Aku membuka mata perlahan.
"Apa Aku bermimpi",Tanyaku dalam hati.
Aku beranjak dari tidurku.
"Ah..Ini nyata" Tubuh polosku menjadi bukti kalau Kami berdua melakukan percintaan semalam.
Aku menoleh ke sebelah kiri ranjang ternyata Pak William sudah tak berada di sampingku, Dia meninggalkanku sebelum aku terbangun.
Saat Aku mencoba bangun.
"Ah..Sakitnya Miss V ku"..Aku memaksakan berjalan ke kamar mandi karena sebentar lagi kami akan balik ke Jakarta dan Aku bisa ketinggalan pesawat.
Aku segera mandi dan saat melihat cermin, Dadaku penuh Kissmark hasil karya Pak William, Air mataku menetes mengingat kejadian semalam.
Betapa bodohnya Aku menyerahkan Kesucianku untuk laki-laki yang sudah beristri. Segera kuusap Air mata dan memoleskan bedak di pipiku.
Mataku terlihat sembab bahkan Bedak tebalpun tak menutupi Mata pandaku.
Aku keluar dari kamar dan melewati kamar Pak William yang tertutup rapat, Aku berjalan ke restoran karena perutju terus berbunyi minta di isi.
Tak lama Pesan masuk ke ponselku.
Ternyata Mama mengiri pesan:
"Emilia Gimana kabarmu?? Besok lusa kamu pulang ke Bandung Ya..Cuti 2 hari. Anak Tante Mira menikah sekalian kamu Ibu kenalin ke Anak besan tante mira. Mama tunggu, Awas jangan sampe nggak datang"
"Astaga Mama ini kebiasaan ngejodohin Anak nya" gerutuku.
"Ayo berangkat" Suara Pak William mengagetkanku, Aku langsung menoleh.
"Baik"jawabku.
Aku menuju Bandara dan Sepanjang perjalanan Aku hanya menatap jalan yang kami lewati. Sesekali Pak William menoleh kepadaku.
Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam Kami sampai di Jakarta, Sesudah sampai di Bandara Aku langsung Pamit untuk langsung pulang ke Rumah Kost ku.
*****
Ke Esokan Harinya Aku bekerja seperti biasa, Seperti tidak ada yang terjadi antara Aku dan Pak William.
Karena Aku akan ke Bandung maka Aku Ijin cuti kepada Pak Ruli.
"Pak..Saya Cuti besok sampai Lusa" Ucapku meminta Ijin.
" Mau Kemana kamu? Tanya Pak Ruli.
"Sepupu saya menikah" Jawabku.
"Sepupu atau Kamu yang mau Nikah??" Pak Ruli tertawa.
"Kayanya saya juga mau d jodohin Pak" Jawabku Asal.
"Wah..Selamat..Dong.."Pak Ruli antusias.
"Hahaha..Becanda Pak" Jawabku tertawa.
Karena Libur 2 hari maka pekerjaanku jadi menumpuk dan Pekerjaan membantu melupakan kejadian di Bali bersama Pak William.
Setelah selesai bekerja Hari ini aku Menuju Stasiun Gambir untuk Pulang ke Bandung. Sebenarnya sedikit Malas pulang hanya untuk di jodohkan, Umurku memang sudah cukup untuk menikah tapi aku belum berniat berumah Tangga.
Aku sekarang sampai di Rumahku Disambut oleh Mama dan Papaku.
"Hai..Ma..Pa..Apa kabar?" Sapaku sambil mencium punggung tangan kedua orang tuaku.
"Mama baik sayang..Kenapa Anak Mama seperti lupa Pada kedua orangtuanya" Ucap mama mengecup pipiku.
"Aku sibuk..Ma..Dan aku sangat merindukan kalian berdua" ucap Aku tersenyum saat pipinya terus dikecup Bibir Mamaku.
"Dasar Anak Papa Nakal, Kenapa gak pulang-pulang" Ucap Papa ku sambil memukul pelan Kepalaku.
"Ih Papa jahat banget pukul kepalaku" Aku senang saat mereka masih menganggapku gadis kecil mereka.
"Sana Mandi trus kita Makan siang, Mama udah masak kesukaan Kamu, Soto daging" Ucap Mamaku.
Aku berjalan ke kamarku, Kamar yang selalu ku rindukan. Semua masih sama tidak ada yang berubah. Kanar ber Cat dinding putih dengan ranjang dan meja belajar masih tetap sama.
Aku mandi dan beristirahat sebentar dan memeriksa ponselku, Ternyata ada Panggilan yang nomornya tidak aku kenal menghubungiku.
"5 Panggilan tak terjawab"
Tak lama Nomor yang sama Menghubungiku.
"Halo..Maaf dengan siapa ini?" Tanyaku.
"Atas Ijin siapa kamu Cuti?" Tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya ku kenal.
"Maksudnya?" Tanyaku Bingung.
"Apa kamu lupa dengan suaraku" Tanya nya sedikit kesal terdengar dari suaranya.
Astaga Apa aku salah dengar, Ini suara Pak William. Aku gugup seketika, Kenapa dia menghubungiku.
"Maaf Pak.., Saya tidak mengenali suara bapak di Telepon, Sebelumnya Ada apa bapak menghubungi Saya?" Tanyaku.
"Apa seorang Atasan tidak boleh menghubungi Bawahannya?" Pak William berbalik tanya padaku.
"Maaf..Bukan begitu. Saya hari ini cuti sampai besok dan saya sudah dapat Ijin dari Pak Ruli" Jelasku pada Pak William.
"Oia..Benarkah itu..? Kenapa Kamu tidak ijin padaku Hem...?" Tanya nya kesal.
"Setahu saya Saya cukup ijin ke Manager bukan CEO seperti bapak" Belaku pada Pak William sedikit kesal.
"Saya tidak mau tahu, Kamu harus masuk kerja besok" Perintahnya memaksa.
"Tapi Acara pernikahan Baru akan dilaksanakan besok Pagi Pak, Dan lusa sabtu dan minggu libur kerja. Bagaimana saya bisa kembali kejakarta" Ucap ku kesal.
"Saya gak mau tahu, Atau kamu siapkan Surat pengunduran diri kamu saat Masuk senin" Jawabnya sambil menutup sambungan telepon.
Astaga Apa ini, Bagaimana Pak William jadi seenaknya menentukan cuti karyawan selevelku.
Aku segera menghubungi Pak Ruli.
"Halo Pak selamat siang..Saya mau tanya kenapa tiba-tiba Pak William menghubungi saya dan memaksa saya untuk masuk kerja" ucapku panjang.
"Iya Emilia, Tadi Pagi Pak William memerintahkan kamu untuk keruangannya tapi bapak bilang kamu Cuti Nikah selama 2 hari" jawab Pak Ruli.
"Apa?? Cuti menikah??" Astaga Pak Ruli ternyata menanggapi leluconku.
"Yang menikah itu Sepupu saya Pak Bukan saya" Astaga Pak Ruli ini bikin kacau saja pikirku.
"Oh..Kirain Kamu serius akan menikah..Hahaha..Apa Pak William marah dan memintamu pulang?" Tanyanya.
Aku kesal dan menutup telepon Pak Ruli.
Tapi yang membuatku bingung kenapa Pak William marah kepadaku hanya karena Kabar Aku menikah.
*****
Ke Esokan harinya Acara pernikahan di mulai dengan Pemberkataan di Gereja dan Pesta kebun yang di hadiri keluarga besar keluarga Mama.
Tante Mira Kakak Mama yang paling tua, Anaknya Meilina atau aku panggil Mei anak Bungsunya.
Karena pernikahaan Mei Aku jadi bahan bullyan Saudara Mama yang pertanyaannya Selalu sama Kapan menikah..Pertanyaan sulit ku jawab.
Aku belum berpikir untuk menikah..
Dengan Antusias Mama memperkenalkan Aku kepada Anak besannya Tante Mira yang seorang dokter tapi Aku hanya Senyum terpaksa saja Menanggapi Kelakuan Mama.
*****
Jakarta...
Aku sudah di Jakarta kembali dan memulai rutinitas bekerja seperti biasa.
Baru saja Aku sampai Pak Ruli menyuruhku menemui Pak William
Jujur Aku sedikit takut menghadap Pak William, Aku tahu dia masih Mengira Kau benar cuti menikah.
Tok..Tok..Aku mengetuk pintu ruangan Pak William.
"Masuk" Terdengar suara Pak William dari dalam Ruangan Mewahnya.
Sedikit ragu Aku masuk dan mendekati Pak William yang sedang duduk di Kursi Kebesarannya.
"Apa benar kamu menikah?" Tanpa basa basi Pak William menanyakan Kabar pernikahanku.
"Memang Apa masalahnya Jika saya benar menikah Pak?? Tanyaku Sengaja agar rasa penasaran soal kemarahan Pak William.
"Pertanyaa Bagus," Jawabnya tersenyun Sinis.
Pak William Mendekatiku sangat dekat, Sampai Nafasnya terasa di pucuk kepalaku.
"Bagaimana Kamu menikah dengan Orang Lain setelah Kamu melakukan Hubungan suami istri denganku??" Tanyanya Padaku.
"Saya Anggap kejadian kita di Bali hal yang salah Pak" Jawabku singkat.
"Benarkah??" Tanyanya Lagi.
"Ya..Pak..saya sudah melakukan Kesalahan dalam Hidup saya dan Itu tak akan terulang Lagi" jawabku tegas.
"Bagaimana Kalau Kamu Hamil?" Pertanyaan Pak William yang membuat Aku sedikit Takut.
"Bukankah Pak William memakai Pengaman?" Tanyaku.
"Sayangnya Tidak Emilia.." Pak William menjawab sambil tersenyum menang.
"Tapi saya Yakin Saya tidak akan Hamil" aku dengan percaya diri.
"Baikah..Kita tunggu sampai 1 bulan ke depan, Aku yakin Kamu hamil" Jawabnya.
"Kenapa Pak William sangat yakin saya akan Hamil, Saya bahkan tidak menginginkannya" Ucapku Kesal.
"Karena saya menginginkan kamu hamil dan sudah di pastikan Itu Anak Saya" Jawabnya sambil menepuk pundakku.
"Tidak Mungkin Pak.."Aku menggelengkan kepala tanda Tak percaya Pak William sengaja menyetubuhiku agar Aku hamil.
Aku meninggalkan Ruangan Pak William tanpa pamit dan merasa tak percaya telah apa yang terjadi.
"Benarkah Pak William hanya menginginkan seorang Anak dariku?
TBC..