Turun dari mobil mewahnya, Ilana tidak langsung pergi ke kelasnya. Ia berjalan pelan ke taman yang ada di belakang sekolah. Taman dengan hamparan rumput hijau dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan. Ada kolam ikan dengan air mancur di salah satu sudutnya. Beberapa kursi ada di sana, meski banyak anak lebih suka duduk di rumput di bawah pohon rindang.
Ilana mendekati bangku kayu panjang dan menjatuhkan bobotnya di sana. Ia melirik sekeliling dan melihat bahwa taman itu sepi. Tempat itu memang biasanya ramai di sore hari.
Gadis itu membuka kotak makannya dan tersenyum. Sandwich dengan isi sayur dan daging itu membuat perutnya semakin terasa lapar. Selera makannya tergugah seketika. Ia seakan bisa mendengar isi perutnya berteriak minta diisi.
Ia menggigit ujung sandwichnya, dan mengunyahnya pelan. Ini sandwich biasa namun entah kenapa pagi ini terasa sangat enak di lidahnya. Ia terus menggigit dan mengunyah hingga sandwich itu tersisa setengah. Matanya mengelilingi taman dan melihat Nadine ada di salah satu bangku yang ada di taman itu, entah sejak kapan. Untuk beberapa saat, Ilana menatap Nadine yang sedang terduduk di sana dengan kedua telinga tertutup earphone. Kedua mata gadis itu terpejam. Gadis itu tampak tenang.
Ilana tahu bahwa di dunia ini, bukan hanya dirinya yang memiliki kehidupan yang buruk. Mungkin Nadine juga. Mereka hanya diuji oleh masalah yang berbeda, dan semua orang mungkin seperti itu.
Tatapan keduanya bersirook saat Nadine membuka mata. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Hal yang akhir-akhir ini entah kenapa sering mereka lakukan. Tak ada kebencian dalam tatapan keduanya. Hanya tatapan biasa. Tatapan saling mengerti bahwa mereka berdua sama-sama berada di posisi yang sulit akibat kehadiran Joseph.
Ilana kadang merasa iri dengan Nadine. Meski jatuh miskin, gadis itu memiliki ibu yang sangat menyayanginya. Semua orang di sekolah itu tahu bagaimana ibu gadis itu sangat menyayangi anak semata wayangnya. Ibunya memperlakukan Nadine seperti hartanya yang paling berharga. Bukan sesuatu yang luar biasa karena memang begitu lah seharusnya seorang ibunya. Ia menyesal karena ibunya bukanlah salah satunya.
Nadine menatap Ilana yang baginya, hidupnya terlihat begitu sempurna. Meski selalu berada di peringkat kedua, ia selalu merasa peringkat kedua sudah cukup baik. Gadis itu cantik, juga kaya. Semua yang melekat pada tubuh gadis itu ada barang-barang yang mewah dan mahal. Jenis yang juga pernah melekat di tubuhnya sampai semuanya diambil paksa akibat kesalahan ayahnya. Nadine merasa hidup gadis itu tak kekurangan apapun. Ia sepertinya perlu memberitahu gadis itu bahwa menjadi yang kedua bukanlah sesuatu yang buruk. Gadis itu seharusnya lebih menikmati hidupnya dibanding terus menghabiskan waktunya demi obsesinya untuk menjadi yang pertama.
***
Nadine dan teman-teman sekelasnya memenuhi lapangan basket indoor. Anak-anak itu dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, lalu dibagi beberapa kelompok dan diminta untuk bertanding basket, lalu guru olahraga akan menilai permainan mereka.
Nadine dan kelompoknya sudah menyelesaikan gilirannya. Ia menepi lalu mengambil air mineral miliknya di salah satu bangku dan menyesapnya pelan. Teman-temannya yang lain sudah berbondong-bondong keluar dari ruang olahraga dan melakukan kegiatan lain. Ia menoleh saat melihat Ilana menjatuhkan diri di sebelahnya. Gadis itu melakukan hal yang sama dengannya, mengambil botol minumnya dan menyesapnya pelan. Keduanya lalu menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil masing-masing nyaris bersamaan.
“Kakimu baik-baik saja?” Nadine bertanya. Mereka tadi berada di kelompok yang berbeda dalam satu pertandingan. Nadine tidak sengaja menabrak gadis itu saat ingin merebut bola dan membuat gadis itu jatuh.
Ilana tidak menjawab meski ia merasakan perih di lututnya. Ia membawa botol minum dan menyampirkan handuk kecil ke bahunya lalu pergi dari lapangan. Nadine menatap punggung Ilana yang berjalan menjauh hingga menghilang di balik pintu ruang olahraga itu.
Ia berdecak. Sepertinya memang mereka tidak pernah ditakdirkan untuk berbicara satu sama lain. Atau mereka seharusnya bahkan tidak berbagi atmosfer. Nadine menyesal ia harus menanyakan itu dan berpikir untuk meminta maaf. Ilana pasti tahu kalau ia tidak sengaja, dan gadis itu sama sekali tidak membutuhkan permintaan maafnya.
Nadine masih di sana dan melihat teman-temannya yang sedang bertanding di tengah lapangan. Ia duduk seorang diri sementara teman lainnya terlihat bergerombol di sisi lapangan lainnya dan terlihat begitu asik berbincang-bincang. Ia tahu diumur mereka, ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan teman-teman, juga banyak hal untuk dilakukan.
Nadine mulai berpikir, seperti apakah rasanya memiliki sahabat. Apakah sahabat akan bisa mengisi semua kekosongan di hidupnya. Apakah sahabat bisa membuat hidupnya terasa lebih berwarna seperti yang sering orang bilang. Apakah dengan keadaannya yang seperti ini, akan ada yang mau menjadi sahabatnya.
Pikiran-pikiran itu memenuhi otak Nadine untuk beberapa saat. Ia masih menatap segerombolan anak perempuan yang berada di seberangnya. Ada Emma di antaranya. Emma adalah salah satu gadis yang cukup menonjol di kelasnya. Gadis itu cantik dengan tubuh kurus dan kulit terlihat sehalus porselen. Gadis itu periang dan punya banyak teman. Gadis itu punya kemampuan berkomunikasi dan sosial yang sangat baik. Tak heran jika teman-teman gadis itu tak hanya berasal dari kelasnya, tapi juga dari kelas-kelas lain. Gadis itu memiliki pergaulan yang sangat bagus dan terlihat menyenangkan.
Haruskah Nadine iri dengan gadis itu juga? Nadine menggeleng. Ia telah berpikir terlalu jauh. Ia seharusnya tahu bahwa tidak ada hidup yang benar-benar sempurna. Kehidupan seseorang tidak bisa ia lihat hanya dari luarnya saja.
Setelah semua kelompok menyelesaikan pertandingan, mereka semua berbondong-bondong keluar dari ruang olahraga. Nadine berjalan seorang diri menuju lokernya. Semua anak yang sedang berada di loker untuk mengambil seragam mereka menatap ke arah Nadine yang berjalan mendekat.
Nadine bingung saat tiba-tiba semua mata menghujam ke arahnya. Saat itu, ia sadar ada yang tidak beres. Ia mempercepat langkah kakinya dan terkejut melihat pintu lokernya sudah terbuka setengah. Tak cukup, tetesan kopi jatuh dari lokernya.
Mulutnya sedikit terbuka saat tangannya terulur untuk mengambil seragam putihnya yang sudah penuh dengan noda kopi. Ia melihat kunci pintu lokernya yang ternyata sudah di rusak. Ia meremas kemejanya dengan gigi yang gemelutuk menahan marah.
Ia membalik badan dan melirik teman-teman di sekelilingnya. “siapa yang melakukan ini?” gadis itu bertanya dengan amarah yang sudah memenuhi kepalanya. Ia sudah cukup bersabar dan kini kesabarannya sudah habis.
Tapi semua yang menatapnya terdiam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mereka seakan menikmati wajah Nadine yang mulai memerah.
Nadine menatap orang di sekelilingnya satu persatu sampai akhirnya ia pergi dari sana dengan seragam kotornya di sebelah tangannya. Langkah kakinya menuruni tangga hingga ke lantai satu dan menyusuri koridornya. Ia berjalan terus menuju kantin untuk mencari Keenan. Ia tahu pasti laki-laki itu yang melakukannya. Laki-laki itu harus tahu bahwa ia sama sekali tidak takut dengannya. Jika laki-laki itu mau bermain-main dengannya silahkan, tapi ia tidak suka laki-laki itu menyentuh barang-barang pribadinya. Baginya, semua barang pribadinya berharga dan ia tidak suka laki-laki itu bermain dengan barang miliknya.
Keenan sedang mengigit burgernya saat melihat Nadine memasuki kantin dengan raut wajah marah. Ia menyeringai dan menatap Nadine yang menatapnya dengan tatapan siap membunuh. Ia tahu gadis itu tak akan selamanya diam dan kini ia berhasil. Ia perlu melihat gadis itu marah, menyerukkan sumpah serapah ke arahnya ataupun memakinya. Ia akan menerima semuanya karena ia tahu melihat itu semuanya akan sangat menyenangkan. Toh, gadis itu tidak bisa melakukan apapun selain melupakan kemarahannya. Esok, ia akan kembali dengan kejutan-kejutan baru hingga gadis itu lelah sendiri.
“Kamu yang melakukan ini, kan?” Nadine sampai di depannya dan melemparkan kemeja putihnya yang sudah penuh noda kopi di berbagai sisi ke atas meja.
“Duduklah dulu.” Keenan melirik kursi di depannya. Tapi Nadine bergeming. Ia tidak akan menuruti permainan laki-laki itu. Ia butuh laki-laki itu mengaku dan meminta maaf, juga berjanji untuk tidak akan pernah mengulanginya lagi. Ia tahu ia mungkin tidak akan berhasil. Laki-laki itu tidak akan pernah menuruti siapapun. Tapi ia harus mencobanya.
“Jawab saja pertanyaanku.” kata Nadine dengan nada dingin.
Keenan mengangguk sambil tersenyum. Seakan tidak menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan pada seragam Nadine.
Dan memang laki-laki itu tidak pernah menyesali semua perbuatannya. Rasa sesal di hatinya sepertinya sudah mati dan yang ia rasakan hanyalah kesenangan saat menikmati semua perbuatannya.
“Aku tidak suka kamu menyentuh barang-barangku.” kata Nadine dengan nada dingin. Matanya menatap Keenan tepat ke manik matanya. Seakan memberitahu laki-laki itu bahwa ia sama sekali tidak takut padanya. Jika kemarin laki-laki itu berpikir kalau ia diam karena takut, laki-laki itu salah besar.
“Aku tidak bisa menghentikan sesuatu yang sudah kumulai begitu saja.” ujar Keenan, “aku masih punya banyak kejutan untukmu. Jadi, nikmati saja. Mendatangiku dan memintaku berhenti seperti ini tidak akan berhasil. Hanya membuang-buang waktumu.”
Nadine melirik botol minuman di atas meja. Ia harus memberikan laki-laki itu pelajaran. Ia tidak akan diam saja. Ia harus membalas setiap kali laki-laki itu mengerjainya agar laki-laki itu sadar bahwa ia bermain-main dengan orang yang salah.
Ia baru saja hendak mengambil botol minuman itu saat sebelah tangan Keenan sudah meraihnya terlebih dahulu. Keenan mengikuti lirikan mata gadis itu dan tahu apa yang ada di pikiran Nadine. Ia bergerak lebih cepat dan berhasil mendapatkan botol itu di tangannya.
“Kamu seharusnya tahu kalau kamu membalas, aku akan melakukan lebih buruk.” Keenan membuka tutup botol itu dan menyeringai pada Nadine yang terdiam. Namun gadis itu tampak tak takut sedikitpun. Gadis itu masih memasang raut wajah dingin seakan tidak takut dengan semua yang keluar dari mulut Keenan. Keenan yakin bermain dengan gadis itu akan sangat menyenangkan.
Keenan berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Nadine yang kini menatapnya dengan bias kebencian yang luar biasa.
“Jadi sebaiknya… kamu pikir ratusan kali kalau ingin membalasku.” Tepat saat ia mengatakan itu, ia melempar isi botol itu hingga mengenai wajah Nadine dan membasahi sebagian baju olahraganya. “jangan merasa sok jika kamu tidak punya power apapun.” Keenan membisikkan kalimat itu saat ia berjalan melewatinya.
Nadine masih berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun karena amarah yang sempat ia pendam tidak bisa dilampiaskan, dan kini ia semakin marah saat mendapatkan perlakuan itu.
Ia mengusap wajahnya yang basah dan merasakan matanya memanas. Ia menarik napas panjang dan menggeleng pelan. Ia tidak boleh menangis. Ini adalah jalan yang ia pilih dan ia sudah memutuskan untuk tidak menyesalinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Nadine hanya bersyukur bahwa kantin itu sepi karena jam pelajaran belum selesai. Menyisakan satu dua penjual yang masih membuka lapaknya dan jelas tampak tidak peduli apa yang mereka lihat. Setidaknya, ia tidak mendapati perlakukan itu di hadapan banyak orang. Setidaknya tidak ada berpuluh-puluh pasang mata yang menatapnya dengan tatapan kasihan. Setidaknya ia tidak menjadi tontonan kali ini.
Namun yang tidak Nadine sadari adalah, ada satu pasang mata yang menatap punggungnya. Sepasang mata yang sejak tadi melihat apa yang terjadi padanya. Sepasang mata yang kini kebingungan. Joseph baru saja hendak masuk ke kantin saat melihat Nadine dan Keenan ada di sana. Langkahnya tertahan dan ia pergi ke samping dan melihat melalui jendela kantin.
Haruskah ia menghampiri gadis itu dan membantunya, atau lebih baik ia langsung pergi saja dan menganggap bahwa ia tidak pernah melihat kejadian itu.
Joseph mengangguk dan memilih opsi kedua. Ia sadar bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk gadis itu dan menghampirinya hanya akan membuat gadis itu merasa malu. Ia melangkah dan meninggalkan kantin.
***
Nadine kembali ke kelasnya hanya untuk mendapatkan tatapan penasaran dari teman-temannya. Ia membawa kembali kemeja kotornya dan kini seragam olahraganya basah di sisi sebelah kiri. Nadine tidak punya pilihan selain mempertahan seragam olahraganya yang basah untuk kembali ke rumah. Sebagian isi kelasnya sudah mengganti bajunya dan duduk di kursi masing-masing. Mereka hanya perlu menunggu dering bel hingga akhirnya bisa keluar dari kelas dan pulang.
Joseph melirik Nadine yang sedang mengusap bagian kaosnya yang basah dengan handuk miliknya. Ia tidak bisa membayangkan jika gadis itu memakai seragam olahraganya sampai ke rumah. Pasalnya, seragam olahraga itu pasti lengket karena keringat, belum lagi gadis itu harus naik bus dan berdesak-desakan. Baju olahraga itu pasti sangat tidak nyaman.
Bel pulang berdering tepat saat beberapa murid baru saja menyelesaikan pertandingan baksetnya. Mereka yang sudah sejak tadi di kelas langsung menghambur keluar, sedang yang baru masuk hanya mengambil tas dan ikut keluar bersama dengan yang lainnya.
Joseph berdiri dari duduknya dan melihat Nadine sedang memindahkan buku di kolong mejanya, lalu melipat seragam kotornya dan memasukkannya ke dalam tas. Joseph lalu melirik sweater miliknya yang tersampir di punggung kursi. Setelah berpikir, sebelah tangannya akhirnya mengambil sweater miliknya dan menaruhnya di atas meja Nadine.
Gadis itu menengadah dan menatapnya. “seragam itu pasti terasa lengket. Kamu boleh memakai sweaterku jika mau.” Joseph mengatakan itu dan langsung membalik badan dan pergi keluar dari kelas sebelum Nadine sempat mengeluarkan sepatah katapun.
Joseph kebingungan sendiri kenapa ia pergi begitu cepat. Ia hanya berpikir bahwa gadis itu akan malu jika ia ada di sana lebih lama, atau mungkin gadis itu akan menolak kebaikannya. Ia pikir lebih baik langsung meninggalkan gadis itu. Toh, ia sama sekali tidak membutuhkan ucapan terima kasih ataupun semacamnya. Jika gadis itu tidak mau memakainya pun tidak apa-apa.
Nadine masih berdiri di kursinya dan mengambil sweater berwarna putih yang ada di atas mejanya. Ia berpikir sebentar hingga akhirnya memutuskan untuk menerima kebaikan laki-laki itu. Ia berdiri dari duduknya dan pergi ke toilet untuk mengganti seragam olahraganya yang basah dengan sweater milik laki-laki itu.
Benar kata laki-laki itu, seragam itu sudah terasa lengket di tubuhnya dan sweater yang kini melekat di tubuhnya terasa lebih nyaman.
TBC
LalunaKia