“Jumlahnya 150.700, Pak.”
Eddie merogoh kantung jaket, mengeluarkan sejumlah uang dari dompet hitam kesayangannya. Dia mendapat kembalian lima puluh ribu dan satu buah permen.
“Mana tiga ratusnya?”
“Maaf, Pak kami kehabisan uang kecil.”
“Makanya prepare dong, masa dikasih permen begini, memangnya saya anak kecil!” Entah siapa yang mencetuskan ide uang receh diganti dengan permen, Eddie bukannya pelit hanya untuk uang tiga ratus perak, dia hanya menginginkan kejujuran karena tadi sempat dilihatnya pekerja itu menyembunyikan recehan. “Kamu mau menipu saya, huh? Berapa banyak yang kamu dapat dari menggelapkan uang receh? Kalau seribu orang yang beli, bisa berapa banyak yang kamu hasilkan dari nilep?” Wajah pegawai itu langsung pucat mendapat bentakan Eddie
“Saya minta maaf, Pak.”
“Jangan diulangi! Kalau sampai saya melihat ini lagi, saya pastikan kamu dipecat sekarang juga.”
Kalimat kejam Eddie mengakhiri protes panjangnya, dia cukup berperasaan melihat wajah wanita itu hampir menangis. Dia masih menggerutu dari sinilah bibit-bibit korupsi dibiarkan berkembang di Indonesia saat keluar dari toko swalayan itu. Biasanya dia akan membeli di toko swalayan lokal cukup jauh dari tempatnya, tetapi hari ini dia memilih tempat terdekat, karena di hari Minggu, banyak orang yang menunggu.
Menenteng dua tas belanja kebutuhan pokok bulanannya, Eddie berjalan sekitar lima menit, melalui pintu belakang perpustakaannya. Masih pukul enam pagi, jadi wajar saja, tidak banyak orang yang dia temui.
Perpustakaan itu terdiri dari dua lantai, terhimpit di antara dua blok perumahan elite. Terdiri dari dua lantai. Loteng adalah tempat tinggalnya, dan di bawah tempat perpustakaan berada. Saat dia datang telah ada dua orang pegawainya yang membersihkan dan menyiapkan segalanya.
Memasuki perpustakaan, pengunjung akan disambut lukisan-lukisan legendaris abad enam belas. Eddie sengaja menghias perpustakaannya mirip seperti museum kuno, dengan patung kepala rusa, foto, piagam, dan senjata di dalam tabung-tabung kaca. Di arah Selatan, patung Sphinx dan lukisan replika Monalisa tampak mencolok di antara jajaran senjata tradisional yang didapatnya ketika berekspedisi ke pelosok negeri. Dia bermaksud membuat siapapun yang masuk merasakan hawa berbeda dari kebanyakan perpustakaan lainnya.
“Selamat pagi, Pak Dono, Pak Konco,” sapa Eddie.
Kedua orang itu menghentikan aktivitas sesaat untuk menoleh dan membalas sapaannya.
Pak Dono seorang pria paruh baya berusia 40 tahun, sebagian rambutnya mulai pitak akibat penuaan, wajahnya ramah dan murah senyum. Dia bukan pegawai tetap, dan hanya dimintanya membantu pada hari libur.
Pak Konco adalah satu-satunya pegawai tetapnya. Usianya mungkin lebih muda dari Pak Dono. Orang yang humoris dan serius dalam pekerjaannya. Tugasnya menggantikan Eddie ketika dia sedang tak berada di tempat.
Semakin siang pengunjung membludak datang. Sebagian besar adalah kelompok-kelompok mahasiswa dan anak sekolah.
Hari itu Eddie begitu sibuk, sampai beberapa panggilan masuk Gatot tak digubrisnya. Dia memang sedikit memikirkan tentang keponakannya itu. Bagaimanapun dia tak berharap ada anak lain yang akan mengalami hal tak menyenangkan sepertinya.
Langit semakin senja. Eddie tengah menangani peminjaman saat dia melihat buku Sherlock Holmes yang diangsurkan ke atas mejanya. Bukan tangan pria biasa. Tangan milik, mungkin seorang tenaga medis. Eddie mengikuti pemilik tangan tersebut, sedikit terkejut mendapati pria baik yang pernah menawarkan traktiran saat mereka pertama bertemu, berdiri di depannya sembari tersenyum ramah.
Eddie telah melihat Malt dalam balutan resmi saat di toko musik, kali ini pria itu hadir mengenakan sweater wol berbalut jas kasual kelabu dan celana jins sedikit ketat.
“Hai, kita ketemu lagi.”
“Kebetulan yang menyenangkan.”
Eddie menyambut jabat tangan singkat Malt. “Sedang mencari apa nih.”
Malt sedikit heran mendengar nada bertanya Eddie yang datar tanpa question mark. Orang Indonesia begitu ekspresif, namun pria di hadapannya, ekspresi terkejutnya saja, hanya dapat diketahui saat matanya tampak lebih lebar.
“Tidak ada yang spesial, hanya merindukan seri lama novel detektif.”
“Suka genre HMT.”
“Ya begitulah.”
“Sherlock Holmes sangat luar biasa, bukan.”
“Saya sebenarnya lebih menyukai Professor Morriarty. Dia jenius, bahkan seorang seperti Sherlock Holmes saja kelimpungan menghadapinya.”
“Woah, jarang-jarang saya mendengar seorang menyukai villain dibandingkan tokoh utama.”
Malt tertawa kecil, hendak berlalu karena ada beberapa orang menunggu di belakangnya. “Boleh saya traktir minum saat break,” tanya Eddie
“Boleh saja.”
Malt kembali menekuri rak-rak buku. Dia meminjam lebih dulu karena takut kehabisan waktu, barulah dia memburu bacaan yang bisa dibacanya sekali duduk.
Pak Konco diminta Eddie menggantikan, beralasan dia hendak menjamu seseorang. Eddie menggiring Malt ke sebuah restoran terdekat dan banyak bercerita masalah personal.
“Jadi, kedatanganmu ke sini hanya untuk berlibur.”
“Sebenarnya untuk menghadiri seminar kesehatan.”
“Oh, maaf, kamu seorang dokter.”
Apa dia bilang! Deduksinya memang seringkali benar. Dari tampilannya, awal Eddie mengira Malt adalah seorang CEO dewa Yunani yang sering disebutkan dalam cerita novel online. Kalau yang itu tak perlu diumbar, dia memang sempat ketagihan membaca novel online beberapa waktu lalu. Namun stelah memperhatikan lebih jeli, tangan itu, tangan cekatan yang sering membedah sesuatu
Malt memberitahu Eddie bahwa dia sempat mengikuti sebuah seminar kumpulan pecinta detektif, sebegitu sukanyalah dia kepada novel-novel Mystery-Thriller.
“Kapan-kapan aku ingin bergabung.”
“Tentu, kau tampaknya cocok menjadi detektif atau intel rahasia.” Eddie sejujurnya tidak menyangka Malt akan menyatakan hal yang mendekati kebenaran. Eddie telah terbiasa mengubah wajah, dan dia tetap harus berpura-pura.
Sekitar satu jam kemudian, Eddie sudah akan pamit, namun Malt berkata meninggalkan sesuatu di perpustakaannya. Mereka akhirnya memutuskan pergi bersama-sama.
“Perpustakaan ini sangat strategis dan nyaman.”
“Ya, aku sendiri yang mendesain dan memilih lokasinya.”
“Wow, menakjubkan,” puji Malt.
Malt adalah tipe orang yang pernah tinggal di luar negeri, itu yang disimpulkan Eddie selama mereka berbincang. Dia memiliki pemikiran terbuka dan bebas. Namun, dia merasa ada sisi lain yang belum Eddie ketahui dari Malt.
Sepemahaman Eddie, setiap manusia sedikit banyak menyimpan sisi gelap dalam dirinya.
“Jika berkenan, boleh tahu pekerjaanmu apa selain menjadi pustakawan?”
Eddie tak dapat menjawab pertanyaan yang satu itu, jadi dia memilih tertawa dan mencandainya. “Aku pengangguran, karena itu kuabdikan diri bersama buku-buku. Buku-buku itu tak akan mengkhianatiku.”
Malt mungkin akan berpikir Eddie adalah orang yang mungkin akan memilih menjadi seorang biksu atau biarawan karena trauma akibat dikhianati seseorang. Tetapi Eddie memiliki pandangan yang bebas tentang hidup, senang bersenang-senang, dan melakukan hal-hal yang disukainya. Bahkan selama ini tidak ada yang menyangka bahwa Eddie memiliki masa kecil yang kelam.
Setibanya, keduanya dihadang dengan ribut-ribut di counter depan. Orang-orang membentuk kerumun menontoni kegaduhan.
“Ada apa ini.” Eddie menatap wajah yang dikenalinya satu per satu.
“Pria ini yang mencuri tas saya!” Eddie tersentak dengan teriakan seorang wanita mungkin seusia ibunya jika beliau masih hidup, menuding ke arah Pak Dono yang terus menunduk seolah lelah dan hampir menyerah menjelaskannya. Tampak gadis muda di sampingnya menarik-narik pakaian si wanita seperti meminta perhatian atau mengajaknya segera pulang.
“Sudah saya katakan, bukan saya pelakunya.”
“Pembohong!” Masih dengan tensi dan amarah yang kunjung turun, wanita itu mencak-mencak menunjuk-nunjuk Pak Dono tak mau tahu.
“Jelaskan dulu bagaimana kronologinya,” Eddie menengahi. Dia meminta semua menyingkir dan menggiring keduanya ke pinggir, daripada menghalangi jalan. Malt sudah tak terlihat. Mungkin sudah pulang, dan enggan ikut campur.
“Saya berada di bagian rak buku dan masakan, di sana tidak terlalu banyak orang. Saya terlalu larut mencari-cari buku dan melupakan tas yang entah saya letakkan di mana.” Itu mengapa Eddie membenci wanita yang rumit. Haruskah membawa tas cantiknya bahkan ke perpustakaan? “Tapi orang ini berada di dekat sana selama saya membaca. Siapa lagi kalau bukan dia pelakunya!”
“Anda tidak bisa menuduh seseorang hanya berdasarkan asumsi, Ibu Norman.” Raut wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah masam. Eddie mengetahui namanya dari buku member yang dipegangnya.
“Saya akan perkarakan hal ini!”
“Tenang dulu, Bu. Jika boleh tahu, apa saja isi dalam tas itu.”
“Ada dompet dengan kartu-kartu lengkap, HP, pembalut, kotak jahit, dan uang senilai lima juta karena saya baru saja mengambil dari bank. Hanya itu saja.” Saat wanita itu mengatakan hanya, dia tak menatap Eddie.
“Anda yakin.”
“Tentu saja! Apa Anda mencurigai saya berbohong?”
“Tidak, sama sekali tidak.” Jelas sekali wanita itu menghindari tatapannya. “Sekitar waktu apa Anda kehilangan tas itu.”
“Itu... mungkin satu-dua jam yang lalu.”
Tidak banyak orang yang tersisa pada waktu-waktu itu. Wajar jika kemudian dia menyalahkan Pak Dono yang berada di lokasi terdekat.
“Perlukah kita memanggil polisi?”
“Bisakah kita selesaikan perkara ini secara personal saja.”
“Enak saja!”
Eddie bermaksud mengambil gawainya untuk meminta bantuan, siapa lagi jika bukan Gatot Subroto. Namun, benda itu pun lenyap.
“Ada yang melihat ponselku.” Eddie tak bermaksud memprovokasi lebih jauh, tetapi agaknya wanita itu mendengar pertanyaan yang dia tujukan kepada Pak Konco.
“Lihat kan! Punya Anda juga hilang. Sudah kubilang, pria ini pencurinya!”
“Harap Anda tenang dulu, ponsel saya mungkin selip di suatu tempat.”
“Saya tidak mau tahu! Coba kita cek CCTVnya!”
CCTV. Eddie sempat diberitahu untuk memperbaikinya baru-baru ini, namun dia enggan karena merasa tidak terlalu membutuhkan. Tempatnya toh selalu aman-aman saja selama ini.
“Maaf, Bu, CCTV kami sedang dalam perbaikan.”
“Kalau enggak ada CCTV, susah kan jadinya!”
Di tengah suasana yang semakin memanas, kerumunan di belakang berteriak. Suara debam cukup nyaring mencuri semua perhatian. Mata-mata yang awalnya menyaksikan perseteruan teralih pada sumbernya. Eddie berlari untuk melihat keadaan. Seorang pria mencoba berdiri, darah mengucur dari kepalanya, dia berada tepat di depan bilik rak yang rubuh, mengangkat tangannya seolah meminta bantuan. Belum sempat Eddie menjangkau tangannya, pria itu tergeletak tak sadarkan diri
***