Pagi ini di Jogja, aku mengekor pada Hans yang sedang sibuk bekerja bertemu para kliennya. Ia sudah mengenalkanku pada banyak orang hari ini. Lelah itu sudah pasti, bagaimana tidak. Kami hanya singgah di satu tempat selama satu jam dan beranjak pergi ke tempat lain. Begitupun yang terjadi di tempat selanjutnya.
"Hans... Aku lelah...", rengekku
"Kita sudah selesai sayang, sekarang kau mau apa? Aku akan menurutinya!",
"Serius... Aahh... Auh... Sakit...", keluhku
"Sayang, kau kenapa? Apa Kita perlu ke rumah sakit?", tanyanya khawatir
"Tidak Hans... Ehmm.. Sepertinya aku... Ehmm... Sedang datang bulan..",
"Oh begitu rupanya... Baiklah... Kita kembali ke hotel dulu..",
"Iya... Ahhh... Sakit sekali Hans..",
Brukkk...
Dan kesadaranku hilang setelah Hans menangkapku.
Author pov
Belinda pingsan di pelukan Hans yang kini tengah panik di buatnya. Ia menggendong Belinda menuju rumah sakit terdekat.
"Dok, bagaimana keadaannya...??", tanya Hans panik
"Tuan, sepertinya istrimu mengalami keguguran. Dengan usia janin masih hampir dua mingguan",
"Apa? Bagaimana bisa?",
"Ada beberapa faktor tuan, bisa karena usianya yang masih muda, juga bisa karena kandungannya lemah. Kami akan melakukan pembersihan di rahimnya agar tak menimbulkan penyakit",jelas dokter
Hans menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengumpat dalam hati.
'Astaga... Aku membahayakan nyawa keduanya.. Kenapa Belinda tak memberitahukan kehamilannya?, jangan-jangan ia sendiri tak tahu jika sedang hamil', batin Hans
Paginya, Hans berharap Belinda segera membuka matanya dan memeluknya erat sembari meminta maaf karena sudah membahayakan hidupnya.
"Ehm.. Hans", rintih Belinda
"Sayang... Aku disini..",
"Sakit...",
"Aku tahu.. Kau harus kuat, sayang..",
Ceklek...
"Selamat pagi tuan, kami akan memeriksa kondisi pasien", ujar perawat disana
"Pagi, silahkan.. Ia baru saja bangun", jelas Hans
Perawat itu tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan untuk memeriksa Belinda yang masih lemas di atas ranjang rumah sakit.
"Sus, apa yang terjadi?", tanya Belinda
"Apa suami anda belum memberitahu nyonya?",
"Hah?",
"Anda mengalami keguguran karena kandungan anda lemah dan juga usia anda yang masih muda",terang perawat
Wajah Belinda seketika muram dan ingin menangis. Saat itu Hans tengah menerima telepon di luar kamar.
"Sabar nyonya, kau masih bisa mengandung lagi setelah pulih.. Masa pemulihan sekitar tiga bulan, jadi setelah itu jika anda mau hamil lagi, saya sarankan datanglah ke rumah sakit untuk berkonsultasi",
"Terima kasih, Sus. Akan saya ingat itu, sebenarnya saya sendiri tidak tahu jika sedang hamil, karena itu saya sangat aktif beberapa hari ini",
"Begitu rupannya... Baiklah, silahkan beristirahat kembali, saya sudah selesai.. Semoga cepat sembuh nyonya",
"Terima kasih",
Saat perawat itu keluar, disaat itu juga Hans kembali masuk ke dalam kamar.
"Sayang... Bagaimana kondisimu?",
"Aku baik-baik saja Hans.. Maaf mengenai anak kita, Hans. Aku..",
"Sssttt... Sudahlah... Tidak apa-apa... Badanmu masih belum cukup kuat untuk mengandung anak kita, Sayang.. Jangan menyalahkan dirimu...",
Belinda hanya mengangguk dan merasa sedih. Hans memeluknya dan memberikan ciuman di ujung kepalanya. Pelukan itu terasa hangat bagi Belinda, ia merasa nyaman sekali.
Ceklek...
" Selamat pagi tuan dan nyonya, saya bawakan sarapan untuk anda nyonya. Semoga cepat sehat kembali..",
"Terima kasih", ucap Hans
Hans menyuapi Belinda dengan perlahan.
"Hans, ponselmu terus berbunyi... Kau tak ingin mengangkatnya?",
"Sudahlah sayang, pekerjaanku masih bisa menungguku...",
"Baiklah..",
Selesai dengan sarapannya, Belinda meminum obat yang sudah di sediakan. Di nakas samping ranjang nya.
"Istirahatlah, aku akan mengurus pekerjaan di luar... Jika mencariku ini ponselmu, hubungi aku, dan aku akan kembali masuk kesini",
"Iya Hans",
Cup...
Hans keluar dari kamar Belinda dan menerima telepon yang sedari tadi berbunyi.
Ddrrtt... Dddrrtt...
Roni is Calling..
'Ya, Ron',
'Pak, sekertaris anda sungguh menjengkelkan, kenapa ia tak kunjung datang kemari? Para klien sudah sabar menunggu',
'Bagaimana bisa? Coba ku hubungi dulu, tunggu sebentar Ron!',
'Baik pak',
Tut... Tut... Tut...
Hans sungguh di batas kesabarannya dengan Maya, di saat pekerjaan menantinya justru Maya menghilang entah kemana.
Dddrrtt.... Dddrrttt...
'Ya.. Halo..', suara Maya terdengar serak baru bangun tidur
'Maya!!! Apa-apaan kau!! Jam berapa ini?!', bentak Hans di telepon
Seketika Maya bangun dari tidurnya dan melihat jam.
'Astaga, maaf pak... Maaf.. Saya akan segera berangkat... Maaf',
Tut... Tut.. Tut..
Hans memijat keningnya, ia sungguh terancam kali ini. Bisnis yang akan ia dapat sangat memakan dana yang banyak. Beberapa saat kemudian, Hans menerima pesan dari Roni bahwa Maya sudah datang dan membawa berkas yang merek butuhkan. Bisnis yang terancam itu kini sudah selamat. Hans bernafas lega saat itu, dan kembali masuk kedalam kamar.
Ceklek
"Kenapa Hans? Kenapa wajahmu seperti sedang terjadi masalah?", tanya Belinda yang melihat Hans frustasi
"Maya terlambat mengantarkan berkas, tapi untung saja klienku masih mau menunggunya",
"Astaga...",
"Sudahlah, kau tak seharusnya ikut memikirkan pekerjaanku, sayang.. Bagaimana rasanya? Apa masih sakit?",
"Hmm sedikit.. Aku bisa tahan Hans..",
"Betapa bodohnya aku...!",
"Hans..",
"Sayang..",
"Istirahatlah Hans.. Sepertinya kau sangat lelah karena menjagaku disini",
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, kau tau aku akan sangat khawatir jika terjadi sesuatu padamu!",
"Kau tak harus meninggalkanku Hans.. Tidurlah di sana..", sembari menunjuk ke arah tempat tidur untuk penjaga
Belinda berada di president room, dimana fasilitas terbaik pasti ia dapat disana.
Hans hanya menurut dan membaringkan tubuhnya. Benar saja, selang beberapa menit ia sudah terlelap.
Belinda hanya tersenyum melihat kekasihnya itu tertidur lelap. Dan sendirinya juga merasa mengantuk karena baru saja meminum obat.
***
Tiga hari kemudian
Belinda sudah dinyatakan sehat dan bisa segera keluar dari rumah sakit. Hans terus menemaninya disana dengan setia.
"Kita kembali ke hotel, dan bersiap kembali ke Jakarta", ujar Hans
"Tapi Hans, aku masih belum sempat berjalan-jalan di sini...", rengek Belinda
"Sayang, kau baru saja pulih. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu!", tegas Hans
"Ayolah Hans, aku sudah sehat... Kita beli oleh-oleh dulu, baru pulang ke Jakarta!",
"Baiklah.. Jika aku lihat kau kesakitan aku akan langsung membawamu pulang ke Jakarta!",
"Baiklah Hans.. Terima kasih sayang",
Cup...
"Kau ini... Selalu membuatku tak bisa menolak keinginanmu", gumam Hans
Mereka kembali ke hotel untuk bersiap-siap pergi ke Malioboro dan juga alun-alun Jogja. Roni dengan setia mengantarkan mereka untuk berjalan-jalan mengelilingi kota itu. Pekerjaan Hans memang sudah selesai, ia sudah bisa bersantai kali ini.
"Hmm.. Dimana Maya, Hans?", tanya Belinda
"Dia sudah kembali ke Jakarta kemarin, sayang",
"Kenapa?",
"Aku memecatnya, dia sudah melakukan kesalahan fatal",
"Hmm baiklah..",
Dalam hatinya merasa lega, karena Hans tidak perlu di temani sekertaris penggoda itu lagi.
"Pak, kita sudah sampai. Ini adalah tempat oleh-oleh bakpia 25",
"Terima kasih Ron. Sayang, kau bisa memilih apapun sesukamu..",
"Tentu Hans.. Kau selalu tau yang aku inginkan, aku masuk dulu..",
"Ya, aku akan menyusul..",
Belinda masuk kedalam toko oleh-oleh bakpia 25,ia memilah beberapa camilan untuknya dan juga beberapa untuk temannya di Jakarta.
Sedangkan Hans masih di depan toko bersama Roni.
"pak, maaf jika saya ikut campur. Bukankah Belinda ituu... Anak tuan dan nyonya Clark?", tanya Roni
"Kau benar, Ron. Aku merawatnya, namun justru hal itu membuatnya jatuh cinta padaku. Aku sendiri masih bingung dengan hubungan kami yang seharusnya hubungan ini hanya sebatas ayah dan anak. Sampai kemarin ia keguguran, aku bersumpah akan menjaganya dan membuatnya bahagia ", jelas Hans tanpa keraguan
" Saya sudah bekerja untuk tuan Clark selama bertahun-tahun, dan melihat kematian mereka di depan mataku sendiri. Di hari itu juga aku sudah berjanji untuk melindungi Belinda dan perusahaan. Dan sekarang, melihat anda bersama Belinda membuat saya sedikit lega, karena sudah menyerahkannya pada orang yang tepat", ujar Roni panjang lebar
"Kau ini, terima kasih Ron!",
"Hans... Sini...", panggil Belinda
"Aku kesana dulu..",
Roni mengangguk dan tersenyum pada Belinda.
'Tuan Clark pasti sudah bahagia disana melihat Belinda juga bahagia', batin Roni
Hans ikut memilah oleh-oleh untuk stok di rumah. Ia sangat tau jika Belinda sangat suka camilan.
"Hans, aku ingin membeli baju batik. Setelah ini kita ke toko Batik ya?", ujar Belinda
"Ya, ayo kita kesana",
Belinda tersenyum bahagia, seakan ia sudah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu.
Setelah membeli oleh-oleh makanan khas Jogja. Mereka kembali mengelilingi jalanan kota Jogja. Berhenti di setiap Belinda mau. Tanpa merasa lelah dan hanya kebahagiaan yang ia rasakan.
"Sayang, setelah ini kau mau kemana lagi?",
"Makan.. Hehe.. Aku mau makan Pempek di sana", sembari menunjuk ke arah resto pempek Ny Kamto
"Baiklah.. Lalu?",
"Kita pulang... Terima kasih sudah menemaniku sayang",
Cup.. Belinda mencium pipi Hans
Hans tersenyum mendengar perkataan Belinda.
"Aku senang melihat senyummu, sayang",
"Kau membuatku malu, Hans..", wajah Belinda nampak seperti tomat yang merah
"Lihatlah wajahmu memerah, sayang.. Hahaha... Kau membuatku semakin sayang padamu",
"Hentikan menggodaku Hans.. Aku benar-benar malu sekarang!",
"Baiklah.. Ayo kita makan disana, aku tau kau pasti sangat lapar..",
Belinda berjalan mengekor pada Hans. Hingga sampai di resto yang Belinda mau,Hans memanggil Roni untuk ikut makan bersama mereka.
Hans juga menceritakan pada Belinda siapa Roni. Belinda yang mendengarkan cerita Hans kini melihat Roni seperti pahlawan di keluarganya.
"Hans, terima kasih..",
Hans mengeryitkan kedua alisnya, ia bingung dengan perkataan Belinda.
"Kau sudah menjagaku hingga saat ini, membuatku selalu terlindungi", lanjutnya
Hans membelai rambut Belinda dn mencium keningnya. Ia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan perbincangan santainya.
Selesai dengan makan mereka, kini Roni mengantarkan Hans dan Belinda menuju bandara Adi Sutjipto untuk pulang ke Jakarta.
Di bandara, tiba-tiba saja Belinda memeluk Roni dan mengucapkan terima kasih.
Roni merasa terharu dan menitihkan air matanya.
"Kau sudah dewasa sayang, teruslah tumbuh menjadi perempuan yang baik hati, dan tetaplah ceria seperti saat kau masih kecil", pesan Roni pada Belinda
Belinda mengangguk dan tersenyum pada Roni. Ia melambaikan tangannya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Roni.