Chapter 5 - Tanda-tanda Cinta

1907 คำ
“Jadi bagaimana kencan online-mu dengan laki-laki bernama Calvin Palmer itu?” tanya Rey keesokan harinya pada Laura. Laura menghela nafas sejenak. “Awalnya sempat kacau, Rey,” jawabnya sambil mengelap piring-piring kotor yang baru saja dia cuci di wastafel. “Kacau bagaimana?” tanya Rey penasaran. Laura malah balik bertanya, “Coba kamu bayangkan, ada seorang laki-laki yang mengajakmu makan di restoran mahal. Dia bersedia membayarimu, tapi begitu dia hendak membayar tagihannya, ternyata semua akun rekening banknya malah sudah ditutup. Apa yang akan kamu lakukan?” “Ya, mau tidak mau harus aku yang membayarinya dulu sih ... Daripada ditahan oleh pihak restoran, kan?” jawab Rey. “Eh? Memangnya Calvin begitu?” tanyanya terkejut. “Iya,” jawab Laura seraya mengangguk. “Semua akun rekening bank Calvin ditutup oleh ayah dan ibunya. Katanya sebagai bentuk penyaluran rasa kesal mereka karena proses perjodohan Calvin yang selalu gagal. Sepertinya hal itu membuat ayah dan ibunya sangat kecewa, Rey.” Rey tambah terkejut, “Jadi dia sudah dijodohkan?” “Dia memang sempat dijodohkan sebelumnya,” kata Laura. “Kamu ingat perempuan sexy berpakaian mini dress yang waktu itu datang ke sini dengannya, kan? Itulah salah satu perempuan yang hendak dijodohkan oleh ibunya,” jelasnya. Laura tersenyum miring lalu lanjut bicara. “Total bill yang harus kami bayar jumlahnya enam ratus lima puluh empat ribu lima ratus. Untung saja aku kepikiran mau menyetor sisa gajiku ke ATM hari itu, jadi bisa pakai uangku dulu. Kalau tidak kan gawat.” “Enam ratus ribu?! Kalian makan apa saja sampai jumlah bill-nya sebanyak itu? Kue berlapis emas?” gurau Rey. “Ini semua salahmu, bodoh,” ucap Laura sambil mencubit perut Rey yang sedikit ‘maju ke depan’ itu dengan gemas. “Kalau bukan karena kamu yang memasang profilku di aplikasi kencan online itu, tidak mungkin aku dan Calvin sampai kesusahan begitu.” “Iya, maaf deh,” ujar Rey seraya tersenyum dan mengusap-usap perutnya. “Tapi dia ganti rugi kan?” “Karena dia tidak bawa cash dan semua akun rekening banknya sudah ditutup, jadi mau tidak mau aku harus main ke apartemennya sebentar. Cuma buat menemaninya mengambil uang cash-nya saja kok, dan ternyata apartemennya bagus sekali, Rey,” jawab Laura panjang lebar. “Memangnya Calvin tinggal di mana?” “Crystal Lake Residence. Dia sudah tinggal sendirian sejak usianya dua puluh satu tahun. Aku rasa mungkin juga karena dia malas dengan kelakuan ayah dan ibunya.” Rey malah menyeringai nakal. “Ah, jadi ternyata kamu sudah sempat main ke apartemennya Calvin?” rayunya. Dia mendekati Laura lalu lanjut bicara dengan nada yang terdengar lebih pelan dari sebelumnya, “Jadi kamu sudah tidak perawan, dong? Bagaimana rasanya berciinta pertama kali? Enak, kan? ‘Punyanya’ besar tidak?” “Ah, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu!” celoteh Laura seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rey. “Kami sama sekali tidak berbuat macam-macam. Aku ke sana cuma demi uang, supaya dia tidak lupa mengganti uangku. Tidak lebih.” “Hm, aku kira kamu ‘main’ sampai dua ronde dengan Calvin, ternyata tidak. Kamu payah, Laura,” canda Rey sambil sedikit memanyunkan bibirnya. “Apa aku harus mengambil ‘alat getarmu’, ya, supaya kamu beralih pakai ‘yang asli’ saja?” godanya lagi. Laura hanya memutar bola matanya. Kelar break makan siang, Laura sama sekali tidak menyangka kalau Calvin Palmer akan datang menemuinya kembali ke restoran cepat saji tempatnya bekerja di waktu weekend-nya itu. Dari kejauhan saja, Laura dan Rey—terutama Laura—bisa melihat dengan jelas batang hidungnya yang tinggi dan sepasang maniknya yang berwarna hazel. Calvin tampil dengan busana casual yang santai hari ini. Rambutnya yang kelihatan sangat halus dan terawat itu dibelah ke samping dengan bantuan pomade. Dia memakai kaus hitam agak ketat yang sedikit mencetak perut kotak-kotaknya yang begitu menggiurkan untuk disentuh, dipadupadankan dengan sebuah celana jeans yang sedikit robek di bagian paha dan lututnya, serta sebuah kacamata gaya warna coklat tua yang langsung dia lepas begitu dia memasuki restoran cepat saji itu. “Sepertinya prince charming-mu datang untuk menemuimu lagi, princess Laura,” rayu Rey sambil menyikut lengan Laura. “Sana gih, layani pesanan dia,” perintah Laura acuh tak acuh. Padahal sudah sepuluh detik lamanya Calvin melambaikan tangan kanannya sambil terus menatap ke arah Laura dan Rey. “Eh? Mana bisa begitu?” tolak Rey sambil menaikkan satu alisnya. “Sudah, sana, hampiri Calvin,” tuturnya sambil sedikit mendorong tubuh Laura. “Dia pasti datang ke sini buat menemuimu. Siapa tahu kan ada hal penting yang mau dia bicarakan?” “Rey? Laura? Kenapa ngobrol saja? Sana hampiri pelanggan laki-laki itu, dia pasti mau pesan sesuatu,” tegur Ronald, yang kebetulan lewat di depan keduanya, dengan sorot kesal karena tak satupun dari Laura maupun Rey yang beranjak dari tempatnya berdiri. “Aku mau menyiapkan makanan untuk meja nomor tujuh belas dulu, chef,” ucap Rey secepat kilat. Padahal meja nomor tujuh belas saja kosong. “Sudah sana, kamu saja, Laura,” sambungnya pada Laura. Ujung-ujungnya Laura juga yang menghampiri Calvin. “Siang. Mau pesan apa?” tanyanya, masih dengan raut muka acuh tak acuh. “Mineral water saja,” jawab Calvin yang senyumnya terlihat tambah sumringah. Laura, yang sudah mengeluarkan buku kecil beserta pena untuk mencatat pesanan Calvin, tiba-tiba merasa geli sekaligus heran dengan apa yang dipesan Calvin. “Kamu ke sini cuma buat memesan sebotol air mineral?” tanyanya. “Tidak,” jawab Calvin seraya menggeleng. “Aku ke sini untuk menemui perempuan cantik yang aku ajak kencan kemarin,” godanya. “Oke. Tunggu sebentar, biar aku siapkan pesananmu dulu,” ujar Laura yang masih tak peduli dengan rayuan maut Calvin. Dia kembali tak sampai lima menit kemudian. “Ini,” imbuhnya seraya meletakkan sebotol air mineral ke atas meja di hadapan Calvin. Dia beranjak duduk di hadapan Calvin dan lanjut bicara, “Apa yang mau kamu bicarakan? Waktuku tidak banyak. Kalau aku ketahuan ngobrol lama-lama dengan pelanggan di jam kerja seperti ini, bisa-bisa aku kena teguran.” Calvin tersenyum. “Aku mau ke tempat pemotretan setelah ini, tapi habis itu aku bisa kembali lagi ke sini sekalian mengantarmu pulang. Kalau kamu mau,” tawarnya. “Ehh ... Bagaimana ya?” ucap Laura sambil menggaruk leher jenjangnya dengan kikuk. “Anu, aku kabari kamu nanti, ya? Kamu sudah simpan nomor ponselku, kan?” “Tentu.” Calvin meraih tangan kanan Laura lalu mengecup punggung tangannya selama dua detik, “Aku tidak mengganggumu kan?” “Tidak kok.” “Okay. Jangan lupa mengabariku,” tutur Calvin seraya tersenyum. Laura beranjak bangkit berdiri dari kursinya.“Aku siapkan bill-nya dulu,” katanya. “No, no, tidak usah,” cegat Calvin. “Aku bayar cash saja langsung. Berapa harganya?” “Cuma delapan ribu ...,” gumam Laura. “Ini, ambil saja kembaliannya,” ujar Calvin seraya memberikan Laura selembar uang pecahan dua puluh ribu. Dia bergerak mendekati Laura lalu mendaratkan bibirnya ke atas dahi Laura yang mulus itu lagi—meskipun dia sadar ada beberapa pasang mata pengunjung restoran yang sibuk memperhatikan keromantisannya. “Sampai jumpa nanti, Laura,” tutup Calvin seraya mengusap pelan pipi Laura dengan ibu jari tangan kirinya, lalu pergi meninggalkannya. “Damn,” kata Rey begitu dirinya bertatap muka kembali dengan Laura. Diam-diam, dengan serius dia terus memperhatikan Calvin dan Laura dari kejauhan—bak seorang pemanah yang hendak membidik anak panahnya menuju targetnya. “Calvin mencium dahimu?! Sial, bahkan Kaivan saja jarang mencium dahiku.” “Tapi kan Kaivan sering mencium p*yudaramu,” gurau Laura. Rey tidak merespon gurauan m***m sahabatnya. “Apa yang Calvin katakan padamu?” tanyanya. “Dia mau mengantarku pulang hari ini, tapi aku belum mengiyakan ataupun menolak tawarannya,” jawab Laura. “Duh! Kenapa belum dijawab? Cepat bilang kalau kamu bersedia diantarnya pulang, Laura. Dia sudah menyalakan lampu merah sebagai tanda kalau dia tertarik padamu loh,” tutur Rey gemas. Selama hampir tiga puluh detik lamanya Laura Danita habiskan untuk berdiam diri sambil berpikir. Bohong kalau Laura bilang Calvin Palmer itu laki-laki yang tidak menarik—apalagi jika bicara soal fisiknya, yang mana notabenenya Calvin memanglah seorang model. Sejauh ini, nampaknya Calvin juga laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Dia tidak memaksa Laura, dan yang paling utama, dompetnya tebal. ‘Ayolah, Laura, tidak ada salahnya ‘kan mencoba?’ ujar Laura dalam hati. Dia merogoh ponsel yang dia letakkan di dalam saku celana panjang hitamnya lalu lanjut mengirimi Calvin sebuah pesan singkat. “Hey, Calvin. Jemput aku jam enam sore, ya. Aku tunggu kedatanganmu,” ucapnya dalam pesan singkatnya seraya mengirimkan Calvin sebuah emoji berbentuk orang yang sedang tersenyum. “Bagaimana?” tanya Rey penuh harap usai Laura memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana hitamnya. “Aku mengiyakan tawarannya. Yeah, lumayan juga sih, hitung-hitung hemat ongkos. Aku juga suka naik mobil tesla hitamnya,” jawab Laura santai. “Selamat berkencan dengan pangeran ber-tesla-mu kalau begitu,” gurau Rey sambil tersenyum lebar. Laura tersenyum, “Pangeran ber-tesla-ku?” “Iya, soalnya pangeranmu kan naiknya mobil tesla dan bukannya kuda putih.” ***** Jantung Andreas berdegup kencang, beradu cepat dengan mulut Winona—seorang model perempuan yang juga bernaung di bawah agensi model yang sama dengan dirinya dan Calvin—yang sedang berlutut di hadapannya sambil menghisap batang beruratnya dengan tempo liar di dalam ruang fitting baju yang sudah terlebih dulu dia kunci dari dalam. “Faster, babe,” desah Andreas seraya mencengkeram erat rambut Winona dan ikut memasukkan ‘sosis jumbonya’ hingga menyentuh ujung mulut Winona, membuatnya jadi sedikit tersedak karenanya. Winona ikut mengerang saat ‘benih kental’ milik Andreas akhirnya muncrat keluar dan mengisi mulutnya dengan penuh, “Mphhh ...” “Oh,” desah Andreas seraya memejamkan sepasang maniknya erat-erat. Dengan perlahan dia mengeluarkan ‘sosis jumbonya’ dari dalam mulut Winona, lalu membantu Winona untuk bangkit berdiri lagi. “Thanks, sayang,” gumamnya seraya membersihkan bibir dan leher Winona yang kotor karena ‘benih cintanya’ menggunakan selembar tissue. “Lain kali kita coba berciinta di dalam mobil, ya?” ajak Winona usai menjilati kelima jari tangan kanannya, yang tadi dia gunakan untuk memainkan ‘sosis jumbo’ milik Andreas, dengan sorot nakal. Andreas membalas tatapan nakal Winona, “Ide yang bagus, sayang.” Tok .. Tok .. Tok .. Calvin, yang baru saja sampai di tempat pemotretan itu, tiba-tiba mengetok ruang fitting baju tempat keduanya ‘beradu erangan’ tadi. “Ada orang di dalam? Aku mau ganti baju,” tanyanya. Buru-buru Andreas memakai kembali boxer serta celana pendek selututnya yang melorot. “Sana keluar duluan,” perintahnya pada Winona lalu beranjak membuka kunci pintu ruang fitting baju itu. “Hai,” sapa Winona pada Calvin, lalu pergi meninggalkan Andreas dan Calvin berduaan untuk ngobrol di dalam ruang fitting baju. “Hai?” sapa Calvin balik seraya menaikkan satu alisnya. Dia lanjut bicara pada Andreas. “Bahkan di tempat kerja pun kamu masih bisa merasa h***y?” tanyanya, yang bahkan tanpa harus melihat pun, sudah bisa menebak apa yang baru saja kawan baiknya itu lakukan dengan perempuan berp*yudara mini itu. “Dia sendiri yang dengan senang hati mau menghisap ‘junior-ku’,” jawab Andreas santai. “Kamu sedang mendekati Winona?” Andreas menggeleng, “Tidak. Dia cuma teman FWB-ku.” Dia lanjut bicara, “Bagaimana kencanmu dengan Laura kemarin?” “Lancar sekali, seperti jalan tol,” jawab Calvin. “Aku mau menyatakan cintaku padanya nanti sore,” imbuhnya seraya tersenyum. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม