Ilana sudah duduk setengah jam lebih di ruang tamu rumahnya. Ibunya berdiri di depannya. Berjalan mondar-mandir dengan mulut yang belum berhenti berbicara. Wanita itu masih terus berbicara bagaimana ia kecewa pada anaknya karena lagi-lagi, ia ada di posisi ketiga dalam ujian ekonomi. Wanita itu mengomel, menyerukkan sumpah serapah pada Ilana yang menurutnya tidak belajar lebih keras. Wanita itu juga bilang bahwa Ilana mulai membantahnya dan menuduhnya mempunyai pacar yang membuatnya tak lagi belajar dengan benar.
Ilana menerima semuanya. Ia menelan semua omongan ibunya mentah-mentah. Ia sudah mendengar semua kata-kata kasar ibunya sejak lama dan mulai terbiasa. Ia tidak lagi merasa sakit hati. Ia hanya perlu mendengarkan sampai wanita itu puas dan kelelahan hingga akhirnya mengijinkannya untuk naik ke kamarnya.
Ilana menatap ibunya yang wajahnya kian memerah. d**a wanita itu naik turun, membuatnya tahu bahwa wanita itu benar-benar marah dan sepertinya tidak akan melepaskannya dalam waktu dekat.
Matilah… Ilana mengatakan itu dalam hati. Ia punya satu harapan saat ini. Ia ingin di sela-sela kemarahan ibunya, ibunya mati karena serangan jantung. Atau jika ibunya tidak bisa langsung mati, ia berharap pembuluh darah wanita itu pecah dan menyebabkan stroke. Ia membayangkan akan sangat menyenangkan melihat wanita itu tidak bisa melakukan apapun. Ia selalu membayangkan bahwa hidupnya akan jauh lebih baik tanpa keberadaan ibunya.
Ilana menggeleng seketika. Ia menyadarkan diri dari pikiran buruk yang tiba-tiba masuk ke pikirannya. Hal-hal yang tanpa sadar masuk ke otaknya. Hal-hal jahat yang entah kenapa bisa masuk ke dalam pikirannya.
“Kenapa Ilana?” wanita itu menatap ke arah Ilana sambil menyentak. Ilana menengadah dan melihat wajah ibunya yang murka.
“Joseph bukan murid biasa. Dia sangat pintar. Dia sudah menjuarai segala macam kejuaraan di dalam negeri maupun luar negeri sejak sekolah dasar.” kalimat itu keluar dari mulut Ilana. Ia tahu ia baru saja memantik Ibunya. Lava menggelegak itu akan tumpah lagi. Ilana tahu bahwa ibunya tidak membutuhkan jawaban. Wanita itu tidak benar-benar butuh jawabannya. Tapi ia tidak tahu darimana ia punya keberanian untuk mengatakan itu.
Helen mendekat dan menjambak rambut Ilana. “Mama tidak peduli siapa Joseph.” suara wanita itu rendah dan dingin. Tatapan tajamnya menatap tepat ke manik mata Ilana. “jangan menyalahkan kepintaran orang karena kebodohanmu.” tambahnya. “kamu yang bodoh makanya tidak bisa mengalahkan mereka berdua.”
Ilana meringis saat merasakan tarikan di rambutnya. Jika rambutnya bisa berbicara, helai-helai rambutnya pasti akan berteriak dengan sangat keras dan memekakkan telinga ibunya. Ia kadang berpikir seandainya itu benar-benar bisa terjadi, ia yakin ibunya tidak akan lagi menjambaknya.
“Lakukan apapun untuk mengalahkan mereka berdua.” saat Helen mengatakan itu, ia menarik rambut Ilana lebih keras hingga gadis itu meringis kesakitan. Ia memindai wajah Ilana baik-baik. Kedua mata gadis itu terpejam dengan raut wajah menahan sakit.
Helen akhirnya melepaskan pegangannya pada anaknya lalu duduk di sofa tepat di depan Ilana. Ia mengambil kotak obat yang ada di atas meja lalu mengeluarkan beberapa obat dari sana. Ia memajukan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya.
Ilana membuka telapak tangannya dan beberapa butir obat itu berpindah. Sebelah tangan gadis itu mengambil gelas di atas meja. Dengan bantuan air dalam gelas, Ilana meminum obat itu sekaligus.
“Kamu masih punya waktu belajar tiga jam sebelum tidur.” kata Helen sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam. “Tidak ada uang jajan selama seminggu.” tambahnya. “juga sarapan dan makan malam.”
Setelah mendapatkan izin ibunya, Ilana berdiri dari duduknya lalu beranjak naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan langsung berjalan mendekati meja belajarnya. Ia bergerak bagai robot, mengambil buku dari lemari meja belajarnya dan menuruti perintah ibunya untuk kembali belajar padahal ia baru saja pulang les dan didera kantuk luar biasa.
Tapi, di rumahnya sendiri pun, Ilana tidak bisa benar-benar merasa bebas. Ibunya bisa sewaktu-waktu masuk ke kamarnya untuk mengeceknya. Jika Ilana sudah tidur lebih awal dari waktu yang ditentukan, wanita itu akan kembali marah. Menuduh ia pemalas dan sebagainya.
***
Ilana menuruni tangga dan pergi ke ruang makan. Di sana, ia melihat ibunya sudah duduk di tempat biasanya. Wanita itu sedang menikmati sandwich dengan secangkir teh seperti biasanya. Ada buah-buahan potong di piring lainnya. Ilana meneguk ludahnya. Gadis itu duduk di depan ibunya dan bersiap menuangkan air dalam ke teko ke dalam gelasnya saat ibunya berkata,
“Kamu boleh minum susu.” katanya. Ilana berterima kasih dengan nada lirih lalu berdiri untuk menghampiri kulkas dan mengambil kotak s**u ukuran satu liter. Ia membawanya ke meja makan dan menuangkan isi kotak ke dalam gelasnya hingga penuh. Setelah itu ia menyesapnya pelan. Matanya melirik ibunya yang sedang membaca sesuatu dalam tabletnya.
Ilana menghabiskan isi gelasnya dengan hening yang menyelimuti. Bagi Ilana, ini tidak hanya hening, namun juga kesepian yang terasa menyusup hingga ke tulangnya yang paling dalam. Kesepian yang entah sampai kapan akan menemaninya. Sepi yang membuatnya membenci rumahnya sendiri.
Segelas s**u itu tidak terasa mengenyangkan perutnya. Ia tidak makan malam kemarin dan mulai hari ini, ibunya memberinya hukuman dengan tidak membiarkannya sarapan, juga makan malam dan tidak memberikannya jajan. Ia bingung. Wanita itu menyuruhnya belajar lebih keras lagi, tapi membiarkan perutnya kosong. Bagaimana mungkin ia bisa fokus belajar dengan kondisi kelaparan. Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing.
Setelah menghabiskan isi gelasnya, ia berpamitan pada ibunya lalu keluar dari rumah. Ia masuk ke dalam mobilnya yang sedang dibersihkan oleh supirnya.
Melihat Ilana masuk, supirnya, pria berumur empat puluh tahunan itu langsung menaruh lap yang ia buat untuk mengelap mobilnya di tempatnya lalu masuk ke dalam mobil.
Sebelum menyalakan mesin mobilnya, pria itu mengambil sesuatu dari kursi sebelahnya dan memberikannya pada Ilana.
“Dari Bibi.” kata pria itu sambil mengulurkan sebuah kotak makan pada Ilana yang terdiam.
Ilana menatap kotak itu sebentar. Ia tahu apa isinya. Hal ini selalu terjadi setiap ibunya menghukumnya. Entar dari mana, asisten rumah tangganya tahu dan akhirnya selalu membungkuskan sarapan dan menitipkannya pada supirnya.
Sebelah tangan Ilana terulur untuk mengambil kotak itu. Ia membukanya tepat saat roda mobil yang ditumpanginya berputar. Kotak makan itu berisi sandwich dengan beberapa butir anggur di sebelahnya. Ia tersenyum kecut lalu menutupnya kembali. Ia memutuskan akan memakannya di sekolah.
***
Joseph sedang berjalan di koridor lantai satu di sekolah itu saat berpapasan dengan Haikal yang baru saja keluar dari ruang musik. Laki-laki itu tampak terkejut saat melihat Joseph, namun akhirnya berusaha menjaga mimik wajahnya. Ia tahu ada yang perlu ia jelaskan pada Joseph. Yang terpenting, ia perlu meminta maaf pada laki-laki itu.
“Bisa kita bicara sebentar.” kata Haikal. Laki-laki itu melirik pintu ruang musik yang ada di belakangnya.
Joseph tidak menjawab, hanya mengangguk pelan lalu mengekori laki-laki itu masuk ke ruang musik. Ruang itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung beberapa alat musik di panggung kecil, juga beberapa kursi. Ada papan tulis bertuliskan jadwal kegiatan anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler itu.
Haikal duduk di salah satu kursi, Joseph mengambil tempat di depannya.
Haikal memilin jari-jarinya, lalu akhirnya menggumamkan maaf pada laki-laki di depannya. “Aku tahu aku keterlaluan. Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan itu.” kata Haikal. Ia tidak pernah ingin melakukan itu dan ia ingin Joseph tahu bahwa ia benar-benar terpaksa. Meski sudah begitu sering menjadi bulan-bulanan Keenan, ia tidak pernah ingin menjadi seperti laki-laki itu. Ia tidak pernah ingin menyakiti orang lain. Dan saat kemarin ia melakukan itu pada Joseph, ia menyesal.
“Lupakan saja. Aku tahu kamu terpaksa melakukan itu.” kata Joseph akhirnya. Penjelasan Emma sudah cukup membuatnya mengerti bahwa tak hanya Haikal, semua anak akan melakukan itu jika ada di posisi laki-laki itu.
“Syukurlah kamu mengerti.” Haikal akhirnya bernapas lega. Ia tidak ingin memiliki musuh. Baginya sudah cukup berhadapan dengan Keenan setiap harinya.
Joseph menatap laki-laki di depannya. Laki-laki dengan rambut tersisir rapi, kedua matanya berbingkai kacamata tebal, juga gigi dengan kawat. Wajah laki-laki itu tampak canggung. Khas kutu buku yang selalu digambarkan di novel dan film-film. Orang yang selalu jadi sasaran empuk bullying.
“Tapi… apakah kamu tidak bisa melawan Keenan? apa yang ia lakukan padamu sudah sangat keterlaluan.” tanya Joseph. Ia melihat laki-laki di depannya terdiam sebentar lalu akhirnya menggeleng pelan.
“Keenan bukan orang yang bisa dilawan, apalagi oleh orang sepertiku.” jawab Haikal. Ia menaikkan kacamatanya yang turun dan menatap laki-laki dengan mata biru yang mencolok di depannya. “tidak peduli apa yang akan ia lakukan padaku. Akan jauh lebih baik jika aku diam. Aku hanya perlu bertahan sampai kelulusan.”
Joseph mendengar suara Haikal tampak meyakinkan. Seperti laki-laki itu benar-benar sudah siap menerima semua perlakuan Keenan. Seperti laki-laki itu sudah sangat pasrah dengan apa yang akan diterimanya hingga akhirnya sekolah. Laki-laki seakan sangat percaya diri akan bisa melewati semuanya sampai hari kelulusan tiba.
“Jadi, tidak pernah ada yang melawan? kamu pasti bukan satu-satunya orang yang dirisak olehnya kan?”
Haikal mengangguk, “Aku bukan satu-satunya, tapi aku adalah favoritnya.” kata laki-laki itu. “pernah ada satu anak yang menonjok hidungnya hingga berdarah, Jeremi. Dan tahu apa yang terjadi dengannya, Keenan menghajarnya, merusak pintu lokernya dan membasahi isinya dengan minuman soda, ia mengambil tasnya dan merobek semua buku-bukunya, dan hal lain yang sangat menyakitkan untuk diingat.” papar Haikal, “Keenan melakukan semuanya dihari yang sama. Berkali-kali lipat dari pukulan yang ia dapatkan dan akhirnya membuat anak itu akhirnya pindah sekolah.”
“Jika Keenan menghajarnya, bukankah orangtuanya tahu dan bisa melaporkannya?”
Haikal tampak mengingat sebentar lalu mengangguk, “orangtuanya melaporkan ke pihak sekolah dan Keenan dimintai keterangan.” laki-laki itu tersenyum sinis lalu melanjutkan, “tapi laki-laki itu memang iblis, laki-laki itu tidak mau mengaku dan bilang bahwa Jeremi yang pertama kali membuat masalah. Keenan memfitnah Jeremi sedemikian rupa. Dan sayangnya, pihak sekolah mempercayainya dan meminta keduanya untuk damai.” jelas Haikal.
Mata Joseph membulat mendengar cerita itu. Ia masih menatap laki-laki itu dengan serius seakan tidak ingin melewatkan satu kalimat pun.
“Saat itu terdengar kabar kalau pihak sekolah sebenarnya mendapat tekanan dari ayah Keenan sehingga pihak sekolah terpaksa membuat keputusan untuk berdamai.”
“Mereka tidak melaporkan ke polisi?” Joseph bertanya.
“Mereka hanya punya bukti fisik. Saat mereka sadar bahwa tidak akan ada mau menjadi saksi mereka dan kasus itu akan memakan banyak waktu dan tenaga, mereka memutuskan untuk menerima tawaran pihak sekolah untuk berdamai. Orangtua Keenan memberi uang yang cukup banyak untuk perawatan Jeremi.” cerita Haikal, “kasus itu selesai begitu saja. Dan kejadian itu membuat orang-orang semakin takut untuk melawan Keenan.”
TBC
LalunaKia