Bab 12

1420 คำ
Jordan tak henti-hentinya menatap Lori yang masih tertidur di sampingnya dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya. Penyatuan mereka tadi malam benar-benar meninggalkan bekas yang luar biasa pada dirinya. Ada seberkas perasaan bahagia yang memenuhi relung hatinya. Dan ia baru sadar bahwa bermain dengan wanita tak kalah serunya dengan bermain bersama laki-laki. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Di hari kemarin ia sangat membenci Lori, namun di hari berikutnya ia malah merasa nyaman dengan wanita itu. Ia juga tak tahu kenapa semuanya bisa berubah secepat ini. Entahlah, mungkin semua itu terjadi setelah ia merenungkan semuanya setelah kepulangan Lori dari desanya waktu itu. Ia sempat menghilangkan egonya sejenak saat memikirkan semuanya matang-matang. Ia mengulang memorinya mulai dari pertemuan pertamanya dengan Lori sampai pada hari di mana ia mulai menjauhinya. Saat itu ia kembali teringat dengan cerita Lori yang mengatakan bahwa ia bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan yang ada di pikiran Jordan saat itu, Lori hanya bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Dari situ ia menyimpulkan bahwa Lori melakukan semua itu untuk keluarganya. Bahkan ia melakukannya untuk ibunya yang sempat mengkhianati keluarganya sendiri. Setelah itu, memorinya mengulang kembali kejadian pada saat Rosita membeberkan semua kenyataan dan kebohongan yang di buatnya. Saat itu Jordan benar-benar di butakan oleh rasa kecewa dan sakit hati sehingga ia tak memedulikan omongan Lori sedikit pun. Dan ia sadar bahwa saat itu Lori memohon-mohon kepadanya dan bahkan ia sempat mendengar kalau wanita itu mengatakan bahwa ia mencintainya. Saat itu perasaan benci sudah memenuhi dirinya. Ia tak sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini kepada Lori hanyalah sebuah kebodohan. Seharusnya ia tak membenci Lori karena setelah di pikir ulang, wanita itu tak bersalah sama sekali. Lori hanyalah seseorang yang kurang beruntung sehingga membuatnya memilih jalan yang salah dengan mengikuti semua kemauan Rosita. Seharusnya ia membenci Rosita. Ah tidak, ia memang sudah membenci wanita gila harta itu sejak dulu. Dan setelah ia merenungkan semuanya malam itu, ia akhirnya mengambil sebuah keputusan yang mungkin bisa memperbaiki rumah tangganya dengan Lori. Maka dari itu, ia mencoba untuk membuka hatinya dan menghilangkan rasa bencinya kepada wanita itu. Hasilnya sangat luar biasa, ia bahkan sudah tak terbayang-bayang lagi dengan kenangan buruknya bersama ibunya ketika menatap wajah Lori. Mungkin saat itu ia terlalu takut jika kebodohan ayahnya kembali terulang olehnya sehingga ketika melihat Lori, ia selalu melihat kilas balik kenangan-kenangan buruknya. Dan saat ini, ia benar-benar merasakan kehidupan yang sudah ia bayang-bayangkan sejak dulu. Rasanya sungguh membahagiakan. Ia sadar jika ia belum mencintai Lori, namun ia akan mencobanya. Mencoba untuk mencintai istrinya. Jordan melihat kelopak mata Lori yang bergerak kecil, menandakan bahwa wanita itu akan membuka matanya sebentar lagi. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walau pun ia merasa nyaman berada di dekat Lori, namun ia masih merasa aneh karena sebelumnya ia tak pernah seintim ini dengan seorang wanita. "Jo, kau sudah bangun?" tanya Lori dengan suara serak khas bangun tidur. Ia kemudian memiringkan tubuhnya untuk menatap Jordan. Jordan menghadap ke arah Lori dengan senyum manis yang terukir di bibirnya. "Terima kasih," ucapnya yang tak sesuai dengan pertanyaan yang seharusnya ia berikan kepada Lori. Lori yang mengerti maksud Jordan pun hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang merekah lebar di bibirnya. Namun, senyuman itu tak berlangsung lama karena setelah itu Lori langsung menunjukkan ekspresi sedihnya. "Maaf karena kau tidak bisa menjadi yang pertama untukku." Jordan tersenyum kecil. Ia kemudian menjalankan jarinya di sekitar rambut Lori lantas mengelusnya dengan lembut. "Kau juga bukan yang pertama untukku walau kau perempuan pertama yang tidur bersamaku. Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut." Lori menghela napas panjang. "Kau tidak jijik denganku? Kau tahu sendiri apa pekerjaanku sebelum ini. Aku bahkan jijik dengan diriku sendiri ketika mengingatnya." "Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apa kau tidak jijik denganku? Kau bahkan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri ketika aku berciuman dengan seorang pria." Lori menggeleng cepat. "Sama sekali tidak. Aku tahu kau memiliki niat untuk berubah. Yang harus aku lakukan hanyalah menganggapmu sebagai pria normal. Dan aku hanya akan mengingatmu sebagai Jordan ku, bukan Jordan yang lain-lain." Jordan tersenyum lebar tanpa melepaskan jari-jarinya dari rambut Lori. "Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Dan satu yang harus kau ingat, ketika kau merasa jijik dengan dirimu sendiri, ingatlah saat-saat ketika kau sedang bersamaku." Lori terharu dengan perkataan Jordan barusan. Pria itu memang telah kembali. Yang ia alami kemarin bukan lah mimpi di siang bolong. Semuanya nyata. "Boleh aku memelukmu?" tanyanya penuh harap. "Tentu saja," sahut Jordan yang langsung menarik Lori ke dalam pelukannya. "Maaf karena selama ini aku selalu menyakitimu. Aku benar-benar telah di butakan oleh rasa kecewaku waktu itu," ucapnya kemudian. "Tidak apa, Jo. Aku tahu bahwa kau masih trauma dengan seorang wanita yang seperti ibumu. Dan itu juga yang membuatmu menyalahkan kodratmu sebagai seorang pria, bukan?" "Ya, seperti itulah. Aku selalu ketakutan jika membayangkan masa depanku dengan seorang wanita. Dan siapa yang memberitahumu tentang hal tersebut?" "Chloe yang menceritakan semuanya kepadaku. Oh ya, kenapa kau tak memberitahukan hal ini kepada Chloe?" "Aku hanya tidak ingin membebani pikirannya. Selama ini ia selalu mendapat ketidakadilan, sama sepertiku. Dan asal kau tahu saja, tak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Kau juga harus menyembunyikannya, ya?" "Tentu saja." Jordan mengukir senyum di bibirnya. Ia kemudian melepas pelukannya dengan Lori lantas menatap kembali wajah wanita itu. "Aku harus bekerja sekarang. Kita sambung nanti lagi, ya?" ia terkekeh pelan di akhir kalimatnya. Lori tak bisa menyembunyikan senyumannya. Kedua pipinya pun tampak memerah karena menahan malu. Ia tak tahu kenapa Jordan bisa menjadi genit seperti ini. "Kau blushing, eh? Lucu sekali. Warna pipimu seperti warna p****t babi yang baru lahir," Jordan tertawa keras di akhir kalimatnya sambil mencolek pipi Lori, bermaksud untuk menggodanya. Lori menggembungkan pipinya seraya menatap Jordan dengan sebal. Namun di dalam hatinya ia merasa sangat senang ketika mendapati guyonan tersebut keluar dari bibir Jordan. Dan ia juga tak tahu kenapa Jordan bisa menjadi semenyebalkan ini. "Sudah lah sana bersiap-siap. Kau akan terlambat kalau terus tertawa seperti itu," ujar Lori yang berhasil menghentikan tawa Jordan. Pria itu kemudian memakai celananya kembali sebelum berderap ke kamar mandi. Dan saat itupula Lori melihat tubuhnya yang ternyata masih tak tertutupi sehelai benang pun. Sungguh, ia tak merasa bahwa ia sedang telanjang. Itu berarti saat ia berpelukan dengan Jordan tadi, kulit mereka saling bersentuhan langsung. Astaga, ia malu sekali. Lori memukul jidatnya pelan. Saking senangnya karena Jordannya telah kembali, ia sampai melupakan hal sekecil itu. Seharusnya ia tak meminta Jordan untuk memeluknya tadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan sialnya kesadarannya pun juga datang terlambat. Lori bangkit dari tidurnya dan mulai memunguti pakaiannya satu persatu. Ia kemudian memakainya lantas beranjak ke kamar mandi lainnya untuk mencuci wajahnya dan menggosok giginya. Setelah itu ia akan membuatkan sarapan untuk Jordan. Selang beberapa menit, Jordan yang saat itu telah selesai membersihkan tubuhnya dan sudah rapi dengan setelan kantornya, langsung turun ke bawah karena ia sudah tak mendapati Lori di tempat tidurnya. Ia menduga jika wanita itu saat ini tengah sibuk dengan dapurnya. Dan benar saja, ia langsung menemukan Lori yang saat ini tengah berdiri di depan kompor begitu ia memasuki dapur. Jordan berderap mendekatinya dan berniat untuk memeluk wanita itu dari belakang seperti yang di lalukan pria kebanyakan. Dan ia tahu bahwa hal tersebut sangatlah romantis bagi kaum perempuan. Namun, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia mencapai Lori, ia langsung berbalik dan membatalkan niatnya. Sungguh, ia sangat ingin sekali melakukan hal seperti itu untuk menyenangkan hati Lori, tetapi ia merasa asing dengan apa yang terjadi saat ini. Ia belum terbiasa dengan kedekatannya bersama seorang wanita. Alhasil, ia memilih untuk menunggu Lori di ruang makan. Suara bel yang terdengar begitu nyaring, membuat Jordan segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa tamu yang bertandang ke rumahnya sepagi ini. Di saat yang bersamaan, Lori juga beranjak dari dapurnya untuk membukakan pintu. "Biar aku saja, Jo." "Tidak, aku saja. Kau selesaikan saja dulu masakanmu," ucap Jordan yang membuat Lori menganggukkan kepalanya dan kembali ke dapurnya sementara Jordan beranjak ke depan. Tak berselang lama, masakan yang di buat Lori telah selesai. Ia kemudian menyajikannya di meja makan seperti biasanya. Tetapi ia tak menemukan Jordan di ruang makan, dan itu berarti bahwa orang yang tadi datang ke rumah ini masih berada di sini. Lori kemudian berinisiatif untuk ke depan dan melihat siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini. Dan sungguh, ia rasanya ingin pingsan saja saat matanya terpaku pada dua orang pria yang kini sedang berpelukan di dekat pintu utama. Ia tahu bahwa pria itu adalah Jordan dan yang satunya lagi adalah pria asing yang kemarin ia temukan tengah berciuman dengan Jordan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม