Happy reading
***
Tasya Masih Asik tertidur di kamar apartemen Joe, saat suara notif masuk mengganggunya.
Tasya adalah type cewek yang akan langsung bangun jika mendengar suara ponsel berbunyi. Bahkan jika itu hanya sms dari operator atau line promosi dia akan tetap buka dan membacanya.
Sambil menguap Tasya meraba-raba mencari ponselnyanya. Pukul 11 siang. Ternyata dia tertidur lumayan lama, karena kelelahan baru sampai dari bali pukul 2 dini hari tadi.
Di buka linenya ada beberapa chat dari teman sesama modelnya. Ada juga dari Joe yang bilang dia sudah berangkat ke JJ Entertaiment dan mengajaknya bertemu di Krish Mall nanti pukul 3 sore yang tentu saja langsung di balas ok oleh Tasya. Karena memang kebetulan 1 minggu ini jadwalnya kosong setelah kemarin selama 1 bulan penuh mengikuti Fashion show di 5 negara.
Lalu ada chat di WA dengan nomor baru yang membuat Tasya mengernyit bingung. Pasalnya kalau nomor w******p hanya orang tertentu yang dia beri tahu.
Mata Tasya hampir meloncat keluar saat melihat isi chat itu. Dengan cepat dia membuka e-Bangkingnya dan mendapati nol yang begitu panjang di sana. Siapa yang memberinya uang sebanyak itu?
Lalu ada chat masuk di WA-nya lagi.
Sayang transferan-ku sudah masuk kan? Jadi kapan kita bisa bobo bareng.
Mata Tasya semakin melotot. Siapa berani nge-chat kayak gini?wah ... minta di beri ini orang, dia pikir Tasya cewek apaan?
Tapi ... tunggu dulu, nolnya itu lho ... bikin hampir pingsang.
Akhirnya Tasya mengecek lagi saldonya. Benar saja nol-nya tidak berubah.
Oke ... sekarang Tasya mulai takut. Orang terlanjur kaya mana yang mau memberinya uang sebanyak itu?
Yang namanya duit pasti ada timbal baliknya.
Joe tak mungkin.
Jack apalagi.
Alex mustahil.
Maminya enggak se kaya itu
Lalu siapa?
Tasya masih berpikir saat ada chat masuk di WA-nya.
"Sayang ... kok gak bales? gue udah gak sabar jemput lo. Bagaimana kalau malam ini? Gue tau lo lagi free kan?"
Belum sempat Tasya mencerna maksud dari chat yang masuk di WA-nya tiba-tiba ada panggilan video dari nomor yang sama. Karena penasaran Tasya langsung mengangkatnya di dering pertama. Dan hampir terjatuh dari ranjang begitu melihat wajah yang ada di ponsel.
Si playboy laknat.
"Elo ..." Teriak Tasya tak percaya.
David mengamati kertas di depan-nya. Bukan laporan keuangan atau berkas pekerjaan yang butuh tanda tangan. Tetapi laporan dari beberapa detektif yang dia sewa untuk men stalker kegiatan Tasya.
David tidak pernah mengincar wanita yang berusia 20 tahun lebih.
Tetapi bayangan d**a besar dan kenyal dan yang pasti asli membuat David penasaran ingin merasakannya lagi.
Apalagi di sana di sebutkan kalau Tasya Termasuk model yang tak pernah terlibat sekandal apapun. Terlepas dari dia adalah seorang model pakaian dalam, Tasya jarang melakukan pemotretan dengan lawan jenis. Kalaupun berpasangan dia tidak pernah melakukan pemotretan dengan adegannya yang fulgar.
David semakin tertarik karena sepertinya Tasya termasuk wanita yang sangat setia, padahal David sudah beberapa kali pergi dengan Joe dan tahu bahwa Joe sangat sangat playboy dan masuk dalam daftar laki-laki penebar benih.
Maka dari itulah David makin suka mendekati Tasya. Karena bagi seorang playboy tukang tikung seperti dirinya, semakin setia pasangannya maka semakin David tertantang untuk mendapatkannya. Apalagi kelihatanya Tasya itu termasuk cewek matre tapi pintar.
Biasanya cewek matre di kasih uang mereka langsung menempel pada David. Tapi Tasya berbeda, dia berhasil mendapat uang David tapi saat David minta timbal balik justru tendangan spesial yang dia dapatkan.
"Benar-benar Cewek yang sulit," kekeh David membayangkan kejadian beberapa bulan lalu.
David mengambil ponsel nya lalu menghubungi Nomor Joe.
"Hay ... Joe, di mana?"
"Ada apa bro?"
"Bukan apa-apa, cuma aku sedang di Indonesia, mungkin ada acara menarik yang bisa menghiburku."
"Kebetulan sekali di sini ada pesta."
"Ok ... apa kamu akan mengajak tunanganmu?"
"Dia masih tidur."
"Masih tidur? Oh ... okey see you ...." David menyeringai lebar.
Tasya masih tidur di apartemen sendirian. Memdengar itu, segera seribu satu ide muncul di otak David.
Mungkin ini memang saatnya melakukan pembayaran.
Loe jual Gue beli, batin David dengan senyum semakin lebar.
***
Tasya mendelik ke arah David. Dia bingung karena entah bagaimana ini playboy laknat bisa tahu tempat tinggalnya.
Tasya sangat kaget saat tadi David melakukan videocall dengan dirinya. Saking kagetnya Tasya malah melempar ponsel 10 jutanya begitu saja ke lantai hingga hancur.
Dan saat masih meratapi nasib ponselnya, bel pintu apartemennya berbunyi tanpa henti. Seperti ada keadaan darurat yang harus diutamakan.
Tasya yang terbiasa tidur hanya memakai celana dalam akhirnya hanya sempat memakai jubah kamar yang lumayan tipis.
Karna terburu- buru paha Tasya sempat menyenggol ujung ranjang yang membuatnya meringis kesakitan. Pasti besok pahanya akan lebam dan itu tidak bagus untuk seorang model.
Tasya langsung membuka pintu karena tak tahan dengan suara bel yang tak berhenti sama sekali.
Begitu di buka di sanalah David yang langsung ternganga melihat penampilan Tasya yang membuat batangnya mengeras seketika.
Apa Tasya tidak sadar kalau putingnya tercetak jelas di jubah tidurnya?
"Lo ngapain sih ke sini?" tanya Tasya dongkol karena pahanya masih nyut-nyutan gara-gara kepentok tadi.
David tersenyum menggoda.
"Gue mau ngambil hak Gue."
"Hak? hak apaan?" tanya Tasya semakin bingung.
Dengan santai David meringsek masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti transfer ke arah Tasya.
"Anjirrr jadi beneran Lo yang tarnafer itu duit?" Tasya masih tidak percaya bahwa ucapannya dianggap serius oleh David.
"Jadi kapan kamu siap?"
"Eh ..." Tasya memandang David cengo.
"Lo boleh ambil balik duit lo kok, gue kemarin enggak serius alias cuma bercanda," ucap Tasya begitu tahu maksud kedatangan David.
Plizzz Dia lagi sendirian di apartemen dan di depannya ada playboy kelas atas yang siap menerkamnya. Bisa the end ini nasib keprawanannya. Tahu gitu dia enggak bakal bukain pintu pas David datang tadi.
David mengernyit tidak suka.
"Tapi Gue serius," katanya sambil memandang tajam ke arah Tasya.
"Oh ... okey." Tasya harus cari jalan keluar nih ... berpikir ... ayo berpikir ....
"Em ... kalau sekarang Gue enggak bisa." Tasya semakin mundur ke belakang karena David dengan pelan tapi pasti mulai mendekatinya.
Tasya berusah tenang menghadapi David yang hanya diam dan tidak mengatakan apa pun hingga akhirnya dia berada di antara David dan tembok. Bagus dia sekarang terjebak.
"Gue ... ada janji dengan Joe," ucap Tasya cepat.
"Lo tahu kan dia itu tunangan gue jadi ...," ucapan Tasya terhenti saat tiba-tiba wajah David sangat dekat dengannya bahkan Tasya bisa meraskan hembusan napas David di lehernya.
"Oke ... siang ini Loe milik Joe. Tapi ... nanti malam Lo milik Gue," bisik David tepat di telinga Tasya.
Tasya meringis dan berusaha mendorong badan David yang hampir menempel di tubuhnya.
"Bisa minggir, Gue harus bersiap siap." Lanjut Tasya saat David tak mau menyingkir.
David tersenyum mencurigakan.
"Astaga ... rasanya lebih fantastis dari yang ku duga," ucap David senang.
"Ap ... Ah ...." Tasya terkesiap saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang meremas Payudaranya.
Anjirrrr sejak kapan Jubah tidurnya terbuka.
Tasya sudah mengambil ancang-ancang akan menendang jujun David. Tetapi sebelum itu terjadi kaki David sudah mengunci ke dua kakinya hingga tubuh mereka menempel seluruhnya.
"Lo enggak akan berhasil menggunakan cara yang sama untuk yang kedua kali sayang ...." David masih betah mengelus dan membelai p******a Tasya bahkan kini dia menambah dengan ciuman kecil di leher Tasya.
Tasya masih berusaha mendorong tubuh David yang bahkan tidak bergeser sedikitpun.
"Please ... Gue harus berangkat." Astagahhhh kenapa suaranya malah kayak ngerengek gini, batin Tasya meruntuki rasa panas yang mulai menjalar di tubuhnya.
Hidup di tengah-tengah p*****r membuatnya sangat tau apa itu having s*x. Dia bahkan memiliki banyak daftar teori yang diajarkan para p*****r di tempat maminya dulu.
Tetapi dia belum pernah praktek dan Tasya baru tahu kalau rasanya bikin panas dingin seperti ini.
David mengangkat wajahnya melihat Tasya yang sudah memandangnya sayu. Tasya sudah terlihat pasrah, alias sange, alias h***y a.k.a udah bisa langsung di tindih.
Namun, David berusaha sabar, ini cewek langka dan harganya lumayan menguras kantong. Jadi David berencana bermain agak lama biar puas dan klimaks dengan sempurna.
Padahal bayangan tubuh Tasya memerah karna pukulannya sudah membuatnya menegang seketika.
Apa jeritanya juga akan se sexy wajahnya sekarang?
"Aaa-apa ...?" Tasya bingung saat David menghentikan cumbuannya dan hanya memandanginya.
"Tidak apa-apa bersiaplah gue temenin Lo ketemu Joe," ucap David.
"Gimana gue siap-siap kalo tangan lo masih di situ," ucap Tasya mengingatkan David bahwa tangannya masih asik mengelus payudaranya.
David tersenyum lalu melihat tangannya, belum rela melepas tempat favoritnya.
"5 menit," gumam David sebelum bibirnya melumat bibir Tasya dan memepetnya ke tembok lagi.
***
TBC