Perasaaan aneh itu menggerayangi benak Laura. Meskipun hatinya tak sejalan dengan pikirannya, tapi dia langsung mengangguk setuju saat Calvin Palmer, yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya, berkata kalau dia ingin menjadikannya sebagai kekasihnya.
Sejak dalam perjalanan menuju restoran Little India House tadi, Laura memang sudah memikirkan semuanya matang-matang. Sungguh t***l rasanya kalau Laura menolak Calvin, apalagi dengan semua uang yang dia punya, yang mana Laura yakin sekali kalau dilihat dari penampilannya saja Calvin itu bukan laki-laki sembarangan.
Usia Laura juga sudah dua puluh empat tahun. Ya, masih sangat muda memang, tapi kadang dia berpikir kalau apa yang dikatakan Rey padanya waktu itu memang benar adanya. Laura perlu melakukan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Jadi apa salahnya mencoba menjadi kekasih hati seorang Calvin Palmer?
Walaupun jauh dalam lubuk hatinya, intensi Laura menerima Calvin sedikit banyak dipengaruhi karena dompet dan tampangnya, tapi mungkin saja kan itu semua bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu?
“Damn, Laura,” gumam Calvin bahagia, yang sangkin merasa senangnya senyumnya terlihat begitu sumringah. “Jadi sekarang kamu sudah resmi jadi kekasihku?”
“Iya,” ucap Laura seraya mengangguk dan tersenyum.
“Apa yang membuatmu langsung mengangguk tadi, hm?” tanya Calvin lagi sambil mengusap pelan pipi Laura dengan ibu jarinya.
“Karena aku tahu tidak mungkin kan kamu bilang ‘Maukah kamu jadi adikku?’ Itu cuma omong kosong saja, Calvin,” jawab Laura kelar meminum sekaleng beer cranberry-nya.
“Yeah, kamu benar, babe.”
Laura menggeleng dengan pelan seraya sedikit mengerutkan dahinya yang mulus. “Jangan memanggilku dengan sebutan ‘babe’, ‘baby’ atau ‘honey’. Cukup panggil aku Laura saja,” perintahnya yang terlihat agak risih.
“Kamu benar-benar perempuan yang berbeda, Laura, dan aku sangat menyukainya. Aku senang bisa bertemu denganmu lewat aplikasi kencan online itu,” puji Calvin. “Padahal dulu mantan kekasihku paling suka setiap kali aku memanggilnya dengan sebutan ‘babe’,” sambungnya sambil menyisir pelan rambut tebal Laura yang dia gerai dengan bebas.
“Aku tidak suka dipanggil ‘babe’, karena aku bukan mantan kekasihmu,” debat Laura serius.
“Okay,” ucap Calvin sambil tersenyum. Dia mendaratkan bibirnya ke atas dahi Laura yang mulus itu selama dua detik, “Aku hargai keputusanmu, Laura.” Calvin lanjut mengambil sebotol permen karet rasa buah-buahan dari dalam kantong belanjaannya lalu memberikannya pada Laura. “Kamu mau?” tawarnya.
“Minum beer sambil makan permen karet?” ujar Laura seraya tersenyum geli. Diambilnya sebuah permen karet dari dalam botolnya. “Keren juga. Thanks,” imbuhnya.
“Sama-sama,” tutur Calvin usai mengambil sebuah permen karet untuk dirinya sendiri lalu mulai mengunyahnya.
“Mau sampai kapan kita duduk di sini?” tanya Laura sambil menatapi indahnya bulan purnama yang sedang bersinar dari balik kaca mobil tesla hitam milik Calvin.
“Aku tak tahu,” jawab Calvin sambil meletakkan tangan kirinya ke atas paha Laura, lalu mulai mengusap-usapnya dengan pelan. Sepasang maniknya, yang tadinya ikut bersama dengan Laura menatapi terangnya sinar bulan purnama, beralih menuju paras Laura yang cantik.
Selama lima detik lamanya keduanya hanya saling tatap. Calvin meraih sekaleng beer yang isinya sudah habis itu dari tangan kanan Laura, lalu diletakkannya ke atas dashboard mobilnya. Tubuhnya bergerak semakin dekat, menghapus jarak yang memisahkan tubuhnya dengan tubuh Laura—tanpa sedetik pun melepas pandangannya dari wajah Laura.
Ketika jarak itu sudah terhapus, Calvin dan Laura bisa merasakan hangatnya hembusan nafas masing-masing yang dihiasi aroma segar buah-buahan dari permen karet yang sedang disantap keduanya. Calvin menangkupkan wajah Laura dengan satu tangannya, dan tanpa menunggu lama, dia mendaratkan bibirnya ke atas bibir Laura yang ternyata sangat halus—sama halusnya seperti helaian rambutnya.
Laura menutup kedua matanya dengan pelan, sama seperti Calvin yang sudah terlebih dulu memejamkan sepasang manik hazel-nya. Satu tangan Calvin yang tadinya hanya diam di tempatnya, mulai ikut bergerak untuk meremas pelan pundak Laura yang sempit. Gigi Calvin yang rapih dan putih itu dengan amat perlahan menggigit bibir bawah Laura, membuatnya sedikit mengerang dan membuka mulutnya—yang mana momen itu langsung dimanfaatkan oleh Calvin untuk menyelusupkan indera pengecapnya ke dalam sana.
Selagi lidah Calvin bergerak untuk mengeksplor mulut Laura, satu tangannya yang tadinya terus meremas pelan pundak Laura perlahan mulai turun ke bawah, berganti meremas pahanya dengan remasan yang mulai dipenuhi oleh nafsu.
Dan dengan sigap Laura langsung menghentikan Calvin serta ciuman bergairahnya sebelum semuanya terlambat.
“Stop,” cegat Laura sambil sedikit mendorong tubuh Calvin ke belakang agar menjauh darinya.
Ditatapnya Laura dengan sorot menyesal. “Maaf, maafkan aku, Laura. Aku terlalu terbawa suasana,” lirih Calvin.
Laura menggeleng dengan pelan. “Tidak apa-apa, Calvin,” gumamnya seraya tersenyum tipis.
“Mulutku masih bau rempah, ya?” tanya Calvin khawatir.
“Tidak kok. Wangi buah-buahan malah.”
Dia menghela napas lega. “Syukurlah … Aku kira napasku membuatmu jijik,” aku Calvin.
“Tidak sama sekali,” sanggah Laura seraya menggeleng.
Dia terdiam sejenak untuk berpikir. “Kamu tidak mau berciinta dulu sebelum kita menikah?” tanya Calvin penasaran.
“Me … Menikah?” ujar Laura seraya tersenyum miring. “Kamu terlalu visioner, Calvin. Bahkan belum ada satu jam kita jadi sepasang kekasih. Kamu yakin mau menikah denganku?”
Dicubitnya pipi mulus Laura. “Maksudku tidak sekarang, Laura, tapi nanti,” ujar Calvin.
Dihelanya nafas panjang untuk sesaat sambil menatapi lapangan parkir luas tempat Calvin memarkir mobil tesla hitamnya. “Aku sedang tidak berpikir atau punya keinginan untuk berciinta. Tapi bukan karena aku tidak mau, hanya saja aku sedang tidak ingin,” ucap Laura serius.
Diciumnya bibir Laura selama lima detik lamanya. “Aku akan menunggumu,” gumam Calvin sambil mengusap pelan bibir Laura dengan ibu jarinya.
Laura hanya tersenyum. Demi menghilangkan rasa kikuk yang masih melayang-layang di atas kepalanya dan kepala Calvin, Laura lanjut mengambil sebuah majalah bergambar close-up wajah seorang laki-laki, yang sengaja diselipkan Calvin di pintu mobilnya. “Luxe Model Management?” tanya Laura bingung.
“Itu agensi model yang menaungiku,” jawab Calvin seraya tersenyum. Dia lanjut bicara, “Tapi sebenarnya modelling cuma aku jadikan sebagai hobi, bukan sebagai pekerjaan tetap.”
“Jadi kamu punya kerjaan lain selain sebagai model?” tanya Laura sambil menatap Calvin terkejut.
Dia mengangguk. “Ayahku mewarisiku sebuah perusahaan keluarga, Laura, namanya Palmer and Co. Aku yang akan ditunjuk buat jadi CEO-nya, tapi aku malas sekali dengan yang namanya kerja kantoran. Aku kurang suka dengan budaya korporat yang agak kaku menurutku,” jelas Calvin.
‘Sial, jadi Calvin calon pemilik perusahaan? Memang tidak salah aku mengikuti intuisiku untuk menerima cintanya,’ ucap Laura dalam hati. “Terus bagaimana dengan nasib perusahaanmu kalau kamu tidak mau jadi CEO-nya?” tanyanya yang semakin merasa tertarik.
“Untuk sekarang aku aman, karena ayahku masih sehat. Tapi nanti … entahlah, aku masih bimbang. Kita lihat saja ke mana takdir akan membawaku,” jawab Calvin.
“Memangnya kamu tidak punya saudara?” tanya Laura lagi.
“Aku anak tunggal. Kalau aku punya, aku pasti sudah menyuruhnya buat menggantikan posisiku.”
“Okay,” gumam Laura sambil mengangguk dengan pelan. Dia lanjut melihat-lihat isi majalah tersebut—yang ternyata adalah kumpulan foto portofolio dan biodata singkat model yang bernaung di bawah agensi Luxe Model Management. “Jadi aku bisa booking model-model yang ada di majalah ini dong?” tanya Laura sambil menatapi foto seorang model perempuan berambut hitam dan berkulit coklat yang eksotis.
“Bisa,” jawab Calvin sambil mengangguk. “Di halaman belakang ada nomor telepon yang bisa kamu hubungi, tapi, yeah, tergantung apa tujuan kamu mau booking model-model itu. Harga yang ditawarkan pasti berbeda-beda, tergantung kamu mau memakai jasanya untuk apa. Misalkan untuk photoshoot biasa atau untuk keperluan fashion show,” jelasnya. Dia lanjut menggoda Laura, “Dan tentu saja kamu tidak bisa memakai jasanya untuk ‘memuaskanmu’, karena ini model management, bukannya rumah brothel.”
Laura tersenyum geli. “Aku bahkan tidak berpikir sampai ke sana loh,” katanya.
“Aku bisa berkata begitu karena kadang ada beberapa orang yang berpikir demikian,” ujar Calvin ramah.
Dibukanya kembali halaman demi halaman majalah tersebut. Fokus Laura tiba-tiba teralihkan sepenuhnya pada foto wajah seorang laki-laki bermata campuran biru dan hijau yang begitu indah. “Andreas … Matanya bagus,” puji Laura. “Dia pasti bukan orang Indonesia,” imbuhnya.
Calvin menggeleng. “Bukan, dia keturunan Yunani-Swiss, tapi lahir di Korea. Dia temanku, Laura,” ucapnya.
“Ah, begitu,” kata Laura acuh tak acuh. Dia memang masih menganggap Andreas sebagai angin lalu … Setidaknya untuk saat itu. Laura lanjut bicara usai melihat-lihat majalah itu sampai habis. “Boleh antarkan aku pulang sekarang? Aku mulai ngantuk,” pintanya.
Calvin hanya tersenyum seraya mengangguk. Dia lanjut bicara lagi sambil menyetir mobilnya. “Laura? Boleh katakan pada Rey untuk segera menghapus foto dan profilmu dari aplikasi kencan online itu?” pintanya.
Laura mengangguk. “Oke. Kenapa memangnya? Aku juga tidak pernah memainkannya kok. Aplikasinya saja ada di ponselnya Rey,” jelasnya.
“Aku tahu. Tapi kan sekarang kamu sudah jadi kekasihku,” ujar Calvin dengan sorot kasmaran.
“Ah, iya juga sih …,” gumam Laura kikuk.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat mobil Calvin tiba di depan halaman rumah Laura. “Maafkan aku soal ciuman kita tadi,” kata Calvin usai mematikan mobilnya. Dia lanjut bicara sambil menatap Laura serius, “Jujur, kamu sempat membuatku jadi h***y tadi, Laura. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diriku.”
Sepasang manik milik Laura sedikit terbelalak lebar. “Bahkan hanya dengan berciuman denganku?” tanyanya kaget.
“Bisa dibilang mungkin karena aku juga sangat tertarik padamu.” Calvin langsung menggeleng, tidak mau memancing batang beruratnya untuk bangun dari tidurnya. “Kita sudah sampai,” ucapnya. Dia mengecup bibir Laura sekilas, “Selamat malam, Laura.”
“Selamat malam, Calvin. Hati-hati di jalan,” tutup Laura.
*****
Besok sorenya, kelar bekerja di firma hukum milik Kaivan, Laura memutuskan untuk mengajak Rey ketemuan sebentar di sebuah kedai kopi. “Kaivan tidak menanyakan soalku, kan?” tanya Rey yang terlihat agak sedikit was-was.
“Tidak, dia sangat sibuk hari ini, jadi tidak sempat bicara denganku,” jawabnya. Laura lanjut bicara sambil menatap Rey curiga, “Memangnya kamu mau ke mana sih? Kok berpakaian rapih begini? Pasti mau kencan buta dengan cowok-cowok online-mu, ya?”
“Bukan, bukan kencan,” sanggah Rey sambil menggeleng. “Ada satu cowok yang mau mengajakku makan malam bersama. Tapi aku sudah bilang padanya kok kalau aku sudah punya pacar dan memakai aplikasi itu untuk cari teman makan saja.”
“Dasar playgirl. Saranku, jangan sampai kamu selingkuhi Kaivan, dia laki-laki yang baik,” ucap Laura sambil bergurau.
Rey langsung mengangguk, “Pasti. Tapi aku tidak mungkin kan bilang padanya kalau aku mau pergi makan bersama dengan laki-laki lain? Bisa-bisa kepalaku dipenggal. Padahal aku cuma mau traktiran saja kok, tidak lebih.” Dia lanjut bertanya, “Terus? Bagaimana kencanmu dengan Calvin kemarin? Aku tebak, kalian pasti sudah ciuman.”
“Memang,” jawab Laura sambil mengangguk. “Oh, dan dia bilang supaya kamu menghapus foto dan profilku dari aplikasi kencan online itu.”
“Ah, jadi dia tipe cowok yang posesif, ya?” goda Rey.
Laura hanya memutar bola matanya.
“Okay, aku hapus foto dan profilmu sekarang,” ucap Rey sambil menatapi layar ponselnya.
“Siapa nama cowok yang mau mengajakmu makan malam hari ini?” tanya Laura penasaran.
Rey menatap paras cantik kawannya kembali, “Andreas … Duh, Andreas siapa, ya? Aku tidak ingat nama belakangnya. Susah.”
“Oh, Andreas,” gumam Laura. ‘Paling-paling cuma kebetulan. Mungkin ini Andreas yang lain, bukan Andreas yang aku lihat di majalah kemarin,’ katanya dalam hati.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥