Setelah beberapa hari bergelut dengan lembar-lembar soal ujian, kini semua siswa bisa bernafas lega. Tinggal menunggu hari kelulusan saja dan sambil menunggu hari-hari mereka akan di bebaskan mau masuk sekolah atau tidak. Yang penting selalu standby jika ada panggilan mendadak.
Dibawah pohon beringin dekat lapangan basket, Syana, Gibran, Esti dan Vino tengah menikmati semilirnya angin dengan ditemani petikan gitar dari Vino.
“Beb, nyanyi yuk.” Ajak Vino.
“Gue nggak bisa nyanyi.” Jawab Esti.
“Bisa-bisa. Yuuk. Aku iringi pakek gitar nih.” Paksa Vino.
“Loe aja tuh yang nyanyi.” Jawab Esti judes.
“Iih.. yaudah deh, dengerin ya.” Ucap Vino. Dan mulai memetik Gitarnya.
Jreeeng....
*Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka, kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari, kujatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia kumerasa sempurna
Semua itu karena dia
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Hanya padanya, untuk dia
Dan tanpa sadar sejak pertengahan lagu itu, Esti ikut bernyanyi membuat Vino semakin semangat mengiringinya. Sedangkan Gibran dan Syana hanya tersenyum menghayati isi lagu itu sebab sangat pas dengan isi hati mereka.
“Suaramu bagus banget beb.” Puji Vino membuat pipi Esti memerah malu.
“Apaan sih, modus.” Sanggah Esti menahan senyum.
“Aku jujur lo beb, ini itu suara termerdu yang pernah aku dengar, gimana kalau kita duet aja. Biar ntar lebih mudah ngajarin anak-anak kita nyanyi.” Ucap Vino membayangkan masa depannya dengan Esti.
“Haluu..” sewot Esti.
“Kalian kenapa sih nggak jadian aja. Daripada berantem mulu tapi sama-sama nahan rasa suka.” Ucap Gibran membuat semua menatapnya heran. Sebab baru kali ini Gibran ngomong panjang banget. Gibran yang ditatap pun merasa aneh.
“Kenapa? Gue bener kan?” tanya Gibran.
“Bentar, bentar. Ini Gibran temen gue yang dari London itu kan?” tanya Vino memastikan dengan mendekati Gibran dan mengamatinya dengan jelas. Membuat Gibran mendengus kesal.
“Apaan sih.” Sungut Gibran menepis tangan Vino dari depan wajahnya.
“Tumben banget loe ngomong panjang banget, biasanya super pelit.” Sindir Esti.
“huuu.” Jawab Gibran melempar kulit kacang ke arah Esti.
“Sudah ih.. ribut mulu... tapi bener juga lo apa kata Gibran. Kenapa kalian nggak jadian aja sih ? cocok tau.” Sahut Syana.
“Loe juga napa ikut-ikutan sih, Na.” Keluh Esti, padahal dalam hati dia mengamini.
“Siipp.. cocok. Kalian berdua memang the best, yuk beb jadian. Atau sekalian nikah aja. Kan kita udah lulus.” Ucap Vino semakin semangat untuk bisa mendapatkan hati Esti.
“Nikah sana sama onta.” Sungut Esti melempar kacang dan pergi dari tempat itu.
“Yaah.. ngambek lagii. “ keluh Vino. “tungguin beb !!!” teriakknya dan berlari menyusul Esti.
Sungguh hiburan tersendiri buat Syana dan Gibran melihat kekonyolan dua temannya itu. Selalu bisa mencairkan suasana. Tak pernah akur saat ketemu, padahal dari tatapan matanya Esti dan Vino mempunyai rasa yang sama, tapi entah kenapa dari Estinya sendiri seperti enggan menunjukkan rasa sukanya. Sedangkan Vino tak pernah bosan memberi perhatian lebih ke Esti. Aahh.. sudahlah, itu urusan mereka. Yang penting sekarang hubungan Syana sama Gibran sudah selayaknya suami istri muda meskipun untuk hal ‘itu’ belum juga terjadi.
“Cari makan yuk, Na.” Ajak Gibran.
“Ayuk.” Jawab Syana semangat. “Eh, tapi bukannya kamu bentar lagi ada latihan sama yang lain. Waktu turnamennya tinggal lusa lho.” Sambung Syana mengingatkan.
Menatap jam di tangannya sebentar, “masih ada waktu 20 menit, anak-anak juga belum pada kumpul.” Ucap Gibran di angguki Syana, mereka pun berjalan beriringan menuju kantin. Sepanjang jalan banyak yang bisik-bisik tentang mereka berdua.
‘Gibran makin ganteng ya’
‘Calon masa depanku’
‘Gibran, i love you’
‘pangeranku’
‘Calon imamku’
‘Syana cantiknya gak luntur-luntur’
‘best couple deh, jadi iri’
‘wah, seandainya bukan sepupu. Pasti di nobatkan jadi raja dan ratu sekolah’
Mendengar ungkapan teman-temannya, membuat Syana dan Gibran menahan senyum. Seandainya mereka tahu kalau Syana dan Gibran bukan sepupu tapi sepasang suami istri pasti akan jadi hari patah hati nasional.
Sesampainya di kantin, Syana melihat Esti dan Vino sudah berada di meja yang biasa mereka pakai dengan 3 mangkok bakso di depannya.
“Bran.”
Gibran yang di senggol pun menoleh dengan menaikkan kedua alisnya.
“Tuh.” Sambung Syana menunjuk Esti dan Vino dengan dagunya. Gibran mengikuti arah pandang Syana dan menemukan pasangan yang serasa namun tak sekata.
“Samperin yuk, minta PJ.” Ucap Gibran dengan senyum jahilnya.
“PJ?” ucap Syana bingung.
“Pajak Jadian, sayang.” Jawab Gibran gemas dengan menarik hidung Syana.
“Iihh.. sakiit..” ucap Syana memegangi hidungnya yang memerah.
“Sorry.” Ucap Gibran ganti mengelus puncak kepala Syana dengan sayang.
Dan mereka pun sukses menjadi tontonan orang-orang sekantin. Bahkan ada yang membuat live vidio dan memfoto kejadian langka tersebut.
‘Aahh.. so sweet’
‘manisnyaa senyum Gibran.’
‘mau dong di gituin’
‘sama sepupu aja so sweet, apalagi sama pacar’
‘lebih cocok jadi pacar daripada sepupu’
‘mau dong jadi selingkuhannya’
‘wah, gawat. Makin susah nih dapetin Syana’
‘makin cantik aja si Syana’
Tanpa peduli bisikan teman-temannya, Syana dan Gibran berlalu menuju meja yang sudah diisi oleh Esti dan Vino. Bukan hal baru lagi bagi Syana jika menjadi bahan omongan teman-temannya. Sejak Gibran masuk dan mengenalkan diri sebagai sepupu Syana, kini apapun yang dia dan Gibran lakukan selalu jadi gosip hangat. Awalnya Syana sangat risih dan tak berani keluar kelas karena selalu jadi pusat perhatian, tapi Gibran, Esti dan Vino terus menyemangatinya supaya tetap berlaku biasa aja, sebab semakin dia menghindar akan semakin membuat yang lain penasaran dan mencari tahu tentang jati diri Syana lebih dalam.
Sampai saat ini yang tahu jika Syana anak pemilik sekolahan hanya ketiga temannya itu, bahkan Vino masih beberapa hari yang lalu saat tak sengaja melihat Syana dan Gibran makan malam di restoran bersama keluarga besarnya. Awalnya Vino hanya ingin menemui kedua orang tua Gibran, tapi saat mendekat Vino terkejut karena ada Syana dan keluarga Dermawan di sana.
“Ehemm” .
Deheman dari Gibran mengagetkan sepasang anak muda yang tengah asik makan bakso. Mendongak kemudian nyengir karena ketahuan berduaan di kantin tanpa mengajak kedua sahabatnya. Beda dengan Syana yang matanya fokus ke satu titik dengan kening berkerut, detik kemudian dia tersenyum karena tengah menemukan fakta terbaru dari kedua jomblo abadi didepannya.
“Eehh.. kalian.” Ucap Vino nyengir tanpa sadar kalau ada yang dia lupakan.
“Boleh gabung kan?” tanya Syana.
“Salah, tapi ‘kita nggak ganggu kan ?” ralat Gibran tersenyum jahil. Membuat Syana tersenyum tapi beda dengan Esti dan Vino yang memandangnya bingung.
“Biasanya kan juga gabung, pakek nanya.” Ketus Esti yang masih belum sadar.
“Okey. Yuk, Na. Kita nikmati makanan yang di kantin ini karena hari ini hari spesial.” Ucap Gibran di angguki Syana.
“Kalian kenapa sih.? Dari tadi ngomongnya kok aneh banget. Loe juga, Na. Senyum-senyum mulu.” Tanya Esti bingung.
“Kasih tau, Na.” Printah Gibran.
“Ehhmm... jadi aku sama Gibran tadi niat mau makan buat ngisi tenaga, bentar lagi kan Gibran sama Vino latihan basket. Daaaannn.... berhubung ada yang baru jadian jadi hari ini kita bakal makan gratis sampai puas.” Jelas Syana dengan senyum yang semakin lebar.
“Siapa yang jadian.?” Tanya Vino.
Pleettaakkk...
“Aawww... sakit ogeb” pekik Vino mengusap keningnya yang merah karena ulah Gibran.
“Noohh..!!” ucap Gibran dengan memukul pelan kedua tangan Vino dan Esti yang dari tadi berpegangan namun tak disadari keduanya. Segara mereka melepas tautan tangan itu dan mulai salah tingkah.
“Mau ngelak lagi ?” tanya Gibran.
“Ngelak apanya.?” Sewot Esti.
“Sudahlah, Es. Jujur aja. Kalian sudah jadian kan.?” Ucap Syana.
Satu hal yang sangat sulit bagi Esti adalah membohongi Syana. Selama ini dia sudah menahan untuk merahasiakan perasaannya ke Vino. Tapi makin hari rasa itu makin besar. Dan hari ini puncak rasa itu sehingga dia memutuskan untuk menerima Vino.
Esti memandang Vino yang sama sekali tak merasa terimidasi sedikitpun membuat Esti mendengus kesal. Bukannya bantu jawab malah asik dengan baksonya.
“Vin!” panggil Esti.
“Iya sayang.” Jawab Vino tersenyum manis.
“Ok. Udah kejawab.” Ucap Gibran. “Vin, pesenin bakso 1 mie ayam 1 buat gue sama Syana.” Printah Gibran.
“Pesen sendiri napa ? kan udah di bayarin.” Sungut Vino.
“Sekalian.” Jawab Gibran dan Syana kompak. Kemudian mereka tertawa bersama. Membuat Vino mendengus kesal. Dengan terpaksa Vino pun berdiri dan memesan makanan untuk kedua temannya itu.
“Es, kok kamu nggak jujur sih sama kita-kita kalau jadian sama Vino. Padahal kita udah nunggu momen itu sejak lama lho.” Ucap Syana.
“Hmmmzz... Sorry, Na.” Ucap Esti tak enak.
“Gitu aja pakek ribut tiap hari.” Sindir Gibran tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Suka-suka gue dong.” Sahut Esti.
Menit kemudian Vino datang dengan membawa pesanan Gibran dan Syana. Dan mereka pun menikmati bakso serta mie ayam tersebut dengan sesekali bercanda. Hingga menit kemudian tak sengaja Esti melihat ada yang aneh sama Gibran dan Syana, Esti pun mengkode Vino untuk menatap ke arah yang sama dengan Esti membuat Vino ikutan penasaran dan menatap keduanya dengan sorot tajam. Syana yang sadar pun mengerutkan kening.
“Kalian kenapa.?” Tanya Syana.
“Sekarang gantian kalian. Apa maksudnya ini..?” tanya Esti menatap tajam sambil menunjuk sesuatu di depan mereka. Membuat Gibran dan Syana gelagapan.
“I-iiniiii...”