“Kenapa kamu ngomong gitu? Siapa yang bisa menilai seseorang itu pantas atau tidaknya? Tenang saja. Pelan-pelan akan aku buktikan ke kamu,” Kata Reas sekali lagi. Perkataannya itu tepat mengenai hati Ara. Dia terenyuh mendengarnya. Hatinya benar-benar tersentuh karena perkataan Reas tentang tidak ada seseorang yang bisa menilai tentang kepantasan dari seseorang. “ . . . ” Jujur gua nggak tahu harus gimana lagi. Otak gua blank dan nggak bisa mikir apa pun. Tapi, perkataannya barusan membuat sedikit dari Sebagian diri gua yang merasa kalau sebenarnya, mungkin saja gua memang pantas untuk mencintai dan dicintai. Tapi gua takut dan merasa kalau hal seperti itu tidak pantas untuk gua dapatkan. “Yah sudah. Istirahat gih. Nanti kalau aku kirim pesan atau telpon diangkat yah. Byee.” “Aah, iyah.

