Part 6

1530 คำ
Karena terlalu asik dengan Femmy, aku sampai lupa waktu. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Aku harap om Hans belum pulang, karena tadi bilang padaku kalau akan pulang pukul sebelas. Aku masuk kedalam apartemen, dan langsung masuk ke kamar. Membersihkan diri, dan berganti mengenakan celana super pendek dengan tanktop tanpa bra. Ya itu kebiasaanku yang tidak bisa hilang hingga sekarang. Aku menuju dapur, berharap mendapatkan kudapan disana. Ternyata memang tidak ada apa-apa, hanya tinggal sepotong cheese cake dan yogurt. Ku keluarkan dari dalam lemari es dan memakannya di dapur dengan posisi berdiri. Betapa terkejutnya aku saat ada yang memelukku dari belakang, dan spontan ku pukul dengan teflon yang berada di samping tanganku. Plang... Plang... "Aah..Sayang... !!", "Astaga... Hans... Maaf... Aku reflek..", "Aahh... Sakit sayang... Kamu kenapa? Tiba-tiba memukul!", nampak nada suaranya yang marah "Maaf Hans... Aku benar-benar terkejut dan refleks... Astaga, kamu terluka Hans... Duduk sini, aku obati lukamu", Aku bergegas mengambil kotak p3k, dan mengobati luka akibat ulahku. "Hans, maaf...", "Sudahlah...", "Sudah selesai.... Apa kau mau mandi, Hans? Sudah kusiapkan air hangat untukmu", "Ya.. Terima kasih, aku masuk kamar dulu", Dia nampak marah, aku tau itu. Hatiku merasa gelisah dan sakit. Aku masuk kedalam kamarku dan merenungi kesalahan yang aku buat barusan. Kepalaku sudah penuh dengan pikiran buruk tentang om Hans. Bagaimana jika dia tidak ingin lagi bersamaku, lalu dia akan membuangku di jalan. Dan aku jadi gelandangan. Astaga... Ceklek.. "Sayang...", lamunanku di buyarkan oleh suara orang yang aku sayang "Ada apa Hans? Kau memerlukan sesuatu?", tanyaku "Apa kau sudah mengantuk?", "Belum, Hans.. Kemarilah... Ada apa?", "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berbincang denganmu", "Baiklah, kau mau berbincang mengenai apa?", "Bagaimana hari ini? Sepertinya kau sangat senang", "Aku bertemu teman baru, Hans. Namanya Femmy, dia tak seperti teman-temanku sebelumnya. Dia berbeda, aku menyukainya... Dan aku ingin terus berteman dengannya", ujarku "Hmm begitu rupannya.. Baiklah, tetap hati-hati, sayang.. Aku tak ingin kamu kenapa napa", "Tenang saja Hans... Aku baik-baik saja...", Mataku dan matanya saling menatap, semakin dekat. Hingga dia melumat bibirku dengan lembut. Kami saling bertukar saliva, lidah kami beradu dan bermain di dalam rongga mulut kami secara bergantian. Aku merasa ada yang mengeras di bawah sana, benar saja itu junior milik Hans. "Ahh...", desahku saat Hans melepas ciumannya dan meremas payudaraku Hans memang sangat mahir dalam hal bercinta, dia dapat membuatku terlena dalam permainannya yang sangat aku suka. "Ahh... Hans... Ohh.. Enak...", desahku Hans melepaskan bajuku hingga aku tak memakai kain sehelaipun. Begitupun dengan Hans, yang kini tak memakai pakaian sama sekali. Sehingga menampakkan juniornya yang gagah itu. Hans mampu membuatku sangat mabuk dalam permainannya, kini dia mengocok vaginaku dengan dua jari yang masuk kedalam liang itu. Gerakannya in out dan juga sedikit menekan akar masuk lebih dalam. "Aahh aahhh... Hans.. Masukin sayang... Ahh", "Sabar sayangku...", Bukannya memasukkan juniornya, justru dirinya sudah menghisap vaginaku dengan lihai, memasukkan lidahnya kedalam liang v****a. "Aahh.. Hans... Enak... Aah...", Aku merancau tak karuan, tubuhku menggeliang tak menentu akibat ulah Hans di bawah sana. Karena tak tahan lagi, akhirnya aku menyemburkan cairan orgasmeku. Dan Hans melahap habis cairan itu. Kini tubuh Hans sudah berada di atasku, ia menindihku dan melumat bibirku lagi. Aku merasakan gesekan yang di buat Hans untuk memasukkan juniornya. Dan dengan satu sentakan seluruh vaginaku terasa penuh dan berkedut. Hans menggerakkan juniornya, dia memompa tubuhku dengan perlahan, membuatku menjadi frustasi. Aku ingin membuatnya mempercepat temponya, namun Hans tidak membiarkanku melakukannya. "Aahh.. Hans...", "Ohh... Sempit sayang... Aahh... Kau sangat nikmat... Aahh...", Desahan Hans membuatku menjadi semakin terangsang. Aku pun berorgasme lagi. Hans mempercepat temponya, memompaku hingga mengeluarkan bunyi dari bawah sana. Plok... Plok... "Ahh. Ahh. Ahh..", Hans  membuatku puas, namun aku menjadi semakin ketagihan dengan hal ini. Apa mungkin akan setiap hari seperti ini. Hans tiba-tiba saja melepaskan tautannya. Kini ia membalikkan posisi kami. Sekarang aku berada di atasnya, ia menyuruhku memasukkan juniornya lagi kedalam liangku. Dan aku menurut padanya, aku merasa juniornya semakin menusuk kedalam. Membuat semakin enak saja posisinya. Hans menggoyangkan tubuhku, agar aku bergerak. Aku mengerti maksutnya. Dan aku melakukannya, memaju mundurkan pinggangku. Posisi ini sungguh nikmat sekali, sepertinya aku akan selalu meminta posisi ini pada Hans, jika kami melakukannya lagi. "Ohh sayang... Kau hebat.. Aahh.. Ahh..", desahan Hans membuatku tersipu Aku semakin merancau, mempercepat gerakanku dan akhirnya aku mendapatkan o*****e lagi. Hampir saja aku lemas, namun Hans kini sudah melumat bibirku, dia menarik kepalaku agar lebih erat lagi ciuman kami. Posisi kami sudah berubah lagi, ia menyuruhku untuk menungging. Dengan satu hentakan juniornya masuk melalui belakang, Hans memompaku lagi. Kali ini posisi itu di sebut doggy style. Nikmat sekali, namun tak senikmat women on top. Aku terus mendesah dan lagi-lagi mendapat o*****e. Tubuhku menjadi semakin lemas karena kenikmatan yang bertubi tubi ia berikan. "Ahh... Hans... Ohh..", "Aku keluar sayang... Aahh..", Dan akhirnya ia mengeluarkan cairan kental putihnya dibdalam rahimku. Kami sama-sama lemas, posisiku telungkup dengan Hans di atasku dan kami masih bersatu. Hans membenarkan posisinya, ia tidur di belakangku dengan junior yang masih menancap di liang vaginaku. "Ahh Hans.. Kau hebat sekali di ranjang", "Kau juga sayang, kau bisa mengimbangi gaya s*x ku yang over ini, terima kasih Bel..", Cup... Kurasakan satu kecupan mendarat di leherku. "Tidur sayang, aku lelah.. Besok aku ada meeting penting dengan klien papamu", "Iya Hans..", Akhirnya kami terlelap dalam posisi masih bertautan. Risih, tapi aku menikmatinya. *** Pagi hari, aku merasa ada yang mengganjal di vaginaku. Ahh.. Benar saja, junior Hans masih tertancap disana. Aku ingin pergi ke kamar mandi, namun Hans tak melepaskanku. "Ehmm sayang, jika kau banyak gerak, kejantananku akan bangun lagi", suara Hans nampak seksi pagi ini "Hans, aku ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri... Aku akan siapkan sarapan untukmu", ujarku "Ahh.. Kan.. Kau membuatnya bangun... Morning s*x tidak buruk sayang...", Hans tengah berada di atasku, ia mulai memompaku lagi. Aku merasakan nikmat itu lagi, kali ini Hans tidak berlama-lama, karena ia sendiri harus segera bersiap bekerja. "Aaahh.. Nikmat sekali sayang", ujarnya "Aahh Hans.. Enak..", "I love you.. Aaahh...", "I love you too..", Hans sudah selesai, kini ia menggendongku menuju kamar mandi. "Jangan memanjakanku seperti ini Hans", "Untukmu... Apapun akan ku lakukan sayang.. Kau segalanya bagiku!", "Benarkah? Tapi... Aku tak ingin melihatmu bersetubuh dengan wanita lain lagi, Hans!", "Tentu sayang, kau selalu membuatku puas di atas ranjang, untuk apa aku mencari wanita lain?", Wajahku bersemu seperti tomat, Hans tersenyum menggoda. Ia sangat bisa membuatku melayang ke atas. Dan ku harap ia tak menjatuhkanku setelahnya. "Hans, aku tidak ada kegiatan... Apa aku boleh bermain dengan teman baruku?", "Tentu sayang... Hati-hati dijalan... Ini... Bawa ini untuk berjaga-jaga", Hans memberikanku kartu kredit berwarna black limited edition. Itu adalah kartu kredit tanpa limit, dan aku bisa menggunakannya sesukaku. "Oh Hans, terima kasih... Tapi kartu kreditku masih ada.. Dan uangku masih sangat cukup untuk membeli satu Mall...", "Hahaha... Kau ini... Simpan saja uangmu sayang... Pakai saja punyaku... Lagi pula kau tak akan membuatku bangkrut hanya karena membeli satu mall", Cup... "Aku mencintaimu Hans... Terima kasih sayang...", "Tentu..., baiklah aku berangkat dulu.", "Kau tak sarapan, Hans?", "Aku akan sarapan di kantor.. Kau yang jangan lupa sarapan sayang!!", Cup... "Sampai jumpa...", Ceklek.. Brak.... Pip... Pip... Text Message To Femmy 'Aku ingin main ke kosmu! Cepat sharelok!!', From Femmy 'Ini masih pagi, Belinda sayang! Bahkan gue belum bisa membuka mata...', To Femmy 'Aku berangkat pukul sembilan Fem!, sekarang memang masih pukul tujuh pagi! Tentu aku mau sarapan dulu!', From Femmy 'Baiklah-baiklah... Gue sharelok! See you dear...', Aku berlari menuju dapur menyiapkan sarapanku. Ada jus di lemari es, kapan belinya ya?. Sepertinya Hans bermain sihir kali ini, aku suka itu. Kuteguk segelas jus jeruk, dan sepotong roti pagi ini. Menonton acara gosip pagi di televisi sebentar untuk mengisi waktu. "Hmm kenapa aku masih lapar?, biasanya juga makan roti sudah cukup buatku...", gumamku Kruucuukkk... Krruuuuuccuukkk.. "Astaga... Aku lapar", Aku kembali berjalan ke dapur, kulihat ada telur di lemari es. Ku ambil telur itu dan bersiap untuk membuat telur mata sapi. Hening sekali pagi ini, kunyalakan musik dari ponselku dan ku putar lagu Te Bote - Ozuna remix. Ddrrtt... Ddrrtt... Femmy is Calling.. 'Ya dear.. Ada apa?', tanyaku 'Nitip sarapan dong Bel.. Udah berangkat belom?', 'Belum kok, oke entar aku beliin. Aku juga masih laper.. Hehehe..', 'Oke thanks Bel.. Gue tunggu', Tut tut tut Selesai membuat telur, dan ku lahap habis. Aku berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian. Ceklek Brak Aku mengenakan hotpants dengan atasan sabrina lengan panjang, aku pakai sepatu yang kemarin ku beli, dan juga tasnya. Kulihat ke arah jam tanganku, sudah pukul setengah sembilan. Aku berjalan keluar apartemen menuju parkiran di basement. Ku nyalakan mesin mobil mini cooperku. Dan berangkat menuju tempat Femmy. Sebelum sampai disana aku berhenti di sebuah warung nasi campur yang sering ku kunjungi saat SMA bersama Chris. "Bu, bungkus 2 ya!, seperti biasanya", ujarku memesan "Siap neng.. Tumben sendiri neng?", "Iya bu, om kerja.. Chris sudah pindah ke Bali... Jadinya ya sendirian deh hehe", "Sepi dong neng di apartemennya..", "Iya Bu.. Ini juga mau keluar main ke rumah temen", "Tumben neng, kok di bolehin sama omnya?", "Udah gede juga kale bu, masak iya di kurung mulu di rumah.. Hehehe... Anggap aja ini bonus setelah lulus SMA", "Ini neng... Ibu tambahin rendang kesukaan neng..", "Makasih bu, ini uangnya, saya permisi dulu ya bu..", Setelah membeli sarapan untukku dan Femmy. Ku lanjutkan perjalananku menuju tempat Femmy. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม