Ditengah gelapnya malam, disaat kebanyakan orang tengah menghabiskan malam dengan kehangatan bersama keluarga, namun Jacky dengan perasaan yang semakin kacau tak peduli angin malam menusuk tulang dan aroma alkohol yang kian menyengat kan penciuman, dia terus menegak isi botol-botol di depannya. sesekali dia meracau, mengumpat bahkan tertawa diiringi air mata membuat teman-temannya semakin khawatir.
“Ky, stop.! Loe udah banyak minum.” Cegah Roki merampas botol yang di pegang Jacky.
“Apaan sih loe. ! balikin.” Ucap Jacky tak terima kesenangannya di ganggu.
“Loe udah mabuk berat, Ky.” Sahut Gio menahan tangan Jacky yang ingin merebut kembali botolnya dari tangan Roki.
“Gue nggak mabuk. Gue masih sadar. Hahah!....” sanggah Jacky memberontak di iringi tawa kerasnya., semakin membuat teman-temannya khawatir.
“Gak biasanya loe kayak gini. Kalau loe ada masalah, loe bisa crita ke kita. Jangan kaya gini.” Ucap Gio mencoba menenangkan Jacky yang terus-terusan meracau tak jalas.
Ya, Jacky memang suka mabuk sejak dulu, bahkan hampir setiap malam, tapi tidak pernah separah ini. Dulu saat bertengkar hebat dengan kedua orang tuanya, Jacky hanya melampiaskan dengan balapan dan sedikit minum tak sampai mabuk. Tapi kali ini Jacky hampir menghabiskan 3 botol setelah 3 kali balapan dalam satu malam.
Rasa sakit hatinya membuat Jacky hilang kontrol, tak peduli masa depannya yang sudah tertata baik kini hancur karena orang yang sama. Tak lagi sekolah meskipun gerbang kelulusan sudah didepan mata. Di pikirannya hanya bagaimana caranya untuk menghilangkan jejak Syana dari ingatannya.
“Gue antar loe pulang.” Ucap Gio beranjak dari duduknya.
“Gue nggak mau pulang. Gue belum puas minum.” Sahut Jacky memberontak.
Bugh..
Dengan terpaksa Roki memukul Jacky karena sudah tak sabar dengan kelakuan Jacky yang semakin menjadi. Membuat sudut bibir Jacky sobek dan mengeluarkan darah segar.
“Sadar, Ky.” Ucap Roki mulai emosi.
“Hahahhah.” Tawa Jacky lepas tapi menyiratkan betapa hancur perasaanya.
Kringgg....
Ponsel Jacky berdering. Ada panggilan masuk dan itu dari Sarah. Segera dia matikan ponselnya karena tak mau Sarah tau kalau dia sedang mabuk.
Kringg....
Ponsel itu kembali berbunyi dengan kontak yang sama. Gio yang sudah geram merebut ponsel Jacky dan menerima telpon itu.
“Hallo, Jacky kamu dimana.? Mama papa kamu khawatir nyariin kamu.” Ucap Sarah di sebrang sana.
“Hallo, gue Gio. Jacky mabuk berat. Sepertinya ada masalah besar yang buat dia kaya gini.” Jawab Gio yang memang sudah kenal dengan Sarah karena sering jemput Jacky saat Jacky mabuk.
“Kalian dimana.?” Tanya Sarah khawatir.
“Di tempat biasa.” Jawab Gio.
“Ok. Tolong jaga Jacky. Gue otw sekarang.” Jawab Sarah lalu menutup telponnya.
Setelah mengabari Sarah tentang keadaan Jacky yang jauh dari kata baik. Gio mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. Dan duduk di samping Jacky yang terus meracau tak jelas.
15 menit kemudian, Sarah datang dengan wajah khawatirnya. Tergesa-gesa mendekati Jacky yang sudah teler di apit kedua temannya dengan botol-botol yang berserakan di sekitar mereka. Meringis melihat keadaan Jacky saat ini.
“Kenapa kalian biarin dia mabuk sih.?” Ucap Sarah ke Roki dan Gio.
“Kita udah cegah dia. Tapi malah semakin menjadi.” Jawab Roki.
“Sebenarnya ada masalah apa sih, Sar ? nggak biasanya Jacky kayak gini.” Tanya Gio.
“Gue belum bisa cerita, sekarang bantu gue bawa Jacky ke mobil.” Ucap Syana membuat kedua cowok itu menghela nafas panjang.
Di dalam mobil, Jacky terus meracau sesekali tertawa membuat Sarah ragu jika membawanya pulang ke rumah Jacky. Sarah memutuskan untuk membawa Jacky ke apartemennya. Dengan susah payah Sarah membopong Jacky menuju kamar apartemen yang selama ini Jacky pakai saat tak ingin pulang kerumah. Merebahkan tubuh Jacky ke ranjang dan melepas jaket serta sepatu Jacky. Dan mengambil air hangat untuk membersihkan tubuh Jacky.
‘Apa segitu besar pengaruh Syana buat hidupmu, Ky. Bahkan semua pengorbananku tak mampu mengambil sedikit saja posisi Syana di hatimu.’ Batin Sarah dengan tangan yang telaten membersihkan tubuh Jacky. Hatinya benar-benar sakit saat orang yang dia sayangi lebih menyayangi orang lain. Jacky dan Gibran, dua laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya tapi sama-sama menyayangi sahabatnya sendiri.
‘Semoga kau lekas sadar, Ky. Ada yang lebih menyayangimu daripada Syana.’ Batin Sarah berdiri dari duduknya dan pergi dari kamar Jacky. Tapi, sebelum Sarah melangkah tangannya lebih dulu di cekal oleh Jacky membuat Sarah yang tidak siap langsung limbung dan jatuh di ranjang tepat di samping Jacky.
“Tetaplah disini.” Gumam Jacky dengan mata terpejam kemudian memeluk Sarah posesive. Dan itu membuat Sarah tersenyum bahagia. Setidaknya dia masih mempunyai waktu yang lebih panjang untuk berduaan dengan Jacky. Membalas pelukan Jacky dan ikut memejamkan mata menyusul Jacky ke alam mimpi.
****
Didalam kamar, Syana dan Gibran tengah sibuk dengan buku-buku di depannya. Fokus memahami apa saja yang tertulis di setiap lembarnya.
Tok.. tok.. tok..
“Mama boleh masuk ?” tanya Suci dari balik pintu.
“Boleh ma, masuk aja.” Jawab Gibran.
Setelah mendengar jawaban dari dalam Suci baru berani masuk, sebab sekarang kamar itu bukan lagi kamar anak perjakanya tapi kamar pribadi suami istri muda. Tersenyum saat melihat kedua anak muda itu tengah sibuk dengan buku di depannya hingga tak sadar jika mama Suci memerhatikan mereka. Mendekat dan meletakkan dua gelas s**u coklat dan satu piring brownis coklat kesukaan mereka berdua.
“Nih, mama bawain s**u sama camilan buat temen belajar.” Ucap Suci ramah. Di balas senyuman manis Syana.
“Terima kasih, ma.” Ucap Syana.
“Sama-sama sayang, jangan malam-malam belajarnya. Otak kalian juga butuh istirahat.” Ucap Suci mengingatkan keduanya yang memang hobby belajar.
“Iya mamaku sayang.” Sahut Gibran dengan mencomot satu potong brownis buatan mamanya.
“Yaudah, mama keluar dulu ya. Mau nemenin papa di ruang kerja.” Pamit Suci mengelus rambut Syana sayang membuat Syana tersenyum bahagia. Suci tahu kalau Syana masih agak canggung makanya dia berusaha membuat Syana senyaman mungkin.
“Bilang aja mau buatin aku adik baru.” Sindir Gibran membuat kedua wanita itu melotot tapi tidak dengan Gibran yang tak peduli.
“Seharusnya kamu itu yang buatin mama cucu.” Ucap Suci membalas godaan Gibran. Membuat Syana dan Gibran menoleh dengan raut wajah yang beda jauh. Gibran dengan wajah jahilnya dan Syana dengan wajah terkejut dan malunya.
“Siap laksanakan ma,” jawab Gibran semangat. “iyakan sayang. ?” sambungnya dengan mengedipkan sebelah matanya ke Syana yang kini tengah menatapnya tajam dengan mulut manyun. Mama Suci yang melihat interaksi mereka pun hanya bisa tersenyum geli.
“Sudah, sudah. Kalian lanjut belajarnya. Ingat! Jangan sampai larut malam.” Pamit Suci dan keluar dari kamar itu.
“Aawwssh.. sakit tauk..” ucap Gibran meringis.
“Kamu apa-apaan sih, ngomongnya gitu banget. Malu tau sama mama.” Ucap Syana cemberut.
“Malu kenapa ? namanya juga udah nikah ya nggak jauh-jauh dari cetak anak.?” Goda Gibran tersenyum m*sum.
“Iiihhh... ngomongnyaa... nggak pakai filter” sungut Syana.
“Filter itu hanya untuk mereka yang tak percaya diri dengan apa yang dia miliki. Beda dengan aku yang sangat bersyukur karna miliki kamu.” Jawab Gibran dengan mengedipkan matanya.
“Seraah..” pasrah Syana dan kembali fokus ke bukunya.
“Jadi, boleh dong kita cetak malam ini.” Bisik Gibran membuat Syana merinding seketika.
“GIBRAAN.!!” Pekik Syana dan menyerang Gibran dengan bantal di sampingnya membuat tawa Gibran pecah.
“Buhahaha....”
“Ngeseliinn...” pekik Syana dengan terus menyerang Gibran.
“Hahah... ampun Na, ampun”
Dan terjadilah aksi perang bantal yang di pimpin oleh Syana. Karena memang hanya Syana yang menyerang Gibran dan Gibran hanya bisa menghindar tanpa mau melawan. Hingga tanpa mereka sadari mama Suci dan papa Riko yang berada di lantai bawah ikut tersenyum mendengar keceriaan anak dan menantunya itu.
“Lihat pa, alhamdulillah mereka sudah bisa lebih dekat dan tak canggung lagi. Meskipun mama bisa melihat Syana masih belum terbiasa dengan kembalinya Gibran. Tapi mama yakin mereka berdua punya rasa yang sama meskipun belum terungkap.” Ucap Suci.
“Iya ma, semoga mereka lekas mengungkapkan tentang perasaan mereka masing-masing.sehingga kita segera punya cucu, atau kita buatin adik buat Gibran aja.” Ucap Riko.
“Aah.. papa.” Jawab Suci malu-malu kucing.
Sementara di kamar atas, Syana yang terus menyerang Gibran tak menyadari kalau mereka sudah sampai di tengah ranjang. Gibran yang sadar lebih dulu memanfaatkan keadaan hingga terbesit ide jahil di pikirannya, dengan sekali tarikan dia bisa menghentikan serangan Syana dan mengunci pergerakannya.
Untuk beberapa detik pandangan mereka beradu membuat jantung mereka berdisco ria.
‘Aduuhh... jantungkuu..’ batin Syana
‘Astagaa.. nih jantung gak bisa di ajak kerja sama apa. Gimana kalau Syana denger. Maluu gua...’ batin Gibran.
Mata yang terus saling menatap dalam dan debaran hati yang kian tak karuan membuat kedua nya hanyut dalam momen indah tersebut. Hingga tanpa sadar wajah mereka semakin dekat. Reflek Syana memejamkan matanya membuat Gibran tersenyum dan ikut memejamkan matanya.