanya apa itu, dia mengatakan makanan basi yang hendak diolahnya kembali untuk makan keluarganya. Karena kasihan, pedagang lain memberikan bungkus nasi dan menyuruhnya segera pergi. Saat dikonfirmasi sosoknya, pedagang itu mengatakan tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin sedang, dan kurus. Mengenakan kaos putih dan celana kain hitam usang. Dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup masker. Taksiran usianya masih muda dilihat dari kulit lengannya yang terbuka saat menerima bungkusan.   “Lebih tepat jika pembunuhnya adalah teman-teman pembully, tetapi siapa pula anak gila yang dapat melakukan kekejian semacam itu.” Firman langsung menutup mulutnya dengan tangan, selepas mengutarakan pendapatnya, saat Alfred memelototinya.   Gatot sedikit terganggu ketika rekannya menyasar anak-anak remaja bermental psikopat.   “Tidak mustahil jika Puppet Killer sebenarnya dilakukan lebih dari satu orang. Dan dari situasinya, pelaku sudah lama mengamati kebiasaan korban dan memanfaatkan hal itu untuk memancingnya.” Denada mulai menunjukkan kebolehan analisisnya. “Korban tidak dipilih secara acak. Ini adalah pembunuhan berencana yang bukan dimaksudkan menebar terror, tetapi lebih ke penghakiman seseorang pada perbuatan melanggar norma. Jika ditarik benang merahnya, pasti akan ada semacam perkumpulan atau kesamaan yang menghubungkan antar satu korban dengan yang lainnya.”     Ruangan itu sempat hening sekejap. Gatot mengeluarkan catatan AKP Hendro dari sakunya, dia belum benar-benar membaca keseluruhan, sebagian catatan menjadi acuan dari pembicaraan mereka.   “Pak, bagaiman pendapat Anda?” Denada menoleh dengan wajah menuntut.   “Maaf, aku sedikit terbawa pada pemikiranku sendiri. Mmm, apa tidak ada tanda-tanda terjadi kekerasan seksual?”   “Tidak ada, Pak.”   “Sekolah. Bagaimana dengan sekolah?” Gatot membiarkan Dena mengambil alih. Dia tidak akan maksimalkan mengutarakan pendapatnya dan mungkin akan mengacau, pikirannya terlalu penuh untuk mengolah setiap informasi. Biasanya Gatot akan sangat bersemangat, semakin banyak bukti makan jalan yang dibukanya akan semakin terang. Tetapi kali ini, apapun yang dilihatnya di depan berubah menjadi jalan mati.   Dia harus tenang, jika tidak menginginkan kalah dari pertaruhan yang teramat besar.   “Setengah dari korban sudah tidak bersekolah.”   “Melihat cara pelaku merusak tubuh korban, tidakkah kalian merasa pelaku bermaksud menyisipkan sebuah pesan?” Alfred menekan hint yang tidak banyak disadari.   “Pesan?”   “Mungkin juga ada sedikit bumbu rasa benci terhadap kepolisian.”   “Saya tidak yakin.” Denada lagi-lagi mementalnya. “Justru kemungkinan adanya motif internal lebih masuk akal.   “Sebuah konspirasi?” Firman menambah gaduh. Matanya terlihat berkilau, karena pembahasan semakin menarik.   “Kita belum bisa menarik kesimpulan semacam itu tanpa alur yang jelas. Seberapa banyak semua ini direncanakan sejak awal? Apakah korban dibuntuti sebelumnya? Apa yang memprovokasi korban melakukan tindakan? Semuanya terlihat rapi dan masih abu-abu.” Pernyataan perang Denada membuat Alfred menggerakkan tulang lehernya, menyalakan sebatang rokok, asapnya menyebar memenuhi ruangan. “Yang bisa kita simpulkan, pelaku mungkin mengenal korban atau dekat dengan korban yang setidaknya bisa mengajaknya ke tempat bermain. Melihat cara pelaku merusak tubuh korban, kemungkinan motifnya adalah perdagangan organ dan personal.”   “Yang baru kita lihat baru korban pertama, mari lanjutkan ke korban kedua.”   ***   “Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda, Pak?”   “ya?”   “Anda terlihat lebih kusut dari biasanya.”   “Haha, apa yang kamu bicarakan Firman, saya memang begini kan sejak awal?”   “Anda juga sangat over excited dengan kasus ini, bukan?”   Selepas dua tahun bersama, Firman semakin baik membaca karakternya.   Pada awalnya Gatot berharap dapat menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin menangkap pelakunya, sekarang dia melihat kakinya semakin berat, pandangannya pada keadilan semakin kabur. Bayangan masa depan anaknya terenggut, membuat Gatot sendiri tak berdaya.   Ini salahnya. Semua yang terjadi adalah kesalahan orangtua. Fitra bukan kegagalan, dialah yang gagal mendidiknya.   “Tidak ada apa-apa. Hanya saja saya terpikir, seandainya setiap anak muda memiliki semangat seperti kamu, pasti...," Gatot menjeda, menarik napas dan mengembuskannya dengan keras. "ah, sudahlah. Ipda Firman, jadilah pahlawan keadilan bagi orang-orang yang menggantung harapan kedamaian negeri ini di pundak kita.” Terlalu naif kata yang dia ucapkan. Pemuda itu masih hijau, entah bagaimana jika suatu saat nanti kebusukan di balik nama penjaga perdamaian negeri ini diketahuinya, dia berharap Firman akan tetap teguh memgang idealismenya.   “Siap, Pak.” Firman memberi hormat dengan perasaan senang dan bangga.   Gatot memberikan senyum formal, seperti yang sering dia tunjukkan pada atasannya. Mencandainya, Firman yang mengerutkan kening terlihat sepuluh tahun lebih tua dan mengajaknya makan bersama lain kali, kemudian meninggalkannya mematung melihat Denada yang membuntuti Gatot, keduanya terlihat serius sebelum masuk ke dalam ruang kantornya.    
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม