Bab 10

1321 คำ
Jordan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang terlihat santai. Ia baru kembali pagi ini setelah tadi malam ia pergi bersama Thomas, mantan kekasihnya sebelum Deo. Padahal tadi malam ia ingin menghabiskan waktu dengan Thomas di rumahnya, namun ia lupa bahwa di rumahnya ada Lori. Alhasil rencananya itu gagal dan mereka hanya menghabiskan waktu di bar miliknya. Selama ia tinggal bersama Lori, entah kenapa ia selalu mengambil sikap waspada. Entahlah, Lori selalu berhasil membuatnya teringat dengan kenangan buruk bersama ibunya. Ia ingin sekali mengusir wanita itu dari rumahnya, namun ketika ia sudah ingin melakukannya, ada sesuatu aneh yang menahan dirinya agar tak melakukan hal tersebut. Dan ia tak tahu sesuatu apa yang selalu berhasil menggagalkan niatnya itu. Jordan melihat sekeliling rumahnya yang pagi ini terasa begitu sepi. Ia melirik jam tangannya sekilas lantas kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya. Pasalnya, di pagi hari seperti ini sejak ia tinggal bersama Lori, ia selalu mendapati wanita itu yang sedang menunggunya di dapur untuk mengajaknya sarapan bersama. Namun, kali ini ia tak menemukan wanita itu di mana pun setelah ia menelusuri setiap sudut rumahnya. Jordan merutuki dirinya sendiri ketika ia memikirkan Lori. Ia kembali melangkah menuju kamarnya. Ada atau tidaknya wanita itu di rumah ini, tak memberikan dampak apa pun baginya karena ia tak peduli dengan wanita itu. Jordan segera melepas semua pakaiannya sehingga hanya menyisakan boxernya saja begitu ia sudah berada di dalam kamarnya. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya itu dengan berendam di dalam bathtub yang sudah terisi dengan air hangat. Ia memejamkan matanya begitu kehangatan yang berasal dari air yang ada di dalam bathtub tersebut melingkupi tubuhnya. Rasanya sungguh nikmat karena hal tersebut membuat ia merasa lebih rileks dari sebelumnya. Seminggu belakangan ini ia tak bisa santai sedikit pun. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah bekerja dan bekerja. Semua itu ia lakukan bukan karena ingin mendapatkan gaji lebih dari perusahaan, ia hanya ingin menghindari rumah untuk mengurangi pertemuannya dengan Lori. Wajah Lori selalu mengingatkannya tentang kenangan buruk yang pernah menghantui hidupnya. Untungnya saat akhir pekan seperti ini ia tak bertemu dengan Lori sehingga ia bisa menikmati akhir pekannya dengan bersantai seperti ini. Tetapi, ia juga merasakan sesuatu aneh yang terselip di dalam hatinya ketika ia tak melihat wajah wanita itu di pagi hari seperti ini. Ia sadar jika sesuatu aneh itu adalah sebuah bentuk ke khawatiran yang entah berasal darimana. Ia senang wanita itu tak ada, namun ia juga khawatir. Dua perasaan yang sangat bertolak belakang. Tak berselang lama, Jordan akhirnya telah selesai membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian lengkap, ia segera bergegas ke dapur rumahnya untuk sarapan. Dan jika ada Lori di sana, ia akan memilih untuk sarapan di luar. Ia mengernyitkan keningnya begitu ia telah sampai di dapur rumahnya yang tampak kosong. Keadaannya masih sama seperti tadi. Ia begitu heran ketika tak menemukan Lori di sini, bahkan ia tak menemukan Lori di mana pun. Aneh sekali mengingat wanita itu yang biasanya selalu berada di rumah. Namun kali ini sosoknya menghilang begitu saja. Jordan menghela napas pelan lantas memanggang roti yang akan menjadi menu sarapannya pagi ini. Ia kembali menghapus Lori dari pikirannya dan mulai menikmati sarapannya. Jordan sudah menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk bersantai ria di rumahnya. Namun, ia tak begitu menikmati saat-saat santainya karena Lori tak henti-hentinya memasuki pikirannya dan memenuhi alam bawah sadarnya. Pasalnya, gelapnya malam sudah mengitari langit, namun ia tak juga menemukan Lori di mana pun. Ia bahkan sudah mengelilingi rumahnya sebanyak dua kali hanya untuk mencari keberadaan wanita itu. Rasa khawatir akan Lori semakin menjadi sampai mampu mengalahkan rasa benci yang tertanam di dalam dirinya. Namun, rasa khawatir itu hilang begitu saja saat satu nama muncul di dalam pikirannya. Chris. Ia merasa bodoh karena satu harian ini sibuk memikirkan wanita itu. Sudah pasti Lori pergi bersama Chris mengingat pria itu merupakan pelanggan tetapnya. Sekali p*****r tetaplah p*****r, pikirnya seperti itu. Jordan mendengus sinis saat ia dengan bodohnya memedulikan Lori dan menghabiskan satu harian ini dengan memikirkannya bahkan sampai mengkhawatirkannya. Ia kembali mengambil sikap tak acuh dan mulai menyalakan televisi untuk membunuh kesunyian yang tercipta di dalam rumahnya. Tak berselang lama, ia mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arahnya. Dengan penasaran ia segera mendekati sumber suara dan ia langsung terdiam begitu matanya menemukan Lori. Lori terkejut ketika ia mendapati Jordan berada di rumah ini saat malam belum terlalu larut. Pasalnya, pria itu tak pernah sekali pun berada di rumah sebelum tengah malam. Hanya kemarin saja pria itu berada di rumah di jam-jam seperti ini. Dan setelah itu pun ia kembali pergi entah kemana bersama Thomas. Lori mengulas senyum di bibirnya. "Kau di rumah," ucapnya, terselip nada bahagia di dalam suaranya. Jordan memejamkan matanya sejenak. Entah kenapa saat ia melihat Lori, ada perasaan lega yang bertubi-tubi menghampiri dirinya. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama ketika ia kembali mengingat bahwa wanita itu baru saja pergi bersama Chris dan mungkin mereka baru saja melakukan sesuatu yang membawanya kepada nikmatnya dunia. Dan pemikiran itu berhasil membuatnya jijik dengan Lori. Jordan kembali membuka matanya dan langsung berbalik untuk meninggalkan Lori tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Namun, langkahnya tertahan begitu ia merasakan tangan Lori yang sedang memegang lengannya untuk menahan kepergiannya. Jordan segera menepisnya dengan kasar. Ia kemudian menatap Lori dengan amarah yang berkobar dalam dirinya seraya mengusap lengannya dengan kasar untuk menghapus jejak Lori yang tertinggal di sana. Sungguh, ia jijik sekali di sentuh oleh wanita yang baru saja tidur dengan pria lain. Lori menelan ludahnya susah payah. Ia merasakan sesuatu yang terasa menghalangi jalur pernapasannya sehingga membuatnya sulit untuk bernapas. Selain itu, sesak di dadanya akibat penolakan Jordan barusan semakin membuatnya kesusahan mengambil oksigen untuk memasok paru-parunya yang saat ini terasa kosong. "Kenapa, Jo? Kenapa kau selalu menolakku?" tanyanya dengan pelan sambil berusaha untuk menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Rasanya ia sudah lelah sejak kemarin terus-menerus menangis. "Kenapa kau bilang?! Bukannya sudah ku katakan padamu jangan pernah menyentuhku lagi. Apalagi kau baru saja tidur dengan pelanggan tetapmu itu." Lori menatap Jordan dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Apa maksudmu, Jo? Siapa yang kau maksud baru saja tidur dengan pelanggannya?" Jordan tertawa sinis seraya bersedekap d**a. "Jangan berpura-pura, Lori. Aku tahu satu harian ini kau menghabiskan waktumu bersama pelangganmu itu. Rasanya aku semakin jijik denganmu." "Aku tidak bersamanya, Jordan. Bahkan aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya." "Pembohong," ucap Jordan penuh penekanan di dalamnya. Lori memandang Jordan dengan tatapan terlukanya. Ia memejamkan matanya sejenak dan saat itupula ia tak bisa lagi membendung air matanya. Ia kemudian membuka matanya dan menatap Jordan dengan lekat. "Terserah apa katamu. Untuk kali ini aku tidak akan mendebatmu. Dan asal kau tahu saja, aku baru saja kembali dari desa ku untuk menghadiri pemakaman Ibuku," ia segera melangkah meninggalkan Jordan setelah menyelesaikan kalimat tersebut. Baru beberapa langkah Lori berjalan, ia menghentikan langkahnya sejenak tanpa mau repot-repot memutar tubuhnya. Alhasil, punggungnya lah yang berhadapan dengan punggung Jordan saat ini. "Dan satu lagi, aku pulang secepat ini karena aku peduli padamu," ucapnya seraya kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Mendengar kalimat tersebut, Jordan langsung bereaksi dengan membalikkan tubuhnya untuk menghadap Lori. Namun, yang ia dapati hanyalah punggung wanita itu yang sudah berjalan menjauhinya. Ada perasaan bersalah yang saat ini tengah melingkupi dirinya. Ia telah menuduh Lori yang tidak-tidak bahkan sampai melontarkan kalimat pedas yang sudah pasti menyakiti hati wanita itu. Padahal yang membuat Lori tak berada di rumah seharian ini karena ia pulang ke desanya untuk menghadiri pemakaman ibunya. Rasa bersalah itu semakin besar menghantui dirinya ketika kalimat Lori yang mengatakan bahwa ia pulang secepat ini karena peduli padanya. Wanita itu bahkan masih peduli kepadanya padahal ia selalu memperlakukannya dengan buruk. Jordan mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk pertama kalinya setelah ia menikah dengan Lori, ia merasakan penyesalan dan perasaan bersalah yang amat besar kepada wanita itu. Untuk pertama kalinya pula ia merasa bahwa Lori tak seburuk yang ia kira. Dan perasaan benci yang selama ini bersarang di hatinya untuk Lori, lenyap entah kemana.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม