4.Emilia Oktarina.

1498 คำ
"Apa niat Pak William sebenarnya..? Kenapa Dia berharap Aku hamil..? Sedangkan Dia sudah beristri, Aku harus mencari tahu Alasannya " Pertanyaan itu terus terngiang sampai Jam istirahat kantor. Aku harus mencari tahu tentang Pak William, Tapi siapa yang bisa Aku tanyai. Aku menoleh ke Pak Ruli, Dia karyawan Lama disini jadi Dia pasti tahu soal Pak William. "Pak Apa saya boleh bertanya sesuatu tentang Pak William" Bisiku di samping meja kerjanya. "Apa itu??" Pak Ruli melirikku penuh tanya. "Pak William apakah sudah punya Anak atau belum Pak??" Aku to the Point. " Setahu Saya Pak William belum mempunyai Anak, Istrinya terkena Kanker Rahim saat baru menikah dengan Pak William dan sekarang Istrinya tidak bisa mengandung" Jawaban Pak Ruli membuat hatiku bergetar hebat, Ternyata Pak William menipuku selama ini, Aku hanya dijadikan Alat penghasil Anak. Aku kembali duduk di Kursi kerjaku dengan tatapan kosong, Aku yang wanita dewasa ternyata terkena tipu laki-laki egois. Baiklah Aku akan berusaha Agar Aku tidak hamil apapun caranya. Agar Pak William tidak merasa Tujuannya tercapai. Hal yang mudah dan tidak berefek samping agar tidak hamil yaitu Olahraga berat. Memakai Obat ataupun itu memberi efek samping yang buruk untuk tubuhku.Mungkin mulai besok Aku akan kembali ke Gym untuk Memulai olahraga berat. Semua berjalan seperti biasa Aku mencoba menghindar dari Pak William, Aku datang sangat Pagi dan Pulang terburu-buru, Setelah pulang kerja Aku ke Gym atau ke Sanggar senam. **** Tiga minggu kemudian.. Hal gila yang kuperbuat yaitu memastikan tidak ada janin di perutku, Aku membeli test kehamilan seminggu sekali dan mengecek Urineku. Selama ini semua aman terkendali, Aku cukup senang. Pak William sangat sibuk dan Dia tidak pernah mendekatiku lagi. Rasa sukaku dulu sekarang berubah sedikit benci, Dia dengan tega menyetubuhiku hanya karena Dia menginginkan seorang Bayi, Menurutku banyak hal lain mendapatkan Bayi. Bukankah dia banyak uang dan bisa membeli apapun?! Hari ini Aku menemani Pak Ruli meeting dengan marketing, Karena penjualan melonjak naik dan untuk merayakannya Pak Ruli Mewacanakan mengadakan Meeting di restauran seafood saat makan siang. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Restauran, Kami berdua menaiki Mobil Pak Ruli ternyata jalanan Macet. Kami terjebak macet parah, Berada di dalam mobil ber AC membuat Aku sedikit Mual, Padahal ini Aku tidak mabuk perjalanan. "Apa kau mabuk perjalanan Emilia??" Pak Ruli ternyata menyadari ketidak nyamanannya Aku akibat mual yang mendera. "Saya sedikit pusing dan Mual Pak..Biasanya say tidak pernah seperti ini. Maaf Pak.." Jawabku. "It's Oke ..wajar saja kalau keadaan Jalan yang Panas dan kita terjebak di dalam mobil dengan waktu yang lama" pak Ruli memjawab bijak. Aku mengangguk dan ada rasa kurang nyaman dengan kondisi Tubuh yang tidak bersahabat. Setelah sampai di Restauran Aku bergegas ke Toilet dan memuntahkan semua isi dalam perut. Tubuhku terasa sangat lemas, Seperti Aku kekurangan cairan. Acara Meeting pun sangat menyiksa bagiku, kepalaku sangat pusing dan tubuh yang terasa ingin beristirahat. Aku memaksakan agar terlihat baik-baik saja tapi nyatanya Wajah pucatku tidak dapat Aku tutupi. Akhirnya Aku ijin untuk pulang, Dari pada Aku mati karena kelelahan lebih baik Aku pulang ke rumah kostku. Aku mampir ke Apotik membeli Obat Mual dan tak Lupa test kehamilan. Aku beristirahat setelah Makan dan meminum Obat. Ke Esokan harinya Aku terbangun dengan tubuh masih lemas dan mualku semakin menjadi. Aku sempat khawatir dan langsung test kehamilan. Hatiku berdebar kencang tak sabar melihat hasil test kehamilan. Betapa terkejutnya Aku melihat Hasil dua garis merah muncul di test kehamilan. Aku menggeleng tak percaya, karena Aku hanya membeli satu alat test maka aku tidak bisa mengeceknya kembali. Aku gugup dan uring-uringan di Kamar mandi, Mana mungkin Aku hamil pikirku. Aku Ijin sakit kepada Pak Ruli, Aku bilang kalau Aku masuk Angin. Karena terlalu pagi maka Aku hanya bisa istirahat, Sambil berharap Hasil Test Pack nya salah. Tok..Tok..Suara Pintu Kostku ada yang mengetuk keras. Entah Aku tertidur berapa Jam, ku lihat Jam di Meja Nakas ternyata menunjukan pukul 10 Pagi. Aku terburu-buru membuka Pintu Kamar Kostku. "Pak William??!!" Ternyata Pak William mendatangi Rumah Kost ku, Dari mana Dia tahu Rumah Kost ku. "Ikut Aku" Pak William tanpa basa-basi mengajakku. "Mau kemana Kita?? Saya belum mandi dan masih memakai Piyama Pak"Ucapku Sambil masuk kekamar. Pak William Masuk ke dalam Kostku yang sedikit berantakan, Dia duduk di kursi dengan meja kecil di depannya. "Apa Kau Sakit?" Tanyanya Selidik. "Saya hanya Masuk Angin" Jawabku cepat menutupi Keadaanku sebenarnya. "Benarkah.."Dia menatap Perutku. "Baik sekali bapak Mengkhawatirkan Karyawan biasa seperti Saya" Ucapku sedikit menyindir. "Bagaimana kalau kita memeriksa keadaanmu?!" "Saya hanya masuk Angin dan akan sembuh setelah minum obat" Jawabku Cepat. "Aku tidak ingin Benih yang ku tanam gagal tumbuh hanya karena kecerobohanmu" Jawab Pak William dengan muka serius. "Saya bukan Ibu pengganti untuk menggantikan Istri Bapak Yang terkena Kanker" Jawabku marah. "Kenapa Pak William dan Istri tidak Adopsi dan Menyewa Wanita untuk mengandung Anak Bapak dan kenapa harus saya" Teriakku Kesal. "Cukup..Jangan bawa istriku untuk masalah ini" Pak William Menjawab marah sambil berdiri dan mendekatiku. "Apapun yang terjadi Aku tidak mau menjadi Ibu pengganti" Ucapku tegas. "Aku bisa membayarmu berapapun yang kau mau Emilia.." Ucapnya Menyinggung perasaanku. "Aku bukan w************n yang bisa menjual diri untuk Uang, Tidak bekerjapun Orangtuaku masih bisa memberiku Makan" Ucapku kesal sambil menahan Air mata dan Sedikit Pening di kepala. "Baiklah Maafkan Aku..Aku mohon Ayo kita cek keadaanmu, Jika kamu tidak hamil maka Aku akan melepasmu, Tapi jika kamu hamil maka dirimu tanggung jawabku sampai kapanpun dan Bayi itu milikku" Ucap Pak William sedikit melunak dalam berbicara. Karena emosi dan stres Aku sedikit lemas dan menahan tubuh dengan memegang sisi ranjang Besi, Dari kemarin Aku tidak bisa makan dengan baik karena rasa mual. "Apa kau baik-baik saja Emilia?" Tanya Pak William. "Bisakah Pak William keluar dari Kamar saya sekarang?? Ucapku pelan. Beberapa menit Aku bertahan, Tapi tak lama Pandangku sedikit buram dan Aku tak tahu lagi apa yang terjadi. **** Sayup-sayup suara terdengar seperti di alam mimpi, Suara seperti yang kukenal terdengar samar sedang berbincang dengan seorang wanita. "Terimakasih Dok.."Kudengar jelas Suara di telingaku. Aku memaksa membuka mata terlihat langit-langit berwarna putih, mencoba mengedarkan Pandangan. "Dimana ini" Aku masih bingung karena ini bukan kamarku, Karena seingatku Aku berada di kamar bersama Pak William. "Apa kau sudah bangun?" tanya Pak William padaku. "Dimana saya? Tanyaku pelan karena kepalaku masih sedikit pusing. "Kamu pingsan, Dan sekarang kamu Di Rumah sakit" ucap Pak William tersenyum. Aku gugup seketika karena sepertiny Pak William tahu Aku hamil, Tapi Aku seolah-olah tidak mengetahui kehamilanku sendiri. Pak William duduk di sebelah ranjangku dan dia mengelus perutku yang membuat rasa gugupku menjadi. "Sekarang Kamu tanggungjawabku, Ada bayi milikku di Rahimmu" Aku menggeleng karena keenggananku menerima Janin di Rahimku. "Aku tidak menginginkan Bayi ini"Jawabku cepat. Aku memegang perutku dan meremas keras karena kesedihan dan kemarahaan yang bersarang dihati akibat kebodohanku sehingga Aku Hamil tanpa suami. "Hai Apa yang kamu lakukan" Pak William meraih tanganku yang meremas perutku. "Saya tidak menginginkan Bayi ini" Jawabku sambil menangis. "Aku mohon biarkan Bayi ini tumbuh sampai Dia lahir, Apapun syaratnya Aku terima" Ucap Pak William dengan wajah memelas. "Bagaimana Kalau orantuaku tahu Aku hamil tapi Aku belum menikah? Apa Pak William memikirkan Hal ini? Kenapa Pak William egois tanpa memikirkan Hal ini" Tanyaku bertubi-tubi. "Aku tahu aku salah terlalu egois hanya memikirkan Bayi ini tanpa memikirkan Dirimu" Jawabnya. " Aku akan menggugurkan Janin ini tanpa persetujuan dari Pak William" Ucapku marah. "Please..Aku mohon Jangan lakukan itu" Pak William menggenggam tanganku. "Lalu apa yang bisa Pak William lakukan agar bisa mencegahku untuk menggugurkan Bayi ini??" tanyaku. "Apa yang Kamu inginkan?? tanya nya lagi. "Aku ingin Pak William menikahiku dan Setelah Aku melahirkan Pak William silahkan mengambil Bayi ini dan Ceraikan Aku dengan bapak memberikan 25% Saham perusahaan kepadaku" Ucapku. "Apa?" Pak William terkejut dengan syaratku. "Apa Pak William keberatan??" Tanyaku tersenyum merasa menang mempermainkan Pak William. "Saya tidak memaksa, Kalau Pak William tidak bersedia besok saya Akan menggugurkan kandungan Ini" Ucapku santai. "Baiklah..Aku menyetujuinya, Aku mengabulkan syaratmu" Pak William terlihat menyerah. "Baik..Saya akan menjaga kandungan ini dan saya ingin Besok Pak William datang melamar ke orang tua saya" Ucapku senang "Apa??Secepat ini?? Pak William Sedikit keberatan dengan ucapanku. "Apa Pak William ingin membuat saya jadi Cibiran karena hamil tanpa suami??" Tanyaku. "Oke baiklah..Tapi Aku harap Jangan ada yang tahu Aku menikahimu" Jawab Pak William. "Baik..Saya akan menutup mulut dan Saya akan bilang menikah dengan orang lain di kantor, Saya akan tetap bekerja sampai bayi ini lahir" Ucapku. "Apa..Kenapa kamu harus bekerja??" Tanya nya heran. "Saya tidak bisa berdiam diri di Rumah karena kehamilan ini, Saya bisa mati Bosan Pak William" Jawabku. "Baik..Aku menyetujuinya" Jawab Pak William. Pak William meninggalkanku di ruangan rawat sendiri, Aku merasa sangat sedih kenapa hidupku menjadi seperti ini hanya karena kebodohanku yang kulakukan satu malam. Aku hanya bisa menangis tapi Aku akan membuat Pak William menyesal memilihku menjadi Ibu pengganti Untuk Bayinya. "Hai..Sayang..Jadilah Senjata agar Ayahmu selalu menuruti keinginan Ibumu ini" Ucapku sambil mengelus perut rata. TBC..
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม