Part 7

1579 คำ
Tok... Tok... Tok... Aku sudah berada di depan kosan Femmy . Lama sekali aku mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ddrttt... Ceklek... "Sorry gue habis mandi... Masuk kuy...", Aku lihat kamar yang rapi sekali, dengan banyak koleksi buku novel dan juga hiasan dinding yang sepertinya ia membuatnya sendiri. "Kamu buat sendiri ini?", tanyaku penasaran "Iya.. Kenapa? Lo mau? Ambil aja..", "Hehe.. Aku bayar ya..", "Ga usah kale.. Kayak ama siapa aja lo! Kalo suka ambil aja gapapa..", "Makasih..", "Oya, nih novel yang gue janjiin... Kebetulan masih ada stok", "Ehmm itu koleksi kamu banyak banget", "Itu dagangan sayang... Novel itu gue jual.. Karya gue sendiri", "Wow.... Hebat kamu... Hehe...", "Biasa aja sis...", Femmy sudah siap dengan setelan jeans dan kaos crop. Sedangkan aku memakai hotpants dan kaos lengan panjang. "Makan dulu nih... Katanya laper..", ujarku sembri memberikan bungkusan nasi "Makasih ya.. Berapa duit?", "Ga perlu lah.. Apaan sih!", "hehehe, kuy lah makan dulu", "Iya", Setelah selesai sarapan, aku dan Femmy sudah siap untuk pergi. "Mau kemana neng?", tanya Femmy "Hmm... Kemana ya enaknya?", "Lah.. Hmmm... Lo biasa kemana?", "Jarang banget aku keluar, biasanya ya cuma sama Chris dan om Hans.. Kalo sama Kiki juga cuma di cafe sebelah sekolah", "Owh gitu.. Mau ke cafe di deket sini ga? Kalo buat aku sih minuman sama makanannya enak..", "Boleh.. Yuk..", Aku dan Femmy masuk ke dalam mobil dan berangkat ke cafe yang di bilang Femmy. Sampai di cafe, kami turun dan duduk di ruang dalam. Cafenya bernuansa vintage gitu, bagus ornamennya. Kami memesan minuman dan camilan. "Pagi cantik", sapa waiters cowok disana "Pagi, Delon...", sapa Femmy "Siapa?", tanyaku "Ini Delon, ia juga kuliah di UI sama kayak kita, gue ketemu Delon udah duluan sebelum ketemu lo..", "Owh.. Hai.. Aku Belinda", "Delon... Mau pesen apa Fem?", "Gue biasanya aja deh... Lo mau apa Bel?", "Strawberry smoothies, sama cheese cake deh", "Oke, tunggu bentar ya!", Delon masuk ke dalam, sedangkan Femmy melihatnya hingga ia menghilang. "Kamu suka sama Delon?", "Eh... Hehe.. Dikit...", Aku hanya mengangguk mengerti, Delon memang cakep, tinggi, berkulit putih, wajahnya ada bule-bulenya gitu deh. Ga lama setelah itu, seorang cowok mendekati kami. "Permisi... Kamu Belinda kan?", tanya cowok itu "Iya, siapa ya?", jawabku "Hey... Aku Leonard... Inget ga? Temen SMA, kita sekelas waktu kelas satu...", "Hmm iya ingat.. Kayaknya dulu kamu ikutan basket ya?", "Iya bener banget. .. Kamu kuliah dimana nih?", "UI...", "Wih keren.. Aku juga sih, tapi pasti kita beda jurusan, hehe..", "Ow ya.. Hehe..", "Boleh minta nomor ponsel kamu ga Bel?", Aku hanya menarik satu alisku ke atas sembari berfikir aneh. Femmy mengisyaratkan untuk tidak memberikan nomorku. "Sayang,....", suara orang yang aku kenal "Hans...",aku berdiri dan langsung memeluknya "Itu siapa?", "Temen aku... Itu Femmy.. Itu Leo temen SMA kebetulan tadi dia nyapa aku", "Owh.. Aku pinjam Belinda sebentar ya..", Femmy hanya tersenyum kecut melihat wajah Leo yang sedikit kecewa. "Ada apa?", tanyaku "Sore ini aku pergi ke Jogja, ada bisnis disana... Kamu mau ikut atau di rumah?", "Ikut dong Hans.. Gimana sih...", "Okay... Kamu siapkan diri jam tiga aku jemput di apartemen. Sekarang kamu enjoy aja dulu sama temen kamu. Okay?", "Okay, Hans. Hmm bagaimana bisa kamu tau kalo aku disini?", "kamu itu polos banget sih sayang, padahal tiap hari kamu di ikutin masih aja nanya aku tau darimana?!", "Hahaha... Maaf Hans.. Aku bercanda.. Ya sudah.. Hati-hati dijalan, sayang", Cup... Lalu Hans pergi kembali ke kantor. Aku kembali masuk kedalam cafe, Femmy menatapku menunggu penjelasanku. "Habis ini aku balik ya, hehehe.. Mau di ajakin ke Jogja.. Lagian kuliah juga masih lama kan?", jelasku "Hahhaha... Trus lo ga tanya gitu, om lo tau lo disini darimana?", "Ga, Fem... Karena tu kamu liat yang pake jas item di sono...itu pengawal khusus yang tiap hari jagain aku, kemanapun aku pergi...", "What???? Gila gila gila.... Jadi emang udah tiap hari lo di ikutin gitu? Yang ini tadi gue kira lo bakal sendirian eh ternyata masih ngintil aja tu bodyguard", "Hehehe... Karena dulu ortuku tewas dibunuh, jadi om Hans ga mau ambil resiko, Fem!", "I see... Gitu tooh...", "Pesanan kalian cantik", ujar Delon memotong obroln kami "Makasih, kamu kerja disini?", tanyaku "Hmm iya.. Tapi ini cafe punyaku sendiri, jadi ya... Gitu deh.. Hehe", "Keren dong..", "Biasa aja kali.. Hehe.. Oh ya.. Tadi siapa? Maaf kalo aku ikut campur", "Yang mana?", "Yang nypa kamu disini, dan yang sama kamu didepan tadi, kayaknya kamu populer banget di kalangan cowok", "Hmm ga juga, disini tadi temen SMA, kalo yang tadi... Hmm.. Om aku", "Bentar-bentar... Tumben lo ngomongnya pake aku kamu? Biasanya juga sama gue ga gitu", tanya Femmy "Hahaha... Habisnya Belinda sopan banget sih.. Jadi ngikutin dia deh", "Hahaha.. Apaan sih..", "udah deh, balikin mode awal aja... Ga enak kale cuma gue yang ngomongnya beda! Kalo Belinda kan udah biasa", "Ya udah deh... Gue balikin mode awal... Hahaha", Delon memnag menyennagkan ornagnya, ia bisa dengan mudah akrab denganku yang baru bertemu. Setelah selesai dengan obrolan kami, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen. Tapi Femmy ingin tetap di cafe, aku tau kalau ia ada feel sama Delon, jadi kubiarkan sajalah. *** Di apartemen,aku menyiapkan beberapa pakaian dan dress. Tak lupa alat make up dan rutinan buat di kamar mandi. Tak lupa beberapa tanktop dan juga boxer unyu milikku agar aku bisa tidur tentunya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Aku menunggu dengan setia di apartemen, sembari bermain ponsel dan melihat acara di televisi. Ceklek... "Sayang...", suara yang sangat aku kenal "Ya Hans, aku disini", "Apa kau sudah siap?", "Tentu...", "Aku mandi sebentar, setelah itu kita berangkat..", "Oke..", Aku menunggunya di ruang santai. Hanya perlu waktu lima belas menit untuknya bersiap. "Baiklah, ayo ke bandara..", ajaknya dengan lembut sembari membawa koper milikku Aku berjalan mengekor padanya, hingga sampai di mobil aku melihat seorang wanita cantik disana. "Siapa itu Hans?", tanyaku sedikit kecewa "Dia sekertarisku sayang, maaf aku lupa memberitahumu kalau dia ikut", jelasnya "Hmmm baiklah...", "Maya, kau duduk belakang. Belinda akan duduk di depan bersamaku", jelas Hans "Baik pak", Aku bisa melihat ekspresi yang tak menyenangkan dari wajah Maya. Membuatku sedikit tersenyum licik, karena Hans adalah milikku. Perjalanan menuju bandara terasa hening, di antara kami bertiga tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai pada akhirnya suara telepon Hans berbunyi. Ia sedang berbicara dengan seseorang disana. "Baiklah, aku akan sampai pukul delapan malam", ujarnya di telepon "Siapa Hans?", "Asistenku, dia sudah berada di Jogja dan memastikan kapan aku akan datang", "Hmmm, bagitu rupanya", "Baiklah kita sudah sampai, jangan sampai ada yang tertinggal sayang", "Iya sayangku...", Kami berjalan menuju pintu masuk, dan melakukan check in. Setelah itu kami masuk kedalan pesawat menuju Jogja. Di dalam pesawat Ku duduk di samping Hans, sedangkan Maya duduk di bagian belakang kami. "Hans.. Apa disana akan menyenangkan atau aku hanya akan di kamar hotel saja?", tanyaku memastikan "Aku akan sibuk beberapa waktu sayang, kau bisa berjalan-jalan di sekitar hotel, tapi jangan jauh-jauh karena aku tak ingin terjadi sesuatu padamu", "Baiklah Hans.. Aku mengerti", *** Sampai di Jogja kami di jemput oleh asisten Hans, ia adalah pak Roni. Hans adalah tipe orang yang tak begitu suka bepergian jauh meninggalkanku sendiri di apartemen. Ia selalu mengajakku dan Chris dulu. Di hotel, Hans menurunkan barangku dan membawanya. Kini kami berada di depan pintu kamar hotel. "Buka pintunya sayang, aku membawa banyak barangmu", ujarnya tertatih "Baiklah..", Ceklek... Aku sangat terpesona dengan hiasan kamar. Penuh dengan bunga mawar merah disana, dan pasti ini ulahnya. Hans memelukku dari belakang, ia mencium leherku dan berbisik manja. "You like it, sayang?", "I love it, Hans... Thanks... Oh my God...", Cup... Aku mencium sekilas bibir Hans, namun Hans menahan kepalaku dan memperdalam ciuman kami. Kami saling melumat dan bertukar saliva, hingga akhirnya. Ceklek.. Piiipp... "Astaga... Maaf pak!", suara Maya di depan pintu "Shit... Apa kau tak punya sopan santun?!", bentak Hans "Maaf pak, saya permisi", Nampak ketakutan di wajah Maya, ia pergi dari kamar kami. Ceklek... Braakkk... "Ehm.. Hans... Apa kau pernah melakukan itu dengan Maya? Sepertinya ia terbiasa dengan mu", "Sayang... Maya...", "Cukup Hans... Aku akan masuk kedalam kamar, dan bersiap untuk makan malam, aku sangat lapar sekarang", Aku menuju kamar, berharap tak menunjukkan wajah kekecewaanku padanya. Air mataku sungguh tak bisa ku tahan, aku tak ingin terlihat nampak menyedihkan di depannya. Tiba-tiba saja ia memelukku dari belakang. "Sayang, Maya hanya pelampiasanku dulu... Sebelum ada dirimu di hatiku, saat ini dan seterusnya... Aku hanya akan melakukannya denganmu... Jadi jangan bersedih lagi.. Aku tak tahan jika air matamu jatuh hanya karena diriku", jelasnya sembari menciumi leherku "Hans.. Aku percaya padamu... Hanya saja... Sakit rasanya jika membayangkan kamu yang sedang melakukannya dengan yang lain", "Sayang, sudah ya... Ayo bersiap makan... Aku tak ingin kamu lemas nanti...", Aku hanya mengangguk dan bersiap untuk pergi makan malam. Kami sudah berada di restoran hotel, aku memesan beberapa makanan yang kusuka. Hans nampak heran, tidak biasanya aku makan banyak pada malam hari. " Sayang.. Kau akan menghabiskan semuanya?", "Iya.. Aku lapar Hans..", "Baiklah.. Asal kau senang saja sayang..", "Apa besok kau akan mengajakku untuk pergi meeting, Hans?", "Hmm.. Kita lihat dulu jadwalku besok.. Tapi jika kau mau ikut tentu aku akan senang, bagaimanapun meeting ini untuk oerusahanmu sayang", "Baiklah Hans.. Aku akan belajar sedikit demi sedikit mengenai bisnis keluarga", "Kau tak perlu belajarpun tak apa sayang, ada aku yang akan selalu menjalankan semuanya", "Aku tau itu Hans.. Tapi aku juga ingin membantu..", "Baiklah.. Kalau kamu sudah siap, aku akan dengan senang hati mengajarimu tentang bisnis", "Terima kasih Hans", Hans tersenyum, memperlihtkan lesung pipinya yang membuatku tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Usai makan kami masih mengobrol sebentar. Hans memesan teh hangat untuk kami bersantai menikmati pemandangan malam. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม