Bab 9

1447 คำ
Seminggu setelah Chloe pergi ke kota Leicester, belum juga ada perubahan yang terjadi di kehidupan rumah tangga yang saat ini tengah di jalani oleh Lori dan Jordan. Yang berbeda hanyalah Lori yang sudah tak kembali datang ke kelab malam yang di kelola Rosita. Untungnya saja wanita gila harta itu tak mendatanginya dan kembali memaksanya untuk bekerja di sana lagi. Lori mengira jika hal itu terjadi karena saat ini Chris tengah berada di luar negeri. Mungkin akan berbeda jika pria itu sudah kembali ke London. Seminggu ini juga, Jordan masih terus bersikap tak acuh kepada Lori. Bahkan, pria itu semakin dingin dan tak tersentuh. Lori sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Jordan bahwa ia bukanlah wanita gila harta seperti ibunya. Ia sudah mendengar cerita Chloe tentang Jordan sebelum gadis itu pergi. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa hidup Jordan tidaklah semulus dan sebahagia yang ia kira. Pria itu ternyata memiliki masa lalu yang membuat dirinya menjadi setrauma ini dengan seorang wanita yang tak jauh berbeda dengan ibunya. Tak heran jika Jordan sangat anti dengannya. Di mata pria itu, Lori terlihat sama dengan ibunya. Hal itulah yang menjadi penyebab utama Jordan selalu menghindarinya bahkan sampai membencinya walau ia sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada pria itu. Suara gaduh yang berasal dari bawah, membuat Lori segera bergegas untuk turun ke bawah dan melihat apa yang sedang terjadi di sana. Dan betapa terkejutnya ia ketika kakinya sudah berada di anak tangga paling bawah. Beberapa langkah di depannya, ia melihat Jordan yang tengah berciuman dengan seorang pria asing. Lori berdiri kaku di ujung anak tangga tanpa sanggup melakukan apa pun. Ia bahkan sudah menutup mulutnya dengan telapak tangannya saking terkejutnya dengan adegan yang tengah di suguhkan Jordan saat ini. Tubuhnya terasa begitu lemas ketika melihat suaminya tengah melakukan hal intim tersebut dengan seorang pria. Satu lengannya yang bebas ia bawa menuju pegangan tangga lantas memegangnya dengan erat untuk menahan tubuhnya yang saat ini terasa tak memiliki tulang. Ia ingin bertindak jika saja Jordan mencium seorang wanita. Tetapi, yang di lihatnya saat ini jelas berbeda. Ia bahkan tak bisa melakukan apa pun dan hanya bisa diam mematung dengan kedua mata yang tak lepas dari Jordan. "Siapa itu, Jo?" tanya pria asing tersebut sambil menatap ke arah Lori ketika mereka telah menyelesaikan ciuman mereka. Ia tampak sedikit terkejut ketika mendapati Lori yang tengah berdiri di ujung tangga. Jordan tampak mengelap bibirnya yang basah akibat ciumannya barusan. Ia melirik ke arah Lori yang masih mematung di tempatnya. "Tidak usah pedulikan dia." Pria asing tersebut kembali menoleh ke arah Jordan. "Kau bilang tidak usah pedulikan dia? Yang benar saja. Kau bahkan tidak ingin siapa pun tahu tentang orientasi seksualmu itu. Dan dengan dia yang melihat kejadian barusan, semuanya akan segera terbongkar." Jordan mengecup singkat bibir pria asing tersebut. Ia kemudian menatapnya dengan lembut. "Aku jamin dia tidak akan membongkar semuanya. Aku berjanji kalau hubungan ini akan tersimpan rapat tanpa ada seorang pun yang akan mengetahuinya." Setelah menyelesaikan kalimat tersebut, Jordan segera melangkah mendekati Lori. Ia menatap wanita itu dengan pandangan remehnya. Melihat Jordan yang saat ini tengah berdiri di hadapannya, Lori segera menatap pria itu dengan tatapan tak percayanya. "Ada apa denganmu, Jo? Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya dengan suara yang bergetar. Jordan menunjukkan senyum miringnya. "Karena kau istriku, maka aku akan memberitahumu tentang siapa aku yang sebenarnya. Dan yang kau lihat tadi, Itu adalah aku yang sebenarnya. Kau harus tahu kalau aku adalah penyuka sesama jenis." Lori menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi, semuanya jatuh begitu saja. "Kenapa, Jo? Kenapa?" ia benar-benar terkejut dengan pengakuan Jordan barusan sampai-sampai membuatnya tak sanggup lagi untuk berkata-kata. "Kau sudah tahu, kan? Inilah jawaban atas pertanyaan yang kau berikan kepadaku saat itu, aku ingin berubah. Tetapi, sekarang aku sudah tidak menginginkannya lagi. Kau bukanlah wanita yang bisa mengubahku karena aku membencimu. Aku sangat membencimu, Lori. Seharusnya pernikahan ini tak pernah ada," ucap Jordan tajam seraya berbalik dan melangkah untuk meninggalkan Lori. Melihat Jordan yang sudah mulai melangkah menjauhinya, Lori segera mengambil tindakan dengan memeluk pria itu dari belakang. Apa pun yang terjadi dengan Jordan, di mata Lori, pria itu tetaplah Jordanya, suaminya. Dan ia akan bertahan di sisinya bukan karena rasa cintanya saja. Ia juga akan membantu pria itu untuk berubah walau Jordan tak lagi menginginkannya. Dan ia juga akan membuktikan bahwa ia mampu untuk membuat pria itu berubah seperti keinginan awalnya. Jordan menghentikan langkahnya ketika ia mendapati bahwa Lori tengah memeluknya saat ini. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya menarik kedua lengan Lori yang melingkari perutnya dengan kasar. Ia kemudian berbalik untuk menatap wanita itu. "Jangan pernah menyentuhku lagi," ucapnya tajam yang terdengar seperti sebuah ancaman. Lori menggeleng-gelengkan kepalanya seiring dengan tangisnya yang semakin kuat. "Keinginan awalmu menikah denganku karena kau ingin berubah, kan? Maka dari itu, biarkan aku membantumu untuk berubah. Jangan sia-sia kan pernikahan ini, Jo. Aku mohon," ucapnya di sela-sela isak tangisnya. Jordan kembali memejamkan matanya. Kedua tangannya sudah terkepal kuat di sisi tubuhnya. Sungguh, ketika ia melihat wajah Lori, ia langsung terbayang-bayang dengan ibunya, dan rasanya sangat menyakitkan ketika ia harus mengingat kenangan buruk itu lagi. Jordan membuka matanya. Ia lantas menatap Lori dengan kedua matanya yang menyinarkan kemarahan. "Aku tidak peduli. Aku membencimu, benar-benar membencimu," desisnya tajam dan penuh kebencian. Setelah itu, ia kembali berbalik dan bersiap untuk meninggalkan Lori. "Apa Chloe tahu soal ini?" tanya Lori yang kembali membuat Jordan menghentikan langkahnya. Ia sengaja menanyakan hal tersebut karena ia berpikir bahwa Chloe tak mengetahui hal tersebut mengingat gadis itu yang tak pernah memberitahunya tentang penyimpangan seksual yang di derita Jordan. Jordan kembali menghampiri Lori. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia langsung mencengkram kuat wajah Lori begitu ia sudah berada di dekat wanita itu. "Jangan sekali-kali mulutmu ini berani membuka tentang apa yang kau lihat tadi kepada Chloe," ancamnya yang di akhiri dengan melepaskan cengkramannya di wajah Lori dengan kasar. "Kenapa, Jo?! Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" suara Lori terdengar pelan di akhir kalimatnya. Ia menunduk dan kembali mengeluarkan isak tangisnya. Rasanya sakit sekali melihat Jordan yang seperti ini. "Bukan urusanmu," balas Jordan tak peduli seraya berbalik dan langsung pergi meninggalkan Lori bersama pria asing yang ia bawa ke rumah. Sepeninggal Jordan, Lori belum juga menghentikan isak tangisnya. Bahkan saat ini ia sudah jatuh terduduk di lantai karena sudah tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya. Tulang kakinya terasa begitu lemas. Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mengeluarkan tangisnya di sana. Fakta baru ini sungguh mengejutkannya. Sejak Jordan mulai membencinya, ia sudah mengantisipasi jika nantinya pria itu bermain wanita di luar sana. Ia bahkan sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk membuat wanita yang mendekati Jordan tak akan berani lagi untuk mendekati pria itu. Namun, kondisi yang sedang di hadapinya saat ini tak pernah sekali pun terbayangkan olehnya sehingga membuatnya bingung harus mengambil tindakan seperti apa. Negara yang di tinggalinya saat ini memang melegalkan hal-hal seperti itu, tetapi Lori merasa tak rela jika ia membiarkan Jordan menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang seperti itu. Jordan adalah suaminya dan bagaimana pun caranya, ia akan membuat pria itu kembali pada kodratnya sebagaimana seorang pria yang sesungguhnya. Lori menghapus jejak-jejak air matanya. Ia kemudian bangkit berdiri dan kembali menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Sejujurnya, ia ingin sekali memberitahukan hal ini kepada Chloe dan meminta pendapat gadis itu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Namun, ia tak ingin Jordan semakin membencinya. Alhasil, ia lebih memilih untuk menyimpan fakta tentang Jordan yang baru saja ia ketahui di dalam hatinya. Sesampainya di kamarnya, Lori langsung mengambil duduk di pinggir ranjang. Ia mendesah pelan seraya mengambil ponsel yang terletak di ujung ranjang. Ia ingin memberitahukan keadaannya kepada Chloe seperti hari-hari sebelumnya. Rasanya ia beruntung sekali bisa mengenal Chloe. Walau pun gadis itu tak pernah tahu kenapa ia sampai rela bekerja sebagai p*****r, tetapi gadis itu tetap mendukungnya dan selalu bersikap baik kepadanya. Lori membaringkan tubuhnya di atas ranjanganya begitu pesannya sudah terkirim ke Chloe. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan wajah Jordan yang membayang di sana. Ia masih tak percaya jika pria itu adalah seorang penyuka sesama jenis. Lori mengulang kembali memorinya saat pertama kali Jordan mengajaknya berkencan. Pantas saja saat itu Jordan tak tahu bagaimana caranya mengajak seorang wanita berkencan, pria itu sendiri bahkan tak tertarik dengan seorang perempuan. Lori menghela napas lelah. Bagaimana pun caranya, ia akan tetap bertahan di sisi Jordan walau pun ia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari pria itu. Tiga hari pertama, rasanya Lori sudah ingin pergi saja dari rumah ini karena Jordan tak pernah sedikit pun meliriknya. Namun, ketika satu pemikiran tentang pria itu yang sampai sekarang masih mengizinkannya untuk tinggal di sini, membuat Lori merasa bahwa kesempatannya untuk mengembalikan Jordan yang lembut seperti dulu masihlah ada dan kemungkinannya cukup besar.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม