Terus terang, usai tidak sengaja melihat-lihat foto portofolio model di majalah ‘Luxe Model Management’ itu, Laura jadi dibuat penasaran dengan siapa sosok Andreas sebenarnya. Sepasang maniknya yang berwarna campuran biru kehijauan itu seolah-olah menghipnotisnya, membawanya masuk ke dalam dimensi lain yang terasa ‘mistik’ namun memikat.
‘Hanya penasaran’, ucap Laura yang terus mencoba untuk meyakinkan batinnya. ‘Tidak mungkin aku jatuh hati padanya secepat itu. Sama seperti Calvin, yang meskipun sudah resmi jadi kekasihku, tapi sungguh, rasa-rasanya dia belum bisa mengambil hatiku sepenuhnya.’
Dia lanjut bertanya pada Rey dengan sorotnya yang terlihat begitu penasaran, “Memangnya apa sih nama aplikasi kencan online itu?”
“Lovely Cupid,” jawab Rey yang terlihat begitu berbunga-bunga karena tak lama lagi dirinya akan mendapat traktiran gratis.
“Itu aplikasi kencan online yang sama yang mempertemukan aku dengan Calvin?” tanya Laura lagi.
Rey mengangguk, “Iya. Memang itu aplikasi kencan online yang paling hits saat ini, Laura.” Dia terdiam sejenak selama dua detik sebelum akhirnya lanjut menggoda Laura, “Hmm jangan bilang kamu mau coba mengunduhnya? Dasar playgirl. Kamu kan sudah punya Calvin.”
“Ah, dasar. Kamu juga, sudah punya Kaivan tapi malah masih main aplikasi seperti ini. Kaivan juga pasti tidak tahu kan kalau kamu mengunduh aplikasi kencan online di ponselmu? Makanya kamu terus-terusan mengganti password ponselmu,” debat Laura seraya tersenyum.
“Shh .. diam-diam saja, ya?” bisik Rey. “Serius deh, aku mengunduh aplikasi ini bukan untuk mencari kekasih baru apalagi seligkuhan, tapi sekadar hanya untuk mencari laki-laki yang bisa menraktirku secara cuma-cuma saja.”
“Kalau cuma mau ditraktir, kenapa tidak minta sama Kaivan saja?” tanya Laura sambil sedikit memiringkan kepalanya ke samping.
“Aku tidak enak hati kalau terus-terusan minta ditraktir sama Kaivan,” jawab Rey seraya sedikit mengerutkan dahinya.
Laura terdiam sejenak sebelum lanjut bicara. “Soal laki-laki bernama Andreas itu … Apa kamu kepikiran buat berciinta dengan dia?” tanyanya penasaran dengan mimik agak serius.
Rey langsung menggeleng. “Oh, come on. Tentu saja tidak, Laura,” jawabnya. “Aku kan sudah bilang padamu, tujuanku memakai aplikasi kencan online itu cuma untuk mencari teman makan, bukannya mencari teman ranjang alias ‘one night stand’. Kelar makan malam bersama nanti juga aku akan langsung meminta Andreas untuk mengantarku pulang.”
“Walaupun dia bersedia membayarmu?”
Rey menggeleng kembali. “Enak saja. Temanmu yang cantik dan baik hati ini bukan kupu-kupu malam, Laura Danita,” katanya serius.
“Kenapa? Memangnya kamu sudah cukup ‘puas’ dengan ‘punyanya’ Kaivan?” goda Laura.
“Tentu,” ucap Rey sambil mengangguk. “’Punyanya’ memang tidak terlalu panjang. Yeah, bisa dibilang ukuran ‘medium’ sih, tapi besar dan bisa membuatku mendesah di atas ranjang,” imbuhnya nakal.
Laura hanya tersenyum. Dihelanya nafas panjang untuk sejenak. Entah mengapa, begitu kalimat itu terlontar dari dalam mulut Rey, Laura merasa seperti ada sedikit rasa lega dalam dirinya. Ya, meskipun dia belum tahu juga apakah Andreas yang dimaksud Rey adalah Andreas yang sama seperti yang dia lihat di majalah ‘Luxe Model Management’ itu.
“Sudah mau jam enam,” sambung Rey sambil menatapi jam digital yang terpampang di layar ponselnya. Dia menghabiskan secangkir kopinya dengan cekatan lalu lanjut pamit pada Laura, “Aku pergi dulu, ya? Tidak akan lama kok.”
“Harusnya kamu izin dengan Kaivan, Rey, bukannya denganku,” tutur Laura seraya tersenyum geli.
“Nanti saja ah izinnya, kalau makanan traktirannya sudah masuk ke dalam perutku,” gurau Rey.
“Dah! Hati-hati di jalan!” timpal Laura sambil melambaikan tangan kanannya.
Sesudah menghabiskan secangkir kopinya, Laura memutuskan untuk berkunjung sebentar ke kamar mandi kedai kopi tersebut. Tidak hanya untuk membuang ‘sisa-sisa pencernaannya’ dan merapihkan rambutnya, tapi juga untuk melihat seperti apa rupa aplikasi kencan online bernama Lovely Cupid yang dimaksud Rey itu. Baru saja jarinya selesai mengetikkan kata Lovely Cupid di kolom pencarian, Calvin sudah keburu meneleponnya.
‘Sial, apa jangan-jangan dia tahu ya kalau aku mau mengunduh aplikasi ini?’ decak Laura dalam hati. Mau tidak mau dia menjawab panggilan masuk dari Calvin. “Halo?” sapanya.
“Hey, Laura. Kamu lagi apa?” tanya Calvin ramah.
“Aku lagi di kedai kopi. Kenapa, Calvin?”
“Sendirian?”
“Tadinya bersama dengan Rey, tapi dia sudah pergi duluan, jadi sekarang aku sendirian.”
“Mau aku temani?” tawar Calvin.
“Tidak usah,” tolak Laura sambil menggeleng. “Palingan juga sebentar lagi aku akan pulang.”
“Baiklah kalau begitu,” ujar Calvin sambil tersenyum. “Bagaimana harimu? Lancar?” tanyanya ramah.
“Ya, begitu deh. Seperti biasa—kerja, makan, tidur, cari uang.” Laura balik bertanya, “Kamu?”
“Jadi tidak sedetik pun kamu memikirkanku hari ini?” tanya Calvin yang nada bicaranya berubah jadi agak sedih.
Sepasang manik milik Laura langsung melebar. ‘Mampus,’ benaknya. “Ehh .. itu, bagaimana, ya? Mungkin karena aku keasikan kerja makanya aku jadi tidak sempat memikirkanmu,” jawabnya agak gelagapan.
Calvin tersenyum lebar, “Aku cuma bercanda, Laura. Tidak apa kalau kamu tidak sempat memikirkanmu, karena yang paling penting, kamu sudah jadi milikku.”
“Iya …,” gumam Laura kikuk.
“Buatku, hari ini berjalan istimewa. Selesai photoshoot tadi, aku sempat diskusi sebentar dengan ayahku soal perusahaan keluarga yang diwariskan padaku itu. Dan sepertinya ayahku mulai menghargai keputusanku yang tidak mau jadi ‘b***k korporat’,” jelas Calvin. “Tapi kamu tahu apa yang paling istimewa, Laura?”
“Tidak,” tutur Laura sambil menggeleng. “Apa?”
“Karena sekarang aku menjalani hariku dengan status sebagai kekasih hatimu,” rayu Calvin dengan sorot dan nada bicara penuh cinta.
Laura tersenyum tipis. “Ah, begitu …,” ucapnya agak acuh tak acuh. “Selamat deh kalau memang ayahmu bersedia untuk menghargai keputusanmu,” imbuhnya. “Aku hubungi kamu lagi nanti, ya? Aku mau jalan pulang dulu,” pamitnya—padahal sih aslinya Laura masih mau berdiam diri dulu sebentar di dalam kamar mandi untuk mencari tahu soal aplikasi kencan online itu.
“Okay. Hati-hati di jalan, Laura. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi,” tutup Calvin.
“Aku juga, Calvin,” ujar Laura, masih dengan senyum tipisnya. Panggilanpun terputus.
Jari-jari tangan Laura mulai beraksi kembali. Dan benar apa yang dibilang Rey tadi, aplikasi ini menduduki peringkat pertama di deretan aplikasi kencan online saat ini. Itu artinya popularitasnya maupun jumlah penggunanya begitu tinggi.
Dengan sorot gelisah bercampur bimbang, Laura menatapi layar digital ponselnya. “Coba download, apa tidak usah, ya?” gumamnya sambil menggigiti kuku ibu jarinya.
Sungguh aneh dan agak berdosa rasanya kalau Laura mengunduh aplikasi kencan online itu—padahal notabenenya, baru saja, belum ada lima menit dirinya teleponan dengan kekasih hatinya. Meskipun Laura tidak benar-benar serius dengan Calvin, tapi dia sebisa mungkin untuk tetap menjaga perasaan Calvin.
“Duh, mau download satu aplikasi saja kenapa bingung sekali ya, rasanya? Seperti mau pinjam uang ke rentenir saja,” kata Laura jengkel.
Tapi pada akhirnya ibu jari Laura lebih memilih untuk menekan tombol unduh aplikasi kencan online tersebut. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Sebodo amat deh, cuma unduh dan lihat-lihat saja kok. Lagipula aku juga tidak serius dengan Calvin,” akunya.
Selagi menunggu aplikasi kencan online itu sampai selesai diunduh, Laura dengan cerobohnya meletakkan ponselnya di dekat tombol flush WC—karena dia hendak mengambil tissue untuk membersihkan daerah intimnya. Sialnya, usai membersihkan daerah lipatan sempitnya di bawah sana dan mencuci tangannya menggunakan sabun dan keran shower, Laura yang tangannya masih licin dan hendak mengambil ponselnya kembali, malah menjatuhkan ponselnya secara tidak sengaja ke dalam WC.
“Ah, sial!” teriaknya histeris. Tubuhnya sedikit merinding karena jijik. Selama hampir lima belas detik lamanya, dengan gelisah dia mencari cara untuk mengambil ponselnya kembali, yang layarnya pun sudah terendam air jamban semua.
Dengan amat sangat terpaksa, Laura mengambil ponselnya yang tercemplung ke dalam WC itu menggunakan tangan telanjang. Bayang-bayang akan ‘kotoran’ siapa saja yang sudah sempat masuk ke dalam WC itu, membuat Laura hampir saja muntah saat akhirnya dirinya berhasil meraih ponselnya kembali. Dengan cekatan, Laura merapihkan kembali seluruh pakaian dan barang bawaannya, mengambil berlembar-lembar tissue untuk membalut sekaligus membawa ponselnya, lalu keluar dan duduk kembali di tempatnya dan Rey duduk semula.
“Sial, apa-apaan sih ini?” celoteh Laura sambil membersihkan ponselnya dengan tiga lembar tissue basah, lalu menyemprotkannya dengan cairan pembersih tangan sebanyak mungkin.
Dia lalu mencoba menyalakan ponselnya kembali, namun sayangnya ponselnya sudah tinggal nama. Laura menghela nafas panjang dengan raut wajahnya yang penuh dengan rasa kesal sekaligus sedih. “Aduh, bagaimana ini? Kalau ponselku rusak, aku sedang tidak ada biaya buat memperbaikinya apalagi buat beli yang baru …,” gerutunya, walaupun dia tahu kalau usia ponselnya memang sudah lumayan ‘renta’ dan harus segera diganti dengan yang baru.
Tapi selama masih bisa berfungsi, buat apa beli yang baru? Iya, kan?
Laura yang sudah menyerah usai mengutak-atik ponselnya dan mencoba untuk menyalakannya kembali, akhirnya hanya bisa terdiam sambil menatapi layar ponselnya yang sudah benar-benar mati. Pikirannya lalu membawanya kembali pada Calvin. “Apa jangan-jangan aku kena ‘kutukan’, ya, karena mengunduh aplikasi kencan online itu?” pikirnya.
**Keesokan harinya, di kantor firma hukum Kaivan**
“Aku coba hubungi kamu berkali-kali tadi pagi, tapi ponselmu malah mati. Kamu ganti nomor?” tanya Kaivan bingung.
“Tidak,” jawab Laura sambil menggeleng dengan lemah. “Ponselku jatuh ke dalam WC kemarin dan tidak bisa dinyalakan sampai sekarang.”
“Astaga,” ucap Kaivan dengan sorot agak jijik. “Sudah coba direndam di dalam tumpukan beras? Atau dikeringkan pakai hair-dryer?” sarannya.
“Semua cara sudah aku coba, tapi tetap saja dia tidak mau nyala,” lirih Laura. “Sepertinya aku memang harus segera beli ponsel baru.” Dia lanjut bertanya, “Memangnya kenapa kamu menghubungiku tadi pagi?”
“Tadinya aku mau minta bantuanmu buat memfotokopi beberapa lembar surat tanah, tapi tidak jadi soalnya mesin fotokopi kita tiba-tiba nyala lagi,” jelas Kaivan.
“Syukurlah … Maaf, ya,” kata Laura.
Kaivan menggeleng seraya tersenyum, “Tidak apa-apa.”
“Laura!!”
Keduanya langsung menoleh begitu mendengar suara teriakan Rey yang amat menggelegar. Kaivan tersenyum lebar begitu melihat kedatangan kekasih hatinya. “Hai, sayang,” sapanya sambil merangkul pinggang Rey.
“Nanti dulu, sayang, aku mau bicara dulu dengan Laura,” ucap Rey usai mencium bibir Kaivan sekilas lalu melepas rangkulannya.
“Kamu tidak kerja? Kok malah datang ke sini?” tanya Laura pada Rey dengan tatapan heran.
“Aku ambil shift sore hari ini,” jawab Rey yang terlihat sedikit tergesa-gesa. “Kalian tidak sedang sibuk ‘kan?”
Laura dan Kaivan hanya menggeleng di saat yang bersamaan.
Dia lanjut meraih pergelangan tangan kanan Laura lalu mengajaknya ngobrol bersama secara empat mata. “Aku boleh ajak Laura makan siang duluan kan? Penting, sayang,” pinta Rey pada kekasihnya.
“Ehh .. Tapi kan sekarang baru jam setengah dua belas,” tutur Kaivan. Tapi pada akhirnya dia mengalah juga demi kekasih hati kesayangannya. “Ya sudah deh, tapi aku boleh ikut kan?”
“Nanti malam saja, ya, sayang. Aku kasih ‘jatah’ deh,” ucap Rey sambil tersenyum nakal.
“Oke,” kata Kaivan seraya menyeringai.
Dibawanya Laura keluar gedung firma hukum itu sambil terus menggandeng pergelangan tangan kanannya. “Lepas, ah. Sakit tahu!” cetus Laura sambil melepas kasar tangannya dari cengkeraman tangan Rey. “Memangnya ada apa sih? Kamu seperti orang yang lagi dikejar-kejar hantu saja,” lanjutnya sambil mengusap-usap pergelangan tangan kanannya.
“Calvin, Laura! Barusan chef Ronald sempat menghubungiku, katanya tadi pagi dia datang ke restoran tempat kita kerja cuma buat mencari dan menanyakan soal dirimu!” jawab Rey heboh.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥