Chapter 6 - Kekasih Datang Terlalu Cepat

1911 คำ
Andreas Voulgaropoulos menatap paras kawannya dengan sepasang manik yang sedikit terbelalak lebar. “Kamu serius mau menjadikan Laura sebagai kekasihmu atau sebagai teman ranjangmu saja?” tanyanya terkejut. “Tentu saja sebagai kekasihku.” Calvin terdiam sejenak selama tiga detik lalu lanjut bicara seraya menyeringai, “Tapi kalau bisa jadi teman ranjang juga ya tidak apa-apa sih. Bagus malah.” “Aku boleh lihat seperti apa wajah perempuan yang sudah membuat temanku jatuh hati ini?” pinta Andreas sambil sedikit bergurau. Calvin langsung menggeleng. “Kalau kamu lihat wajahnya Laura, nanti yang ada kamu malah jadi ikutan jatuh hati padanya,” tolaknya. “Memangnya Laura secantik itu?” tanya Andreas seraya mengernyitkan dahinya yang mulus. Dia baru saja hendak menjawab pertanyaan Andreas saat tiba-tiba Winona datang menghampiri dirinya dan Andreas, sambil membawa tiga kotak suusu sapi segar yang masih dingin. “Ini untukmu,” ucapnya sambil memberikan sekotak susuu sapi rasa coklat untuk Andreas. “Dan ini untukmu,” sambungnya seraya memberikan sekotak susuu sapi rasa stroberinya untuk Calvin. “Thanks, honey,” gumam Andreas seraya meremas pelan b****g Winona yang walaupun tidak terlalu berisi, tapi masih bisa dia jadikan sebagai ‘pegangan’ kalau sedang ‘adu desahan’ dengannya. Winona mengecup bibir Andreas sekilas sebelum lanjut meminum sekotak susuu sapinya, “Sama-sama.” “Kenapa membelikanku susuu stroberi? Memangnya susuu putihnya sudah habis?” tanya Calvin usai memperhatikan sekotak susuunya untuk sejenak. “Bukan aku yang membelikan kalian susuu ini, tapi pak fotografer. Katanya supaya kita ada tenaga buat pemotretan nanti,” jawab Winona, yang sedang duduk manja di atas paha kiri Andreas sambil meminum susuunya. “Dan ’susuu putihnya’ tidak ada, Calvin, soalnya sudah aku ‘sedot’ sampai habis tadi. Tanya saja sama Andreas,” rayunya seraya memainkan jari-jari lentiknya yang dicat menggunakan cat kuku warna putih itu di garis rahang Andreas yang terpahat tajam. Andreas menyeringai nakal. “Hmm kalau yang keluar dari dalam ‘junior-ku’ itu namanya bukan susuu putih sayang, tapi ‘mayones’,” ucapnya sambil melingkari satu tangannya di pinggang Winona yang ramping. Calvin memukul dahinya sendiri dengan raut frustrasi. “Bukan itu yang aku maksud …,” gumamnya yang mulai merasa tak tahan dengan ‘obrolan dewasa’ Andreas dan Winona. “Mungkin lain kali kita bisa coba ‘main bertiga’?” ajak Winona sambil mengusap pelan tempurung lutut Calvin. Dia lanjut bicara pada Andreas, “Bagaimana, Andreas? Kamu mau kan ‘berbagi desahan’ dengan Calvin?” Tentu saja Andreas dengan amat senang hati menerima ajakan gila tersebut. “Tentu, sayang,” tuturnya sambil meremas pelan satu gundukan kembar milik Winona dari samping. Calvin memutar bola matanya. “Oh, God, damn it, aku tidak suka threesome. Apalagi dengan temanku sendiri. Aku tidak suka berbagi pasangan,” tolaknya. “Come on, Calvin, pasti seru rasanya,” ajak Winona dengan sorot menggodanya. “Coba bayangkan, aku ‘hisap junior-mu’, sementara Andreas ‘memasukiku’ dari belakang.” Disingkirkannya tubuh Winona dengan perlahan dari atas pangkuan pahanya. “Tinggalkan kami berdua dulu, sayang. Kehadiranmu malah membuat ‘sosisku’ jadi makin tegang di bawah sini,” pinta Andreas seraya menggoda Winona. “Okay. Jangan lupa kita ada pemotretan bersama setelah ini,” ucap Winona, yang sebelum beranjak pergi bokongnya sempat dipukul satu kali oleh Andreas. “Kamu nakal. Nanti saja pukulnya, sayang,” sambungnya sambil mengusap pelan bokongnya yang sedikit memerah. Andreas hanya tersenyum. “Aku suka dengan sikapnya yang liar,” gumamnya pada Calvin. “No, tubuhnya kurang sexy dan kurang ‘bervolume’ buatku,” komentar Calvin seraya menggelengkan kepalanya. “Tapi ‘miliknya’ sempit,” gurau Andreas usai mengedipkan satu matanya. “Omong-omong, sampai mana pembicaraan kita tadi?” “Entahlah, Andreas,” ujar Calvin sambil menaikkan kedua bahunya yang lebar. “Otakku sudah tercemar akibat ‘obrolan mesummu’ dengan Winona barusan.” Dia terdiam sejenak untuk berpikir. “Oh, aku ingat. Memangnya Laura secantik apa sampai-sampai bisa membuatmu jatuh hati sekilat ini?” tanya Andreas yang merasa amat penasaran dengan sosok Laura. “Laura Danita tidak hanya cantik menurutku, tapi dia juga unik dan berbeda jika disandingkan dengan perempuan-perempuan lain yang sudah pernah aku kencani sebelumnya,” kata Calvin sambil menunjukkan senyumnya yang rupawan. “Mungkin itu yang membuatku jadi merasa begitu tertarik dengannya. Aku mau ‘menyelami’ kepribadiannya lebih jauh, bro.” “Hmm aku paham,” gumam Andreas sambil mengangguk dengan pelan. “By the way, aplikasi kencan online apa yang kamu pakai sampai-sampai bisa bertemu dengan perempuan semenarik Laura? Aku juga mau coba,” tanyanya. “Buat apa? Kan kamu sudah punya Winona?” tanya Calvin balik. “Kan aku sudah bilang, kami cuma ‘friends with benefit’. Aku tidak akan pernah menjadikannya sebagai kekasihku apalagi menikahinya,” sanggah Andreas. “Oh, man, kamu terlalu banyak punya teman ‘FWB’ sampai aku lupa mana yang benar-benar tulus kamu sukai dan mana yang cuma sekadar teman ranjangmu saja,” canda Calvin. Dia meraih ponselnya lalu menunjukkan aplikasi kencan online yang mempertemukannya dengan Laura pada Andreas, “Ini aplikasinya. Namanya ‘Lovely Cupid’.” “Baiklah, aku akan coba mengunduhnya nanti. Siapa tahu kan aku bertemu dengan perempuan yang seperti Laura juga?” Calvin hanya tersenyum. **Sorenya** Waktu menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit saat Laura sedang menyantap sepotong sandwhich—hasil dari pengunjung restoran yang salah pesan makanan dan ujung-ujungnya malah tidak dimakan sama sekali—di pantry restoran cepat saji tempatnya kerja paruh waktu. Tiba-tiba Rey datang menghampirinya dan mengambil sepotong sandwhich-nya. “Jangan kebanyakan makan, Laura, nanti saja dengan Calvin,” perintahnya. “Lebih baik sandwhich-nya buat aku saja,” imbuhnya lalu membuka mulutnya, hendak memakan sandwhich tersebut. “Ah, sini! Enak saja!” celoteh Laura yang dengan cekatan mengambil sandwhich itu lagi. “Memangnya kamu tahu darimana kalau Calvin akan mengajakku makan bersama?” tanyanya skeptis. “Dari sini,” jawab Rey sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri. “Hatiku berkata kalau Calvin akan mengajakmu dinner, lalu menyatakan perasaannya padamu.” Laura hanya terdiam lalu mulai memakan sandwhich-nya kembali. Rey lanjut bertanya, “Kalau Calvin bilang dia suka padamu, apa kamu mau menerimanya untuk jadi kekasihmu?” “Hmm … Mungkin?” jawab Laura ragu-ragu. Tenggorokan Rey yang terasa mual seketika menghentikan bibirnya yang sebenarnya masih mau bicara dengan Laura. “Aku ke kamar mandi dulu, ya, mau muntah,” pamitnya sambil mengernyitkan dahinya. “Jangan-jangan kamu sedang mengandung anaknya Kaivan?” tanya Laura terkejut. Rey menggeleng, “Tidak mungkin, kami kan selalu pakai ‘pengaman’.” Belum ada dua menit, Rey malah kembali lagi menghampiri Laura, yang masih asik menyantap sandwhich-nya sendirian. “Prince charming-mu sudah datang tuh,” katanya. “Serius?!” teriak Laura sambil meletakkan sepotong sandwhich-nya ke atas piring. Kelar membersihkan tangannya dan merapihkan baju serta rambutnya yang agak berantakan, dia menghampiri Calvin—yang sedang duduk sendirian sambil memperhatikan layar ponselnya. “Calvin?” panggilnya. Pandangannya langsung teralihkan sepenuhnya pada Laura begitu dia mendengar suaranya yang lembut. “Hai,” sapanya ramah. “Cepat sekali sudah sampai? Padahal kan belum ada jam enam?” ucap Laura heran. “Aku takut kena macet,” jawab Calvin sambil tersenyum lebar. “Sudah siap? Mobilku sudah menunggu kita di depan.” Laura mengangguk, “Aku siap-siap dulu sebentar.” Dia kembali bertanya sesampainya di dalam mobil tesla hitam milik Calvin, “Kita mau ke mana?” “Kamu punya ide?” kata Calvin seraya menyalakan mobilnya. “Tidak tahu … Bingung.” “Mau ke Grand Paradise Mall lagi?” ajak Calvin. “Kamu tidak salah mengajakku ke tempat mahal itu dengan pakaian seperti ini?” sarkas Laura sambil tersenyum miring. “Aku masih pakai pakaian pelayan restoran begini, sementara kamu berpakaian necis seperti itu. Kalau kita jalan bersama ke sana, yang ada nanti aku dikira ajudan pribadimu.” Dahi mulus Calvin langsung mengernyit. “Mereka boleh mengira seperti itu. Tapi tak lama lagi, kamu akan segera jadi ratuku, Laura,” ucapnya—yang lagi-lagi memberikan kode pada Laura kalau dia sudah jatuh hati padanya. Namun rupanya perkataan itu belum cukup bisa membuat hati Laura meleleh. Malah kalau isi kepalanya bisa bicara, sekarang yang ada dalam pikirannya adalah soal apa yang mau dia santap setelah ini. Dia terdiam sejenak untuk berpikir lalu lanjut bicara, “Aku mau makan masakan India. Menurutmu bagaimana?” “Hmm masakan India boleh juga,” kata Calvin sambil mengangguk dengan pelan. Dia beralih menatap Laura, yang sedang duduk di sampingnya, sekilas, “Habis itu temani aku ke supermarket, ya? Aku mau beli beer.” Laura hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Begitu sampai di restoran Little India House itu, tubuh Laura tertegun kaku saat melihat harga makanan yang tidak biasa. Tapi Laura masih bisa maklum kali ini, karena kemungkinan besar harga makanannya jadi mahal karena bahan-bahannya harus diekspor langsung dari negara asalnya. “Kita bayar sendiri-sendiri atau …?” tanyanya—mencoba memastikan sebelum dia memutuskan untuk memesan makanannya. “Menurutmu?” tanya Calvin balik, sambil tersenyum dan meraih tangan kanan Laura. “Ehh .. kalau memang harus bayar sendiri-sendiri, aku tidak jadi makan di sini deh. Kita ke McDonalds saja, bagaimana?” jawab Laura kikuk. Calvin tersenyum lebar. “Biar aku yang menraktirmu lagi,” tenangnya sambil mengusap pelan punggung tangan kanan Laura. “Tidak usah, tidak apa-apa kalau kamu memang tidak mau,” tegas Laura. “Aku juga tidak lama lagi akan segera gajian kok,” bohongnya, padahal tiga minggu lagi dia baru akan menerima gajinya kembali. “It’s okay, Laura,” kata Calvin. “Aku tidak keberatan.” “Thanks, Calvin,” tutur Laura seraya tersenyum. Selesai menghabiskan hampir satu jam waktunya untuk makan malam bersama di restoran India tersebut, Calvin mengajak Laura berkunjung ke supermarket sebentar, yang letaknya persis di samping restoran itu. “Kamu suka beer rasa apa?” tanya Calvin, yang sedang berdiri di depan jejeran beer dan minuman beralkohol yang tersusun rapih di hadapannya. “Ini,” jawab Laura sambil mengambil sekaleng beer rasa cranberry. Dia mengeluarkan dompetnya sesampainya di kasir. “Biar aku bayar beer-ku sendiri,” katanya. “Okay.” Calvin beranjak mengambil sebuah permen karet penyegar mulut lalu memasukkannya ke dalam daftar belanjaan yang harus dibayarnya. “Kamu suka makan permen karet?” tanya Laura. “Iya. Apalagi kita habis makan masakan India yang bumbu rempahnya kuat. Aku tidak mau mencium bibirmu dalam keadaan mulut bau rempah,” rayu Calvin. “Kalau begitu lebih baik kita tidak usah ciuman saja,” saran Laura seraya tersenyum miring. “Tidak bisa,” tolak Calvin seraya menggeleng. Dia lanjut bicara sambil merangkul pundak Laura yang sempit, “Bahkan aku sangat ingin menciummu sekarang, Laura.” Laura hanya tersenyum kikuk sambil melepas rangkulan tangan Calvin dari pundaknya dengan pelan. Sisa hari itu Calvin habiskan dengan mengajak Laura berkencan di dalam mobilnya, sambil menikmati indahnya pemandangan bulan purnama dan meminum sekaleng beer. Dia sudah tidak sabar kalau harus disuruh menunggu untuk lebih lama lagi. Kala sekaleng beer-nya sudah habis dia minum, dia langsung meletakkan kaleng kosongnya ke atas dashboard mobilnya, lalu beralih menatapi paras cantik perempuan yang sedang duduk di sampingnya. Dia menelan ludahnya dengan kasar. “Laura?” panggil Calvin sambil mengusap pelan paha mulus Laura yang tertutup celana panjang warna hitamnya. “Maukah kamu jadi …” Belum sempat Calvin menyelesaikan ucapannya, Laura sudah keburu angkat bicara duluan sambil mengangguk dengan semangat. “Iya! Aku mau jadi kekasihmu, Calvin,” jawabnya. Ternyata ‘ramalan’ Rey tadi benar adanya.   ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม