18. Mual Muntah

1171 คำ

Kami pun tidur dalam keadaan gelap-gelapan. Tumben sekali Kang Dadang tidak memelukku. Apakah ia masih kesal dengan penolakan Mbak Nuri untuk menjual rumah ibu? Ya sudah, baguslah. Daripada aku harus kembali bertarung dengan sosis PAUD, lebih baik malam ini aku tidur dengan lelap, agar besok bisa semangat bekerja. Apa kabar Willy ya? Sudah dua hari tidak melihatnya. Hanya Bu Widya saja yang datang ke laundry. Adih, Nura, jadi janda aja belom tentu jadi, kenapa malah memikirkan berondong? Aku memukul kepala agar wajah Willy hilang dari ingatanku. Suara dengkuran Kang Dadang begitu keras, sehingga aku tidak bisa benar-benar terlelap. Ditambah semua lampu mati, sehingga banyak nyamuk. Untunglah kipas angin masih boleh menyala, karena kalau tidak, aku pasti lebih memilih tidur di laundry s

อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม