Rumah mertua

1215 คำ
“Eegghh” Syana menggeliat pelan dalam tidurnya. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan membuat dia enggan membuka mata bahkan mencari posisi ternyaman dengan mendekat ke sumber hangat di dekatnya. Memeluk guling yang biasa menemaninya tidur. Menit kemudian Syana merasa ada yang aneh dengan gulingnya. Meraba-raba dan perlahan membuka mata. Detik kemudian dia tersenyum saat pandangannya menangkap wajah tampan cowok yang berhasil memenuhi hatinya. Tak berselang lama, matanya kini menatap slimut yang membungkus tubuhnya, slimut yang berbeda dengan yang biasanya dia pakai. Aroma pewanginya juga berbeda dengan yang biasa dipakai bibi, membuat Syana bangun dari tidurnya dan menatap sekeling. “Ini dimana ? bukan kamarku.?” Gumam Syana. “Ini kamar gue.” Jawab Gibran, membuat Syana beringsut dan menatap suami tampannya yang kini tengah bersandar dengan senyum manisnya. Tak lupa rambut acak-acakkan menambah ketampanannya. “Sejak kapan kamu bangun.?” Tanya Syana. “Dari tadi, bahkan sebelum ada seseorang yang meluk-meluk aku karena kedinginan, padahal sebelumnya dia bilang kalau nggak bisa tidur selain di kamarnya.” Jawab Gibran menyindir Syana yang tidur nyenyak di pelukan Gibran, membuat pipi Syana merona menanggung malu dan memilih memalingkan wajahnya. “Apaan sih. Kamu nya aja yang modus.” Sanggah Syana manyun menahan senyum. “Tapi suka kan.?” Ucap Gibran menaik turunkan alisnya. “Nggak” “Ah massaa?” “Iya.” “Iya suka?” “Nggak” “Nggak salah” “Iiiihhh ngeselin banget sih.” Ucap Syana manyun dan turun dari ranjang menuju kopernya untuk mengambil baju ganti, meninggalkan Gibran yang ketawa ngakak karena berhasil menggoda Syana. “Gibran.!” Ucap Syana sebelum masuk kamar mandi. “Apa sayang?” jawab Gibran dengan senyum menggodanya. “Iiihh.... nggak lucu.” “Aku nggak ngelucu kok.” “Kamu keluar dulu, aku mau mandi.” “Kenapa harus keluar?” “Iya pokoknya kamu keluar dulu.” “Nggak mau, inikan kamarku. Suka-suka aku dong mau ngapain disini.” Jawab Gibran kembali merebahkan tubuhkan ke ranjang. “Tapi aku mau mandi Gibraaan..” ucap Syana mendekati Gibran dan menarik tangannya supaya bangun dan keluar dari kamar, dan terjadilah aksi tarik-menarik. Tapi karena kekuatan mereka yang berbeda jauh dalam sekali tarikan Syana jatuh dengan posisi Gibran dibawah Syana. Pandangan mereka beradu beberapa detik sebelum ketukan dipintu membuyarkan momen indah itu. Tok..tok..tok.. “Gibran.. Syana.. yuk turun. Makam malam dulu.” Ucap mama Suci dari balik pintu. “Iya maa..” teriak Gibran tanpa melepas Syana. “Lepasiin..” ucap Syana memberontak tapi tak diindahkan oleh Gibran. “Mandi bareng yuk. Sekalian cetak Gibran junior.” Bisik Gibran m***m membuat Syana melotot dan mencubit perut Gibran hingga dia kaget. “Aawwsshh..” pekik Gibran sambil mengelus bekas cubitan maut Syana sehingga pelukannya terlepas dan dimanfaatkan Syana untuk segera bangun dari atas Gibran. “Sukurin..” sewot Syana kemudian menyambar baju ganti dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan Gibran yang terbahak melihat reaksi Syana saat membicarakan tentang hal satu itu. Setengah jam kemudian, Syana dan Gibran sudah rapi dan siap turun untuk makam malam bersama. Di meja makan papa Riko dan mama Suci sudah menunggu dua sejoli itu dengan senyum bahagia. “Malam pa, ma.” Sapa Syana ramah. “Malam.” Jawab Riko tersenyum hangat. “Malam sayang, Sini ! mama masakin makanan kesukaan kamu.” Ucap Suci dengan merangkul menantunya. “Terima kasih ma.” Ucap Syana terharu dengan kebaikan mertuanya itu. “Sama-sama sayang.” Jawab mama Suci. Mereka pun menikmati makan malam dengan kehangatan. Tidak ada rasa canggung lagi, Syana mulai terbiasa dengan kebaikan mertuanya dan Kedua orang tua Gibran juga sudah menganggap Syana anaknya sendiri. Bercanda dan saling menggoda satu sama lain membuat rumah besar itu semakin ramai dan hidup sejak kedatangan Syana. “Oh iya, mama boleh minta sesuatu nggak dari kalian.?” Ucap Suci menatap kedua anak muda di depannya. “Apa ma? Jangan bilang mama minta cucu.” Ucap Gibran dan dihadiahi cubitan maut Syana. “Aawwssh.. “ pekik Gibran meringis, menatap Syana sambil mengusap bekas cubitan di pahanya. Membuat kedua orang tuanya terkikik menahan tawa. “Emang kenapa kalau mama minta cucu?” Goda Suci. “Ya, kalau aku sih dengan senang hati ngasih mama cucu. Eeeiitttss nggak kena, wlee.” Ucap Gibran santai membuat Syana bersiap untuk kasih hadiah lagi tapi dengan sigap Gibran menghindar. Hingga kedua orang tua itupun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sepasang suami istri muda itu. “Sudah, sudah. Gibran jangan goda istrimu terus.” Lerai Riko melihat Syana yang tak nyaman dengan pembahasan hal satu itu. “Iya.. maafin Gibran ya sayang. Dia memang suka jahil dengan orang yang dekat dengannya.” Ucap Suci beralih duduk disamping Syana dan memelukbya. “Iya ma. Nggak papa kok.” Jawab Syana tersenyum dan membalas pelukan mertuanya. “Oh iya, mama itu pengen kalian tinggal disini. Rumah ini sepi banget, mama sendirian kalau papa sedang ke kantor.” Pinta Suci lembut seraya melepas pelukannya dan menatap menantunya itu. Syana yang ditanya pun mendongak menatap mertuanya dan bergantian menatap Gibran yang juga menatapnya. Bingung, pengen berkata ‘tidak’ tapi tak enak apalagi bunda Rahma sudah berpesan jika rumah mertuanya sekarang menjadi rumahnya juga. Hingga menit berlalu Syana tak kunjung menjawab. “Lain kali aja ma. Mungkin Syana belum terbiasa jika harus menginap disini terlalu lama. Apalagi Heri pernah bilang kalau Syana nggak bisa tidur kalo nggak dikamarnya sendiri.” Jelas Riko membuat kening Suci berkerut, pasalnya tadi siang jelas-jelas Syana tertidur di mobil sampai digendong Gibran masuk. Dan tak sengaja Suci melihat Syana dan Gibran tidur nyenyak dikamarnya saat melewati kamar Gibran yang pintunya terbuka sedikit. “Nggak papa kok om.. eehh.. pa. Syana nginep disini aja. Rumah ini kan sekarang juga jadi rumah Syana. Jadi Syana harus mulai membiasakan tidur disini.” Jelas Syana tak ingin mengecewakan mertuanya membuat Suci tersenyum bahagia dan kembali memeluk Syana penuh sayang. “Terima kasih sayang.” Ucap Suci tulus. “Sama-sama ma.” Jawab Syana. Gibran yang dari tadi diam menyimak pembicaraan istri dan orang tuanya pun ikut tersenyum. Setidaknya Syana mau tinggal di rumahnya walau itu karena permintaan mamanya. Dengan begitu Gibran dan Syana akan lebih mudah untuk berduaan tanpa terganggu oleh kedua adik Syana yang suka jahil itu. Gibran yang sudah memendam rasa cukup lama, berniat untuk mengungkapkan ke Syana setelah ujian berakhir dan sambil menunggu hari itu tiba Gibran akan terus mencoba membuat Syana merasa nyaman di dekatnya dan melupakan persoalan dengan kedua sahabat yang sudah menghianatinya. “Ehmm... maaf ma, pa. Syana pamit mau belajar dulu ya. Besok masih ada ujian.” Pamit Syana. “Iya sayang. Belajar secukupnya ya. Jangan di fostir tubuh kamu.” Ucap Suci. “Jangan kaya Gibran yang lupa waktu kalau sudah di depan tumpukan buku.” Sindir Riko dengan melirik anaknya yang nyengir kuda. Membuat semua orang tersenyum geli. “Ingat, sekarang ada seseorang yang wajib kamu perhatikan selain buku-bukumu itu.” Ucap Riko menatap Syana dan Gibran bergantian. “Iya pa.. siiap kalau itu.” Jawab Gibran dan merangkul pundak Syana membuat pipi Syana merona malu. “Sudah sana ke kamar.” Ucap Suci. “Laksanakan.!” Jawab Gibran dengan hormat bendera. “Papa sama mama jangan ganggu ya.” Lanjut Gibran dengan tampang tengilnya. Membuat kedua orang tuanya tertawa tapi tidak dengan Syana yang makin malu dengan sikap Gibran yang blak-blakkan dengan kedua orang tuanya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม